"Hah..." Helaan napas yang pertama kali Sakti dengar di sambungan telepon itu, membuat sang penerima panggilan menjauhkan ponsel dari telinganya dan memastikan kalau yang menghubunginya itu benar Liam, bukan panggilan random entah dari mana yang mendesah ke sembarang orang untuk memenuhi hasratnya. "Lo udah gila? Berani-beraninya desah di kuping gue. Lagi on lo? Sana salurin sana bini lo lah, punya bini malah cari pelampiasan lain." "Sak, gue lagi nggak mood ngomong kotor ke lo." "Barusan lo bilang kok. Kotor, gitu." Si b******k satu ini, apa tidak bisa serius sedikit? Pikir Liam. Pria itu mengusak wajahnya, ingin sekali mematikan sambungan teleponnya tapi saat ini dirinya benar-benar butuh teman bicara. Setelah pertengkarannya dengan Gwen, setelah adu argumen yang tidak kamu kalah, d

