Andra menyeret Dira dengan kasar untuk keluar dari dalam mobil. Selama mereka kenal atau menjalin hubungan ini adalah pertama kalinya seorang Afandra Matteo kehilangan kontrol akan dirinya sendiri.
"Hikss ....hiks...sakit, kak Andra lepasin tangan Dira sakit".
Dira mencoba melepaskan tangan Andra yang sedari tadi meremas tangannya dengan kuat, tapi bukannya terlepas Andra malah kian mengeratkan genggaman tangannya, yang di yakini nya pasti sekarang tangan Dira sudah membiru.
"Diam, aku bilang diam Dira". Sentak Andra dengan keras saat dirasa Dira tidak mengindahkan perkataan nya.
Dira tersentak kaget, rasanya orang yang saat ini bersama nya, bukalah Andra yang dia kenal, Andra nya tidak kasar seperti ini, dan yang paling penting Andra nya tidak akan pernah mungkin tega melukainya.
"Masuk". Dengan cepat Andra mendorong Dira untuk masuk kedalam ruangan yang biasa dia gunakan untuk menghukum orang orang yang menurutnya pantas untuk dihukum.
Ruangan itu sunyi, para penjaga yang biasa berada disini sudah Andra perintah kan untuk pergi, dia ingin memberikan hukuman yang tidak akan pernah Dira lupakan, kali ini akan Andra tunjukkan siapa dia yang sebenarnya, agar kelak Dira berpikir seratus kali untuk melanggar aturan yang sudah dia buat.
Dira merinding ditempatnya, ruangan ini penuh dengan bau amis, dan yang lebih mengejutkan ada beberapa tangan yang entah siapa pemiliknya, Dira ingin muntah rasanya, perutnya seperti terasa diaduk, dan juga hatinya terasa seperti diremas tidak pernah ada dalam bayangan nya sekalipun jika Andra bisa melakukan hal yang demikian.
"Andra, kamu , ini benaran kamu?". Tanya Dira dengan harapan yang besar jika Andra akan menggeleng, tapi rasanya semua begitu mendadak, layaknya mimpi dan agak mengerikan.
"Mau tau aku yang sebenarnya?".
Andra berjalan dengan aura yang menyeramkan kearah seorang pemuda yang terduduk diatas kursi, dengan tangan yang terikat dan juga mulut yang disumpal sebuah kain, dengan sebuah belati yang entah sejak kapan berada ditangannya Andra langsung menebas salah satu tangan pemuda itu.
"Akhhh". Dira berteriak histeris melihat itu, jantungnya berdetak jauh lebih cepat, air matanya jatuh dengan begitu deras, didepan matanya Andra menghilangkan nyawa dengan begitu mudahnya, kini rasa nya Dira begitu takut pada tunangannya ini.
"Dira lihat, ini aku yang sebenarnya, Andra kesayangannya Dira itu kek gini,-". Ujar Andra dengan suara lembut, akan tetapi menurut Dira suara itu malah menyeramkan sekarang.
Dira ingin lari, lari dari tempat ini dan juga kari dari seorang Andra, sekarang pikiran pikiran negatip mulai menghantui pikiran nya, mencoba mengingat ingat lagi kejadian masa silam, tidak mungkin semua itu ulah Andra kan, hilangnya orang orang yang dia goda tidak mungkin bukan karena pindah tapi pergi untuk selamanya, dan itu karena ulah pemuda ini.
"AKU BILANG LIHAT" bentak Andra saat Dira masih menundukkan kepalanya, dengan langkah yang lebar Andra berjalan kearah Dira ,menarik tangannya dengan kasar dan membawa Dira tepat ke dekat pemuda yang sudah tak lagi bernyawa itu.
"Gila kak Andra gila". Lirih Dira melihat Andra dengan tatapan kecewa.
Andra tidak mengindahkan hal itu, saat ini dirinya masih diliputi oleh emosi, bahkan tanpa Andra sadari saat ini dia sudah membuat batin seorang Dira tersiksa.
"Ini belum apa apa sayang, mau liat yang lebih gila lagi gak?". Tanya Andra.
Tidak mendapatkan jawaban, Andra dengan cepat melakukan kegiatan menyenangkan nya, menusuk nusuk perut sang pemuda, kemudian memotong motong tangan itu, dan selanjutnya dia mencongkel mata pemuda itu. Seakan lupa dengan keberadaan Dira, Andra asik dengan dunia nya, seakan tidak ada harus esok saja.
Selesai dengan itu Andra menengok kearah kirinya dimana Dira berada, tapi emosinya kian memuncak saat tidak menemukan Dira dimanapun, melemparkan belatinya sembarang arah, Andra berlari keluar ruangan.
"Dira?". Tanyanya singkat pada bodyguard yang berdiri di luar pintu ruangan.
"Nona Dira tadi berlari kearah luar tuan". Jawab bodyguard itu takut takut, pasalnya aura yang dikeluarkan oleh Andra saat itu jauh lebih mengerikan daripada hari hari biasanya.
"Ckkk bodoh".umpat Andra dengan memberikan satu Bogeman pada bodyguard itu, kemudian dia berlalu guna mengejar Dira.
Sementara itu dijalanan dengan mobil mewah miliknya Arjun sedang memutari kota, hari ini dia sedang gabut, untuk pergi bekerja rasanya sangat malas, tapi tidak ada pekerjaan juga rasanya jauh lebih membosankan. Sedari tadi ponselnya tidak berhenti berdering, pasti sekretaris nya sedang kelimpungan sebab tidak ada dirinya, tapi yang namanya malas kan tidak bisa diatur, kadang Arjun berpikir, untuk apa dirinya berfikir jika itu membuatnya berfikir, kan aneh kayak Lo disuruh mikirin hal yang gak berguna, buang buang waktu guys.
Didalam mobil ini terdengar lagu lagu dari Negera ginseng, boyband yang saat ini sedang booming, BTS, dirasa didunia ini hampir semua orang tau siapa BTS, dengan leader Kim Namjoon, terdiri dari 7 personil, Arjun merasa mereka itu mempunyai aura yang berbeda dan tentu saja karisma yang tidak main main juga.
Da-na-na-na-na-na-na, da-na-na-na-na-na-na
Da-na-na-na-na-na-na
No, we don't need permission to dance
Da-na-na-na-na-na-na, da-na-na-na-na-na-na
Da-na-na-na-na-na-na
Arjun mengikuti lirik dengan tubuh yang juga menikmati tiap kata yang terdengar, lagi ini memang cocok untuk teman dikala santai.
Tapi saat sedang asik asiknya bernyanyi seseorang datang kearah depan mobilnya, dan membuat tubuh orang itu jatuh kearah aspal
"Woy bangun Lo, tanggung jawab mobil gue jadi lecet kan". Arjun menendang nendang tubuh orang itu, karena tidak ada pergerakan dengan malas Arjun langsung membalikkan tubuh perempuan tersebut.
"Wo_". Arjun menghentikan perkataan nya saat melihat siapa perempuan tersebut, dengan panik dia langsung menepuk nepuk pipi gadis itu seraya berharap sang korban segera sadar.
"Dira, woy centil cepat bangun gak Lo". Tak mendapat jawaban dari Dira, Arjun berlari masuk kedalam mobilnya dan sedetik kemudian kembali lagi membawa sebuah minuman yang berwarna jernih.
Brukk.....
Dengan panik Arjun menyiramkan air putih tersebut tepat kearah wajah Dira, tak lama setelahnya Dira bangun dengan keadaan basah kuyup.
Huk....huk...
"Eh Lo gak papa kan?, ga ada yang luka kan ya?". Arjun membantu Dira berdiri dan membawanya kedalam mobil miliknya.
"Thanks". Ucap Dira saat Arjun memberikan nya sebuah handuk, dengan gerakan pelan Dira mengerikan rambutnya, tatapannya masih tetap kearah depan, berpikir mungkin sekarang Andra sedang sibuk untuk mencari dirinya, tau Andra menyadap ponselnya dengan cepat Dira membuang ponsel itu keting sampah tepat didepan mansion milik Andra .
"Btw kalo boleh tau Lo kenapa?". Tanya Arjun sekali lagi, lihat saja jika Dira masih mengacangi nya akan dia tendang Dira keluar dari mobilnya.
"Gak papa kok, Btw suka BTS juga?". Alih Dira tak sepenuhnya salah, sejujurnya dia tidak ingin siapapun tau tentang masalahnya, takut nanti ya malah makin melebar.
"Iya suka, banget, Bias gue tu Kim Tae-hyung, Lo liat gue , dia sama gue tu sama tau, secara ketampanan dia tuh mirip sama gue , gak ada tandingannya, dan lagi ini rahasia kita ya, sebenarnya dia sama gue tuh sepupu". Ucap Arjun percaya diri.
"Hahahahah". Dira tertawa dengan begitu kerasnya, Arjun dan Kim Tae-hyung itu jelas beda jauh, satunya serbuk berlian satunya lagi serbuk arang,
"Halu Lo ketinggian bro". Dira memukul Arjun guna menyalurkan rasa lucunya,
"Tapi btw gue juga suka sih, kalo gue Biasnya Kim Namjoon, yang gue liat dia itu punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh personil lain, walaupun sejujurnya tiap personil itu punya aura beda beda, tapi entah kenapa gue malah sukanya sama doi, tapi gue juga punya rahasia, Lo janji jangan bilang sama siapapun ok".
Dira menatap Arjun dengan serius seakan rahasia yang akan dia ucapkan memang akan sangat rahasia.
"Apa?". Tanya Arjun ikut pemasaran.
"Sebenarnya gue tuh istrinya Kim Namjoon , dan gilanya gue selingkuh sama Park Jimin, Lo janji ya jangan bilang siapa-siapa.". Arjun menganga tidak habis pikir, tadinya dia berpikir apa yang akan Dira ucapkan adalah sebuah hal yang besar, tapi taunya malah begini, ini mah namanya Dira halunya udah tingkat dewa.
"Anjirrt kirain apa". Dira terkikik geli melihat respon dari Arjun, katanya ucapan adalah doa, Dira hanya sedang berusaha dengan jalur langit, mana tau malaikat sedang khilaf hingga menjodohkan dirinya yang beban negara ini pada salah satu aset negara tersebut. Aminn.
"Gak waras".ungkap Arjun melakukan mobilnya.
'eh btw Lo ikut konser BTS di LA gak?".
"Kapan tuh, anjir kok bisa gue ketinggalan info penting itu?
"Yang tanggal 27-28 November dan 1-2 Desember 2021. "
"Dimana nya?"
"SoFi Stadium California "
Jawab Dira, sejujurnya saat ini hatinya tidak lah tenang, sejak tadi dia hanya sedang mengalihkan pikirannya dari apa yang baru saja dialaminya, jiwanya sedang terguncang, Dira mungkin saja sekarang sedang trauma, tapi mau bagaimana rasanya Dira tidak ingin siapapun tau apa yang saat ini dialami, Dira tidak ingin lagi merepotkan orang lain, mungkin nanti saat dia tidak lagi sanggup dirinya akan meminta bantuan pada ayahnya.
"Ini rumahnya?". Tanya Arjun saat sudah tiba didepan gerbang warna hitam , dari luar rumah ini sangat lah mewah, Arjun bisa tau jika keluarga Ravindra tidak lah bisa dianggap remeh.
"Iya thanks udah ngantar, nanti ketemu di LA ya". Ungkap Dira turun dari mobil milik Arjun.
Dengan berlari Dira masuk kedalam rumahnya, mencari sang ayah ,setelah menemukan nya Dira berhambur kedalam pelukan ayahnya, tidak mengindahkan rasa penasaran dari orang orang dirumah ini, Dira merasa saat bersama dengan ayahnya semua akan baik baik saja, ayahnya adalah tempat ternyaman untuk Dira.
"anak papa kenapa hem?". tanya Ravindra bingung melihat sang putri.
"gak papa pa, Dira cuman lagi kangen aja sama papa, Dira gak mau lagi jauh jauh dari papa". Dira kian mengeratkan pelukannya mencari kenyamanan yang tidak ada duanya.
"oaky kamu siap siap ya kira berangkat hari ini ke LA papa ada kerjaan disana , sekalian kamu liburan". Dira yang mendengar itu dengan cepat melompat riang.
"BTS, I am coming, Kim Namjoon tunggu aku". teriak Dira.