Bab 2

1185 Kata
Silvia dan Roland benar-benar terkejut, karena Davira membuka pintu dengan tiba-tiba padahal pintu dalam keadaan terkunci. “Achhh kau gila masuk ketempat orang tanpa permisi!” teriak Silvia sambil mendorong tubuh Roland yang berada di atasnya kemudian menarik selimut yang berada di lantai. “Tempat orang katamu? setahuku yang membayar kos kosan ini adalah aku, jadi siapa yang masuk ke kamar orang seenaknya? Dasar pelakor,” umpat Davira dengan nada datar namun terlihat geram. “Hai kau yang pelakor, kau yang merebut Roland dariku,” teriak Silvia tidak terima, Davira menarik nafas ternyata dia salah memilih teman. “Bagaimana kau menyebut aku pelakor bukankah kau yang menjodoh-jodohkan aku dengan Roland, apa kau sudah lupa jangan-jangan kau terlalu banyak menelan s****a makanya otakmu mampet,” ujar Davira meledek. “Sudah-sudah, kau jangan terus menyalahkan Silvia, ini semua karena salahmu! Kalau saja kamu mau mengerti aku, aku tidak perlu mencari wanita lain untuk melampirkan hasratku, aku ini pria dewasa dan normal,” ujar Roland merasa tak bersalah atas perbuatannya. “Hahaha, kau yang selingkuh malah mencari pembenaran atas tindakan kamu, ingat aku belum jadi istri secara hukum, tidak ada kewajibanku untuk melayani kau diatas kasur. Lagi pula memangnya kau tidak punya agama? Kalau berzina itu dosa,” ujar Davira dengan tatapan dingin. “Kau memang perempuan munafik,” teriak Silvia marah, namun lagi-lagi Davira tersenyum sinis. “Lebih baik jadi perempuan munafik dari pada jadi perempuan murahan sepertimu. Oya selamat ulang tahun semoga kamu bisa bahagia,” ujar Davira meletakkan kue ulang tahun mungil yang sangat cantik dan lezat itu diatas meja kecil yang ada di kamar tersebut. “Perempuan sialan! Roland hanya mendekatimu karena harta, dia sama sekali tidak mencintaimu,” teriak Silvia berusaha menunjukan kalau Davira hanya lah orang yang nelangsa dalam urusan cinta. “ Silvia!!” Bentak Roland tidak suka, karena dia tau atm berjalannya pasti akan memutuskan dirinya jika Silvia membongkar kenyataan sebenarnya pada Davira. “Jangan dengarkan dia sayang, maaf aku hanya khilaf,” ujar Roland dengan wajah dibuat sesedih mungkin. “Khilaf katamu, tadi waktu di atas tubuhnya kau sangat menikmati sepertinya? Selamat buat kalian semoga kalian berjodoh,” ujar Davira sambil berlalu hendak meninggalkan Roland dan juga Silvia yang masih setengah telanjang. “Sayang, dengarkan dulu, aku tidak mencintainya dia hanya pemuas hasratku, tidak lebih,” ujarnya kembali dengan raut memohon dan tanpa rasa bersalah. Namun Davira tidak tertarik mendengarkannya, dia sudah terlanjur jijik dan sakit hati, cinta yang begitu besar pada Roland menguap begitu saja. Padahal biasanya jika Roland melakukan kesalahan dia memohon untuk dimaafkan, Davira akan luluh. Davira membalikan badannya sambil menghela nafas panjang Roland tersenyum manis dia tahu Davira terlalu mencintainya dan tidak mungkin akan memutuskan hubungan mereka begitu saja, apalagi dia tahu Davira akan luluh jika dia mulai merengek. Davira tersenyum lalu bergantian menatap Silvia dan juga Roland yang masih memegang tangannya. “Kau yakin tidak mencintainya?” Tanya Davira, dia tidak berusaha melepaskan tangan Roland yang sedang menggenggamnya walaupun dia merasa jijik. “Iya, aku hanya butuh untuk melepaskan hasratku sayang,” ujarnya tanpa berpikir kalau perkataannya sudah menyakiti Silvia. “Plak,” tamparan keras mengenai pipinya. “Kurang ajar kau, tadi kau bilang kau tidak mencintainya kau hanya butuh uangnya,” ujar Silvia terengah-engah menahan emosi yang memuncak mendengar perkataan Roland, padahal ketika dia sedang menikmati tubuhnya Roland mengatakan kalau dia hanya mencintai dirinya. “Kurang ajar kau! berani menamparku,” ujar Roland sambil memegang pipinya yang memerah. “Hahaha, bagus sekali sandiwara kalian. Seharusnya kalian menjadi aktris daripada melakukan hal seperti ini, halal lagi uangnya,” ujar Davira sambil bertepuk tangan. “Aku tidak sedang berakting sayang aku sungguh mencintaimu. Dia yang merayuku, aku serius,” ujar Roland membuat Silvia semakin meradang. “Enak saja! Kau yang selalu minta dan selalu beralasan kalau Dia tidak pandai diatas kasur,” ujar Silvia sambil menunjuk kearah Davira. “Aku? Diatas kasur? Hahaha. Mimpi!” ujar Davira dengan tatapan jijik melihat kearah Roland. “Beruntungnya aku karena otakku masih waras, jika aku murahan sepertimu aku pasti sudah rugi besar tidak hanya hanya rugi uang tapi juga harga diri, dan hanya perempuan bodoh yang mau ditiduri sebelum ada ijab kabul di depan penghulu,” ujar Davira terlihat memandang rendah pada Silvia. “Kurang ajar dasar pelakor, kau tahu kau sudah merebut Roland dariku. Kau yang membuat aku diduakan olehnya dan dia berjanji akan menikahi setelah apa yang dia incar darimu dia dapatkan,” ujar Silvia menjerit seperti orang kesetanan. “Oya? Ternyata kau tidak hanya bodoh tapi juga dungu dan kau percaya apa yang diucapkan? Kau sebut aku pelakor padahal kau sendiri yang memintaku untuk menerima Roland sebagai kekasihku, karena kau bilang dia sahabatmu dan sangat baik dia juga setia. Ya benar dia setia sampai setelah pacaran denganku pun dia tidak meninggalkanmu karena dia butuh tubuhmu,” ujar Davira kembali membuat Silvia tidak bisa berkata apa-apa. “Mulai saat ini tanggung jawabku membiayaimu sudah aku serahkan kepada sahabat terbaik yaitu Silvia, bagaimana kau setuju Silvia? tidak banyak Kok. Membayar biaya kost 4 juta sebulan, kemudian transport dan makan 3 juta, tidak mahal kan. Mulai hari ini aku pensiun menjadi atm berjalannya,” ujar Davira tersenyum yang menyadari kebodohannya kalau selama ini dia hanya dimanfaatkan oleh Silvia dan juga Roland. “Sayang apa-apaan ini, tidak kau jangan berkata seperti itu, aku sangat mencintaimu,” ujarnya lagi-lagi dia berusaha membujuk namun sepertinya kali ini rengekan Roland sudah tidak berarti untuknya. “Sayang padaku? Sayang uangku pastinya. Dan bodohnya Aku tidak menyadari itu,” ujar Davira tersenyum sinis. “Sayang aku serius,” ujar Roland berusaha meyakinkan Davira “Aku juga serius, dan mulai sekarang kalian bisa bebas bertemu dimana saja tanpa takut aku akan tau dan marah,” ujar Davira, walaupun terlihat tegar sebenarnya hatinya sangat hancur. “Sayang! Jangan begitu, aku janji tidak akan melakukan lagi dengan dia, asalkan kamu bisa mengerti kebutuhanku,” ujarnya seperti berkata pada orang bodoh yang membuat Davira yang sedang memendam amarah malah tertawa keras mendengar perkataan Roland dan menyadari betapa laki-laki ini ternyata hanya memanfaatkannya. “Mengerti tentang apa? Apa yang tidak aku mengerti tentangmu? semua yang kamu minta aku berikan bahkan biaya hidupmu, uang kuliah apa perlu aku mengungkit hal tersebut? bahkan cd yang kau pakai sekarang aku yang membelikan, kau masih mau lebih dariku?” ujar Davira sambil menunjuk ke arah dirinya yang membuat Roland melihat kearah bawah tubuhnya yang memang hanya menggunakan cd saja. “Menurut buku yang aku baca, jika pria dewasa belum pernah melakukan hubungan layaknya suami istri, dia tidak akan terlalu menginginkan itu, karena s*x adalah candu, sekali dia merasakan maka dia akan ketagihan, aku rasa itu wajar yang artinya mungkin saja sebelum denganku kau sudah terbiasa melakukannya, entah dengan wanita yang mana. Makanya ketika perempuan murahan ini menawarkan diri, kau dengan suka hati melayaninya. Sudahlah Roland aku paham apa yang kau butuhkan, tapi jangan harap itu dariku. Aku juga mendengar apa yang kalian bicarakan tentang diriku di dalam tadi, walau sangat menjijikkan tapi aku harus yakin apa yang aku dengar bukan mimpi buruk tapi hal buruk yang harus aku terima, dan aku bersyukur untuk itu,” ujar Davira menjawab perkataan bodoh yang dikatakan seorang Roland.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN