Cyra terkejut saat mendapati sahabatnya turun dari lantai dua bersama kakak sepupunya. Seketika dia menyadari jika calon kakak iparnya itu sahabatnya sendiri.
“Pagi Uncle, pagi Cyra.” Sapa Jesica.
“Kamu berhutang penjelasan padaku Jes!” Kata Cyra dengan mata yang tajam.
Jesica hanya tertawa dan mengan melayani gguk dengan perkataan Cyra lalu dia mulai calon suaminya itu dengan telaten. Mengambil pancake dan menaruhnya di piring Aiden.
“Mau pakai crem cheese, sirup atau buah tuan muda?” Tanya Jesica.
“Sirup dan buah saja,” kata Aiden tersenyum.
Jesica pun mengangguk dan menyiram sirup keatas pancake Aiden dan menaruh buah-buahan di atasnya sesuai keinginan Aiden.
Nolan dan Cyra melihat senyum yang terbit di wajah Aiden ini tersenyum bahagia.
“Sepertinya kau memang tepat untuk Aiden.” Batin Nolan
“Halo.. ini masih pagi, kalau mau bermesraan sebaiknya di kamar saja kalian berdua.” Cibir Cyra memutar bola matang malas.
“Rara!” tegur Nolan dengan lembut.
Semua yang di meja makan itu makan dengan tenang tanpa ada satu apapun.
Semua sudah siap, Den?” tanya Nolan kepada Aiden.
“Sudah Uncle, kita tinggal berangkat saja.” Kata Aiden.
“Sebaiknya kita segera bersiap karena MUA dan yang mengurus gaun pengantin sudah menunggu Jesica di hotel.” Kata Nolan.
“Andrew!” panggil Aiden.
“Siap tuan Muda.” Jawab Andrew yang tertunduk memberi hormat kepada keluarga Halminton.
“Siapkan penjagaan, aku dan keluargaku akan segera pergi ke hotel.” Perintah Aiden
“Sesuai perintah Tuan Muda.” Andrew pun langsung undur diri untuk menyiapkan penjagaan.
Jesica yang baru saja keluar dari mansion matanya terbelalak melihat banyak mobil yang akan mengawal mereka untuk ke hotel tempat acara pernikahannya berlangsung.
“Astaga! Sebanyak ini pengawalnya? Presiden aja gak sebanyak ini, padahal jarak hotel dan mansion tidak terlalu jauh.” Batin Jesica tidak habis pikir dengan penjagaan Aiden.
“Kamu harus terbiasa dengan penjagaan yang berlebihan seperti ini.” Bisik Cyra pada Jesica.
“Ini bukan lagi berlebihan tapi terlalu berlebihan.” Bisik Jesica menggerutu pada Cyra.
“Tenang saja nanti aku kasih trik agar kamu tidak di kawal super ketat sama Kak Aiden.” Kata Cyra meyakinkan Jesica dengan berbisik.
“Ekhem!” Dehem Aiden saat melihat kearah Cyra dan Jesica.
Jesica dan Cyra hanya tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putih bersih mereka.
Kali ini Aiden membawa mobilnya sendiri bersama Uncle Nolan, Cyra dan Jesica. Aiden di bangku pengemudi di sebelahnya ada Uncle Nolan dan dua gadis kesayangannya ada di bangku belakang.
Mata Jesica kembali terbelalak saat sampai di hotel, dia melihat deretan pengawal Shadow Eagle memakai baju hitam dan bermasker itu susah berbaris rapi mulai dari pintu masuk.
Uncle Nolan membukakan pintu untuk Cyra, sementara Aiden membukakan pintu untuk Jesica.
Jesica pun kembali menarik ujung baju Aiden yang membuatnya menghentikan langkah kaki kemudian dia menarik lembut pinggang Jesica.
Sepanjang jalan dari lobby hotel Jesica sama sekali tidak menegakkan wajahnya kecuali di dalam lift. Itupun karena hanya ada Andrew dan Felix yang mengawal mereka. Saat keluar dari lift sampai di kamarnya sepanjang itu pula penjagaan yang di siapkan Andrew untuk keluarga Halminton.
“Huft!” Jesica menghela nafas saat masuk ke dalam kamar yang di siapkan untuk make up serta bergantian pakaian oleh Aiden.
Melihat ada perempuan yang mendekat kearahnya sontak Jesica memasang kuda-kuda dan bersiap untuk memberikan pukulannya.
Jesica melayangkan tendangan kearah perempuan yang mendekatinya dan perempuan itu menangkisnya, kemudian melayangkan tendangan kembali kearah Jesica.
Jesica terus saja melawan dan akhirnya pukulan dan tendangannya mendarat sempurna di perut dan d**a wanita itu.
Bugh! Bugh! Bugh!
Wanita itu lekas memberikan pukulan kuat kearah perut Jesica dan tepat sekali pulan itu mengenai Jesica.
“Stop!” Salah seorang dari antara merek yang bernama Athena menarik badan Vina mundur sehingga Jesica berhenti ketika ingin memberikan tendangan kearah pangkal paha perempuan yang bersih tegang dengannya.
“Selamat pagi Nona Muda.” Sapa pengawal perempuan yang sudah ada si dalam kamar Jesica.
“Kalian siapa?” Tanya Jesica dengan nafas yang memburu melihat ada empat orang perempuan berbaju hitam.
“Siap Nona Muda, kami para inti Shadow Angle anggora khusus perempuan dari Shadow Eagle yang bertugas untuk mengawal Nona Muda.” Kata Erlina ketua Shadow Angle dan dia perempuan yang tadi baku hantam dengan Jesica.
Jesica hanya mengerutkan keningnya merasa tidak percaya lantas dia mengirim pesan chat pada Aiden.
Ting!
Jesica: Maaf Tuan Aiden, aku mengganggu. Apa benar Tuan Aiden mengutus pengawal perempuan untukku?
Hampir tiga puluh menit berlalu, Aiden belum merespons sama sekali. Sementara Jesica masih enggan beranjak dari pintu kamarnya.
“Nona Jesica, silakan duduk.” Kata Erlina dengan ramah.
Jesica tetap tidak bergeming sama sekali dari tempatnya dan dia hanya memberi tatapan mengintimidasi yang dianggap lawannya.
Tok! Tok! Tok!
Bukan Erlina melainkan Jesica yang membuka pintu kamar tersebut.
Melihat Aiden yang ada di depannya entah dapat keberanian dari mana Jesica langsung memeluk Aiden. Aiden yang tidak siap itu hampir saja terjatuh menerima pelukan yang mendadak dari Jesica.
“Kenapa kamu yang buka pintunya?” Tanya Aiden menundukkan kepalanya karena tinggi Jesica hanya sebatas d**a Aiden.
“Ada orang lain di kamarku,” adu Jesica sambil menunjuk ke arah Erlina.
Erlinaa, Athena dan dua pasukan inti Shadow Angle langsung menunduk seketika melihat keberadaan Aiden.
“Selamat pagi Tuan Aiden!” Sapa mereka.
Aiden menanggapi sapaan pasukan inti perempuan itu. Dia malah melihat kearah Jesica.
“Aku lupa mengatakan padamu kalau mereka adalah pasukan inti perempuan dariku. Itu Erlina yang merupakan ketuanya, di sebelahnya ada Athena, Ajeng dan Bianca.” Kata Aiden memperkenalkan mereka satu persatu pada Jesica.
Entah kenapa Jesica tidak menyukai Vina sedari awal dia menyapanya. Jesica merasakan aura yang tidak baik dari Erlina itu makanya dia terus menatap Erlina dengan tatapan intimidasinya.
Jesica melepaskan pelukannya dari Aiden dan berkata, “bisakah aku hanya sendiri di dalam kamar bersama MUA dan orang yang membantuku berganti pakaian saja tanpa adanya pengawal itu?” Tanya Jesica menatap Aiden dengan tatapan yang tidak seperti biasanya.
Meligat tatapan mata Jesica seperti tersirat sesuatu. Aiden menyuruh pasukan inti Shadow Angle untuk keluar.
“Keluarlah!” Dengan nada dingin Aiden memerintahkan mereka.
“Sesuai perintah Tuan Aiden.” Kata mereka.
Aiden dan Jesica masuk ke dalam kamar ganti itu.
“Ada apa?” Tanya Aiden langsung.
“Boleh aku jujur Tuan Aiden?” Tanya balik Jesica.
“Hem,” dengan deheman Aiden merespons pertanyaan Jesica.
“Entah kenapa aku tidak suka dengan keberadaan Erlina yang ada di dekatku.” Kata Jesica jujur tanpa keraguan sama sekali sambil menatap intens sekali sambil menatap intens mata Aiden.
Melihat sorot mata Jesica yang seperti menyatakan permusuhan terhadap Erlina membuat Aiden berpikir.
“Apa kamu mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka?” Tanya Aiden.
“Tidak,” jawab Jesica cepat.
“Lalu?” Tanya Aiden lagi, dia penasaran kenapa Jesica kekeh untuk tidak mengizinkan Erlina di dekatnya.
“Tidak tahu hanya perasaanku saja yang mengatakan dia tidak sebaik itu.” Jawab Jesica dengan lugas.
“Baiklah kalau begitu, aku akan menempatkan Athena dan Bianca saja disini, bagaimana?”
Walaupun sebenarnya dia tidak ingin ada pengawal perempuan namun Jesica menerima tawaran dari Aiden dengan mengangguk. Setelah mereka selesai berbicara akhirnya keluar dari kamar ganti itu.
“Athena dan Bianca kalian masuk untuk menemani Jesica dan kau Erlina dan Ajeng kembali bergabung dengan yang lain!” Perinta Aiden dengan nada dingin yang kali ini memunculkan aura mencekam.
“Ada apa dengan Nyonya Jesica?” Tanya Andrew dalam hati.
“Sesuai perintah Tuan Aiden!” Jawab mereka serempak.
Erlina yang merasa tersingkir itu hanya menunduk sopan dan kembali ke tempat pasukan inti.
“Berani sekali dia mengusirku!” Kata Erlina dalam hati.
Akhirnya acara inti dari pernikahan itu berlangsung. Aiden pun sudah menunggu Jesica di depan altar yang didesain khusus.
Perlahan pintu ballroom terbuka, Jesica yang di dampingi Uncle Nolan dan Cyra mulai terlihat dari ujung pintu tersebut.
Dengan gaun putih yang elegan, make up yang tipis namun menonjolkan sisi lain dari Jesica ini menjadikan Jesica bak seorang Princess di negeri dongeng.
Aiden sampai benar-benar tidak mengedipkan matanya sama sekali. Dia benar-benar terpesona dengan calon istrinya. Aura kecantikan Jesica bak sihir yang membuat Aiden tepaku hanya padanya.
Setelah sampai di altar Nolan memberikan tangan Jesica kepada Aiden dan menyatukannya.
“Ingat jaga dia sampai kau menutup matamu boy!” Petuah dari Nolan untuk Aiden.
“Terima kasih Uncle,” kata Aiden dengan senyum tipisnya pada Nolan.
“Jaga hati dan kehormatanmu hanya untuk suamimu Jesica.” Sekarang giliran petuah Nolan untuk Jesica.
“Baik Uncle.” Kata Jesica lembut dan tulus.
Aiden menuntut Jesica ke hadapan pendeta.
Ibadah berlangsung dengan khidmat dan sumpah janji setia sampai maut yang memisahkan pun di ucapkan Aiden dan Jesica secara bergantian si hadapan Tuhan dengan perantara pendeta serta seluruh tamu undangan yang menjadikan saksi pernikahan suci ini.
Aiden mulai memasangkan cincin di jari manis Jesica sebagai tanda pernikahan mereka.
“Jangan lepaskan cincin ini sampai kapanpun nyonya Aiden.” Perintah Aiden pelan.
Jesica yang juga memasangkan cincin pernikahannya mengatakan, “aku tidak akan melepaskan cincin ini selama aku bernafas Tuan Aiden dan kamu juga tidak boleh melepaskan cincin ini apapun yang terjadi sampai maut yang memisahkan kita.”
Setelahnya Aiden mengecup lembut bibir Jesica menyatakan bahwa Jesica sekarang adalah milik kepunyaannya. Pemberkatan pun selesai.
Tiba saatnya untuk masuk acara selanjutnya yaitu resepsi pernikahan mereka. Banyak tamu undangan yang bersalaman mengucapkan selamat dan doa untuk kedua mempelai.
“Kamu lelah?” Tanya Aiden dengan lembut.
“Tidak Tu—eh tidak honey.” Jawab Jesica dengan malu-malu. Sesuai dengan permintaan Aiden bahwa Jesica harus mengubah kata “Tuan Muda. Saat mereka sudah menikah.
Mendapat panggilan khusus dari Jesica membuat Aiden tersenyum. Entah sudah beberapa kali dalam hitungan jam Aiden menampilkan senyum mahalnya itu.
Aiden mengajak Jesica untuk turun menyapa kolega-kolega bisnisnya. Kalau selama ini Aiden hanya muncul ketika rapat penting dan urgent dan itu pun hanya dari jauh. Sungguh berbeda kali ini karena kolega bisnisnya dapat melihatnya secara dekat dapat melihatnya secara dekat bahkan berhadapan dengan Aiden.
***