Semilir angin sore itu menampar halus wajah Dewi yang tengah sibuk melamun di atap rumah sakit. Dalam kesendiriannya, Dewi duduk di dekat pembatas gedung rumah sakit, diam menikmati langit yang mulai menarik semburat jingga. “Lagi-lagi aku ngeliat kamu ngelamun sendirian,” ujar seorang pria. Dewi tersentak saat pria itu tiba-tiba menempelkan minuman dingin ke pipinya. Sontak dia menoleh, ternyata Steven, pria itu tersenyum sembari menyodorkan sebuah minuman kaleng ke arahnya. Dewi tak menolak, dia mengambil minuman dingin itu dengan tangan terbuka, lalu meminumnya hingga tersisa setengah. “Makasih,” ucap Dewi kemudian. “Aku harap minuman dingin itu bisa buat amarah kamu sedikit reda,” cakap Steven. Dewi mengernyit, pandangannya kembali terhunus ke arah Steven, mata cokelatn

