Sang Surya datang kembali menyapa, matahari sudah terbit dan datang dari perpaduannya. Para makhluk tuhan kembali menjalankan rutinitas yang biasa dilakukan.
Sementara didalam sebuah kamar dengan nuansa hitam dan gelap seorang gadis masih asik dengan dunia mimpinya, ia seperti tidak terganggu dengan sinar matahari yang menampakkan sinarnya dengan malu malu.
"Hei sayang bangun, katanya mau sekolah".
Andra mengelus lembut wajah Dira yang masih asik dengan tidurnya, bukannya terganggu Dira malah menarik tangan hangat milik Andra dan membawa nya kedalam pelukan nya.
"Bangun yok, atau kamu mau libur lagi aja".
Ujar Andra kembali mencoba membangunkan Dira yang sangat susah dibangunkan ini.
Andra melihat lagi wajah cantik yang sudah menjadi candu bagi nya, jika diteliti Dira ini sangat sempurna ditambah dengan sikap ramah yang ada pada diri gadis ini. Tapi satu hal yang tidak Andra sukai dari seorang Dira adalah sikap centil dan tidak bisa menjaga pandangan nya itu.
"Masih gak mau bangun, aku tinggal ya".
Andra menarik tangannya dengan kasar, membuat Dira yang masih asik dengan dunia mimpinya itu terbangun secara mendadak, otaknya seketika blank, tidak tau harus berbuat apa, Dira hanya terduduk di kasur dengan mata yang masih terpejam, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.
"Kak Andra, lima menit lagi aja ya".
Lirih Dira dengan tangan yang direntangkan, Andra menatap itu dengan pandangan malas, namun tetap saja tangannya dengan cekatan membawa Dira kedalam gendong Kuala miliknya.
" Lima menit dan gak lebih".
Andra membawa Dira kearah kamar mandi, ia mendudukkan Dira di kloset dan pergi mengambil alat gosok gigi, memberikan odol dan selanjutnya ,
"Say iiiiii".
Perintah Andra yang langsung dituruti oleh Dira, Andra lun dengan sabar membersihkan gigi Dira persis seperti seorang ayah yang merawat putrinya.
Setelah bagian mulut selesai kini Andra beralih pada area muka, dengan pelan ia membasuh wajah itu, memberikannya pencuci wajah, dan mengeringkan nya dengan handuk, setelah nya Dira baru membuka matanya, dan yang pertama kali ia lihat adalah wajah tampan milik Andra yang berjarak sangat dekat dengannya. Nafas mereka saking bertaut, dengan cepat Dira mengecup bibir tebal milik Hanif.
"Pagi sayang".
Sapanya setelah aksi yang cukup berani tadi. Andra masih lumayan syok dengan apa yang baru saja terjadi, pasalnya selama ini dirinyalah yang selalu memulai lebih dulu, jadi cukup wajar jika ia kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Tapi karena tak ingin membuat tunangan nya malu, ia tersenyum manis, menatap sang pacar lembut dan kembali menyatukan dua benda kenyal tersebut. Tidak ada nafsu didalam nya, hanya ada kasih sayang dan cinta yang begitu besar.
"Pagi , cepat mandi, aku tunggu diluar ya".
Andra mengelus rambut Dira sekilas, kemudian ia keluar dari kamar mandi, menutup pintu dari luar dan berjalan dengan aura datar menuju ruang meja makan.
Sesampainya Andra dimeja makan , Andra menatap dengan datar makanan yang tersaji di atas meja, makanan dengan bumbu merah yang amat kental, ia tidak pernah mengijinkan menu itu masuk kedalam rumahnya terlebih jika ada Dira disini , di hempaskannya seluruh makanan yang ada dimeja tersebut mengakibatkan seluruh makanan jatuh berserakan di atas lantai, dengan piring piring yang tak lagi berbentuk, selanjutnya tanpa kata ia menatap salah satu pelayan yang berdiri di sana.
"Siapa yang menyuruh kalian memasak makanan pedas?".
Pelayan itu menatap dengan takut takut, ini memang inisiatif mereka sendiri, sebab selama ini menu makanan dirumah ini tidak pernah ada yang berbau pedas, jadi menurut mereka tida ada salahnya mencoba hal baru bukan.
"Maaf tuan, ini kelalaian saya".
Ujar salah satu pelayan yang datang dengan tergopoh-gopoh dari daerah dapur, perempuan yang usianya tak lagi muda itu menatap sang tuan dengan perasaan bersalah.
"Lain kali jangan kelewat jalur, cepat bersihkan semua ini, dan masakkan nasi goreng, satu lagi kejadian ini jangan sampai diketahui oleh tunangan saya"
Para pelayan mengangguk dengan cepat, kemudian tak lama lama mereka melakukan tugas masing masing. Tak ingin lagi membuat kemarahan dari sang tuan.
Sedangkan disalah satu ruangan, Amel sedang terduduk dengan pandangan yang begitu sayu, ia baru saja terbangun dari tidur panjangnya, setelah taruhan semalam orang yang memenangkan taruhan membawanya kedalam sebuah apartemen mewah. Awalnya Amel berpikir jika pria ini pasti hanya menginginkan tubuhnya, akan tetapi pikirannya salah, saat tiba di lokasi pemuda itu hanya meminta nya untuk masak dan juga membersihkan apartemen milik pemuda itu.
"Udah siapnya semua urusanmu, biar ku antar pulang kau".
Dari logat pemuda ini sudah bisa ditebak jika ia berasal dari salah satu pulau Sumatera, yaitu sumatera Utara, salah satu provinsi yang terkenal dengan kain ulos nya, dan juga tarian khasnya yaitu tor tor, serta jika lebih diteliti lagi kota ini memilik keindahan alam yang tidak ada duanya, salah satunya yaitu danau Toba.
"Gak usah, gue balik sendiri aja".
Tolak Amel halus, ia tidak ingin merepotkan orang lain, karena ia pun tak ingin direpotkan oleh orang lain.
"Udalah, samaku aja, aman itu, percaya maho tu au".
Sambung pemuda itu.
Oh ya pemuda itu bernama Hanif Nasution, anak Medan yang datang ke Jakarta untuk melanjutkan studi tingkat perguruan tinggi, kebetulan malam itu ia tidak sengaja mengikuti balapan yang sudah lama ia tinggalkan, entah kenapa hatinya bergerak untuk menyelamatkan wanita ini, ia seperti melihat ada sesuatu yang dimiliki perempuan ini dan tidak bisa dilihat oleh orang lain, seperti luka yang begitu dalam, dan ya jadilah seperti ini. Setelah mendengar cerita gadis ini ia baru tau jika hidupnya jauh lebih beruntung dan ia pantas bersukur untuk itu. Yang saat ini ada diotaknya adalah ia harus melindungi cewek ini, dan jika ia sudah memutuskan satu hal akan di pertanggungjawaban olehnya.
"Thanks bang Hanif, senang bisa kenal Abang".
Balasan yang bisa Amel berikan saat Hanif berjanji untuk melindungi dirinya, baru saja ia mengenal Hanif tapi entah mengapa ia menyukai cara pandang pemuda ini. Jika diingat ingat lagi disekolah nya juga ada satu orang yang bernama Hanif, yaitu Hanif Kartanegara, pria dingin dan juga ferfecsionis yang menjabat sebagai ketua OSIS itu. Tapi jelas Hanif yang saat ini ada didepannya jauh lebih baik, dan tentunya jauh lebih matang dari Hanif yang satu lagi.
"Ayo, pegangan kau dekku, nanti jatuh gak tanggung jawab Abang".
Hanif menarik tangan Amel dan meletakkan tangan itu diperut nya, bukannya modus , ia hanya tidak ingin ada hal yang tidak diinginkan terjadi.
Amel dibelakang hanya bisa diam sembari menikmati perhatian yang tidak pernah dia dapatkan dari pihak manapun, kecuali dari Dira tentu saja.
"Untuk kali ini tolong biarkan saya bahagia Tuhan". Batin Amel berdoa.
SMA MATTEO INTERNASIONAL
Dira sudah kembali menginjakkan kakinya di sekolah ini lagi, ia hendak turun dari dalam mobil dengan cepat, biar bagaimanapun ia cukup rindu dengan suasana Kelas nya yang berisik.
"Eits gak sopan kamu".
Andra menarik tas Dira, membuat cewek itu mau tidak mau mundur kembali kebelakang, ia menatap Andra dengan heran, perasaan sudah tidak ada yang tertinggal lagi kok.
"Ih apaan si kak, aku mau cepat cepat tau".
Kesal Dira, yang tidak ditanggapi oleh Andra pemuda itu hanya menatap Dira dengan malas.
"Salim dulu,"
Sahutnya dengan tangan yang disodorkan kearah Dira.
Ih iya lupa, Dira menepuk kepala nya sendiri.
"Hehheb maaf atuh kak, namanya juga lupa". Dira menyambut uluran tangan tersebut, tapi seakan tersadar setelah salaman Dira malah menyodorkan tangannya kearah Andra, sedangkan kini gantian Andra yang bingung.
"Uang jajannya belum". Dira memperlihatkan deretan giginya, dengan malas Andra meraih dompetnya, mengeluarkan uang Warna merah sebanyak lima lembar dan memberikannya kepada Dira.
"Cukup kan?". Tanya Andra lembut.
"Cukup dong, makasih kak Andra sayang, aku pamit ya, calon istrimu ini mencari ilmu dulu biar anak anak kita nanti bangga punya ibu cantik dan pintar kayak aku, kak Andra juga yang rajin kerjanya biar aku makin cinta kalo kak Andra makin banyak uang".
Setelah mengatakan itu Dira keluar dari area mobil, waktu untuk masuk pelajaran pertama tinggal 5 menit lagi, dan sudah bisa dipastikan ia tidak bisa bergosip ria pagi ini. Padahkan itu merupakan energi yang baik untuk mengahadapi mata pelajaran yang berikutnya.
Dira berlari dengan sekuat tenaga saat dirasa bell sudah berbunyi, meninggalkan Andra yang menatap dirinya gemas dan juga khawatir.
"Yaampun untung aja gak telat".
Dira mendudukkan dirinya di kursi biasa, sedikit mengerutkan dahi saat tidak melihat keberadaan Amel, ditambah tidak adanya kabar dari gadis itu membuat dirinya risau saja.
"Selamat pagi anak anak, kita lanjutkan pelajaran kita, oh ya sebelumnya silahkan kumpul tugas yang sudah ibu berikan, bagi yang tidak mengumpul silahkan keluar dan berdiri dibawa tiang bendera sampai jam istirahat pertama".
Dira mencari cari buku tugas nya, namun sedari tadi ia tidak menemukan nya, padahal seingatnya ia sudah memberikan tugas itu pada Andra, dan pastinya sudah dikerjakan oleh pemuda itu, lantas kenapa sekarang ia tidak menemukan nya dimanapun.
",Pasti Lo gak ngerjain ya?". Sebuah suara mengagetkan Dira, ia bisa melihat raut mengejek dari wajah pemuda itu,
"Bukan urusan kamu". Sahut Dira ketus.
"Ini kurang satu lagi, siapa yang tidak mengumpul maju kedepan". Ujar sang guru dari depan kelas, sembari ia meneliti buku tugas dari murid muridnya.
Tak ingin menambah masalah lagi, Dira pun dengan kepala menunduk maju kedepan kelas, ia tak pernah menghadapi situasi seperti ini, dan biasanya akan selalu ada Andra yang datang menyelamatkan dirinya.
"Keluar dan berdiri di tengah lapangan".
Suruh guru itu dengan nada ketus, sepertinya guru ini masih baru, hingga tidak mengenal siapa Dira yang sebenarnya.
"Baik buk".
Dira keluar dari kelas dengan raut wajah yang sedih, dan juga perasaan dongkol terhadap Andra, lihat saja Dira pasti akan membalas Andra nantinya.