bab 3

1128 Kata
Davira kembali memandang Silvia dan Roland bergantian. “Sekarang kita sudah tidak punya hubungan apa lagi, anggap saja apa yang sudah aku berikan padamu sebagai sedekah. Oya kunci motor ini aku ambil, nanti kau berikan motormu pada orang suruhanku, jangan coba-coba menyembunyikannya, karena kemanapun kau membawa pergi motor ini Om Stevie akan mudah menemukanmu,” ujar Davira menyambar kunci motor yang ada diatas meja lalu melangkah keluar berjalan cepat menuruni tangga, Roland tidak mungkin mengejar karena dia hanya mengenakan celana dalam sedangkan Silvia hanya menutupi tubuhnya dengan selimut. “Achhh, dasar perempuan bodoh. Mengapa kau malah memperkeruh keadaan?!” Bentak Roland kesal ia lalu membanting pintu dengan keras. “Kenapa kau menyalahkanku, kau lupa perkataanmu yang membuatku emosi!” Ujar Silvia berteriak tidak mau kalah, dia lalu mengambil pakaiannya dan membawanya ke dalam kamar mandi. “Hai mau kemana kau?” Ujar Roland melihat Silvia beranjak dari tempat tidurnya, Roland menyeretnya dan menghempaskan Silvia di atas tempat tidur. “Kau harus menerima hukuman karena sudah menghancurkan rencanaku,” ujar Roland yang langsung menggagahi Silvia tanpa pemanasan dia melakukan dengan brutal bahkan sampai Silvia kesakitan tapi tampaknya Pria itu sudah tak peduli, dia sudah dikungkung oleh amarah dan emosi. *** Sementara itu di luar gedung kos kosan, dengan nafas sesak Davira menghempaskan tubuhnya di jok mobilnya, dia menarik nafas panjang. Lalu menyalakan mobilnya dengan terburu-buru meninggalkan halaman parkir kos-kosan mewah itu. Setelah cukup jauh Davira menghentikan mobilnya ditepi jalan, tangannya memegang erat stir mobil, ia benar seperti orang habis ditipu mentah-mentah, dadanya sesak bukan karena akhirnya dia tau kalau dirinya diselingkuhi oleh orang yang ia anggap paling mengerti dirinya, tapi dia tahu kalau ternyata dia sangat bodoh karena lebih percaya Omongan orang yang baru dikenalnya dari pada orang yang sudah ia kenal sejak lahir. Sambil memukul stir mobilnya dia berteriak, ”Kau bodoh Vira mau-maunya kau ditipu oleh mereka, bahkan aku percaya dengan omongan manusia ular yang mengatakan kalau teman-temanku iri pada persahabatan kami, bisa-bisanya aku mengabaikan perkataan Raisa dan Eva sampai aku tidak bisa melihat ketulusan mereka karena cinta buta aku pada Roland. Dasar bodoh!” kembali Davira teriak kesal pada kebodohan dirinya sendiri. Davira mengambil tisu laku melap wajahnya yang penuh dengan air mata, bukan air mata karena sakit hati oleh Roland tapi air mata karena dia sudah menjadi manusia bodoh yang begitu saja percaya omongan Roland dan Silvia begitu saja. “Jam berapa sekarang? lebih baik aku pulang sebelum Om Steve pulang dan mengetahui kebodohanku, aku rasa kalau dia tahu pasti dia akan menertawakanku, achhhh aku kesal!!, ”ujarnya melajukan kembali mobilnya setelah tadi dia memarkir dipinggir jalan karena pikirannya sempat kalut. Setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit lebih akhirnya Davira sampai didepan rumah mewah dengan pagar besi tinggi berwarna hitam, tak lama pintu gerbang terbuka, dengan. Penuh hormat sekuriti membungkukkan tubuhnya. “Selamat siang Nona,” hal yang jarang terjadi Davira pulang cepat sejak berpacaran dengan Roland, bahkan tak jarang dia pulang malam sehingga arus beradu argumen dengan Steve, namun dua bulan kebelakang Steve lebih sering membiarkan, mungkin dia terlalu lelah untuk beradu argumen dengan Davira, apalagi umur Davira sudah lebih dari 21 tahun yang seharusnya dia lebih tau mana yang baik dan mana yang buruk. “Siang Pak, Davira memberikan kunci mobilnya pada sekuriti itu. Padahal sejak berpacaran dengan Roland Davira lebih suka menyimpan kunci mobilnya di dalam tas karena pasti jika dititipkan pada sekuriti rumahnya dia akan sulit mendapatkan kuncinya lagi jika ingin keluar rumah dimalam hari. “Eh iya non,” terlihat bingung namun dia tetap menerima kunci mobilnya itu. “Sepertinya Om Steve belum pulang, jadi aku rasa aman, tidak akan banyak pertanyaan darinya, jadi sebaiknya aku lepas saja kacamata hitam ini,” ujarnya dalam hati, lalu Davira masuk kedalam rumah, namun dia berpapasan dengan Mbok Rukmi, wanita yang mengurusnya sejak kecil. “Non sudah pulang, Kok Non kelihatannya habis nangis, Non gak apa-apakan?” Sederet pertanyaan keluar dari mulut wanita 65 tahun itu, dia terlihat khawatir. Rukmi terus mengikuti Davira yang tidak menjawab pertanyaannya. “Aku baik-baik saja Mbok, biarkan aku sendiri,” ujarnya hendak masuk kamar namun pintunya ditahan oleh wanita tua itu. Rukmi tersenyum kearah Davira lalu ia bertanya,”Non Mau makan? Bibi sudah siapakan sop iga kesukaan Non,” ujarnya sambil tetap tersenyum. Namun Davira menggelengkan kepalanya dia sedang tidak ingin apa-apa saat ini. “Aku cuma ingin sendiri Mbok. Nanti kalau aku lapar, aku akan turun ke ruang makan,” ujarnya sambil melempar tasnya ke atas tempat tidur. “Nona yakin, kalau Nona tidak apa-apa?” Tanya Rukmi sekali lagi? Ia tahu Nona kecilnya sedang tidak baik-baik saja. “Iya Mbok, aku baik-baik saja,” sekali lagi Davira meyakinkan, walau dia tau Rukmi pasti tidak percaya karena wanita paruh baya itu sudah mengurusnya sejak ia masih kecil. “Baiklah, Mbok ada di bawah kalau Non perlu apa-apa bilang saja ya,” ujarnya dengan nada suara lembut. “Iya Mbok,” ujarnya, kemudian Davira duduk di pinggir tempat tidur sambil melepas sepatunya, Rukmi menutup pintu kamar Davira perlahan dan membiarkannya sendiri. “Semoga dia baik-baik saja,” ucap Rukmi pada dirinya sendiri, wajah terlihat cemas lalu berjalan menuruni anak tangga untuk kembali menuju ruang belakang rumah mewah itu. “Ada apa Mbok dengan Nona? tumben dia pulang siang?” Tanya Vino tiba-tiba sudah berdiri didepan Rukmi yang membuat dirinya terkejut. “Kau membuatku terkejut,” omel Rukmi memegang dadanya. “Maaf Mbok. Aku baru terima laporan kalau Nona pulang dan dia memberikan kunci mobilnya pada penjaga di depan padahal biasanya dia sudah tidak pernah melakukan itu,” ujar Vino terlihat wajahnya seperti orang penasaran. “Aku juga tidak tahu karena dia tidak mau bercerita apa-apa padaku,” ujar Rukmi terlihat sedih. “Oh, ya sudah kalau begitu. Aku laporan dulu ke Mas Steve,” ujar Vino lalu meninggalkan Rukmi yang masih memegang dadanya karena terkejut. Sementara di dalam kamar Davira mengacak-acak rambutnya sendiri, dia bukan kesal pada Ronald yang sudah mengkhianati dan berselingkuh dengan perempuan yang dianggap sahabat oleh Davira, tapi dia kesal pada dirinya sendiri karena dia merasa bodoh dan mengabaikan omongan orang yang selama ini menjaganya dengan baik tanpa pamrih yaitu Om Steve, bahkan hampir setahun Davira menjauh dari Om Steve setelah Om steve tidak menyetujui hubungannya dengan Roland. Pria yang dianggap hanya memanfaatkan Davira. Padahal Steve adalah orang yang membesarkannya, orang yang rela mengorbankan masa mudanya hanya demi menjaga dirinya, tapi dia malah lebih percaya bujuk rayu Roland orang yang belum lama ia kenal. “Bisa-bisanya aku bodoh seperti ini. Lebih percaya omongan orang yang belum lama aku kenal dari pada Omku sendiri. Aku memang benar-benar bodoh, tapi jika aku meminta maaf pada Om Steve dan mengakui kebodohanku, pasti aku malah menjadi bahan ejekannya,” Davira kembali menarik nafas panjang dia lalu membaringkan tubuhnya yang terasa lelah dan tak lama dia benar-benar terlelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN