KETAHUAN

1512 Kata
mau kemana Ra?".Dewi menatap heran pada Dira yang sudah rapi. Setaunya Andra sedang bekerja. "Main ma sama teman".Dira memeriksa kembali tasnya takut ada yang tertinggal. "Teman siapa?".tanya Dewi lagi. Setaunya Dira tidak punya banyak teman dan juga putrinya ini bukan orang yang suka keluar main, ia lebih memilih berada didalam kamar dan menonton para suami halunya. "Ada la ma, aku pamit ya , assalamualaikum".Dira mencium pipi sang mama dan berlari keluar dari rumah. "Waalaikumsalam hati hati Ra".peringat Dewi dengan berteriak. "Dira mana ma?".ucap Alka tiba tiba. Halit saja Dewi terlonjak kaget. "Pergi main sama temannya". jawab Dewi tanpa menatap sang putra. "Ya kok pergi sih, padahal udah cape cape mikirin rencana buat ngerjain dia".ucap Alka lesu. Ia mendadak tidak bersemangat, bayangan tentang Dira yang histeris hilang sudah, tak bisakah Dira berada dirumah walau sebentar seperti pejabat saja, syok sibukk. Disinilah sekarang Amel dan juga Dira berada. Ditempat yang sama dengan tempat yang mereka datangi tadi siang, tempat seorang anak tumbuh dan berkembang, tempat ternyaman salah satu sahabat mereka, yang sayangnya sudah berpulang terlebih dahulu kepangkuan sang kuasa. Malam ini keluarga dari Reza memang mengadakan pengajian bersama guna mendoakan almarhum. Ruangan ini sudah ramai oleh orang orang yang ingin ikut serta mengirimkan doa. Jam kini sudah menunjukkan pukul 21.00 , pengajian pun sudah berakhir sejak tiga puluh menit yang lalu, ruangan yang tadinya ramai pun kini sudah berubah menjadi sepi meninggalkan Dira dan teman temannya. "Tante kita pamit ya, Tante baik baik disini, jangan terlalu larut dalam kesedihan ya Tan, ingat Reza gak akan suka lihat Tante sedih berlebihan, yang kuat Tante aku tau ini gak mudah, tapi yang pasti Tuhan lebih sayang Reza jadi Tante harus tetap semangat, aku janji bakal sering mampir ketempat Tante".Amel memeluk Dina mamanya Reza guna memberikan semangat. Ia tau bagaimana rasanya kehilangan apalagi tanpa adanya aba aba seperti ini, dulu ia juga pernah mengalami hal serupa dimana sang mama pergi secara tiba tiba, saat itu rasanya dunia yang ia miliki hancur tak bersisah. Tapi biar bagaimanapun dunia harus tetap berjalan bukan. "Aku tau ini gak mudah Tan, tapi yang aku mau bilang Tante harus kuat, ingat Tuhan gak akan kasih cobaan diluar batas kemampuan hambanya, aku tau Tante orang kuat, Reza orang baik, dan juga pasti Tante akan selalu baik baik aja, kita disini teman teman dari Reza pasti akan selalu doa in dia, kita pamit ya Tan, ingat Tante punya kita" Dira memeluk tubuh Dina dengan sayang, memberikan kata kata penguat untuk ibu satu ini. Setelahnya mereka mengalami tangan Dina satu persatu dan berlalu dari kediaman sederhana itu. "Kita duluan Ra, Mel".itu suara Aldi salah satu teman sekelas mereka. Memang mereka sudah janjian sejak awal jika akan datang untuk pengajian wafatnya Reza. "Yoi hati hati Di, jangan ngebut".peringat Dira . Sejujurnya ia agak trauma dengan namanya kendaraan roda dua, dulu ia juga pernah kecelakaan waktu Alka belajar naik motor dan ia dipaksa untuk ikut naik guna membuktikan jika Alka sudah bisa, dan naasnya mereka malah nyungsep, ditambah lagi kejadian Reza ini, menambah ketakutan di dalam dirinya. Melihat teman temannya yang sudah mulai pergi satu persatu mengisahkan diri ya dan juga Amel, Dira segera masuk kedalam mobil milik Amel yang memang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri. "Kita gak usah balik dulu ya Ra".Amel mulai menjalankan mobilnya. Ia menatap Dira sejenak. "Kita mau kemana?". "Kita main aja dulu, udah lama kan kita gak pernah main berduaan". "Gas lah kalo gitu". Amel dan Dira kini sudah tiba disalah satu mall paling besar di kota mereka, selama perjalanan tadi sudah banyak list yang akan mereka lakukan untuk saat ini. Dan pilihan pertama mereka yaitu menonton salah satu film yang sedang viral saat ini,guna untuk menghemat waktu Dira dan Amel berbagi tugas, Dira bertugas membeli tiket sementara Amel bertugas membeli makanan. Saat sedang mengantri Dira tidak lepas dari perhatian para pengunjung lain, pasalnya wajah imut miliknya sangat membuat orang lain tidak tahan untuk mencubitnya. "Maaf mas bisa mundur dikit". Pria yang diminta mundur oleh Dira menatap dengan heran. "Kenapa ya dek".tanyanya sang pemuda heran, pasalnya ia tak mengenal gadis kecil di belakangnya ini, dan ia juga merasa tidak melakukan sesuatu yang membuat sang gadis rugi. "Mundur aja dulu mas".kekeh Dira menatap sang pria lembut. "Gantengnya kelewatan soalnya".goda Dira saat pria itu mundur yang membuat sang pria terkekeh gemas. "Kamu juga bisa gak jangan egois?".tanya sang pemuda membuat Dira heran, "Egois kenapa ya mas?".tanyanya penasaran. "Cantiknya bisa dikurangin, kasian yang lain gak kebagian". balas pemuda itu dengan percaya diri. Dira merasa menemukan orang yang tepat untuk jadi partner dalam hal gombal menggombal nya. Bukannya tersipu ia malah menyerahkan handphone miliknya untuk meminta nomor sang pria. Mana tau saja suatu hari nanti ia butuh partner kan. "See you mas ganteng".dengan centilnya Dira memberikan kiss jauh untuk pemuda itu, dan selanjutnya ia lanjut mengantri sebab Amel pasti sudah menunggu terlalu lama. "Andra gak pantas dapat orang seimut kamu".ujar pemuda itu menyeringai melihat Dira yang sudah berlaku dari pandangannya. "Udah ni Mel, yok la gasken".Dira memberikan tiket yang ia beli pada Amel. Setelah kegiatan menonton mereka selanjutnya adalah makan , ternyata bersenang senang pun butuh energi ya, hidup memang unik, dan kadang mungkin lucu, bayangkan saja kita tidak mengerjakan apapun saja bisa membaut tenaga habis, padahal kan kita sedang tidak melakukan apapun, dan yang menjadi pertanyaan yang Dira tidak dapatkan jawabannya sampai saat ini adalah, kenapa kita harus makan jika pada akhirnya kita lapar juga?,Jika ada yang bisa jawab boleh lah kasih jawabannya di komentar. Duduk berdua di tempat ramai, dan juga menikmati makanan kesukaan bersama dengan sahabat merupakan salah satu hal yang amat menyenangkan untuk dilakukan, menghabiskan waktu berdua, dan jalan jalan ketempat yang kita mau, melakukan hal hal yang menyenangkan, menghabiskan masa muda, percayalah hal itu patut untuk kalian coba, sebab nanti jika usia tak lagi muda kalian akan menyesal sebab tak melakukan nya selagi bisa, masa muda memang merupakan masa jaya kehidupan, namun terlepas dari semua itu jangan lupa untuk memikirkan masa depan juga. "Emangnya Lo boleh makan makanan cepat saji Ra?".tanya Amel saat melihat menu yang dipesan oleh Dira. Setaunya Dira sangat dijaga pola makanya. Bahkan tak jarang Andra datang ke sekolah hanya untuk memastikan makanan yang dimakan oleh Dira itu bersih dan sehat. Sangat berlebihan menurut Amel. "Sesekali Mel, percaya de semenjak gue tunangan sama kak Andra gue jadi jarang makan makanan kayak gini".cerita Dira . Ia kemudian melahap makanan yang ia pesan dengan lahapnya. "Kenapa Lo gak mutusin dia aja".saran Amel ngaco. Amel hanya berpikir Jika Dira tertekan bukankah seharusnya ia akhiri saja, sebab menurutnya hubungan itu harusnya membuat kedua belah pihak bahagia bukannya terekam. "Ngaco Lo, gue cinta sama dia, lagian doi ganteng dan gue juga sayang sama dia".bantah Dira . Enak saja diluar sana banyak yang ingin menjadi kekasih seorang Afandra dan ia akan melepaskannya begitu saja, tentu tidak semudah itu kawan.menurutnya Andra juga baik ko, ia selalu menuruti apa yang Dira mau, apalagi Andra juga sudah berjanji untuk membelikan nya tiket nonton konser BTS VIP pula itu. Mana mau Dira membuang kesempatan emas untuk bertemu dengan suaminya Kim Namjoon, walau sebenarnya ia bisa minta papanya untuk membelikan nya sih. "Tapi yang gue lihat Lo tertekan gitu tau".Amel masih mencoba memberikan pandangannya. "Dan lagi apa Lo yakin kalo kak Andra gak punya yang lain, secara dia ganteng, tajir udah gitu lumayan dewasa juga, setau gue orang seusia dia pasti butuh kebutuhan biologis yang sampe saat ini belum Lo kasih". Kata kata Amel seakan menyadarkan Dira. Ya memang benar tapi apa ia sanggup untuk melepaskan Andra. "Tapi- ". "Gak usah pengaruhi cewek gue".potong sebuah suara saat Dira akan kembali membuka suaranya. Dira menatap pemilik suara tersebut, dapat ia lihat pemuda yang sejak tadi mereka gibahi sedang berada tepat disampingnya. "Gak usah dengarin dia by, dia gila".ucap Andra mencium pipi gembul milik Dira. Jika saja Andra telat entah apa lagi yang akan Amel katakan pada Dira. Ia tak mau Dira sampai terpengaruh, apalagi gadisnya ini lumayan polos. "Tapi emang benar kan?".tantang Amel tak takut. "Tau darimana Lo, jangan jangan lo kali yang udah gak benar''.Andra menatap Amel remeh, ia memang sedari awal tidak menyukai sahabat dari tunangannya ini. Ia merasa Jika Amel tidak sebaik yang terlihat dan memang benar saat ia menyelidikinya boom ia menemukan fakta yang mencengangkan. "Maksud Lo apaan?".Amel mulai emosi. Ia tak terima dikatakan begitu oleh Andra. Memangnya Andra siapa, dia tidak berhak menilai dirinya bahkan jika pria ini merupakan salah satu pria berpengaruh sekalipun. "Lo lebih tau dari gue". Ucap Andra tanpa menatap pada Amel. Ia malah sibuk menatap wajah Dira yang sedang tertidur di bahunya. Gadis ini emang kadang tidak tau tempat bisa bisanya ia tertidur saat orang lagi berdebat. "Gue peringatan , jangan bawa bawa cewek gue masuk kedalam pergaulan gak benar Lo". Bangkit dari duduknya Andra kemudian menggendong Dira ala koala, ia tak lagi menghiraukan raut wajah Amel, yang entah seperti apa saat ini. Yang ia pedulikan sekarang adalah memberikan hukuman pada tunangannya yang sudah mulai nakal. Apakah ia harus mulai menunjukkan sisi berbeda dari dirinya selama ini, tapi ia takut jika Dira menjauh. namun jika kelak harus ia tak segan segan menghukum Dira, dengan hukuman yang akan Dira sesali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN