Papa mengetahuinya

814 Kata
Setelah selesai makan, Emili pun membuka ponselnya dan berniat menghubungi papanya. Tut,, Tut,,Tut,,, Bunyi ponsel Emili sewaktu menelpon papanya. "Halo pa?" Ucap Emili setelah teleponnya diangkat papa Wirawan.. "Ada apa mil?" Tanya pak Wirawan. "Ini pa, bisakah Emili meminta nomor ponsel can, eh mas Candra pa?" "Bukankah kau tinggal satu rumah dengannya, mengapa kau meminta nomor ponsel suamimu kepada papa" "Eh ini pa, mas Candra sedang pergi membelikan Mili makanan pa, ada yang Emili lupa dan belum disampaikan kepada mas Candra maka dari itu Mili meminta nomor mas Candra" "Baiklah setelah ini akan papa kirimkan" "Terimakasih pa!" Telepon pun dimatikan dan tak lama setelah itu ponsel Emili berdering satu kali tanda ada sebuah pesan masuk. Ia membuka dan mendapati papanya mengirimkan nomor ponsel Candra. Setelah mengumpulkan keberanian dan membuang keraguan akhirnya ia pun memencet tombol hijau di dekat nomor yang sudah ia beri nama Candra itu. "Halo?" Suara Candra dari sebrang sana. Emili bingung harus mengucapkan apa, ia hanya diam dengan mulut kaku. "Halo? Siapa ya?" Tanya Candra sekali lagi namun Emili masih tak mau bergeming. Candra pun mematikan panggilan nya. "Kenapa mulutku susah sekali mengucapkan kata maaf padanya. Mengapa aku merasa takut jika ia akan marah. Bukankah seharusnya aku senang jika ia marah karena secara tidak sengaja nantinya dia akan tak betah dengan sikapku. Tapi mengapa hatiku merasa sangat bersalah" ucap Emili lirih. Ia pun kembali memencet tombol hijau, sedetik kemudian Candra langsung mengangkat nya. "Halo? Maaf ini siapa?" Tanya Candra. "Maaf mas" ucap Emili. "Halo dek? Ini kamu? Halo???" Tuuuutttt,,, Candra pun melihat ponselnya dan mendapati jika Emili sudah mematikan ponselnya. "Dia sangat keterlaluan!" Ucap seorang pria yang tak lain adalah pak Wirawan. Tadi sebelum Emili pergi, pak Wirawan datang ke rumah milik Candra. Selama ini ia menyuruh pengawal untuk mengawasi Emili dan begitu ia mengetahui jika Emili pergi, ia pun langsung mendatangi rumah Candra. Awalnya Candra berbohong dan mengatakan jika Emili sedang pergi keluar dengan temannya, namun pak Wirawan bukanlah pria yang bisa dibodohi. Akhirnya dengan berat hati, Candra pun mengaku dan bercerita yang sejujurnya. "Sudahlah pa, aku tak apa" jawab Candra. "Dia tidak menghargai mu sebagai suami nak Candra. Biarkanlah papa menghukum anak nakal itu" "Tidak pa, ijinkan Candra menghukum dek Emili dengan cara Candra sendiri. Sekarang dek Mili sudah menjadi istriku dan maaf, aku mohon agar papa tidak perlu mengkhawatirkan hubungan kami ini pa" "Apakah kau yakin mampu bertahan dengan sikap Emili yang seperti ini nak?" "Yakin pa! Candra sangat yakin dek Mili adalah istri yang tepat untuk Candra. Meski ia tak meminta ijin kepada Candra namun setidaknya ia barusan menelpon dan mengucapkan kata maaf. Itu artinya didalam lubuk hati yang paling dalam ia merasa sangat bersalah pa" ucap Candra. "Kau benar nak, dia sebenarnya memang gadis yang baik. Semoga kamu bisa merubahnya menjadi Emili yang dulu lagi ya" ucap pak Wirawan. "Aaminn pa"  "Ya sudah, kalau begitu papa pamit dulu nak Candra" "Iya pa, hati-hati dijalan" Setelah kepergian pak Wirawan, Candra pun tersenyum-senyum sendiri mengingat Emili yang menelpon dan meminta maaf padanya itu. *** Paris Emili yang mendengar jawaban Candra masih canggung dan malu. Dengan segera ia mematikan sambungan teleponnya kemudian memegang jantungnya yang berdetak kencang. "Mengapa aku merasa bahagia mendengar suaranya walaupun sebentar? Ada apa denganku?" Ucap Emili lirih yang tanpa ia sadari ia mengulas sedikit senyuman dibibirnya. "Lebih baik aku tidur saja, besok pagi harus pemotretan" Emili pun tertidur sambil memeluk ponselnya. ** Keesokan paginya ia pun bersiap-siap untuk pemotretan. Kali ini ia menjadi model sebuah produk parfum merk terkenal didunia bernama VAIREL . Dan ia juga kali ini menjadi partner dari seorang Mike. "Kau cantik sekali hari ini" bisik Mike disela pemotretan mereka. "Terimakasih kak" balas Emili sambil tersenyum senang karena dipuji oleh pria yang sudah lama ia sukai itu. Setelah memakan waktu 3jam, akhirnya pemotretan pun selesai dengan hasil yang epic dan memuaskan. Emili pun diantarkan Mike ke hotel tempat ia singgah. "Tunggu cantik!" Ucap Mike sambil memegang tangan Emili saat Emili akan keluar mobil. "Ada apa kak?" Tanya Emili. "Nanti malam aku jemput kamu jam 7, aku akan mengajakmu dinner dan sekaligus ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu. Aku berharap kau tak menolak ajakanku ini. Tepat pukul 7 aku sudah ada disini dan akan menunggumu sampai kamu menemuiku" ucap Mike. "Baik kak!" Ucap Emili sambil tersenyum kemudian berlari kedalam hotel sambil tersipu-sipu dan bahagia. Ia masih tak percaya jika Mike mengajaknya makan malam. Sungguh mungkin kalian akan merasakan hal yang sama. Berbunga-bunga jika seseorang yang kalian suka sejak lama mengajak dinner. Emili pun langsung beristirahat dan membuka ponselnya. Ia bingung lantaran papanya mengirimkan sebuah pesan padanya. "Jangan buat kecewa suamimu! Jangan meninggalkan berlian demi batu kali yang tak ada harganya" Begitulah kira-kira bunyi pesan dari papanya. Ia kemudian berbaring dan berfikir. "Entahlah, apakah papa mengetahui atau tidak, maafkan aku pa. Aku sudah lama menyukai Mike, dan aku juga tak mencintai suami pilihan dari papa. Kuharap papa mau menerima ini" lirih Emili.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN