"Aku jadi merasa kasihan dengan anak dan suami yang menikah dengan wanita tua itu. Jika aku menjadi keluarga dari wanita tua itu, aku akan membuat dia didepak dari kartu keluarga." Ditya menjelaskan dengan semangat menggebu dan mata penuh amarah. Bora yang sedang menyendok buburnya, tercengang. Ditya membulatkan matanya ke Bora. "Benar kan, Bora? Kamu pasti juga tidak ingin memiliki keluarga atau teman yang menyebalkan begitu." Bora tidak tahu harus menjawab apa, di dalam benaknya bertanya. Apakah dokter Ditya tidak tahu siapa istri pamannya atau siapa suami si Rina? Ditya menghela napas panjang lalu melihat pemandangan luar jendela. "Aku kadang merasa khawatir jika papa berhasil mengeluarkan paman dan mengenalkan keluarga paman kepada kami, masalahnya si Rina punya anak banyak sementa

