Pintu terbuka, Ardy mendapat kabar jika Ana berada dirumah sakit langsung bergegas menuju rumah sakit. Ana yang melihat omnya datang hanya mampu tersenyum .
“ An kamu kenapa ? “ Ardy bertanya setelah duduk di samping Ana
“ Nggak tau om, tiba-tiba aku pingsan di jalan dan dibawa orang kesini”
“ Tapi bagaimana hasil dari pemeriksaan? “
“ Kata suster baik sih om hanya kemungkinan stres jadi butuh istirahat sementara aku di minta rawat inap 3 hari disini om, trus gimana dong kerjaan aku om?” Ana bingung baru aja masuk kerja malah harus rawat inap, apalagi jika lihat para senior yang nggk bersahabat itu Ana takut nanti mereka akan tambah ngebuli .
“ Nanti om yang urus, kamu istirahat aja ok” Ardy sambil mengacak acak rambut Ana
“ Ya udah om ke tempat atministrasi dulu ya”
“ om, tunggu jangan beri tau ibuk ya om kalau aku dirawat, aku mohon aku nggak mau menambahkan beban fikiranya” Ana menghentikan langkah Ardy
“ Ok na tenang aja , sama om ma beres ya udah om besana dulu ok” wajah Ardy memang terlihat sangar jika belum kenal,sikapnya agak dingin dan menakutkan tapi sebetulnya dia sangat humoris dan perhatiaan.
Ana meraih paperbag diatas meja , Ana membukanya alangkah terkejutnya dia saat melihat isinya begitu indah dan terlihat sangat mahal. Sepatu yang dulu pernah dia inginkan dan dambakan untuk memilikinya, tapi siapa yang tau tentang keinginannya itu bahkan dia tidak pernah bilang pada siapapun tentang itu. Ana teringat saat Raka pulang pertama kali dari Jakarta dan setelah melamarnya mereka sempat ke satu moll , disana di sempat memegang sepatu itu dengan tatapan mendamba, tapi saat itu Raka tak berkata apa-apa apalagi mau membelinya. Lalu apa mungkin ini adalah Raka yang memberikannya,,,? Fikiranya begitu penuh dengan pertanyaan dan dugaan saat ini hingga kepalanya terasa pusing.
“ Selamat sore Sus, maaf saya keluarga atas pasien bernama Ana di kamar anggrek no 7, saya ingin membayar biaya administrasi “ wajah tampan tapi menyeramkan itu membuat si suster yang ada di depannya bingung antara terpesona atau malah ketakutan.
“ Ba ,,, baik pak saya lihat dulu, tunggu sebentar ,, maaf pak semua biaya administrasi bahkan kamar dan obat selama 3 hari kedepan telah dibayarkan lunas Pak” suster menerangkan bahwa semua telah lunas membuat Ardy kebingungan.
“ Lho kok bisa sus? Memang siapa yang membayarnya sus?”
“ Disini tertera nama bernama Wardi pak, dan dibayarkan baru satu jam yang lalu “
Saat Ardy masuk kedalam kamar inap dia tambah bingung dengan Ana yang sedang memegang sepatu berkualitas tinggi dan harga yang lumayan mahal itu, padahal Ana baru saja bekerja beberapa hari mana mana mungkin bisa membeli sepatu itu, sedang tadi pagi baru saja mendapat tagihan kartu kredit dan tidak banyak pengeluaran
“Wah mantep ni punya sepatu baru bagus dan mahal ni akayaknya” Ardy sambil menutup pintunya kembali
“ omm kenapa sih hobinya ngagetin aja” Ana memegang dadanya sangat terkejut
“ Kamu hebat banget na, baru aja disini belum genap sebulan udah dapat pengemar aja, tapi dari namanya kok kayak bapak - bapak ya na” Ardy memegang dagunya dan melirik keatas tanda kebingungan
“ Ngawur deh , enak aja kalau ngomong,om Ana lagi sakit jangan gitu deh becandanya” wajah Ana merengut seketika.
“ Eh tapi benerlho na namanya Wardi, dan kamu tau semua biaya administrasi bahkan biaya kamar dan obat udah beres semua atas nama pembayarannya dilakukan oleh Wardi, trus itu siapa coba?” sambil menerangkan tangan Ardy nggak berhenti bergerak diapun mondar mandir seperti detlikaan .
“ Itu orang yang bawa aku kesini om, katanya dia menemukan aku pingsan, sebelumnya dia membuntuti aku dan ngasih ini sama aku, dia bilang dia disuruh seseorang om tapi nggak mau bilang siapa”
“Terus siapa menurutmu orang yang menyuruhnya?” Ardi menyelidik
“ Ana juga nggak tau om, yang pasti dia adalah orang dekat karena dia tau jika aku sangat ingin memiliki sepatu ini” Ana merunduk lesu, mengelus sepatu itu dengan tatapan sedih andai saja Ini beneran dari Raka dan diberikan sendiri saat mereka masih ada hubungan betapa senang hati Ana. Melihat Ana yang murung Ardy sangat menghentikan segala pertanyaan yang ada di otaknya untuk dia ungkapkan, Ardy paham dan bisa menebak jika Ana pasti berfikir itu Raka.
“ ya sudah kamu istirahat aja biar cepet sembuh ya, om temenin kamu disini ok” Ana mengangukkan kepalanya lemah, Ardy menyimpan sepatu itu dengan segudang
pertanyaan.
' Apa mungkin ini beneran Raka? Apa maunya anak ini apa belum puas dia membuat Ana menderita seperti ini, aku harus cari tau sebenarnya' Ardy menoleh Ana yang sedang tidur dengan posisi miring tapi Ardy tau jika Ana tak benar – benar tidur, sesekali Ardy melihat ada bulir air mata yang mengalir dipipinya. Ana masih begitu mencintai Raka begitu sebaliknya, tapi mereka terjebak dalam suasana yang sangat rumit dan membelit. Semua yang tak bisa dihidari apalagi untuk mengelak Itu sangat tidak mungkin, tapi mereka tak bisa membohongi diri mereka sendiri atas cinta yang masih membara dihati masing-masing. Saling merindu dan mendambakan tapi harus saling menutupi dan memmendam dalam jauh di lubuk hati.
Tiga hari sudah Ana dirawat di rumah sakit ini, ini hari waktunya Ana keluar, sebetulnya Ana meminta keluar dari rumah sakit dua hari lalu karena sudah merasa membaik , tapi karena permintaan Raka dokter tidak memberikan izin padanya.
“ om apa semua sudah om pack?” tanya Ana sambil menguncir rambutnya tinggi, karena dia merasa sangat panas saja semenjak sakit hingga dia sering menguncir rambutnya tinggi.
“ Udah siap semua neng, nggak usah khawatir sepatu juga udah dibawa” Ardy masih juga meledek Ana, tapi hanya mendapat pelototan aja dari Ana.
“ jangan melotot gitu, nggak bakalan terlihat sangar tau nggak udah yuk pulang”. Mereka pun keluar ruangan .
Dari sebuah lorong seseorang sedang mengamati langkah demi langkah mereka, dia hanya diam seribu bahasa tampa bergerak mengikutinya, sepasang bola mata yang senang tiasa Mengapsen setiap langkah Ana hingga Ana menaiki mobil . Dia bergerak setelah mobil Ardy benar benar pergi, dinding lobi yang sebagian besar adalah kaca ini mempermudahnya untuk mengintai. Andai saja dia bisa berbuat lebih banyak lagi pasti dia akan sangat merasa senang, namun kenyataanya kini dia hanya bisa melihat Tampa bisa menggapainya.
‘ Ya Allah apakah masih bisa aku memiliki Lilin kecilku itu, aku sangat butuh cahayanya dalam hidupku yang gelap ini , cahaya yang aku jaga sekian lama kenapa harus mati hanya dengan kibasan tanganku sendiri yang tak aku sengaja ya Allah” Raka menyenderkan kepalanya di jok mobil belakang sambil merenungi nasib yang dia lakukan
“ Maaf den kemana lagi tujuan kita selanjutnya ?” pak Wardi bertanya karena tidak ada plening
“ Kita ke holel dulu pak,, aku ingin istirahat sebentar” masih dengan posisi yang tadi.