Hidup dalam kemewahan adalah impian dari semua orang, tapi bukankah bahagia tidak selamanya tentang harta?,ada kalanya harta ,uang dan segala kekuasaan tidak bisa membeli sesuatu yang sifatnya sederhana. Seperti keluarga yang utuh dan juga saling melengkapi misalnya.
Dira mungkin beruntung, memiliki orang tua yang amat menyayangi nya, punya harta yang berlimpah, tapi semua itu harus ada bayaran nya bukan, di dunia ini tidak ada yang sempurna, dengan segala kekuasaan yang dimiliki oleh orang tuanya Dira dituntut untuk menjadi yang terbaik, masa depannya pun sudah ditentukan sejak ia lahir.
"Ayo Dira tambah lagi makannya".
Dira yang sedari tadi makan dalam diam mengalihkan pandangannya pada Nisa yang tersenyum manis kearahnya.
"Gak usah ma, aku ini aja udah kenyang". Dira mengusap perutnya tanda bahwa ia memang sudah sangat kenyang.
Jika diteliti lebih dalam Dira baru tau darimana sifat datar dan dingin seorang Hanif Kartanegara, ayahnya Roni Kartanegara lah yang mewariskan itu, namun tidak bisa dipungkiri jika visual dari keluarga ini tidaklah main main.
"Ngapain Lo liatin bokap gue?". Tegur Hanif melihat Dira yang menatap ayahnya dengan pandangan kagum.
"Papa calon mertua ganteng banget". Ujar Dira tanpa sadar. Ia bahkan tidak mengindahkan kekehan yang keluar dari mulut Nisa.
"Om, butuh istri muda gak?". Tanya Dira kearah Roni yang masih asik dengan makanan nya. Nisa dan Hanif menganga mendengar pertanyaan dari Dira, ini Dira sadar gak sih orang yang dia goda ini lagi ada di kandangnya.
"Kamu cantik, tapi sayang istri saya lebih cantik". Balas Roni mencium pipi Nisa yang berada disebelahnya.
"Ya ampun om, swettt banget sih, kan jadi pengen". Heboh Dira melihat kelakuan Roni, ini mah namanya paket komplit udah dingin,kaya, ganteng, dan juga setia. Ah Dira kan jadi pengen.
"Lebay".sahut Hanif dari arah samping Dira.
Dira menatap Hanif dan juga Roni secara bergantian, meneliti dan mencari kesamaan dari dua orang ini,
"Gak dapat papanya, anak nya pun jadilah".
Dira mencolek pipi Hanif genit.
"Hahaha yaampun kamu lucu banget sih, kan mama makin sayang".heboh Nisa melihat kelakuan Dira. Dia tidak marah sama sekali sebab dia tau itu semua hanyalah candaan belaka, lagipula mana mau keluarga Ravindra menjadikan putrinya menjadi seorang istri kedua.
"Makasih Tante tapi itu hal biasa kok". Balas Dira dengan pedenya.
Hanif dan Roni yang melihat itu hanya menatap datar kearah dua wanita yang memiliki sikap yang hampir sama ini, tapi tidak bisa dibohongi jika mereka cukup terhibur dengan kelakuan dari Dira.
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.49 wib, tidak terasa sudah hampir satu harian ini Dira berada dalam kediaman Kartanegara, rasanya cukup menyenangkan, hari ini untuk pertama kalinya ia belajar memasak dan menginjakkan kakinya di dapur, kedua ia juga senang dan bahagia saat diajarkan cara berkebun, ah masih banyak lagi hal yang Dira pelajari hari ini, mungkin nanti Dira juga akan lebih sering untuk datang ketempat ini. Tapi untuk hari ini cukup disini dulu, sekarang saatnya pulang, semoga saja Andra belum kembali dari kantor, jika sudah bisa berabe nantinya.
"Om, mama, aku pulang dulu ya, nanti aku pasti datang lagi kok, kalian jangan sedih, calon mantumu ini cuman pergi dan akan kembali".
Didunia ini mungkin cuma Dira orang yang berpamitan dengan cara seperti ini, dan lagi lihatlah tingkat kepedean yang luar biasa itu.
"Gak usah datang lagi lah". Ucap Roni tanpa perasaan, pasalnya saat Dira berada disini hampir seluruh perhatian istrinya teralihkan pada Dira, dan dia diabaikan.
"Gak usah dengarin om kamu, dia gila", sahut Nisa setelah mencubit perut Roni, jika Dira sakit hati dan tidak mau datang lagi kan dia jadi sedih, soalnya Dira itu sudah kayak mood booster banget, tingkahnya ituloh gak ada yang masuk akal.
"Tenang aja Tante, aku tau kok om Roni mungkin gak rela aku pulang, soalnya aku emang ngangenin sih". Ujar Dira dengan menghempaskan rambutnya pelan,
Roni yang mendengar itu membulatkan matanya, ini anak luar biasa banget kagak ada akhlak.
"Buruan lama banget sih". Panggil Hanif yang sudah siap dengan motornya. Dia sudah ada disini sejak lima menit yang lalu, ini Dira mau pamitan pulang aja lamanya kayak mau izin nikah, ribet ey.
"Sabar dong sayang, gak sabaran banget sih". Balas Dira menatap Hanif sinis.
"Papa dan mama mertua aku pamit ya, anakmu sudah tidak sabar ingin berduan dengan daku". Dira menyalami dan memeluk Nisa dan juga Roni, saat akan memeluk Roni pria itu lebih dulu mengusap rambut Dira lembut, jadinya Dira hanya menatap pria itu dengan senyum manis.
"Sering sering mampir ya, dan panggil saya papa mulai sekarang". Perintah Roni tak ingin dibantah.
"Baik papa". Jawab Dira.
"Pegangan gue gak mau loh jatuh". Peringat Hanif yang langsung diangguki gadis itu.
Motor besar itu melintas dijalanan yang begitu ramai, banyak orang orang yang berlalu lalang dipinggiran jalan, motor dan mobil yang juga berlalu lalang, mengakibatkan kemacetan.
"Lama banget sih ni lampu". Kesal Dira yang mulai jengah dengan lampu merah uang amat lama berganti warnah. Untuk mengusir kebosanannya Dira meraih ponselnya dan merekam para pengendara beserta kendaraan nya yang sedang berhenti dengan posisi yang cukup estetik menurut nya.
"Ngapain sih, gak baik tau, masukin ponselnya sekarang juga". perintah Hanif tidak suka. Ini tuh bisa mengatakan, selain itu merekam seseorang tanpa izin juga tidak lah baik.
"Ih gak mau". Bantah Dira dengan tangan yang tetap mengarahkan ponselnya kearah jalanan.
"Serah lo lah". Pasrah Hanif . Dia baru sadar jika Dira ini selain centil juga keras kepala sekali.
"Liat sini dong, hai guys ini tuh kenalin pacar kedua Dira, namanya Hanif Kartanegara, ganteng loh, kali mau namanya IG nya jangan lupa DM ya, ok guys, inituh lagi macet banget, mana udah gerah lagi, kalian lagi pada ngapain ngab, oh ya guys segitu dulu ya, see you next time guys, bababy".
Dira mengakhiri live di IG nya, banyak coment yang bermunculan, live dengan penonton 12K tersebut lumayan mengurangi rasa bosannya menunggu lampu merah ditambah kemacetan ini.
"Gak usah gitu Dir, nanti yang kena masalah juga Lo". Peringat Hanif . Bukannya tidak suka hanya saja ia tak mau Dira dalam masalah atas apa yang gadis itu perbuat.
"Santuy serahkan semua pada Dira". Balas Dira dengan tangan yang kini memeluk Hanif erat, setelah menyimpan ponselnya Dira merasa cukup kelelahan, ia menyandarkan kepalanya di bahu lebar milik Hanif.
Merasakan hal itu Hanif hanya bisa diam dan tak ingin berkata apapun.
Sementara itu dari arah mobil disamping motor milik Hanif, seorang pemuda menatap kejadian itu dengan datar, hatinya panas, dan juga rahangnya sudah mengeras, tak cuman itu tatapan yang biasanya datar itu kini kian datar.
Pemuda itu Afandra Matteo, tunangan dari Anindira Ravindra, gadis yang sedang asik menyenderkan kepalnya di bahu pemuda lain tersebut. Andra sudah menyadari keberadaan Dira sedari tadi, hanya saja ia ingin melihat apa yang akan Dira lakukan jika sedang tidak bersama dirinya. Dan boom hasilnya bisa membuat Andra ingin meledakkan apapun yang saat ini ada di sekelilingnya. Mungkin Dira tidak sadar jika sedari tadi Andra juga menonton live yang dilakukan cewek itu di IG nya.
Pak Alam yang sedari tadi menyetir dan memperhatikan raut wajah tuannya dari kaca depan, seketika ikut merinding, dia tau saat ini tuannya sedang berada dalam emosi yang tidak bisa dibendung, mengikuti arah pandang sang tuan, pak Alam seketika mengumpat saat melihat nona nya sedang asik berduan' dengan pria lain.
"Tunggu sebentar". Kata Andra dengan dingin.
Andra turun dari mobilnya, berjalan dengan langkah tegap, aura dingin yang dia keluarkan membuat beberapa pengendara yang berada disekitar nya menjadi merinding.
"Turun" ucap Andra dingin. Dia bisa melihat raut wajah terkejut dari Dira,
"Kak Andra". Kata Dira gugup, demi apapun saat ini dia sedang ketakutan. Dengan cepat dia turun dari motor Hanif, menatap cowok itu dengan pandangan minta tolong,
"Jangan salah paham, saya tidak ada hubungan dengan Dira". Bela Hanif melihat raut ketakutan dari Dira, hanya itu yang bisa ia katakan dan memang itulah kenyataannya.
Andra tidak menjawab ataupun membalas perkataan Hanif, dengan langkah cepat dia membawa Dira menuju mobilnya, dengan tangan yang menggenggam tangan cewek itu erat, saat ini emosinya sedang tidak bisa dikontrol. Dira yang diperlakukan demikian hanya bisa pasrah, lagipun ini memang salahnya.
"Masuk". Andra dengan cepat mendorong Dira memasuki mobil mewah miliknya. Beruntung setelah mereka masuk lampu dan kemacetan sudah mulai terkendali, pak alam dengan cepat menjalankan mobilnya.
"Kak Andra maaf". Ujar Dira lirih, pasalnya Andra hanya diam, tidak melihat kearah nya, bahkan Dira bisa melihat rahang yang mengeras dan juga tangan yang terkepal, menandakan jika saat ini Andra sangat emosi.
"Pacar kedua eh?".tanya Andra dengan sinis, ia tidak menatap Dira sedikitpun
"Maaf ,kak Andra maafin Dira, tolong jangan hukum Dira,". Dira mencoba memegang tangan Andra, tapi dengan cepat di hempaskan oleh pemuda itu.
"Kamu tau Dira, hari ini kamu udah buat banyak kesalahan, dan menurut kamu hukuman apa yang pantas untuk orang yang berbuat banyak kesalahan dalam waktu yang bersamaan?". Andra mengalihkan pandangannya pada Dira yang tertunduk disampingnya. Gadis itu sudah menangis dengan sesenggukan, lihat kan disini Dira yang berbuat salah, lantas kenapa dia jadi merasa paling tersakiti.
"Jawab jangan bisanya nangis doang?". Ulang Andra dengan tangan yang mencengkram dagu Dira agar melihat ke arahnya,
"Hiks maaf, aku salah, hikks tapi aku cuman bercanda". Jawab Dira dengan menahan rasa sakit akibat cengkraman Andra.
"Hahha enteng banget kamu ngomong gitu, tapi hukuman tetap hukuman, dan kamu tau itu dari awal, so siapkan dirimu". Lanjut Andra dengan menghempaskan dagu Dira kasar.