Aiden memperkenalkan Jesica sebagai Nyonya Halminton dan wanita satu-satunya yang bertakhta di hati Aiden.
“Jesica!” Sapa Evan.
Jesica yang melihat teman kehadiran teman kerjanya pun minta izin pada Aiden untuk menyapa mereka.
“Hai Kak, makasih ya sudah nyempetin datang.” Sapa Jesica sambil cipika-cipiki dengan Bela dan Ayu, untuk Evan dan Angga mereka hanya bersalaman saja.
“Kamu cantik banget Jes, gak nyangka jodohnya malah bos sendiri.” Kata Angga.
Aiden yang mendengar Jesica di puji langsung meninggalkan koleganya dan menghampiri Jesica. Aiden langsung memeluk pinggang Jesica dengan posesifnya.
“Eh Honey,” kaget Jesica karena kedatangan Aiden yang langsung memeluk pinggangnya.
“Selamat Tuan Aiden, semoga langgeng sampai maut yang memisahkan.” Kata Bela dengan rama.
“Selamat Tuan Aiden,” kata Evan, Ayu dan Angga bergantian mengucapkan selamat.
“Terima kasih,” kata Jesica, Aiden hanya mengangguk kecil sebagai jawaban atas ucapan mereka.
“Kita kesana sayang,” ajak Aiden ke tempat Nolam dan Cyra berada.
Mendengar panggilan sayang dari Aiden membuat wajah Jesica menjadi merah. Jesica tersipu malu dan memainkan jari jemarinya.
Aiden yqng melihat wajah Jesica tersipu malu jadi gemas sendiri. Rasanya ingin sekali dia menerkamnya saat ini juga, tapi di sadar kalau sekarang pestanya masih berlangsung.
Langkah kaki Aiden dan Jesica terhenti saat tiba-tiba lampu dalam ballroom hotel mendadak mati. Aiden langsung memejamkan matanya dan mempertajam insting pedengannya. Dengan perlahan mereka berjalan kearah meja Uncle Nolan yang sudah memeluk tubuh Cyra.
“Sayang jangan lepaskan genggaman tanganku!” Perinta Aiden dengan tenang tapi tegas.
Aiden kembali memunculkan aura hitam dan dinginnya. Andrew dan Felix langsung menghampiri Aiden dan Jesica. Sementara pasukan inti Shadow Eagle mengamankan tamu undangan.
Sekilas Jesica melihat bayangan Erlina tapi ada yang berbeda bayangan itu tidak memakai baju yang sama seperti tadi pagi, bayangan itu menggerai rambutnya.
“Aiden bersiaplah, sepertinya akan ada yang menyambut dirimu dan Jesica.” Kata Uncle Nolan.
Aiden mengeratkan genggamannya pada Jesica. Seketika perasaan tenang itu menjadi gusar karena dia sadar sekarang dia tidak sendiri tapi ada Jesica di sampingnya.
Dor! Dor! Dor!
Terdengar suara tembakan dari arah pintu, Aiden melihat sekelompok orang masuk lengkap dengan laras panjang dan pistol di tangannya masing-masing ada lambang Mafia Dark Angle.
“Rupanya kau Dark Angle!” Geram Aiden.
Aiden melepaskan genggaman tangan Jesica dan Jesica tetap berada di sampingnya.
“Andrew!” Panggil Aiden dengan nada dingin.
“Siap Tuan Mu—“
“Nyonya Muda!” Pekik Felix.
Ucapan Andrew terhenti saat mendengar teriakan kencang dari Felix. Nolan dan Cyra menoleh ke arah Jesica. Aiden yang mendengar teriakan Felix jantungnya berdetak lebih kencang dan menoleh mencari keberadaan istrinya.
Saat Aiden melepaskan genggaman tangannya, tiba-tiba Jesica di tarik ke belakang oleh seseorang. Beruntungnya Jesica menguasai teknik bela diri dan Jesica sudah memasang kuda-kuda saat tangannya terlepas dari genggaman Aiden.
Bug! Srett! Bug!
Baku hantam tidak terelakkan lagi antara Jesica dengan seseorang yang ternyata itu adalah pria. Jesica terus memukul dan menendang ke sang lawan. Sedangkan lawannya yang kutang cekatan kelabakan menerima serangan Jesica.
Di sisi lain para inti Shadow Eagle di bantu kelompok Mafia undangan Aiden saling baku tembak dengan Mafia Dark Angle. Tanpa memakan waktu lama kelompok Mafia Dark Angle berhasil di lumpuh kan tapi ada lima orang yang berhasil lolos dari tempat itu.
Tamu undangan sudah di amankan di tempat yqng memang sudah di siapkan Andrew dan Felix.
Andrew dan Felix sebenarnya sudah mau mengambil alih, hanya saja Jesica memberikan kode untuk mereka diam di tempatnya. Sementara Aiden terpukau melihat gerakan bela diri Jesica. Lampu ballroom kembali menyala, semua orang yqng berada di sana memandang kearah Jesica.
Bug!
Jesica yang lengah mendapatkan pukulan yang lumayan kuat di wajahnya. Jesica langsung membalasnya dengan menendang wajah pria itu sampai terjengkang ke belakang dan masker yang di pakai copot.
“Kak Angga?” Gumam Jesica tidak percaya jika yang bertarung dengannya adalah kepala pelayan di tempatnya bekerja.
Aiden terbelalak melihat Jesica terkena pukulan, rahangnya mengeras dan aura hitam pekat dan dingin pun keluar. Dengan cepat Aiden menarik paksa tubuh Angga yang tergeletak akibat tendangan Jesica.
“b******n! Berani-beraninya tanganmu ini memukul wanitaku!”
Sreekk! Krek!
Terdengar suara patahan tulang dari tangan Angga seiring dengan suara dingin yang di keluarkan Oleh Aiden.
Bug! Bug! Bug!
Aiden memukul Angga dengan membabi buta. Aiden sudah tidak bisa membendung emosinya karena di depan matanya sendiri dia melihat Jesica mendapatkan pukulan dari Angga.
“Bawa dia ke markas dan jangan ada yang menyentuh mainanku ini!” Perintah Aiden.
Aiden langsung menarik pinggang Jesica dan keluar dari ballroom tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada tamu yang masih tersisa. Dan Nolan lah yang menyelesaikan semuanya seperti biasa.
Jesica berjalan di sebelah Aiden, tidak sengaja melihat Erlina dengan penampilan agak berantakan. Kuncirannya tidak serapi yang lainnya, belum lagi baju yang seakan di pakai secara terburu-buru sehingga tidak menyadari kalau ada baju yang keluar.
“Aneh, perasaan tadi aku melihat Erlina bukan memakai baju itu. Mana penampilannya seperti terburu-buru tidak seperti orang yang stay di tempat.” Batin Jesica yang menampik pikirannya mengenai Erlina.
Jesica dan Aiden sudah berada di dalam kamar pengantin mereka. Jesica takjub melihat isi kamarnya yang berserakan bunga mawar merah di atas tempat tidurnya.
“Wah, cantik sekali.” Gumam Jesica takjub.
“Buka baju sayang!” Kata Aiden dengan tegas.
Jesica terkejut mendengar permintaan Aiden.
“Yang benar aja langsung di suruh buka baju begini, emang dia pikir aku wanita apaan. m***m banget!” Gerutu Jesica dalam hati.
“Sayang kamu dengan aku tidak?” Tanya Aiden.
“Dengar Hon, tapi—aww!” Ringis Jesica.
Aiden menyentil kening Jesica karena dia tahu isi kepala Jesica saat ini.
“Aku menyuruhmu buka baju bukan seperti yang ada dalam otak kotormu itu. Aku mau melihat lebam selain di wajahmu.” Gemas Aiden pada istrinya.
“Oh, tenang saja kalau itu aku tidak terkena pukulan apapun selain di wajah. Aku cukup tangguh untuk menghindari pukulan Kak Angga tadi.” Kata Jesica berbohong.
“Jesi!” Panggil Aiden dengan tegas karena dia tahu kalau Jesica berbohong.
Mendengar suara tegas Aiden, Jesica langsung menunduk.
“Aku malu Honey,” kata Jesica pelan.
“Buka bajumu atau aku yang akan membukanya secara paksa!”
Ancaman Aiden kali ini berhasil membuat Jesica tidak berkutik sama sekali.
Dengan cepat Jesica membuka resleting gaunnya, dia menutup mata dan menggigit bibir bawahnya seperti menahan sakit. Aiden yang melihat wajah Jesica pun mengerutkan keningnya.
“Apa sekuat itu pukulannya tadi?” Batin Aiden.
Aiden sudah bisa menebak kalau Jesica menguasai ilmu bela diri, buktinya lebam di wajah Jesica biasa saja dan pukulannya tidak sampai membuat robek sudut bibir.
“Hemm sayang,” tangan Jesica terhenti seketika dan dia memanggil Aiden.
“Boleh tidak aku saja yang mengecek sendiri apa ada lebam lain di tubuhku. Aku janji kalau ada lebam bekas pukulan dari Kakak Angga aku langsung memberitahukan padamu.” Kata Jesica yang menurunkan tangannya dan resleting yang sudah terbuka tak setengahnya di punggung belakang badan Jesica.
“Tidak! Sekarang juga buka atau aku buka paksa gaun ini.” Tolak Aiden dengan nada ancaman.
“Tapi—arghh!” Aiden langsung memutar badan Jesica agak kasar dan langsung menarik cepat resleting gaunnya. Setelah itu dia kembali ke hadapannya dan membuka gaun Jesica secara menyeluruh.
Aiden mengerutkan keningnya saat melihat tubuh Jesica.
Air mata Jesica jatuh seketika melihat reaksi Aiden saat melihat tubuhnya. Jesica menundukkan badannya untuk mengambil gaunnya untuk menutupi tubuhnya.
“Sayang, look at me.” Kata Aiden dengan lembut.
***