Malam ini Ana nggak bisa tidur memikirkan tawaran dari bosnya, dia bangun dan membuat teh hangat dia duduk di sofa sambil berfikir, Ardy yang memang baru saja pulang kerja merasa perutnya lapar dia pun pergi kedapur ingin mencari makanan. Saat menuju ke dapur dia melihat Ana yang sedang melamun sendirian di depan tv .
“ Lho kok belum tidur Na , kenapa ada masalah ? apa badanmu nggak enak lagi” Ardy sangat khawatir melihat An yang lesu
“ Nggak kok om, aku lagi binggung aja tadi Pak Mahmud mintaku mengantikan posisi kasir utama di supermarket om, aku jadi binggung aku terima apa nggak , masalahnya temen senior akunada yang nggak suka deh oh sama aku apalagi kalau aku menerima tawaran itu gimana sikapnya sama aku, aku nggak bisa bayangin om. tapi Pak Mahmud sepertinya sangat berharap aku mau , menurutnya belum ada yang bisa pegang bagian itu, gimana dong om” wajah bingung , cemas dan takut menjadi satu Di wajah Ana
“ Ya menurut om kamu terima aja Na , thoh kamu kan nggak minta dan bilang aja kamu coba dulu gitu ,nanti biar Pak Mahmud lihat sendiri kinerja kamu di posisi itu” Ardy memberikan tanggapannya
“ Tapi om aku takut nanti temanku malah tambah Nggak suka sama aku, Apalagi posisi itu lebih tinggi om dari dia” Ana benar-benar khawatir dengan kemungkinan yang akan terjadi melihat bagaimana sikap Dina sekarang saja sudah begitu apalagi kalau nanti dia menjadi kasir utama
“ Na itu kan baru bayangan kamu semua belum terjadi, jangan mendahului kehendak yangaha kuasa , so jalani dulu ok seperti tadi om bilang katakan pada Pak Mahmud kalau kamu mau mencoba dulu posisi itu ok biarkan Pak Mahmud menilai sendiri, dan kamu lihat giman sikap temanmu itu kalau kamu bisa atasi ya lanjudkan kalau tidak lepaskan bukan begitu hemm” dengan nada yang lembut Ardy memberi pencerahan tentang kegundahan hati Ana, Ana pun merasa Sedikit lega dengan kata – kata Ardy
“Baiklah om kalau begitu Ana akan coba dulu, oh ya om tadi sepertinya aku lihat mobil om di dekat supermarket pas aku mau pulang tadi , aku udah gr om mau jemput aku tapi pas aku keluar malah udah nggak ada”
“ Oh itu tadi om ada janji sama teman di dekat situ , jadi om parkir di sebrang “ Ana hanya manggut -manggut mendengar penjelasan Ardy
“ Maafkan om Na sebenarnya tadi om menyelidiki orang yang membayar biaya rumah sakit kamu, teryata benar Na itu adalah Raka”
Flash back
Mobil hitam baru saja terparkir di tempat biasa mobil sport terparkir, ya itu Raka yang sengaja menganti mobil agar Ana tak merasa masih di ikuti. Sepasang mata mengawasi dari gang yang berada di sebelah supermarket
“ sepertinya itu adalah orangnya, aku harus pastikan siapa dia dan apa motifnya mendekati Ana” Ardy sedikit membuka cendela mobilnya, saat dia melihat pergerakan dari mobil itu saat Ana keluar dari supermarket Ardy pun bergegas mengikutinya, disaat jalanan sepi dan Ana terlihat agak jauh Ardy langsung menyalip mobil Raka
Ciiiiiiit suara rem kedua mobil yang ngerem secara bersamaan membuat dencitan keras , Ardy keluar dari mobil duluan Raka yang melihat Ardy turun kaget , dari mana Ardy bisa tau jika dia berada di sini . Pak Wardi membuka jendela mobil setelah mendapat persetujuan dari Raka
“ Maaf Pak ,anda siapa ya kenapa menghentikan mobil saya seperti ini” tanya pak Wardi sopan
“ Apa anda sendiri?” Ardy sedikit menoleh ke jok belakang Raka yang berada tepat di belakang jok depan tidak terlalu terlihat oleh Ardy. Raka mau tak mau harus turun sebelum Ardy melihat dia duluan dan semakin marah, wajah Ardy yang memang terlihat sangar saat serius membuat Raka sedikit ngeri
“ Om,,,, “ Raka menyapa setelah membuka pintu mobilnya
“ Oh benar teryata dugaanku kamu dibalik ini semua,, apa mau kamu hah” Ardy mulai tersulut emosi
“ Apa mentang – mentang kamu sekarang udah susses jadi kamu bisa semaunya mempermainkan hati wanita? Apa belum puas kamu membuat Ana menunggu beberapa tahun dan kamu sakiti di hari yang dia impikan? Dimana perasaanmu ?” luapan emosi yang hampir membuncah di d**a Ardy namun masih bisa dia kontrol dengan berkata lebih lembut tapi tegas
“ Maafkan aku om ini benar-benar diluar kendaliku om, bahkan aku tersiksa akan ulahku sendiri, jujur om aku benar- benar sangat mencintai Ana om” Raka mengutarakan isi hatinya pada Ardy dengan mata yang berkaca-kaca,
“ Mungkin nggak akan ada yang percaya dengan perasaan aku ini tapi inilah yang aku rasakan, aku tersiksa om andai saja aku bisa menemui Ana dan mengatakan maaf yang mungkin tak termaafkan ini , rasa bersalah itu akan berkurang , aku sangat mencintai Ana om” Raka terlihat lemah apalagi saat Ardy melihat Raka yang merosot kebawah mobil Rasa empati itu timbul begitu saja.Ardy melihat betapa terpuruknya Raka saat ini, teryata cinta mereka memang begitu besar
“ Sekarang kamu sudah nggk bisa kayak begini kamu sekarang suami Adel Ka, jaga perasaan Adel juga Ka dia sekarang istrimu dan kamu juga harus merelakan Ana biarkan dia bahagia kamu tau dia sangat tersiksa karna semua ini, karena aku juga pernah mengalaminya jadi aku tau perasaan Ana sekarang. Jadi aku mohon tolong angap Ana sebagai adik bukan lagi kekasih kamu mengerti? Jangan temui dia dulu ” Ardy melemah saat melihat Raka juga tampak sangat tersiksa dengan semua ini
“ om tolong beri aku waktu untuk sekedar melihatnya atau menemuinya ” Raka nemohon agar bisa menemui Ana
“ Bukan nggak boleh Ka tapi apa kamu nggak mikir perasaan Ana jika nanti bicara denganmu saat ini? Mungkin kamu lebih baik jangan dulu tunggu dia bisa merelakanmu dulu . Kamu tau mendapat sepatu darimu saja dia sudah tau kalau itu dari kamu dan dia nangis bayangin kalau bertemu sama ku berdua aja , asal kamu tau dia juga masih sangat mencintai mu walaupun sudah kamu sakiti. Saat ini Ana belum siap untuk bertemu denganmu sepertinya jadi aku mohon tolong ngertiin hal itu , dia masih belum baik – baik saja ok“ jatuh air mata seorang Raka mendengan penuturan dari Ardy tentang Ana, Setelah menyampaikan itu Ardy lantas pergi meninggalkan Raka , setelah kepergian Ardy barulah wardi mendekati sang majikan yang terpuruk
Flash back off
Hari ini waktunya Raka pulang ke Jakarta , dengan hati kecewa dia meninggalkan kota ini dimana wanita tercintanya berada di sini juga. Di dalam mobil Raka hanya diam hanya sesekali melihat handphone ditangannya, perjalanan yang cukup panjang ini terasa melelahkan disandingkan dengan hati yang hampa. Sesampainya di Jakarta pun dia tidak langsung pulang dia menginap di kantornya, walaupun kantor namun disana ada fasilitas rumah di ruangannya terdapat tempat khusus yang disana terdapat tempat tidur maka Tak bisa tidur dengan leluasa disana ,
“ Ka ,,, Ka ,, beneran tidur sini dia Kasihan kamu punya rumah istana rasa neraka” gimana Toni saat melihat teryata benar kata security-nya tadi kalau Raka tidur di kantor
“ Hoi ,, bangun dah siang ni, lagian ngapain coba tidur dikator”
“ Apaan sih Ton aku masih ngantuk banget ini” jawab Rak sambil mengucek matanya yang masih susah sebenarnya untuk dubuka