Ditengah tengah teriknya sinar matahari pagi, dan terangnya sang surya Anindira Ravindra berdiri dengan tangan yang menghormat pada sang merah putih. Sudah lebih dari satu jam dirinya berdiri disini. Keringat bahkan sudah bercucuran dari area wajahnya. Tapi yang namanya hukuman haruslah tetap berjalan.
"Ih panas banget sih".
"Ini juga istirahat lama banget".
Dira berbicara dengan dirinya sendiri, beruntung lah tadi pagi sempat sarapan, jika tidak entah apa yang akan terjadi.
"Woi, cuit.. cuit.."
Dengan tidak sopannya Dira memanggil seorang pemuda yang kebetulan sedang lewat diarea lapangan. Pemuda itu mendekat, menatap heran Dira yang menatapnya seperti melihat seorang pahlawan.
"Apa?". Tanyanya datar.
"Tolongin gue, gue gak kuat lagi, Lo kan ketos disini bilang aja Lo ada keperluan sama gue, tolong ya".
Dira menangkupkan kedua tangannya tanda benar benar membutuhkan bantuan.
"Untungnya buat gue apa?".
Tanya Hanif sang ketua OSIS dengan nada malas, di dunia ini tidak ada yang gratis bukan, semua harus ada timbal baliknya.
"Yaampun perhitungan banget sih-". Sahut Dira tidak percaya.
"Tapi gue bakal turutin semua yang Lo mau, tapi bebasin gue". Sambung Dira tidak pikir panjang. Biarlah nanti ia menuruti permintaan Hanif yang penting bebas dari hukuman melelahkan ini jauh lebih penting untuk saat ini.
"Okay, Lo tunggu disini bentar".
Hanif pergi ke arah kelas Dira, sedangkan Dira yang melihat kejadian itu hanya mengangguk pelan, seraya berharap Hanif segera tiba.
Tak sampai sepuluh menit Hanif datang kembali, kali ini ia datang tidak dengan tangan kosong, melainkan bersama dengan tas pink milik Dira. Tak mau ambil pusing Dira menerima tas miliknya dengan senang hati, entah apapun yang tadi Hanif katakan pada gurunya Dira tidak peduli itu, dan mungkin hari ini Dira akan kembali membolos.
"Yuk".
Hanif berjalan lebih dulu, Dira mengekor dibelakang, saat ini mereka sudah tiba digerbang, dan entah bagaimana caranya Hanif bisa lolos dengan mudah dari cercaan pertanyaan satpam sekolah yang terkenal galak ini.
"Mau kemana nih?". Tanya Dira saat mereka sudah berada diatas motor matic milik Hanif, tak menjawab pertanyaan Dira Hanif justru menyuruh gadis itu untuk turun dari motornya terlebih dahulu.
Kemudian dibukanya sweter yang sedari tadi dikenakan nya, tanpa kata ia memasangkan sweter itu pada Dira, Dira yang sedikit terkejut hanya diam menerima.
"Dasar bocil".
Ejek Hanif, sweter miliknya kini terlihat begitu besar saat digunakan oleh Dira, bahkan sampai pada kulit gadis itu, jadi kalian bisa membayangkan betapa perbedaan besar Hanif dan Dira sangat jauh.
"Ini aja yang kebesaran". Elak Dira melihat dirinya, dan memang benar ia hampir tenggelam di dalam sweter hitam tersebut.
"Udahlah , yok jalan, gak ada lagi yang kurang kan?". Sambung Dira ia bahkan mendorong tubuh Hanif agar menaiki motor itu lebih dulu.
"Pegangan gue gak mau Lo terbang nantinya".
Ujar Hanif dengan tangan yang membawa tangan Dira kearah perutnya. Jadilah Dira memeluk Hanif lumayan erat. Sebenarnya Dira cukup khawatir dengan kendaraan ini, bagiamana pun ia belum pernah menaiki kendaraan yang bernama sepeda motor selama ia hidup.
"Lo takut ya?" Tanya Hanif saat merasa Dira memeluknya terlalu erat.
"Gak kok, kata siapa". Sahut Dira dengan mencoba megelak.
Sepuluh menit dalam perjalanan akhirnya mereka tiba disebuah rumah yang lumayan besar, tak sebesar rumah Dira atau Andara memang, tapi rumah ini terlihat nyaman apalagi ditambah dengan taman dan juga kolam ikan didepannya. Nyaman, hanya itu kata pertama yang keluar dari mulut Dira.
"Ayo masuk, ngapain Lo berdiri disitu".
Hanif masuk lebih dulu, meninggalkan Dira yang langsung ikut berlari saat merasa ditinggal. Dira awalnya merasa biasa saja saat memasuki rumah ini, tapi ia sedikit gugup sekarang entah lah ia tidak tau alasannya.
"Tungguin atuh". Dira menarik tangan Hanif dan menggenggam nya , berhasil cara itu cukup ampuh untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Apaan Lo, nanti orang rumah pada salah paham baru tau rasa".
Hanif mencoba melepaskan genggaman tangan Dira, namun bukannya terlepas genggaman itu malah kian erat.
"Hayo siapa ni, kok gak dikenakan ke mama".
Seorang perempuan yang lumayan cantik datang dari arah dapur, ia menatap geli pada dua orang ini, sejujurnya sedari tadi ia sudah menyadari keberadaan mereka, tapi karena terlalu asik melihat perubahan raut wajah Hanif yang biasa datar ia hanya diam saja. Kapan lagi melihat Hanif mengeluarkan ekspresi wajah selain datar.
"Halo Tante kenalin aku Dira, pacarnya Hanif".
Dira memeluk mamanya Hanif dengan Santai. Memang Diranya saja yang tidak tau tempat. Dan apalagi sekarang pacar, Hanif bahkan akan berpikir seratus kali untuk menjadikan Dira seorang pacar, bisa gila dirinya jika punya kekasih seperti Dira ini.
"Halo cantik, oh ya, tapi Hanif kenapa gak pernah bilang?". Tanya sang mama menatap Hanif dengan tajam.
"Gak ma, dia bukan pacar aku, mana mau aku sama dia". Ujar Hanif menatap Dira tajam. Semua orang juga tau siapa kekasih dari Dira sekarang, dan apa apaan gadis itu, mengatakan jika mereka berpacaran, itu sama saja dengan menjerumuskan dirinya kedalam masalah.
"Bohong tu Tan, Hanif ya lagi malu aja, padahal kan gak PP ya Tante". Lanjut Dira.
"Serah lo nyet". Hanif menjitak kepala Dira, kemudian bergegas melangkah kearah kamarnya.
"Dasar gila". Teriak Dira tidak tau tempat.
"Hehehehe maaf ya Tante aku emang gini orangnya kadang suka lupa tempatnya". Dira jadi merasa bersalah. Tapi mau gimana lagi ini emang sikap dari sononya, ia terbiasa berlaku demikian Jika sedang tidak bersama Andra. Jika ada Andra jangan harap semua sifat dan tingkah lakunya sudah diatur saat berada diluar kawasan pemuda itu.
"Iya santai aja, oh ya kok kalian udah pulang padahalkan masih pagi?" Tanya Nisa baru menyadari jika ini masih waktunya untuk belajar.
"Gak tau Tan, kata Hanif dia pengen berduaan sama aku, jadilah akunya di ajak bolos, padahal aku gak mau tan, tapi sebagai pacar yang baik aku nurut aja kah apa kata calon imam". Bohong Dira. Padahal ia memang biasa bolos, tidak tau kalo Hanif.
"Ah Yaudah lah tapi jangan keseringan ya, oh ya kamu mau ikut Tante masak gak, nanti papanya Hanif bakal pulang buat makan siang". Nisa membawa Dira kearah dapur.
"Tapi aku gak bisa masak Tante". Jawab Dira memang benar kan dirinya tidak bisa memasak.
"Gak papa, nanti Tante ajari".
Dapur minimalis yang sangat bersih ini kini berubah menjadi sedikit berantakan, suara tawa dan juga bising terdengar sampai ke arah kamar Hanif, ia yang tadinya sibuk mengurus pekerjaan OSIS nya, jadi sedikit terganggu. Karena penasaran ia pun turun untuk melihat apa kiranya yang sedang terjadi.
Hanif bisa melihat tawa lepas dari mamanya, tawa yang sudah lama tidak ia lihat,mungkin mamanya merasa cocok dengan Dira, ditambah Hanif juga tau jika mamanya sangat menginginkan seorang putri tapi Tuhan tidak berkehendak.
"Ini dipotong kecil kecil kan ma?". Tanya Dira dengan pisau dam wortel di depannya.
Hanif yang sedari tadi mengintip jadi sedikit kaget, sejak kapan Dira memanggil mamanya dengan panggilan yang sama.
"Iya tapi jangan terlalu besar ya". Ucap Nisa mengarahkan.
"Siap komandan". Balas Dira dengan tangan menghormat.
Dira asik saat memotong hingga tanpa sadar pisau itu mengenai kulit jarinya.
"Aww"
Suara jeritan Dira membuat Hanif yang bersembunyi langsung berlari dan melihat apa yang terjadi. Dengan cepat ia memasukkan tangan Dira yang masih berdarah kearah mulutnya.
"Lain kali hati hati". Ujarnya sinis.
Sedangkan Nisa uang melihat itu hanya bisa tersenyum hangat, ia bersukur ada Dira di hidupnya Hanif. Dan secara pribadi ia juga sangat menyukai Dira, entah kenapa baru saja bertemu ia langsung menyayangi perempuan ini.
Hanif membawa Dira kearah kursi meja makan, dengan cepat i berlari guna mengambil obat P3K. Dan mengobati tangan itu dengan pelan dan penuh kehati-hatian.
"Nih udah, sekarang Lo diam disini gak usah ikut masak lagi". Titah Hanif tak ingin dibantah.
"Tapi masakan gue gimana?". Tanya Dira tidak enak. Baru saja ia merasa senang sebab bisa menyentuh alat alat dapur, tapi sekarang sudah begini, Dira menjadi sedih merasa dirinya tidak bisa apa apa.
"Jangan ngebantah, atau mau gue hukum". Ancam Hanif. Yang membuat Dira mengerucutkan bibirnya.
Tak terasa satu setengah jam sudah berlalu, semua masakan pin sudah berada diatas meja, harumnya menyeruak keseluruh ruangan, membuat siapapun yang menghirup nya merasakan lapar luar biasa.
"Ih ini papa kamu kemana si by?". Tanya Dira pada Hanif yang duduk disampingnya.
"Bentar lagi juga balik". Jawab Hanif singkat. Ingat ya ia tidak akan mencintai Dira, ia hanya sedang mengikuti permainan yang Dira perankan, jika sampai ia mencintai Dira maka ia siap untuk melanjutkan sekolah ke London dan melanjutkan perusahaan kakeknya. Ingat itu janjinya, lagian mana mau dia melanjutkan perusahaan gila itu. Ia tak mau nantinya waktu dan tenaganya terkuras begitu saja.
"Sabar ya sayang, nanti biar mama marahin tu papa kamu, berani banget baut anak mama nunggu". Sahut Nisa.
Merasa tidak enak Dira hanya bisa mengangguk, ia jadi merasa kurang ajar sekarang.
Sedangkan di perusahaan,Andra sedang sibuk dengan berbagai kertas kertas yang ada didepannya. Ia lumayan tidak punya waktu bahkan hanya untuk mengecek ponselnya. Tinggal tiga berkas lagi maka Andra akan segera terbebas. Dengan semangat ia mengecek berkas berkas terakhir itu, hingga pada akhirnya semua selesai. Ototnya seperti mati rasa, dan beruntung semuanya sudah berakhir.
Teringat satu berkas yang berada di dalam tas kerjanya, Andra mengambil berkas tersebut, namun saat akan membukanya ia melihat salah satu buku asing ditasnya, saat dicek ternyata itu adalah salah satu tugas yang akan Dira serahkan pagi ini.
"Sial"
Umpat Andra dan melihat kearah ponselnya, dan melihat pesan dari bodyguard yang ia pekerjakan untuk memantau Dira.
Bima
Nona Dira membolos bersama dengan seorang pria.
Amarahnya kian memuncak. Andra dengan tidak berperasaan menghempaskan segala sesuatu yang ada didekatnya.