"Elanor ngambek." Keluhku yang tidak mengerti kenapa Elanor mendadak begitu tidak sudi menatap wajahku. "Kau tidak tau kenapa? Dasar bodoh!" Cuap Agusta seraya mencomot kalkun bakarku. Ya, kini setelah kejadian kemarin malam yang agak panas itu, Elanor menjauhiku. Sementara Agusta malah bersimpati kepadaku, si induk setan itu menemaniku menghabiskan malam dengan membakar kalkun bersama denganku. Kami saling curhat. Rasanya aneh mengingat kami memperebutkan uke yang sama.. walau dia yang seeanaknya menyerobot milik ku sih.. "Huh! Memangnya kau tahu kenapa?" Ketusku, aku mendengus sebal seraya menyerap bir ku. "Tentu saja, kau lupa aku ini seorang psikolog? aku ini mempelajari psikologi kepribadian dan abnormal secara khusus." Ah ya, aku lupa.. dia kan sejenis Elanor yang tertarik denga

