NASIB AMEL

1024 Kata
"Syarat?". Dira berpikir sejenak, apa gerangan syarat yang akan Andra ajukan. Tapi jika dipikir-pikir tidak mungkin Andra akan memberikan Dira syarat yang membebani kan. "Iya, mau gak?". "Yaudah ok, apa syaratnya?". "Apa pun yang terjadi kedepan Dira gak boleh ninggalin Kaka, kalo sampe itu terjadi Dira harus siap kakak hukum". "Gimana?".sambung Andra . "Siap, apapun yang akan terjadi nanti, Dira akan tetap sama kak Andra, dan Dira juga janji gak bakal ninggalin kak Andra". Dira menautkan jari kelingking mungil miliknya dengan jari kelingking besar milik Andra. "Nih, kamu boleh gunain semau kamu".Andra memberikan black card miliknya untuk dipegang dan digunakan sesuka Dira. "Yes, Makasih pacarnya Dira". Ujar Dira memeluk Andra erat, didalam otaknya sudah banyak rencana yang akan ia lakukan dengan black card ditangannya ini. "Gunain dengan baik ok". Andra mengelus puncak kepala Dira dengan lembut, jangan kan black card, bahkan jika Dira meminta nyawanya sekalipun Andra akan berikan, dia hanya tidak akan memberikan satu hal pada Dira, yaitu saat gadis ini meminta lepas darinya. Amel Bowen, gadis belia dengan tingkah diluar batas kata orang, gadis yang menjadi salah satu pekerja di club malam, bisa kalian bayangkan bagaimana pandangan orang-orang terhadap dirinya, di cap sebagai gadis tidak benar, dan kerap mendapat perlakuan kurang mengenakkan dari sekitar. Berteman dengan seorang Anindira Ravindra, kian membuat orang lain men cap dirinya tidak pantas, ada yang mengatakan ia membawa pengaruh buruk untuk Dira, atau mungkin ada juga yang mengatakan dia hanya memanfaatkan kekayaan dari seorang Dira. Terlepas dari semua itu ia jujur dan tulus berteman dengan Dira, menurutnya Dira terlalu polos jika dibiarkan sendirian di dunia luar yang begitu keras, Dira terlalu rapuh untuk dilukai, dan juga Dira terlalu baik untuk Andra yang begitu buruk. Andra membenci Amel berteman dengan Dira, sebab Amel tau rahasia terbesar dari seorang Afandra Matteo, dan ya mungkin alasan lain karena Andra tidak mau Dira membagi perhatian nya pada orang lain. "Hidup Lo gini amat sih Mel". Amel menghela nafasnya kasar, ia tidak pernah berhasil dalam hal apapun, mulai dari percintaan, persahabatan hingga keluarga. Ia seakan tidak diijinkan untuk hidup bahagia, kenapa tuhan begitu kejam, memberikan luka tanpa jeda, Tentang keluarga?, Amel bahkan tidak tau bagaimana rasanya dipeluk ibu, ia tidak tau rasanya di marahi saat melakukan kesalahan, dan juga tidak pernah merasakan di masakan oleh seorang ibu. Ia hanya tau bagaimana caranya bertahan hidup setengah kerasnya kehidupan, ia hanya tau bagaimana rasanya dipukul dan di caci maki oleh orang yang kata orang lain sebagai cinta pertama dari seorang anak perempuan. Jika ditanya siapa yang paling ia benci di dunia ini, maka jawabannya adalah takdir, ia benci kenapa takdirnya begitu buruk, kenapa ia tidak bisa menjadi seperti orang lain, kenapa ia tidak lahir dalam keluarga yang menginginkan dirinya, kenapa dan kenapa?. "Bangun, ngapain Lo disini?, Ikut gue!". Tangan yang lumayan besar datang dan menarik nya berdiri dengan kasar, Amel mengangkat kepalanya dan bisa ia lihat sang pelaku adalah Arjun Surendra, salah satu orang yang menambah luka dalam kehidupannya. "Mau kemana sih, gue capek". Amel berbicara dengan nada yang pelan, jujur ia memang sedang merasa capek, pulang sekolah dan langsung berangkat kerja, saat ini yang ia butuhkan hanya istirahat sebelum nanti ia kembali bekerja lagi. "Banyak bacot Lo, ikut aja kenapa sih". Arjun tak menghiraukan perkataan Amel, ia mendorong tubuh wanita ini dengan kasar, setelah nya ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Mau kemana sih, gue masih ada kerjaan". Amel mengeratkan pegangannya pada sabuk pengaman yang ia gunakan, Arjun memang selalu gila dalam membawa kendaraan. "Diam bisa gak, gue bayar Lo lebih besar dari pada bayaran Lo malam ini" Arjun menatap Amel dengan pandangan remeh, Amel yang mendengar itu hanya diam, tidak mau menambah masalah, biarkan lah Arjun berpikir sesuka pria itu, sebab mau menjelaskan bagaimana juga seorang pembenci akan tetap jadi pembenci, kita juga tak bisa memaksa seseorang untuk percaya pada kita. "Turun". Arjun menghentikan mobilnya disebuah arena balapan, jalanan ini sudah di modif sedemikian rupa, dan juga Amel tebak para pembalap lainnya juga sudah berada ditempat ini. "Ngapain kesini, gue gak mau ya". Amel membalikkan badannya hendak pergi dari arena ini, ia tau tempat apa ini, dan juga cukup tau pergaulan di lokasi ini. "Jangan bikin gue malu". Arjun menahan tangan Amel dan merangkulnya pada gerembolan orang orang yang sedang menatap mereka. "Akhirnya king jalanan kita sudah datang" Ujar seorang pria yang datang menyambut kedatangan Arjun dan juga Amel. "Yo, w******p bro, gimana kabar?, Kali ini Lo mai taruhan apa?". Lanjut pemuda itu bertanya, ia menatap kearah Amel dengan genit, dan itu tidak luput dari perhatian Arjun, tapi sayang pemuda itu hanya menatap dengan datar kejadian tersebut. "Dia, gue jadiin dia taruhan malam ini, siapa yang menang boleh bawa dan nikmati cewek yang ada disamping gue". Arjun menatap Amel, sementara Amel yang mendengar itu menghela nafas panjang, kenapa dirinya begitu tidak berarti, bahkan sekarang kekasih nya juga dengan begitu tega menjadikan dirinya sebagai bahan taruhan. "Wow, serius Lo, boleh lah". Sahut salah satu pemuda dengan mata yang meneliti penampilan Amel, cukup menggoda menurutnya. "Ya, semoga berhasil aja" Balas Arjun, ia pergi lebih dulu kearah tempat balapan, meninggalkan Amel seorang diri, dan jangan lupakan tatapan tatapan lapar dari orang orang ke arah Amel. "Tunggu gue cantik". Pemuda yang tadi menyahut dengan tangan yang mencolek dagu Amel, tidak suka dengan itu Amel menghempaskan tangan pemuda itu kasar, ia memang tidaklah baik, tapi ia jelas tidak akan semurah itu. "Sombong, tunggu aja nanti". Sahut pemuda itu tidak suka, ia menatap Amel dengan rendah, kemudian berjalan kearah area yang sudah diisi oleh Arjun dan para penantang yang lain. Balapan sudah dimulai sejak 15 menit yang lalu, para penantang berlomba-lomba memenangkan pertandingan, bukan hanya karena hadiah yang menanti tapi juga tentang harga diri, dan tentu saja mereka akan mendapatkan keuntungan lain jika memenangkan pertandingan ini. Didepan sana garis finis sudah terlihat, Arjun dengan sekuat tenaga melajukan kendaraannya, saat akan mencapai garis akhir, seseorang lebih dulu datang dan mendahului dirinya. Entahlah ia tidak suka dengan kekalahan ini namun yang namanya pertandingan ia harus lah tetap bersikap suportif. "Congrats lo menang kali ini, sesuai janji Lo boleh bawa dia". Arjun dengan tidak berperasaan mendorong Amel hingga mendekati orang yang memenangkan taruhan kali ini. "Lo tega Jun" Ujar Amel lemah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN