“Perutku udah agak membaik, Nek. Tapi, Nek. Aku mau segera pulang ke rumah. Aku mikirin kedua anak kembarku sama suamiku. Mereka pasti lagi nyariin aku.” Anjani memegang perutnya seraya menatap Marnah, seorang nenek yang telah menolongnya. “Tapi rumahmu jauh banget dari kampung ini. Bisa memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan yang ditempuh dengan jalan kaki. Karna di sini kampung terpencil di gunung, jadi gak ada kendaraan.” Marnah menjelaskan. “Betul, Nak Anjani. Nanti siapa yang mau nganterin kamu ke Kota Jakarta? Atau biar kakek sama Nenek aja yang nganterin kamu pelan-pelan?” Rustam, suami Marnah ikut berbicara. Anjani terdiam. Jika kedua orang tua itu ikut mengantarnya ke Jakarta, dia merasa kasihan pada mereka karena sudah renta, apalagi perjalanan yang harus dilakukan dengan jala

