KEJAHILAN ALKA

1004 Kata
Centil banget si". Andra menyentil kening Dira pelan. Ia gemas sekaligus marah melihat kelakuan tunangannya. Entah kapan Dira bisa menghilangkan sikap centilnya ini. "Namanya juga usaha ka".Dira mengusap keningnya yang baru saja kena sentil. Menurut nya selagi masih ada waktu ia akan selalu menggangu manusia yang bernama cogan. "Ayo pulang". Andra membawa Dira keluar dari perusahaan miliknya. Ia akan membawa Dira pulang kerumah gadis itu agar ia bisa leluasa menyelesaikan pekerjaannya. "Hmmm, aku balik ke rumah Kaka kan?".tanya Dira. Ia hanya tidak suka dirumahnya. Sebab ada kakaknya yang suka jahil dan mengganggu. "Tidak, malam ini kamu balik ke rumah ya, besok Kaka jemput lagi".Andra menatap Dira lembut. Ia tau apa yang gadis ini khawatirkan. Ia juga cukup kesal dengan kakak dari gadis ini. "Yaudah de".Dira mulai merancang kegiatan yang bisa ia lakukan nanti malam. Tanpa sadar ia tersenyum senyum sendiri. Melihat hal itu Andra menatap heran Dira. Tapi ia tak ambil pusing, menurutnya semua itu bukan apa apa, palingan Dira sedang membayangkan cogan, memang apa lagi yang ada di otak Dira selain para cogan. Dan jujur saja Andra terkadang merasa cemburu pada salah satu member boyband asal Korea yaitu Kim Namjoon dari BTS. Bayangkan saja jika Dira melihat atau menonton konser dari BTS maka hilanglah sudah, semua sudah tidak digubris oleh gadis itu, bahkan jika Andra sekalipun. "Sana turun, kakak gak ikut turun ya".Andra mengusap lembut rambut Dira. Menatap sekilas wajah gadis itu, kemudian mencium keningnya dan turun guna membukakan pintu untuk Dira turun. Melihat Dira sudah masuk kedalam rumah Andra kembali kedalam mobil dan pergi kembali kekantor. "Yuhuuii inces Dira comeback , mana ni babu aing".teriak Dira saat baru melangkahkan kakinya kedalam rumah. "Ngapain lo balik". Seorang pemuda datang dan menjitak kepala Dira. "Ih apaan si Lo, ngapain disini". Sinis Dira melihat pemuda didepannya. "Ye ini kan rumah gue ngab".acuh pemuda itu. Alka Ravindra namanya, pemuda yang sedang menginjak jenjang pendidikan di universitas ini merupakan kakak satu satunya dari seorang Anindira Ravindra, pemuda yang hanya berjarak 4 tahun dari Dira. Memiliki perawakan tinggi, kulit sawo matang, dan hidung mancung, jangan lupakan juga rahang tegas milik pemuda itu. Jika dilihat sekilas pemuda itu sempurna, akan tetapi tetap saja menurut Dira pemuda ini cukup menjengkelkan. "Ishhh,".Dira berdecak dan hendak melangkah,namun saat akan kembali melanjutkan langkahnya Dira terjatuh tengkurap di lantai, dan pelakunya adalah Alka ia menatap tidak bersalah pada Dira yang akan menangis. "Ia huaaa, huaaa mama bang Alka jahat".tangis Dira dengan kaki yang memukul mukul lantai. Alka yang melihat itu seketika panik, ia membekap mulut Dira yang sedang yang mengeluarkan suara membahana, akan tetapi dengan teganya Dira menggigit tangan itu. "Ish, sakit anjing''.Alka mengibas- ibaskan tangannya yang digigit oleh Dira, ia bahkan tak sadar mengumpat. "Mama bang Alka ngumpat ma, huaaa".tangis Dira kian keras. Membuat seorang wanita paruh baya berjalan tergopoh-gopoh dari arah kamar. Ia menatap Dira yang sedang duduk di lantai dengan khawatir. Segera saja dengan cepat ia membantu Dira berdiri dan menatap Alka nyalang. "Alka kamu bisa gak si sehari aja gak ganggu anak mama". Ibunya Dira menjewer kuping Alka dengan gemas. Ia sungguh heran dengan anak anak nya ini, apalagi Alka ia akan terus bertanya dan menggerutu jika Dira sedang tidak menginap dirumah ini, atau waktu Dira pergi ke rumah tunangannya, tak jarang juga Alka akan tidur dikamar Dira saat anak perempuan nya ini, tidak ada dirumah. Tapi jika bertemu lihatlah mereka layaknya tom and Jerry. "Adu ma ni bocil aja yang cengeng".Alka menatap Dira dengan nyalang. Merasa di anak tirikan, bayangkan saja tiap mereka bertengkar atau ia menjahili Dira pasti tak lama setelahnya ia juga akan dapat teguran. Padahal kan ia hanya sedikit memberikan adiknya pelajaran, seperti mengurung dikamar mandi saat mereka kecil, atau menyembunyikan tugas sekolah Dira baru baru ini. Sangat kekanakan bukan, tapi terlepas dari semua itu ia sangat menyayangi Dira, sebab hanya Dira adiknya. "Ada apa ini?".suara berat itu mengalihkan pandangan mereka pada pria paruh baya yang datang, menggunakan jas kantoran, dan juga sebuah tas kerja yang berada ditangan pria itu. Raut wajahnya menunjukkan kebingungan, baru saja ia datang dari lelangnya bekerja sekarang ia harus dihadapkan dengan kekacauan yang entah apa. "Papa, bang Alka pa, dia dorong Dira sampai jatuh".adu Dira dengan memeluk lengan sang papa, jangan lupakan juga wajah memelas yang sengaja ia buat, namun tak ada yang tau jika ia menatap Alka dengan tatapan mengejek. "Alka".peringat sang papa . Lama lama jengah juga melihat kelakuan putranya ini. Kenapa saat bersama Alka dan Dira tidak bisa akur walau hanya satu hari. "Bohong pa, Alka gak ngelakuin itu, Dira nya aja yang gak hati hati".bela Alka tak terima. Bisa habis dirinya jika sang papa sampai ikut campur. Dira ini mang kurang ajar, mentang mentang anak bungsu jadi bisa seenaknya. "Gak pa, coba liat ni buktinya kaki adek lecet".Dira menunjukkan kaki nya yang memang sedikit lecet. Melihat itu Alka jadi merasa bersalah, ia tak pernah berpikir jika kejahilannya bisa melukai sang adik. "Ya ampun sayang sini mama obatin". Mamanya menarik tangan Dira pelan dan membawa anak gadisnya ke ruang tengah. Ia pergi sebentar guna mengambil tempat obat obatan, dan kembali datang guna mengobati Dira. "Aduhhh ma pelan pelan peri ".ringis Dira. Ia memang lebay si kalo dipikir-pikir,lihatlah bahkan sang mama belum mengobati ia sudah histeris lebih dulu. "Ini belum mulai Dir".ujar sang mama memutar bola matanya bosan. "Hehehehe".Dira hanya bisa cengengesan dan menatap sang mama polos. Sementara ditempat Alka dengan sang papa, sedang terjadi perdebatan sengit. Dimana sang papa meminta untuk Alka berhenti mengganggu Dira, dan Alka yang jelas-jelas tidak terima dengan permintaan sang papa. Jika ia menurutinya lantas apa lagi kesenangan yang ia dapatkan dirumah. Sudah jelaskan tidak menggangu Dira satu hari saja ia merasa seakan ada yang kurang lah ini papanya malah meminta untuk tidak pernah lagi. "Intinya papa mau kamu berhenti".tegas sang papa. "Aku gak mau dan gak pernah mau".jawab Alka songong. Ia melangkah dengan tidak tau dirinya meninggalkan sang papa. Namun saat akan kembali melangkah lagi perkataan sang papa menghentikan langkahnya. "Kalo kamu gak berhenti papa akan izinin Dira untuk tinggal dengan Andra, dan kamu akan sulit bertemu dengannya".ujar sang ayah dengan nada puas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN