GADIS DI TEPI SUNGAI

3026 Kata
Di bilik rumah besar Lewanu, terlihat Lansa sedang berdiri bersandar pada pintu yang tinggi itu. Matanya nyalang menatap ke arah tubuh seorang gadis yang tergeletak di atas dipan kayu, beralaskan kain yang ditenun rapi dan lembut, bermotif hewan. Tangannya meraba dagunya yang tidak gatal. “Bagaimana demamnya, Bibi?” Lansa bertanya dengan lirih pada seorang perempuan setengah tua yang terlihat sedang mengompres kepala gadis yang masih tak sadarkan diri itu. Perempuan yang dipanggil bibi oleh Lansa itu adalah Aruma. Mendengar pertanyaan Lansa, Aruma menggeleng pelan dan wajahnya terlihat mengerut bingung. “Demamnya sangat tinggi, Lansa. Apa yang terjadi pada gadis ini sebenarnya?” Aruma bertanya dengan nada rendah, menatap sekilas ke arah Lansa yang gelisah untuk kemudian kembali melemparkan pandangannya pada gadis yang kini ada dihadapannya. Lansa menghela napas berat. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana ia melihat Yoki memperlakukan Yiska dengan kasar. Bahkan menamparnya hingga gadis itu tersungkur dengan mulutnya yang sobek, bahkan sampai mengeluarkan darah. Entahlah, ada rasa tak terima atas apa yang dilakukan Yoki pada Yiska. Sisi hatinya yang tertutup seolah menyimpan kemarahan tersendiri untuk Yoki. Leti yang baru datang dari luar sambil membawa sesuatu dalam mangkuk tembikar, terlihat mendekat ke arah Aruma. “b******n lelaki itu, Bi! Yoki hampir memperkosa gadis ini,” jawab Lansa sedikit beremosi disertai geram, kemudian duduk pada sebuah kursi kayu di dekat pintu. Tiba-tiba sendok kayu yang digunakan oleh Leti untuk mengaduk isi tembikar itu terjatuh. Sepertinya karena Leti terkejut mendengar jawaban Lansa yang mengandung kegeraman dan amarah namun jelas ditahan dan disembuyikan di balik kalimatnya. “Hati-hati, Leti!” Aruma mengingatkan. Leti hanya mengangguk dengan jari-jari yang tetiba gemetar demi mendengar kalimat Lansa yang mengabarkan bahwa gadis muda yang kemarin pagi ditemukan warga Cherokee itu, hampir saja diperkosa oleh Yoki. Apa yang ada di kepala laki-laki itu sehingga dia nekat melakukan percobaab perkosaan pada gadis ini? Tak cukupkan dia melayani Yoki kapanpun laki-laki itu berhasrat dan berkehendak, tak peduli waktu bahkan resiko yang harus dia tanggung? Leti membathin dalam hati. “Apakah sudah dingin, Leti?” tanya Aruma mengenai isi mangkuk tembikar itu. Leti hanya mengangguk kemudian mengangsurkan mangkuk itu kepada Aruma. Aruma menghidunya sejenak dan mencelupkan ujung jarinya ke dalam mangkuk untuk mengukur suhunya. Sejenak Aruma melirik jari-jari tangan Leti yang gemetar. “Ada apa dengan dirimu, Leti? Mengapa tanganmu seperti bergetar?” Leti terkejut dengan pertanyaan Aruma. Dia buru-buru menggeleng sambil menenangkan hatinya agar tidak gemuruh dan gemetar demi mendengar informasi bahwa gadis yang kini sedang mereka obati nyaris diperkosa oleh Yoki. “Bantu aku meminumkan jamu ini, Lansa!” Aruma memberi perintah kepada Lansa, setelah memastikan bahwa Leti tidak apa-apa dengan kegemetarannya. Laki-laki berbadan tinggi itu bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah dipan kayu. “Angkat bagian kepalanya agar dia bisa meminum ramuan ini.” Lansa mengikuti perintah bibinya itu kemudian mengangkat kepala dan bahu Yiska.  Dan sungguh, baru kali ini Lansa menyentuh perempuan secara langsung. Kelembutan kulit Yiska serta harum rambut gadis itu mampu membuat Lansa sedikit tertegun. Karena jujur saja, semenjak usianya dewasa, dia belum pernah menyentuh perempuan dalam arti yang sebenarnya. Lansa menatap Yiska tanpa kedip. Ada geriap senyar yang merambati kulit tubuhnya ketika telapan tangannya yang kokoh dan kasar harus beradu fisik dengan kelembutan kulit Yiska. “Apa yang kau lamunkan?” Aruma bertanya sambil berusaha meminumkan ramuan itu dengan sendok kayu. Meski tak banyak yang bisa masuk ke lambung Yiska, setidaknya ada beberapa sendok yang berhasil diminumkannya. “Turunkan kembali kepalanya, Lansa. Kita biarkan dia istirahat. Mudah-mudahan saja demamnya segera turun.” Lagi-lagi Lansa hanya mengikuti perintah Aruma. “Biarkan Leti yang menunggui gadis ini. Kita tunggu di luar saja,” Aruma mengajak Lansa keluar dari bilik yang ditempati Yiska. Membiarkan Leti untuk menunggu dalam kepatuhannya. Lansa mengikuti Aruma berjalan menuju ke ruang tengah yang luas di lantai atas bangunan kayu itu, kemudian duduk pada kursi kayu yang terletak di tengah ruangan. Rupanya Leti sudah menyiapkan minuman hanat di sana. “Apa yang sebenarnya terjadi? Kulihat engkau menatap gadis itu seolah engkau melihat seseorang yang pernah kau kenal sebelumnya.” Aruma tak bisa lagi menyembunyikan rasa ingin tahunya atas reaksi Lansa terhadap gadis yang kini masih tertidur karena demam di bilik tidur Lansa, di lantai atas rumah panggung kayu mereka. Aruma bertanya sambil mengangkat teko tembikar berisi minuman yang masih panas yang rupanya sudah disajikan oleh Leti sebelum tadi membawa ramuan untuk Yiska. Menuangkan dengan sabar ke dalam mangkuk tembikar dan mengangsurkannya ke hadapan Lansa. “Yoki hampir saja memperkosa gadis ini,” Lansa menjawab dengan jawaban yang sama. Aruma tersenyum kecil dan merasa geli. “Aneh. Biasanya kamu tak peduli dengan keadaan para tahanan. Separah apapun Yoki memperlakukan mereka, kamu tak pernah ambil pusing karenanya.” Lansa tak menjawab, hanya menghidu aroma rempah yang menguar dari minuman panas yang tersaji di depannya itu. “Katakan padaku, Lansa.” Lansa menatap wanita yang telah mengasuhnya dari kecil itu dengan tatapan yang susah dimengerti oleh Aruma. “Apa yang harus aku katakan, Bi?” “Alasan. Katakan apa alasan yang kau miliki sehingga kamu menghajar  Yoki dengan demikian kalap dan membabi buta hanya untuk seorang tahanan. Ada apa sebenarnya?” Lansa terdiam, mencari kalimat yang paling tepat agar apa yang akan disampaikannya tak membuat bibinya salah mengerti. Aruma kemudian duduk di depan Lansa sambil menatap Lansa seolah menelisik makna wajah laki-laki itu. “Wajahnya membuatku ingat seseorang,” Lansa menjawab dengan nada rendah. “Apakah itu Hima?” Aruma menebak cepat, sembari menatap Lansa dengan pandangan tajam penuh selidik. “Ya!” Lansa mengangguk lirih, tak bisa menyembunyikan sebersit rasa perih yang melintas dalam benaknya, meninggalkan luka tanpa darah yang terasa menyayat. “Sudah bibi katakan sejak awal, jangan mendekati Hima. Bagaimanapun gadis itu sudah dijodohkan dengan keponakan  bulubalang Meka.” “Tapi Hima tak mencintai laki-laki itu.” “Bukan berarti kamu berhak merebut perempuan yang sudah memiliki calon suami, apapun alasannya, Lansa.” “Lalu apa aku juga harus seperti mereka? Aku juga tak mencintai Mona meskipun kami dijodohkan sejak kecil. Kalau Bibi Aruma tahu, aku sama sekali tak mencintai perempuan itu.” Lansa bicara dengan nada rendah namun terkesan tegas, membuat Aruma menatap tajam ke arah Lansa. “Bibi rasa, kau adalah laki-laki paling bodoh yang pernah hidup di Cherokee ini.” Lansa menatap Aruma dengan pandangan tajam penuh pertanyaan.  “Mengapa Bibi Aruma mengatakan bahwa aku laki-laki bodoh?” “Tentu saja kamu bodoh karena menolak Mona. Kamu tahu, beberapa anak kepala suku tetangga kita bahkan sangat menginginkan gadis itu untuk dijadikan istri. Coba kamu pikirkan, apa yang kurang dari Mona. Dia cantik, pandai ilmu bertarung, dan yang pasti, dia pewaris tahta suku Zuni. Kamu tahu seberapa besar kekuatan suku Zuni? Seberapa hebat mereka memiliki kebun-kebun gandum yang luas dan kebun buah yang semuanya menjanjikan kesejahteraan untuk para penduduknya. Gadis-gadisnya terkenal hebat dalam menghasilkan tenunan yang dijual ke kota.” Lansa semakin kesal ketika rencana perjodohannya selalu dikaitkan dengan kekuasaan dan harta. “Kalau aku menikah dengan Mona, maka seumur hidupku, akan melihat laki-laki itu. Lelaki yang telah membawa Hima-ku, menjadikannya istri, lalu mati hanya untuk melahirkan keturunannya? Karena Mona dan laki-laki itu masih saudara sepupu.” Aruma menggeleng. “Bibi tak habis mengerti, Lansa. Ternyata di balik tubuh kokohmu, kamu memiliki hati yang rapuh yang tak pantas dimiliki oleh seorang calon pemimpin.” Ucap Aruma dingin. Ucapan Aruma, menumbuhkan rasa perih di hati Lansa, memantik bara yang menyalakan berkobarnya rasa ego dalam diri laki-laki itu. Lansa menarik  napas dalam dan menghembuskan untuk mengurangi rasa sesak yang tiba-tiba hadir menyakitkan. Pandangannya tertuju pada gadis yang terbaring lemah itu, yang terlihat dari tempat mereka duduk karena Lansa membiarkan pintu biliknya terbuka. Pikirannya menerawang bukan untuk memikirkan perjodohannya, melainkan gadis itu. “Bi, kalau saja aku boleh memilih, aku ingin jadi seperti yang lainnya. Bukan menjadi calon pemimpin, karena ini hanya akan membuatku tenggelam dalam arus kehidupan yang tak kuinginkan.” Jelas Lansa tanpa menatap wajah Aruma. Aruma mengambil gelas berbahan tanah liat di dekatnya. Dituangkannya air danau yang segar dari ceret tanah liat yang ia buat sendiri. Ia merasa hati Lansa sedang dilanda kegundahan. Namun, di balik itu semua, ia ingin Lansa tetap mengikuti pilihan ayah Lansa, untuk menikahi gadis yang telah dipilihkan. Aruma berjalan menghampiri dan memberikan Lansa segelas air segar. Lansa mengambil gelas itu dengan wajah tertunduk. Ia menegak habis air di dalam gelas yang diberikan bibinya. Rasa dingin menjalar terasa di dalam jantungnya. Namun, tidak semudah itu keputusannya bisa berubah hanya karena segelas air. “Segar sekali air itu bukan, mengapa pikiranmu tidak bisa sesegar air danau kita? Coba pikirkan, bagaimana dengan kehidupan penduduk Cherokee yang semuanya sedang menggantungkan kebijakannya pada ayahmu sekarang? Mereka terbiasa dalam pengaturan ayahmu dan ayahmu dengan susah payah mengutamakan kesejahteraan mereka. Kalau tak ada yang memikirkan mereka, bagaimana dengan kehidupan mereka di masa datang? Bagaimana dengan nasib anak cucu penduduk kita? Mereka semua butuh penghidupan, butuh kesejahteraan.” “Jadi bagaimana jika aku menyimpulkan bahwa kalian sengaja menukar diriku dengan segala kesejahteraan yang kalian dengung-dengungkan itu?” Aruma terkesiap. “Kamu berhak menyimpulkan apapun mengenai hal ini, Lansa. Tapi kamu harus ingat. Kelangsungan hidup suku kita tergantung pada pernikahan kalian. Karena orang tua Mona adalah seorang Hulubalang dengan penduduk yang terkenal tangguh dalam peperangan, hebat dalam ilmu kepemimpinan, dan kita memiliki harapan yang besar agar penduduk kita bisa sejahtera seperti mereka.” Lansa semakin tajam menatap bibinya. “Apakah itu artinya aku tergadaikan demi kelangsungan Cherokee? Aku hampir tak percaya, ayah dan Bibi memiliki pikiran yang sama, sama-sama picik.” Lansa menjawab dengan sinis. “Ini bukan masalah kepicikan, Lansa. Ini masalah kelangsungan hidup penduduk Cherokee. Kelangsungan hidup mereka ada di tanganmu.” Jelas Aruma memandang ke luar jendela. “Dalton juga anak ayah. Kenapa ayah tidak menjodohkan Mona dengan Dalton?” tanya Lansa tiba-tiba. Degup jantung Aruma seketika berdetak lebih cepat. Bibirnya mendadak kelu, berat untuk menjawab pertanyaan Lansa. “Apa yang kau katakan, Lansa? Apakah kau tak tahu, siapa Dalton? Dia memang anak ayahmu, tapi bukan anak kandung. Dalton hanya anak  yang kebetulan demikian mengenaskan ketika bertemu dengan ayahmu. Dan kau tahu? Ayahmu yang tegas itu bahkan hatinya tersentuh untuk membawa Dalton pulang dan merawatnya hingga dewasa seperti sekarang,” jawab Aruma dengan berat hati. Lansa tak menjawab. Dia meminum kembali minuman dalam mangkuk tembikar itu. “Apa kata Hulubalang Meka jika mendengar idemu yang konyol itu?” “Kenapa semua peduli dengan perasaan Hulubalang Meka, Mona, kelangsungan penduduk Cherokee? Tapi tak satupun yang peduli dengan apa yang ada dalam pikiranku!” “Karena kamu satu-satunya lelaki lembah Cherokee yang pantas membawa penduduk Cherokee agar tidak terancam oleh perluasan wilayah suku Zuni.” “Bahkan di saat seperti ini, Bibi masih memikirkan kekuasaan di lembah Cherokee ini.” Aruma menatap Lansa tajam. “Sekali lagi Bibi tegaskan, bahwa ini bukan sekedar masalah kekuasaan, Lansa. Tapi ini menyangkut hidup dan matinya penduduk lembah Cherokee. Menyangkut ladang-ladang gandum yang tak seberapa luas, sementara rakyat kita yang harus dikasih makan tidak sedikit, juga hasil kebun lain yang selama ini dikelola penduduk kita. Kalau kau merasa sebagai laki-laki yang jantan, seharusnya engkau memikirkan wargamu. Bukan hatimu!” Rahang Lansa seketika mengeras, mendengar segala ucapan Aruma. Sepeti berada di lereng terjal. Berbalik atau memilih terjun untuk menghindari semuanya. Perasaan kesal Lansa tertahan di dadanya. Semua keluarganya tak ada yang bisa menjadi sandaran keresahannya, semua memiliki opini yang serupa. Menikahi Mona. “Bibi hanya memperingatkan, jangan lagi menentang ayahmu. Sudah terlalu banyak ketidakcocokan diantara kalian. Bibi tak tahu lagi jika kali ini kalian harus berbeda pendapat lagi. Jadi tolong hargai ayahmu.” Terlihat Aruma berbicara dengan nada geram sembari beranjak. Tapi baru beberapa langkah, perempuan itu menoleh kembali ke arah Lansa. “Ingat, Lansa. Kita harus mengembalikan gadis itu ke biliknya di bangsal tahanan. Aku tak ingin kita mendapat masalah dengan membawa gadis itu ke rumah ini. Bagaimanapun, dia masih berstatus tahanan ayahmu. Siapkan saja jawaban jika nanti ayahmu bertanya mengenai pemukulan yang kau lakukan terhadap Yoki.” “Aku tak akan mengembalikan gadis itu ke bilik tahanan lagi. Dia akan tetap berada di rumah ini!” Lansa menjawab tegas, membuat Aruma menjadi putus asa sekaligus geram. “Terserah apa keputusanmu, Lansa. Tapi jika ayahmu murka, jangan salahkan Bibi.” Itu kalimat terakhir bibi Aruma sebelum pergi dengan kasar meninggalkan Lansa. Perempuan setengah tua yang sebenarnya sangat menyayangi Lansa itu kemudian menuju ke kebun belakang rumah. Hari ini Aruma berniat memetik buah apel ranum yang pohonnya tertanam di kebun belakang rumah besar Lewanu. Mereka tak menyadari, bahwa seseorang mencoba mencuri dengar apa yang mereka bicarakan. Dan begitu terdengar langkah Aruma meninggalkan bilik dapur itu, si pencuri mendengar langkah kaki Aruma, ia pun segera pergi menjauh.   * * *   Sepeninggal Aruma, Lansa keluar dari rumahnya dan menuju ke kandang kuda yang ada di samping rumah. Seorang penjaga kandang terlihat berjalan menyambut Lansa dengan tergopoh-gopoh. “Siapkan kudaku, Lanu.” “Baik. Lansa.” Lanu, lelaki berusia kisaran 40 tahu memasuki salah satu kandang dimana terdapat seekor kuda jantan berwarna hitam kecoklatan, dengan surainya yang panjang. Otot-otot tubuh kuda itu terlihat sangat kokoh dan bersih terawat. Lanu menuntunnya setelah memasang sebuah pelana di punggung kuda itu. Seperti tahu bahwa ia hendak dibawa oleh tuannya, kuda hitam itu berjalan tegap menuju Lansa. “Kita akan berburu, Russo!” Lansa berucap lirih sambil mengusap surai kuda itu dengan tepukan semangat. Kuda itu meringkik seolah mengerti apa yang Lansa bicarakan. Lansa kemudian menuntun kuda itu keluar dari istal dan kemudian menungganginya meninggalkan pekarangan rumah. Lansa memacu kudanya menuju ke arah selatan, ke arah hutan belantara di kaki gunung Cherokee. Derapnya yang membahana terdengar rancak dan tegap, membuat rambut Lansa yang panjang menggeriap gagah. Ikat kepala dari kulit harimau terlihat terpasang di kepala lansa. Sebuah busur lengkap dengan anak panahnya terlihat tersandang di bahunya yang kokoh, meski dia memakai baju tanpa lengan. Sebuah celana jeans yang sudah sangat lusuh  itu  bertengger manis di pinggangnya yang ramping dan liat. Sepatu boots coklat lusuh itu dikenakannya dengan asal. Beberapa penduduk yang bersimpangan jalan dengan Lansa memilih berhenti untuk sejenak menatap, bagaimana gagah dan mempesonanya pewaris suku Cherokee itu. Bahkan, beberapa gadis suku Cherokee akan dengan sembunyi-sembunyi sengaja meninggalkan mesin tenun tradisional mereka dan mengintip dari balik rumahnya ketika Lansa lewat. Laki-laki bertubuh tegap dan coklat itu terus memacu kudanya. Dalam angannya hanya ada satu hal bahwa dia harus melampiaskan kekesalan hatinya atas takdir yang harus dipikulnya. Yang karena beban itu bergayut di pundaknya, dia harus memendam gejolak cintanya yang dulu kandas. Kisah cinta remaja yang dialaminya bersama dengan Hima. Dia adalah Hima. Gadis cantik keturunan suku Zuni  yang akhirnya dipaksa menikah dengan seorang laki-laki suku Zuni. Perempuan itu adalah cinta pertama Lansa. Yang kepadanya Lansa merasakan ingin memberi yang terbaik, ingin melindungi, ingin selalu bersama, bahkan ingin membuat gadis itu tersenyum. “Heeaa..heeaa!” Lansa memacu kudanya semakin kencang ketika senyum dan wajah Hima melintas dalam angannya.  Kudanya berlari semakin jauh meninggalkan lembah Cherokee, melintas jalanan yang mulai terjal menuju ke hutan pinus yang lebat dan hijau gelap. Sampai di tanah yang agak lapang, Lansa menghentikan kudanya. Laki-laki itu terengah di atas tunggangannya. Belum lagi reda napasnya yang menderu, laki-laki itu kembali menghela kudanya untuk meninggalkan tanah lapang di kaki gunung Cherokee itu menuju ke bawah. Hawa sejuk yang nyaris menjadi dingin tak membuat Lansa menghiraukan rasa dingin yang dirasakannya. Dia terus berpacu menuju ke sebuah aliran sungai di kaki gunung Cherokee. Ketika tiba di sungai itu, Lansa menarik kuat tali kekang kudanya hingga kuda itu berhenti dengan kaki depan yang terangkat dan meringkik keras. Lalu dengan sigap, Lansa turun dari kudanya. Membiarkan kudanya merumput sementara dia berdiri masih dengan napasnya yang terengah. Busur dan anak panah masih tersandang gagah di bahunya. Mata Lansa menyisir ke sepanjang aliran sungai, meneliti dengan matanya yang tajam, sekiranya ada seekor rusa atau sekedar kambing hutan yang bisa di bawanya pulang sebagai buruan. Tapi meskipun sejenak menelaah, tak seekor hewanpun melintas. Lansa hanya bisa meneliti dengan pandangan menyipit ke arah aliran sungai yang suaranya terdengar gemericik. Lalu Lansa ingat, di tempat ini, beberapa hari yang lalu dia pertama kali melihatnya kembali. Melihat gadis cantik yang selama ini nyaris menyita perhatiannya. Hari itu ... Lansa sudah bersiap mengendap dengan anak panah yang sudah siap meluncur dari busurnya. Mata dan telinganya waspada ketika terlihat ada semak yang bergoyang-goyang di tepian sungai. Tapi alangkah terkejutnya Lansa ketika yang keluar dari semak itu bukan kambing hutan atau rusa. Melainkan seorang perempuan yang sedang menggendong seekor kelinci hutan. Gadis itu terlihat demikian riang dengan kelincinya. Tapi jelas bukan kelinci atau yang lainnya yang membuat Lansa demikian terkejut, melainkan wajah gadis itu. Ya, wajah gadis itu sangat mirip dengan Hima. Tak satupun dari dirinya yang tak mirip dengan Hima. Hanya saja perempuan dengan kelinci di gendongannya itu berpakaian modern, celana berbahan jeans dan sebuah kemeja motif kotak yang membalut tubuhnya yang terlihat sintal dan menggoda. Tapi jelas gadis itu bukan Hima, karena kabar terakhir yang Lansa dengan dari Dalton. Hima meregang nyawa saat melahirkan anak pertamanya. Dan Lansa merasa sangat marah sekaligus sedih kala itu. Karena Yiska tak bisa lagi dilihatnya, meski hanya menatap dari jauh, seperti yang selama ini Lansa lakukan jika dia tiba-tiba merindukan perempuan itu. Tapi gadis yang kini sedang memegang kelinci hutan itu berhasil membuat Lansa terkejut dan terpana di saat yang bersamaan. Belum lagi hilang keterkejutannya, sebuah teriakan terdengar menggema diantara pohon-pohon pinus yang tua dan tinggi menjulang. “Yiskaaaa...!!! Ayo kita kembali!!! Hari sudah hampir gelap!” terdengar suara lelaki berteriak dari tempat yang lebih tinggi dari gadis itu. Gadis yang memegang kelinci itu mendongak ke arah sumber suara, kemudian menjawab dengan teriakan pula. “Yaaaa!!! Aku segera kembaliii...!!!” Lalu Lansa melihat gadis itu kembali mengelus kelinci hutan itu seperti mengucapkan sesuatu, sebelum akhirnya melepas hewan cantik itu. Kelinci itu lalu berlari menjauh dari gadis itu memasuki hutan yang sepertinya memang mulai senja. Lansa masih mengawasi gadis itu yang berjalan sambil berlari meninggalkan tepian sungai menuju ke arah atas, dimana suara laki-laki tadi memanggilnya. Lansa masih mengawasinya, hingga gadis itu hilang diantara pepohonan pinus. Lansa kemudian menurunkan busur yang sejak dari tadi terentang tegang, seolah siap membidik mangsa. Lansa meraba dadanya, merasakan jantungnya yang berdegup jauh lebih kencang karena wajah gadis itu sangat mirip dengan seseorang yang bahkan sekarang sudah tidak ada. Hima. Ya, gadis kota itu terlihat demikian mirip dengan kekasih hatinya yang terenggut dari sisinya.   Tiba-tiba kudanya yang sedari tadi merumput terdengar meringkik keras. Lansa terkejut dan segera menoleh, mencari sesuatu yang telah membuat kudanya terkejut dan merangkak. Benar saja, di sisi sebelah selatan dari tempatnya berdiri, Lansa melihat seekor harimau mengendap ke arah mereka. Hari ini Lansa dikejutkan oleh dua hal, perempuan dengan wajah mirip Hima, dan harimau yang membuat kudanya meringkik tajam. Kemudian Lansa kembali sigap dengan merentangkan busurnya dengan anak panah yang siap meluncur. Sejujurnya Lansa ragu dengan apa yang akan dilakukannya. Jika dia tidak membunuh harimau itu, tentu binatang buas itu yang akan membunuhnya. Namun jika Lansa membidikkan panahnya dan membunuh harimau itu, jelas itu bertentangan dengan adat di Cherokee yang melarang perburuan harimau. Karena menurut keyakinan tetua mereka, harimau itu adalah penguasa suku-suku satwa di rimba gunung Cherokee. Memusuhi penguasa mereka jelas menggelar permusuhan dengan suku satwa itu. Dan itu tidak akan bagus untuknya juga untuk penduduk Cherokee. Karena mereka juga akan terancam keselamatannya. Tapi Lansa tak punya pilihan, hingga dia kembali memutuskan untuk merentangkan busur itu. Dengan sekuat tenaga menarik talinya untuk kemudian melepaskan anak panahnya. Anak panah itu pun meluncur cepat dari pegasnya, meninggalkan suara berdesing yang membuat telinga sedikit ngilu.   * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN