Harris benar-benar masih berlutut di tempatnya. Bahkan pria itu seolah tidak peduli saat dia menjadi pusat perhatian orang-orang yang melewatinya. Beberapa tenaga medis juga ada yang menghampirinya, tapi Harris masih diam, bergeming bagai patung. Dewi menghela napasnya pelan, dia baru saja tiba, pandangannya langsung tertuju pada sosok Harris yang masih berlutut persis seperti terakhir kali dia meninggalkan pria itu beberapa jam lalu. Tak mau menjadi bahan tontonan, Dewi lekas mendekati Harris. Senyum tipis Harris terukir saat melihat istrinya datang. “Aku tahu kamu pasti bakal balik lagi ke sini,” lirih Harris, tampak kelelahan. “Berdiri,” suruh Dewi. Namun, Harris tampak menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau berdiri walaupun Dewi yang memintanya. “Aku sudah bilang. Aku e

