Bab 1
Hari masih pagi ketika Davira sampai ke showroom motor besar untuk mengambil bpkb motor yang ia beli cash untuk kekasihnya Roland.
“Aku rasa Ronald akan sangat suka dengan hadiah ini,” ucap Davira pada dirinya sendiri.
“Sama-sama kak, sudah beres semua ya,” ujar petugas showroom motor itu setelah Davira menandatangani surat serah terima dokumen motor, karena dua minggu yang lalu Roland meminta padanya hadiah motor besar pada Davira sebagai hadiah ulang tahun. Awalnya dia sempat berpikir sebelum memberikan barang semahal itu pada kekasihnya, karena Om nya Steve pasti tidak akan setuju walaupun uang yang ia keluarkan adalah uangnya sendiri, namun karena bujuk rayu Roland dan juga dukungan Sahabatnya Silvia, akhirnya Davira luluh juga.
Pertama masuk kuliah Davira dulu bersama dua sahabatnya, mereka memilih kampus yang sama namun mereka mengambil jurusan yang berbeda. Seiring waktu Davira memiliki teman baru yaitu Sivia, mereka satu angkatan dan satu jurusan. Karena sering bersama akhirnya mereka bersahabat, teman yang selalu membuat Davira merasa nyaman karena apapun yang ada dipikiran Davira Silvia akan mendukungnya, peduli itu buruk atau tidak.
Hingga lambat laun persahabatan Davira dengan dua sahabatnya ketika SMA mulai terkikis, ia jarang sekali datang jika sahabat SMA nya itu mengajaknya berkumpul. Davira lebih memilih ke salon untuk mempercantik diri bersama Sivia atau sekedar shopping, namun semuanya Davira yang membayar karena pandainya Silvia merayunya hingga tanpa sadar sebenarnya ia sudah dimanfaatkan, apalagi sifat Davira yang terlalu baik pada semua orang, terutama pada sahabatnya sendiri ia sulit sekali menolak permintaan sahabat barunya itu.
Hingga suatu hari ia diperkenalkan pada Roland oleh Silvia, kakak tingkat yang memiliki wajah tampan.
“Kau ini lucu Silvia bukankah Roland itu kekasihmu?” Tanya Davira ketika Silvia menjodohkan dia dengan Roland
“Aku pacaran dengan Roland? mana mau dia sama aku, kami bersahabat sudah lumayan lama dan tidak mungkin kami menjadi sepasang kekasihnya,” ujar Silvia kala itu.
“Tapi aku sudah berjanji dengan Om ku untuk menamatkan kuliah dulu, baru pacaran,” ujar Davira kala itu.
“Kau ini lucu Davira memangnya kau anak kecil, umurmu sudah 22 tahun kau tidak butuh orang tua wali lagi, lagi pula bukan kau bilang perusahaan itu milikmu, seharusnya kau sudah bisa menggantikan posisinya sebagai pemilik yang sah karena usiamu sudah lebih dari 21 tahun, kamu sudah dewasa kamu berhak menentukan masa depanmu sendiri,” ujar Silvia kala itu, apalagi ditambah dengan perhatian gencar dari Roland yang akhirnya dia menerima cinta Roland. Walaupun sebenarnya Steve tidak setuju, karena Menurutnya pria itu bukan pria baik-baik, tapi Davira tidak memperdulikan itu, dia lebih sering melawan bahkan melanggar semua aturan yang dibuat Steve salah satunya pulang tengah malam dan pergi ke club malam.
Davira tersenyum mengingatnya, apalagi dia merasa omongan Steve salah besar membuat Davira yakin kalau kekasihnya itu sungguh-sungguh mencintainya.
“Ini kan baru pertama kali Roland meminta hadiah mahal. Jadi wajarlah kalau sekali ini aku penuhi keinginannya,” Davira berkata pada dirinya sendiri didalam mobil menuju kostan Roland.
Davira memarkir mobilnya di sebuah kos kosan mewah, dan itupun setiap bulannya Davira yang membayarnya, awalnya dia ingin memberikan apartemen miliknya pada Roland, tapi lagi-lagi dia yakin Om Steve pasti tidak akan setuju dengan rencana Davira itu, ditambah pria yang sudah membesarkan Davira sejak kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan pesawat terbang, tidak begitu menyukai Roland.
“Sebaiknya aku taruh bpkb ini di tas,” Davira lalu keluar dari mobil dan berjalan ke pintu belakang mobilnya dia lalu mengambil sekotak kue ulang tahun serta buket bunga anggrek untuk Roland.
“Petugas sekuriti kemana? ah masuk saja tidak dikunci ini.” Dengan sedikit kerepotan Davira mendorong gerbang tempat kos kosan itu lalu menaiki anak tangga karena kamar Roland ada di lantai dua.
“Sepi, apakah Roland tidak di kamar kosnya,” pikir Davira karena lantai dua itu semua pintu kamarnya tertutup, biasanya jika dia main kesini kamar Roland pintu kamarnya akan terbuka, begitu juga kamar yang lainnya jika sedang ada penghuninya.
“Tapi tadi dia bilang mau mengerjakan tugas akhirnya?” Gumam Davira sambil terus mendekat ke kamar Roland.
“Ih geli, udah ah nyusu terus,” terdengar tawa cekikikan disalah satu kamar yang ia lewati. Davira hanya menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan berjalan menuju kamar Roland.
“Sepertinya kos kosan ini memang sering dipakai yang bukan bukan deh, tapi kenapa Roland betah ya?” pikir Davira namun kemudian dia menggelengkan kepalanya tidak menggubris suara aneh dari orang yang sepertinya sedang bercinta.
“Sepi,” Davira mendekatkan kupingnya ke pintu kamar Kosan Roland, karena biasanya jika sedang di kamarnya Roland akan menyalakan televisi atau musik dari ponselnya.
“Sepertinya dia sedang mandi,” gumam Davira lagi karena dua mendengar suara gemericik air.
baru saja tangan Davira hendak mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu terdengar suara dari dalam kamar Roland.
“Segar sekali kalau sudah mandi denganmu?” Ujar suara pria yang sangat dia kenal.
“Gombal, memangnya Davira tidak pernah minta ditemani mandi?” Tanya suara perempuan yang terdengar sangat manja menyebut nama dirinya, membuat Davira mengurungkan tangannya untuk mengetuk pintu, namun kakinya tetap berdiri tegak didepan kamar Roland.
“Jadi kapan kau akan putuskan dia, aku sudah berikan semua yang kau mau,” ujar suara perempuan itu lagi.
“Mengapa suaranya mirip Silvia,” pikir Davira sambil mendengarkan baik-baik suara dari dalam kamar Roland.
“Aku bilang sabar, nanti setelah dia berikan bpkb motornya aku akan putuskan dia,” ujarnya dengan nada santai. Hati Davira semakin tidak karuan, dia mencubit tangannya seolah berharap ini mimpi, namun sayang kenyataannya tidak sesuai dengan harapannya.
Ia kemudian menarik nafas panjang pembicaraan di dalam sudah jelas kalau Roland memiliki hubungan dengan perempuan lain, bahkan sampai mandi bersama hal yang tidak mungkin terjadi dengan dirinya karena dia sudah berkomitmen hanya akan menyerahkan dirinya jika pria itu sudah melakukan ijab kabul di depan penghulu.
Kali ini kembali Davira mendengar suara tawa manja perempuan.
“Aku sudah keramas sayang masa harus keramas lagi,” ujarnya manja.
“Aku masih mau, lihat milikku sudah berdiri lagi, kasihan dia kalau tidak dimanfaatkan oleh milikmu,” ujar Roland, mungkin jika orang lain yang menyampaikan padanya, Davira tidak akan percaya karena Roland tidak pernah sekalipun mengeluarkan kata-kata tidak senonoh seperti itu padanya tapi dia mendengar sendiri.
Davira meremas budget bunga yang ia pegang lalu menjatuhkannya ke lantai.
“Sepertinya apa yang dikatakan Om Steve benar, aku saja yang keras kepala,” ujarnya dalam hati.
Tangan Davira memencet nomor yang tertera di handle pintu, kamar kost tersebut memang menggunakan smart lock dan kebetulan Davira mengetahuinya.
Sebenarnya beberapa hari yang lalu dua sahabatnya yaitu Raisa dan Eva pernah mengatakan kalau sepertinya Silvia dan Roland memiliki hubungan, namun Davira tidak mempercayainya apalagi saat itu kedua sahabat SMA nya itu tidak memiliki bukti membuat Davira berpikir kalau mereka hanya tidak suka kalau dia bersahabat dengan Silvia.
Dan saat ini Davira malah melihat dengan mata kepalanya sendiri, apa yang dikatakan sahabat SMA nya ternyata bukan rasa iri karena Davira sudah memiliki sahabat baru, tapi justru kenyataan yang sangat sulit Davira terima.
Dengan tiba-tiba Davira membuka pintu kamar kost yang ditempati oleh Roland tersebut, walaupun terkejut Savira berusaha tenang.
“Wah wah wah, apakah kalian tidak panas bergumul di siang hari?” ujar Davira berusaha menahan emosi, melihat adegan tak pantas di depan matanya dan dengan sengaja pula Davira membuka pintu lebar-lebar.