Sudah hampir seminggu rumah tampak sepi, tanpa benda-benda milik Denisa yang berhambur. Ibunya sepertinya membawa anak itu ke rumah kakeknya. Meja makan yang kosong, sekosong hatiku sekarang. Aku jadi rindu suara tangis Denisa yang sebelumnya kubenci. Juga ... kehadiran Ratih. Kubuka ponsel berkali-kali tak ada tanda-tanda menghubungi atau sekedar mengirim chat memberi tahu keadaannya. Ah, aku yang sebelumnya cuek dan tak pernah mengklik kontaknya sekarang kini sangat ingin mendapat pesan darinya? Aku pasti sudah tak waras, atau ... jangan-jangan aku baru waras? Suara ketukan pintu membuatku menoleh. Syukurlah, Ratih akhirnya datang. Sepertinya aku perlu bicara padanya sebelum semua terlambat. Buru-buru aku meraih pintu depan dan membukanya. Apa? Bukan Ratih, tapi ayahnya yang sepuh

