Setelah mengendap untuk menguping pembicaraan Lansa dan Aruma, Leti segera kembali ke bilik Yiska. Hatinya gundah setelah mendengar pengakuan Lansa yang mengatakan lagi bahwa Yoki hampir saja memperkosa Yiska, hingga Lansa dengan membabi buta menghajar Yoki.
Leti menatap Yiska dengan pandangan yang dia sendiri tak bisa mengartikan apa yang dia rasakan terhadap gadis ini. Oke, Leti mengakui bahwa gadis kota ini memang jauh lebih cantik dari dirinya. Tapi bukan berarti Yiska bisa menggoda siapapun lelaki yang ada di Cherokee ini. Termasuk diantaranya adalah Yoki. Bagaimanapun, dalam pikiran Leti, laki-laki kepercayaan Lewanu itu adalah miliknya, kekasih hatinya yang kepadanya Leti sudah menyerah bulat-bulat, jiwa dan raga.
Mengingat lelaki itu, Leti terkesiap hingga dia memutuskan untuk meninggalkan Yiska sendirian dan berjalan mengendap menuju ke bangsal dimana para kaki tangan Lewanu biasa berkumpul. Ya, di belakang rumah besar Lewanu memang terdapat rumah-rumah untuk para kaki tangan dan beberapa pekerja. Salah satunya adalah rumah yang biasa ditinggali oleh Yoki.
Leti mengetuk pintu tumah itu setelah sebelumnya celingukan, karena khawatir ada yang melihatnya menyelinap ke bangsal Yoki.
“Masuk.” Terdengar suara serak Yoki, tertahan seperti sangat kepayahan.
Leti mendorong pintunya dan segera menuju ke salah satu bilik rumah. Gadis itu sangat terkejut begitu mengetahui bagaimana keadaan Yoki setelah dihajar oleh Lansa tadi, di bangsal tahanan.
“Ya, Tuhan. Apa yang sebenarnya terjadi, Yoki?” Leti berkata dengan nada ditekan rendah dengan penuh nada khawatir sambil mendekat.
Yoki terbatuk dengan susah payah. Leti mencoba meredakannya dengan mengusap leher laki-laki berambut panjang itu.
“Lansa yang telah melakukan hal ini padaku. Lihat saja, aku tak akan tinggal diam karena dia telah memperlakukan aku seperti ini!” Yoki berkata dengan berat. Matanya menyalak tajam penuh dendam.
Leti yang sebenarnya juga tak terima, kini memandang Yoki dengan pandangan sengit dan mengejek.
“Kurasa Lansa tak akan melakukan apapun tanpa alasan,” Leti berkata dengan nada rendah dan bergetar, menandakan bagaimana susahnya dia menahan amarah dan rasa cemburu akan apa yang telah Yoki lakukan terhadap Yiska.
“Apa maksudmu?” Yoki menatap tajam ke arah Leti yang tertunduk meski geram.
Dilihatnya perempuan itu beranjak ke sebuah meja kayu untuk mengambil air dari guci besar, dan menuangkannya ke sebuah mangkuk tanah liat yang terlihat mengkilap. Kemudian mengambil sebuah kain dan menyeka luka-luka Yoki.
“Aku hanya ingin tahu, apa yang kau lakukan sehingga Lansa menghajarmu seperti ini? Setahuku, Lansa selalu bertindak dengan tepat dan bukannya tanpa alasan,” tanya Leti dengan nada rendah, sambil tetap menyeka luka lebam di tubuh Yoki. Matanya tak lepas dari menatap Yoki, mencari sebuah kebenaran akan apa yang tadi didengarnya dari Lansa. Dalam hati Leti sungguh berharap bahwa sinar mata Yoki akan menunjukkan sebuah penyangkalan atas apa yang dikatakan Lansa.
Yoki terdiam tak menjawab dan hanya meringis ketika tangan Leti menyeka bagian tubuhnya yang memar.
“Apakah benar, kamu hendak memperkosa gadis itu?”
Yoki terkesiap mendengar pertanyaan Leti.
“Siapa yang telah mengatakan kebohongan itu?” Yoki mencoba mengelak.
“Aku hanya butuh jawaban ya atau tidak!” tekan Leti menahan kekesalannya.
Yoki terlihat bingung dan gelagapan mencari alasan. Sungguh, Leti kecewa dengan reaksi Yoki yang seolah menegaskan bahwa apa yang dikatakan Lansa adalah sebuah kebenaran akan kenyataan yang tadi terjadi.
“Apa masih kurang dengan apa yang kuberikan selama ini? Apa masih kurang kau menikmati tubuhku, semenjak aku gadis kecil yang ingusan sampai kini usiaku dewasa? Apa masih kurang, sampai kamu harus mencari pelampiasan nafsumu pada para tahanan Lewanu?” Leti menatap geram ke arah Yoki.
“Leti? Aku... aku bukannya tidak puas dengan dirimu, kau tahu, hanya kamu perempuan yang membuatku merasa dipuja.” Yoki mengeluarkan kalimat rayuannya untuk meredam kemarahan yang sepertinya sudah mulai terlihat di wajah Leti.
“Lalu mengapa kau mencoba memperkosa perempuan kota itu?” hardik Leti yang merasa sakit hati.
“Aku hanya ingin menghukumnya. Dia pemalas! Semua tahanan bahkan sudah sampai di sungai, sementara dia masih tertidur di biliknya! Aku tak suka dengan perempuan pemalas!” Yoki menerawang dengan mata tajam menahan kesal.
Sejenak kemudian dia menatap Leti dan mencoba tersenyum lembut ke arah gadis itu.
“Aku hanya menyukai perempuan cantik dan pekerja keras sepertimu,” Yoki berkata lirih sambil berusaha tersenyum untuk meredam kemarahan Leti. Tangan kanan Yoki mencoba meraba lembut sisi wajah Leti, membuat perempuan itu sejenak terbuai dengan perlakuan Yoki.
Sejujurnya Yoki adalah satu dari beberapa lelaki yang cukup tampan dan bertubuh tegap di Cherokee ini. Jelas sangat sesuai dengan kedudukannya sebagai kaki tangan Lewanu. Hal ini yang membuat Leti tak pernah bisa berkata tidak untuk apapun yang Yoki inginkan atas dirinya. Semua keinginan Yoki sulit untuk ditolak oleh Leti. Yoki, telah membuat dirinya memenuhi segala keinginan Yoki. Termasuk diantaranya adalah saat dulu laki-laki itu berhasil menggodanya dan menculiknya dari biliknya di rumah besar Lewanu di malam buta untuk di bawa ke bangsalnya di belakang. Malam itulah Leti menyerah, semua keinginan Yoki ia kabulkan dengan rela. Ia tak bisa berpaling, hingga saat ini.
Yoki tersenyum setan, mentertawakan kebodohan Leti yang dengan mudah goyah oleh kata-katanya. Yoki yakin, setelah ini, apapun yang ia minta, Leti akan melakukannya dengan senang hati.
“Aku ingin menyembuhkan luka dan lebamku, Leti,” Yoki berbisik lirih sembari mencoba bangkit duduk. Ditatapnya Leti dengan pandangan yang mampu meluruhkan detak jantung Leti.
Gadis itu menunduk.
“Lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan, Sayang.”
Dan bisikan lembut Yoki itu nyaris seperti mantra yang berhasil membuat Leti seperti kerbau di cocok hidungnya. Gadis itu bangkit dan berjalan ke arah pintu bilik tidur Yoki. Menutupnya kemudian memasang palangnya agar terkunci. Yoki menatap setiap gerak Leti dengan pandangan menggoda, membuat Leti semakin gerah dengan sendirinya.
Leti kembali mendekat ke arah Yoki.
“Lepaskan pakaianmu, Leti. Aku tak ingin kita bercinta dengan kain-kain sialan itu. Karena keindahanmu tak akan terlihat olehku,” Yoki berbisik ketika Leti sudah berdiri di hadapannya, menempelkan dadanya yang membusung seksi dan berdetak ke depan wajah Yoki.
Leti hanya mengangguk, membuat Yoki ingin berteriak senang karena selalu berhasil membuat gadis itu bertekuk lutut. Di bawah pengawasan Yoki, Leti membuka pakaian yang melekat di tubuhnya. Dan nafsu Yoki seketika melonjak, tak peduli lagi dengan luka dan lebam hasil kerja Lansa tadi pagi. Karena yang dia inginkan saat ini hanyalah memainkan peran pada tubuh Leti yang selalu menawan. Kini, yang terdengar hanyalah lenguhan Leti karena Yoki adalah laki-laki yang begitu mahir dengan perempuan. Sudah beberapa kali laki-laki itu pergi ke kota untuk sekedar melepas dahaga dan menikmati perempuan-perempuan yang menjajakan diri di sebuah bar di tepi jalan raya, jauh dari lembah Cherokee. Meski Leti selalu menjadi perempuan yang siap untuk meredam nafsunya, tapi rupanya Yoki memang gemar dengan petualangan primitifnya. Dari perempuan-perempuan itu Yoki banyak tahu, bagaimana cara memperlakukan perempuan agar jatuh dan memohon kenikmatan di bawah kakinya. Tanpa sepengetahuan Leti tentu saja.
Dan kali ini sudah sangat bisa di duga, bahwa Leti akan kembali terbuai. Apalagi saat tangan-tangan kokoh Yoki menyentuh dadanya dengan remasan lembut yang membangkitkan gelenyar liar dalam tubuh kecil Leti. Gadis muda itu merasa disanjung dengan kemahiran Yoki bermain mulut dan lidah. Karena sapuan basah lidah Yoki pada area dadanya mampu membuat Leti meremas rambut panjang Yoki karena nyaris tak bisa menahan geliat nafsunya sendiri.
Leti merasa luluh lantak ketika Yoki menajamkan remasan tangannya yang disusul dengan mulutnya yang beraksi hingga semakin membakar birahi Leti. Gadis itu meraba tubuh kekar Yoki, merasakan bagaimana liat dan kuat setiap otot yang teraba olehnya. Tangannya dengan sigap mencari, mencari sesuatu yang bisa memuaskan gelenyar birahinya yang semakin memuncak.
Saat dia menemukan apa yang dicarinya, gadis itu tak ingin menunda lagi. Dia mendorong Yoki dengan kasar hingga laki-laki itu terlentang di atas dipan biliknya. Yoki terkejut senang dengan kebuasan Leti. Lalu dengan perlakuan sedikit bar-bar, Leti yang telah full naked itu menempatkan diri di atas tubuh Yoki untuk selanjutnya bergerak mengayuh mencari kepuasannya sendiri.
Yoki tertawa dengan sikap Leti. Rupanya perempuan muda ini sudah mengerti akan kebutuhan primitifnya. Akhirnya Yoki hanya membantu perempuan muda itu untuk mencapai kepuasannya dengan memegang dan mencengkeram lembut pinggul gadis itu yang kini bergerak semakin liar dan tanpa aturan, membuat Yoki meringis antar rasa nikmat dan geram yang membuatnya nyaris menggerung.
“Bergeraklah, Leti. Temukan kepuasanmu, dan aku akan menikmati kepuasanku sendiri,” Yoki kembali mengungkapkan apa yang ada dalam benaknya untuk membakar nafsu Leti.
Leti bahkan menulikan telinganya. Dia hanya terus bergerak meliar, menuruti tuntutan kenikmatan yang terus mengejarnya. Hingga akhirnya dia terjerembab, terjatuh begitu dalam pada hasrat dalam Yoki menghadapi perempuan. Apalagi perempuan muda seperti Leti yang masih sangat kurang dalam urusan kebutuhan primitif.
Yoki tersenyum puas ketika mendapati Leti lemas sendiri setelah merasakan ledakan nafsunya. Sekarang Yoki mengambil alih permainan. Gadis yang masih terengah dan terpejam itu digulingkannya hingga posisinya berada di bawah.
Dalam senyum yang tak lepas dari bibirnya, Yoki lantas bergerak dan meleburkan nafsunya yang belum menemukan puncaknya, pada tubuh Leti yang sudah mengkilat oleh keringat. Napas Yoki terengah begitupun napas Leti yang terdengar memburu. Tangannya gelagapan mencari-cari pegangan agar tak terlonjak oleh hentakan Yoki. Gadis itu meringis merasakan bagaimana liarnya Yoki dalam memenuhi kebutuhan primitifnya.
Hingga setelah sekian lama menghentak dalam irama yang statis, Yoki merasa hendak meledak. Untuk menghindari resiko dari perbuatannya, Yoki segera melepaskan diri dari Leti, tepat saat ledakan dahsyat itu melanda dirinya.
Dalam pandangan matanya yang berdenyar penuh kenikmatan saat melepaskan ledakannya, alam pikiran Yoki dipenuhi oleh seraut wajah menggoda yang tadi pagi tak sempat dinikmatinya. Wajah Yiska telah mampu menghantarnya menuju pemuasan yang mengguyur tubuhnya dengan sempurna.
* * *
Aruma terlihat sibuk di kebun belakang dengan apel-apel hijau yang kelihatan sangat ranum dan menyelerakan. Setelah keranjang anyaman daun pandan hutan yang dibawanya terlihat penuh oleh buah apel, perempuan itu berniat pulang. Tapi rupanya usianya yang sudah mulai bertambah, membuatnya sedikit lelah hingga dia memutuskan untuk istirahat sebentar pada gubuk kecil yang sengaja dibuat di tengah ladang itu untuk sekedar beristirahat.
Semilir angin siang ini membuat kelelahan Aruma sedikit berkurang. Apalagi jika dilihatnya berbagai tanaman yang ditanam pekerja di kebun belakang ini demikian menyenangkan. Selain buah apel yang sengaja di tanam yang buahnya demikian lebat, buah jambu yang juga mengundang selera, beberapa tanaman sayur yang tumbuh subur di lembah Cherokee ini.
Dan untuk segala anugerah kesuburan dan kesejukan ini, Aruma bersumpah tak akan membiarkan suku lain melakukan perluasan wilayahnya dan menguasai Cherokee yang minor.
“Tidak. Cherokee tak boleh jatuh ke tangan suku Zuni, atau suku manapun yang menginginkan kesuburan ini,” Aruma menggeleng sambil bergumam lirih, “kuncinya ada di tangan Lansa. Ia harus memenuhi rencana pernikahan dengan Mona, agar Cherokee memiliki dukungan dari ekspansi suku lain yang mengincar Cherokee,” lanjut Aruma bergumam lirih.
Begitu banyak yang dipikirkan Aruma tentang Cherokee, tentang Lansa yang selalu bertentangan dengan ayahnya, tentang Yoki yang pagi ini harus babak belur karena dihajar Lansa, juga tentang gadis itu. Ya, gadis kota bernama Yiska yang kini sedang demam tak sadarkan diri di bilik kamar Yoki itu sepertinya akan menambah daftar panjang masalah yang kini sedang berkecamuk di dalam rumah besar Lewanu.
Karena jelas bukan tanpa alasan jika Lansa sampai mengamuk demikian besar hanya karena Yoki hendak memperkosa Yiska. Biasanya Lansa tak pernah peduli dengan apapun yang dilakukan Yoki terhadap para tahanan wanita di bangsal tahanan belakang itu. Tapi mengapa kali ini reaksi Lansa berlebihan? Aruma menganalisa, mencoba menelusuri alasan Lansa. Ketika ingatannya terbentur pada wajah Yiska, tahulah kini Aruma, apa yang membuat Lansa demikian marah ketika Yoki hendak menyentuh gadis itu. Karena Yiska demikian mirip dengan Hima. Ya, mereka bak pinang dibelah dua. Hanya perbedaan warna kulit saja yang membuat
Dalam angannya yang mengembara penuh beban, Aruma terbuai oleh angin yang berhembus semilir, menerbangkan satu demi satu beban pikirannya hingga kepalanya terasa ringan. Pelan namun pasti, Aruma terbuai dan tertidur lelap. Hingga dia tak menyadari bahwa di bilik penjaga milik Yoki, terjadi kerusuhan yang diakibatkan oleh laki-laki itu dengan tukang masak yang dipeliharanya sejak masih gadis kecil, Leti.
Sementara Aruma tertidur di gubuk kebun belakang, Leti masih juga menjadi objek pelampiasan nafsu Yoki yang belum juga padam. Sudah beberapa sesi dia menuntaskan hasrat liarnya, baik di luar maupun di dalam rahim perempuan muda itu. Tapi semuanya bahkan tak juga cukup untuk Yoki. Setiap kali dia teringat bagaimana cantik dan seksinya Yiska, nafsunya kembali bangkit. Perempuan kota yang gagal dimilikinya itu telah mampu menjadi prioritas nafsunya.
Namun Leti yang bodoh tak mengerti dengan apa yang ada di dalam pikiran Yoki, dia hanya mengerti bahwa Yoki hanya bernafsu dengan dirinya. Dia tak menyadari, bahwa dalam setiap hentakan yang diterimanya, selalu ada nama Yiska yang terlontar lirih dari mulut Yoki, menjadi sebuah mantra yang semakin menajamkan hasrat nafsunya. Membuat Leti meringis merasakan ngilu dan panas akibat percintaan yang tanpa batas dan irama.
Tapi sekali lagi, Leti tak menyadari. Yang dia tahu, dia bahagia mampu membuat Yoki terpuaskan oleh tubuhnya dan segala yang ada di dirinya, meski dirinya lantak oleh kebrutalan Yoki dalam melampiaskan dirinya. Leti menyebutnya dengan nama cinta, tapi tidak dengan Yoki. Karena yang Yoki rasakan terhadap Leti hanya nafsu. Tidak lebih dan tidak akan pernah lebih.
* * *
Senja sudah mulai menggelincirkan matahari ketika Lansa menghela kudanya meninggalkan tepian sungai yang masih menyuarakan gemericik airnya. Busur yang tadi terentang kini disandangnya kembali.
Kudanya berderap kencang meninggalkan hutan pinus, menuju utara untuk kembali ke lembah subur Cherokee. Masih terasa kebimbangan di hati Lansa ketika tadi memutuskan untuk menghalau harimau tadi. Akhirnya Lansa memutuskan melepaskan anak panahnya, tapi tidak mengarah tepat pada harimau besar itu. Melainkan ke sebuah ranting yang lantas patah terkena panahnya.
Pelan dalam keadaan sedikit terkejut, harimau itu meninggalkan Lansa dan kudanya. Berlari menuju ke atas, ke arah hutan pinus yang semakin menggelap.
Niat Lansa berburu tiba-tiba lenyap begitu kenangan pertemuannya dengan Yiska menyeruak ke dalam ingatannya. Gadis itu memang tak menyadari bahwa Lansa melihatnya kala itu, tapi Lansa jelas tak akan pernah melupakannya.
“Heeaa..heeaa!” Lansa kembali menghela kudanya agar lebih kencang larinya. Entah mengapa hatinya sedikit merasa tak enak hati ketika tiba-tiba teringat akan keadaan Yiska ketika ditinggalkannya tadi.
Memasuki perkampungan Cherokee, tak membuat Lansa memperlambat laju kudanya, karena dia semakin kencang menghela kuda andalannya itu. Lanu yang mendengar dari jauh bahwa Lansa datang segera berlari kecil menyambut Lansa untuk menuntun Russo kembali ke kandangnya.
“Tak membawa hasil buruan, Lansa?” Lanu bertanya karena biasannya Lansa selalu pulang dengan hewan buruan yang selalu memuaskan.
“Tak ada satupun hewan lewat di dekatku, Lanu. Oh ya, mandikan Russo karena kelihatannya dia sangat lelah, Lanu.”
“Baiklah, Lansa.”
Lansa mengangguk dan menyerahkan tali kekang Russo kepada Lanu sementara dia bergegas ke dalam rumah.
Setengah terburu-buru, Lansa memasuki rumah besarnya. Yang pertama kali didatanginya adalah bilik tidurnya, di mana Yiska sedang terbaring.
Lansa mendekat dengan langkah pelan lalu duduk di tepi dipan kayu yang beralas kain tenunan lembut. Lansa menatap gadis muda itu dengan seksama. Dan laki-laki itu seperti terlempar pada masa lalunya bersama Hima, karena gadis ini bak pinang dibelah dua jika disandingkan dengan Hima.
Kenangan menyayat itu kembali hadir di benar Lansa, menyeruak begitu saja dan memporak-porandakan bungkusnya yang telah Lansa tutup sekian tahun.
Ketika itu...
Langit sedikit mendung ketika Lanu datang tergopoh-gopoh menemui Lansa. Saat itu Lansa sedang berlatih ketangkasan menggunakan pedang, seperti pemuda Cherokee lainnya, di sebuah tanah yang sengaja dibuat tinggi menyerupai sebuah panggung, di tanah lapang pinggiran perkampungan.
“Ada apa, Lanu? Apa yang membuatmu panik seperti ini?”
Lanu mengatur napasnya sejenak. Sepertinya laki-laki ini benar-benar sedang terengah karena berlari jauh.
“Gawat, Lansa. Aku mendengar kabar bahwa Hima hari ini akan dinikahkan!”
Seperti tersambar petir, perasaan Lansa seakan hancur lebur. Lansa demikian terkejut mendengar apa yang dikatakan Lanu. Mana mungkin Hima menikah, sementara beberapa hari lalu mereka masih bertemu di pinggir sungai. Hima tak mengatakan apapun mengenai hal ini.
“Omong kosong apa ini, Lanu!” Lansa marah dan berharap bahwa apa yang Lanu katakan adalah sebuah kabar bohong.
“Ini bukan omong kosong, Lansa. Aku mendengar sendiri kabar ini dari Dena, adik Hima.” Lanu mencoba menjelaskan masih dengan napas yang terengah.
Lansa mengetatkan gerahamnya dengan geram. Dia akan menanyakannya langsung pada Hima. Maka dengan tanpa berpikir dua kali, Lansa meninggalkan arena berlatih pedang dan bergegas menuju kudanya yang tertambat di sebuah pohon di pinggir tanah lapang itu. Dengan gesit menaiki kuda itu dan menghelanya kencang menuju ke kampung sebelah, di mana suku Zuni tinggal. Dia tak mempedulikan teriakan Lanu yang mengatakan bahwa pernikahan itu kini sedang berlangsung.
“Lansa! Hati-hati, banyak petinggi dari suku lain, yang juga datang!” Lanu berteriak lantang yang sebenarnya sia-sia karena Lansa bahkan hampir tiba di perbatasan perkampungan itu.
Merasa tak enak hati, Lanu berlari pulang ke rumah Lewanu untuk meminjam kuda dan segera menyusul Lansa. Lanu menghela kudanya lebih kencang agar bisa menyusul Lansa, sebelum laki-laki itu tiba di kamopung suku Zuni.
Sementara Lansa yang mengemudi kudanya bagai orang kesetanan sudah tiba di perbatasan kampung suku Zuni. Dadanya berdegup kencang oleh kemarahan dan rasa kecewa yang menghantam dadanya. Cintanya yang membahana pada Hima, mendadak menguap dan tergantikan oleh rasa benci yang begitu menggunung.
Terlihat olehnya, lalu-lalang penduduk Zuni, menandakan bahwa memang sedang ada sebuah acara adat. d**a Lansa semakin bergemuruh oleh gejolak amarah serta sakit hati. Dia dan kudanya menuju ke pusat keramaian, tak peduli banyaknya orang-orang di penggir jalan kampung yang menatap heran bahkan ada yang menatapnya dengan sengit karena sangat mengganggu. Dia terus menuju ke pusat acara.
Dan ketika sampai di sana, buncahan amarah itu seperti sebuah lahar panas yang hendak meluap, menghancurkan apapun yang ada di depannya.Matanya memerah, dadanya sesak bercampur dendam yang demikian menyesakkan.
Karena di sana, dilihatnya gadis tercintanya tertunduk dengan pakaian adat, di samping seorang laki-laki yang juga mengenakan pakaian adat. Seorang tertua kampung terlihat melakukan ritual adat yang mengukuihkan bahwa kedua laki-laki dan perempuan itu sudah resmi menjadi suami istri.
Ya, Hima kini sudah menikah dengan laki-laki lain.
“Hima! Tak kusangka, wajah cantikmu tak secantik hatimu! Aku menyesal pernah mencintaimu, jika akhirnya kau menikamku dari belakang! Maka dengarkan sumpahku, Hima! Aku tak akan pernah memaafkanmu, tak akan pernah mau berurusan dengan penduduk Zuni, sampai kapanpun!” suara Lansa terdengar lantang penuh emosi, membuat semua orang yang hadir pada upacara adat itu tercengang.
Sementara di tempat Hima duduk, gadis itu hanya tertunduk dengan air mata mengalir. Sementara laki-laki yang ada di sebelahnya terlihat geram melihat tingkah Lansa yang seolah hendak mengacaukan acara pernikahan yang kini digelar sukunya.
“Oohh... jadi laki-laki itu yang membuatmu menolak untu kunikahi, Hima?” laki-laki di sebelah Hima bertanya dengan nada rendah penuh penghinaan.
Hima terdiam, namun air matanya tak juga berhenti mengalir.
“Kita akan lihat, seberapa hebat kamu mampu menolakku, Hima.”
Jiwa raga Hima luruh oleh kalimat dua orang laki-laki yang ada di hadapannya kini. Lansa membuatnya terpuruk karena sakit hati dan mengira bahwa dia mengkhianati laki-laki suku Cherokee itu. Dan kini Satanta, laki-laki yang sudah menjadi suaminya beberapa saat lalu itupun menebar amarah yang pasti berujung pada kebencian terhadapnya. Hima merasa, pilihan hidupnya tak ada yang benar. Meninggalkan Lansa dan menerima pinangan Satanta, keduanya adalah duri.
Tak lama sesudahnya, Lansa menaiki kembali kudanya, berbalik arah meninggalkan keramaian upacara adat suku Zuni. Laki-laki itu menghela bagai orang kesetanan, bahkan Lanu yang ditemuinya di tengah perjalanan tak lagi dia hiraukan. Lanu bahkan lebih memilih mengalah dengan menyisih dari jalan yang akan dilalui Lansa.
Ketika Lansa berlalu melewatinya tanpa menoleh sama sekali padanya, Lanu merasa lega. Karena akhirnya Lansa tidak melakukan hal-hal yang buruk di Zuni. Karena jika Lansa mengamuk, Lanu tak tahu lagi, permusuhan macam apa yang akan digelar oleh suku Zuni terhadap Cherokee.
Lanu lalu membelokkan kudanya, kembali ke Cherokee. Membiarkan Lansa melarikan rasa kecewanya.
“Mom...” terdengar Yiska menggumam dalam demamnya, menyeret Lansa dari kenangan pahitnya di masa lampau untuk menyadari bahwa kini dia berada di sini, di bilik tidurnya dengan seorang gadis sedang sekarat menahankan demam yanag tak kunjung reda.
Laki-laki itu segera memegang dahi Yiska, dan merasakan bahwa suhunya sangat panas. Tapi mengapa tubuh Yiska terlihat menggigil dan wajahnya pucat.
“Yiska! Yiska! Bangun!” Lansa mencoba memanggil Yiska lirih, sambil menepuk pipi Yiska yang gembil kemerahan.
Tapi Yiska hanya membuka matanya sekejap, menatap redup ke wajah Lansa, untuk kemudian terpejam kembali. Suhunya masih saja tinggi dan demamnya tak juga reda. Lansa panik.
“Leti! Bibi Aruma!” Lansa memanggil mereka dari pintu biliknya. Tapi jelas tak ada sahutan dari keduanya, karena Bibi Aruma masih terlelap dalam gubuk kebun belakang. Sementara Leti? Entahlah.
Lansa yang panik segera mendatangi Yiska kembali dan duduk di sampingnya. Dia bingung tak tahu harus bagaimana untuk meredakan demam Yiska. Karena daun yang direbus dan diminumkan tadi siang tak memberi efek apapun untuk suhu panas dan demam Yiska kali ini.
Lalu Lansa teringat akan kejadian dulu, ketika ada seorang dokter dari pemerintah kota yang memberi penyuluhan. Bahwa salah satu cara sederhana untuk meredakan demam pada anak adalah dengan menyentuhkan kulit yang panas dengan kulit yang normal.
Apakah artinya dia harus bersentuhan dengan Yiska? Kulit dengan kulit? Lansa menggeleng.
Tidak! Aku harus mencari cara lain, laki-laki itu membathin.
Dia lantas beranjak kembali untuk memanggil Leti maupun bibi Aruma.
“Leti! Bibi Aruma!”
Tapi lagi-lagi hanya sepi. Bahkan Lanu pun tak kedengaran menyahut. Lansa terlihat menepuk dahinya ketika ingat bahwa tadi dia menyuruh Lanu untuk memandikan Russo. Lansa kemudian memutuskan untuk mencari Leti dan Bibi Aruma ke belakang. Tapi gumaman tak jelas yang kembali terdengar dari bibir Yiska menghentikan langkah Lansa.
“Mom...”
Lansa menoleh ke arah Yiska. Dilihatnya Yiska semakin menggigil kedinginan. Lansa lantas mendekat. Demam yang cukup tinggi membuat Lansa tak punya pilihan lain. Dia harus segera membuat tindakan untuk menurunkan suhu panas tubuh Yiska.
Maka segera Lansa menutup pintu biliknya kemudian melepaskan baju tanpa lengan yang sedari tadi menempel di tubuhnya yang tegap berotot. Lansa kembali terlihat ragu dengan apa yang akan dilakukannya. Tapi dia tak punya pilihan.
Lantas dengan tangan sedikit gemetar, lansa mencoba membuka baju kemeja yang masih dikenakan Yiska. Sejenak jantungnya berdegup kencang ketika dirasakan tangannya menyentuh kulit Yiska yang sangat halus itu. Jemarinya gemetar ketika dengan susah payah dia berhasil melepaskan kemeja itu dari tubuh Yiska. Memandangnya sejenak, dan sekuat tenaga mencoba mengabaikan godaan yang tiba-tiba saja mengalihkan pikirannya.
Lansa sedikit paham akan godaan apa yang kini sedang dirasakannya. Tapi sekarang jelas bukan waktu yang tepat untuk sekedar menanggapi bagaimana tegangnya Lansa ketika menyentuh kulit Yiska. Langkah selanjutnya yang kemudian diambil Lansa adalah berbaring di dekat Yiska. Meraup tubuh lembut Yiska yang telah setengah naked, untuk kemudian membawanya agar menempel pada tubuhnya yang keras dan liat.
Gadis itu menggeliat sebentar untuk kemudian kembali terpejam ketika Lansa sudah menempatkannya dalam rengkuhan lengannya yang kokoh. Lansa bisa merasakan bagaimana panas tubuh Yiska kini bahkan merambat pada tubuhnya. Sementara dalam diamnya, laki-laki itu menatap Yiska yang masih terpejam, menyusuri tekstur wajahnya yang sangat mirip dengan Hima.
Sungguh, Lansa nyaris terseret kembali pada angan masa lalunya yang pahit karena beberapa bulan setelah pernikahan Hima, laki-laki itu mendapat kabar bahwa gadis impiannya itu pergi untuk selamanya karena melahirkan. Kebencian yang selama beberapa bulan itu bersemayam dan bersemi di dalam dadanya mendadak menguap ketika dia mendapati kenyataan bagaimana tersiksanya Hima dengan pernikahan yang tak pernah dia inginkan itu.
Bibir Yiska bergemetar. Terdengar suara rintihan dari bibir gadis itu. Tubuh Yiska mulai mengeluarkan bulir-bulir keringat, namun Lansa bingung mengapa terus bergetar seperti kedinginan.
Lansa mengetatkan pelukannya pada Yiska, seolah yang ada dalam dadanya itu adalah Hima. Ia menatap wajah Yiska seperti menatap Hima. Ada rasa ingin melumat bibir merah gadis di dalam pelukannya itu, namun Lansa menahannya. Ia merasa ada sesuatu yang lain, saat tubuhnya melekat pada Yiska. Sebuah rasa yang selama beberapa tahun ini tak pernah dirasakannya, kini tiba-tiba menyelinap kembali ke dalah hatinya.
“Brakkk!!!”
Tiba-tiba pintu biliknya terbuka dengan kasar, membuat Lansa mendongak dengan rasa terkejut yang tiba-tiba.
“Lansa! Apa yang telah kau lakukan?” suara bernada murka itu terdengar, membuat Lansa gelagapan ketika dia harus menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
Karena siapapun akan mengira bahwa Lansa dan Yiska sedang melakukan hal yang tak pantas dilakukan oleh seorang keturunan kepala suku Cherokee. Dengan cepat Lansa melepaskan Yiska dari pelukannya. Gadis itu terhentak pada bilik berbahan bambu, namun matanya masih terpejam dengan tubuh yang terlihat menggigil.
Tiba-tiba tangan itu menghantam wajah Lansa dengan cepat. Tepat di rahangnya, bahkan sebelum dia menemukan kalimat yang pantas untuk menjelaskan apa yang kini sedang terlihat. Lansa dibuatnya tersungkur ke lantai bilik. Dengan susah payah Lansa mencoba bangkit untuk menjelaskan.
Belum lagi Lansa berdiri tegak, pukulan yang tak kalah kerasnya kini menghantam kembali ke arah perutnya, membuat Lansa merasa sesak napas dan mual hendak muntah. Lansa kembali tersungkur seiring dengan jeritan yang terdengar dari arah pintu bilik. Tatapan mata dengan penuh amarah memandang Lansa yang tersungkur tanpa suara.
* * *