Kediaman Ravindra.
Rumah sedang sibuk dengan persiapan Dira yang akan berangkat keluar negri bersama dengan ayahnya. Semua orang sibuk sebab rencana ini termasuk dadakan, Alka yang tadinya baru pulang saja langsung diseret untuk membantu persiapan Dira.
"Ini ngapain sih, yang pergi satu orang, tapi yang repot malah satu rumah". Omel Alka dengan tangan yang tetap sibuk memeriksa semua persiapan Dira, mulai dari pasport dan juga kebutuhan lainnya.
"Apaan sih ,iri bilang bos". Sahut Dira dengan tangan yang masih sibuk memeriksa beberapa bawaannya.
"Eh bocil, jangan macam macam ya, Lo, gue geleng juga Lo". Kesal Alka dengan tangan yang menjitak kepala Dira dengan pelan.
"Auk ih sakit babi". Ringis Dira memegang kepalanya.
"Lebay". Balas Alka kian menjitak kepala Dira, setelah dirasa Dira akan mengamuk Alka langsung berlari keluar dari kamar pribadi Dira.
Tak terima dengan apa yang abangnya lakukan Dira berdiri, dan langsung ikut berlari mengejar Alka, terjadilah aksi kejar-kejaran antara dua saudara tersebut, para pelayan yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala mereka, gemas dan sekaligus tidak habis pikir. Dira memang membawa aura ceria dalam keluarga ini. Entah bagaimana kehidupan keluarga Ravindra jika Dira tidak hadir di tengah-tengah keluarga mereka, mungkin akan monoton dan sangat membosankan.
"Eh udah ,udah, capek gue". Alka merebahkan dirinya di lantai dingin , rasa gerah yang dia alami sedikit berkurang dengan adanya aura dingin yang berasal dari lantai.
Tak menyahut perkataan abangnya, Dira juga ikut merebahkan dirinya di samping Alka, sekarang mereka sedang menormalkan nafas yang tadinya tidak beraturan akibat dari lari lari yang mereka lakukan.
"Kamu udah pamit sama Andra?". Tanya Alka memiringkan kepalanya menghadap Dira, biar bagaimanapun Andra berhak tau apa yang akan Dira lakukan, sebab hubungan mereka saat ini sudah tidak bisa dikatakan main main lagi, sudah melibatkan dua belah pihak keluarga, tidak lucu nanti Andra malah datang dan bertanya tentang keberadaan Dira.
Mendengar nama Andra, ingatan Dira kembali kebeberapa waktu lalu, rasanya ia kembali merasa merinding, mengingat dengan begitu teganya Andra menghilangkan nyawa seseorang, entah kenapa sekarang Dira malah mulai ragu untuk melanjutkan hubungan mereka, rasanya dia belum kenal dan tau apa paa tentang Andra.
"Udah kok". Jawab Dira tentu saja berbohong. Jika seandainya pun mereka masih dalam keadaan baik baik saja, Dira yakin Andra tidak akan pernah mengizinkan.
"Hmm, bagus deh, Yaudah sana siap siap, bentar lagi kalian berangkat". Alka berdiri dari acara rebahan nya, berlalu guna mencari minuman dingin di dapur.
16.30
Dira dan keluarganya sudah berada dibandara, Alka yang membawa kopernya dan juga sang ayah yang menggandeng tangannya, di sebelah ayahnya ada sang ibu yang juga ikut mengantarkan.
"Gue mau ketemu suami dulu ya bang, mau nitip salam sama adik ipar gak?". Tanya Dira jahil. Dia tau sebenarnya Alka tidak terlalu setuju dengan keberangkatannya ini, mungkin cowok itu merasa kesepian jika tidak ada dirinya.
"Suami pala Lo, gak usah balik ya". Balas Alka dengan nada jahil, lagian mana rela dia bocil nya ini tidak kembali, dia malah sejujurnya ingin ikut, ingin menghabiskan waktu bersama dengan adiknya, dan lagi rumah pasti akan terasa kian sepi saat ni bocil tidak ada, siapa yang akan dia ganggu nantinya.
"Ih Dady, liat bang Alka jahat". Adu Dira pada sang ayah yang sedari tadi hanya tersenyum melihat kelakuan kedua anaknya.
"Alka". Tegur Ravindra,
"Kamu disana hati hati ya, jangan nyusahin Dady, ingat cuman kali ini loh, kamu udah keseringan bolos, dan cepat pulang, jaga kesehatan ok". Nasehat sang mama .
"Okay mom". Jawab Dira memberikan jempolnya,
Suara panggilan untuk keberangkatan LA sudah terdengar, Dira dan Ravindra segera pamit pada dia orang yang akan mereka tinggalkan untuk sementara waktu ini.
"Aku pamit ya , ma , bang, see you". Dira memeluk sang mama dan juga abangnya.
"Hmm hati hati". Sahut sang mama.
"Jaga kesehatan disana, ingat kalo udah nyampe kabarin Abang". Imbuh Alka dengan memeluk sang adik sayang.
"Alka, sayang, aku pamit ya, jaga kesehatan selama aku gak disini, Alka jaga mamanya". Pinta Ravindra menatap Alka dan sang istri secara bergantian.
"Siap bos". Alka menghormat pada ayahnya, dengan sigap ia menyanggupi, sejujurnya tanpa diminta sekalipun Alka pasti akan menjaga ibunya, sebab jika bukan dia siapa lagi .
"Yok Ra,". Ravindra mengajak Dira, mengambil alih koper yang sedari tadi ada ditangan Alka.
"Babay semua, Dira ketemu suami dulu". Dira melambaikan tangannya, dengan senyum merekah dia mengikuti sang ayah.
"Pulang yok ma". Ajak Alka saat Dira dan sang ayah sudah tak lagi terlihat.
Mansion Andra.
Andra sedang sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk, sedari tadi dia tetap berdiam diri di tempat ini, semenjak tak menemukan Dira di sekitar mansion ya Andra memutuskan untuk kembali dan menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
Bukan tidak peduli tentang Dira, tapi Andra hanya sedang memberikan cewek itu sedikit kebebasan, sebelum akhirnya nanti dia kian mengikat Dira makin erat. Lagipula Andra yakin saat ini Dira sedang berada di kediaman orang tuanya, menonton drakor, atau sedang menonton Idol kesayangannya. Memangnya apa lagi yang akan Dira lakukan selain hal itu.
Nanti malam Andra akan datang ke kediaman Ravindra, bertemu Dira dan meminta maaf sekaligus memberikan cewek itu sedikit peringatan, Andra rasa sudah saatnya dia menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya, lagipula mau bagiamana pun cepat atau lambat Dira pasti akan tau dia yang sebenarnya, Andra sudah cukup sabar selama ini, menahan emosi dan juga mengontrol dirinya untuk tidak menyakiti Dira, bahkan sekalipun cewek itu salah.
"Ckkk, bodoh". Umpat Andra saat melihat ada beberapa laporan yang tidak sesuai dengan kriteria nya.
"Datang keruangan saya sekarang". Perintah Andra melalui telepon yang berada disisi meja kerjanya.
Tok....tok....
"Masuk".
"Ada yang bisa saya bantu pa?". Tanya Dimas sopan, Dimas merupakan salah satu dari kepercayaan Andra dalam hal mengurus perusahaan.
Plak...
Dengan tidak berperasaan Andra, melemparkan laporan yang sedari tadi digenggamnya, tepat mengenai sasaran,
Dimas hanya menunduk dan menatap laporan yang baru saja dilemparkan tepat mengenai wajahnya, ditelitinya laporan tersebut, dan seketika merasa kesal pada pembuat laporan yang tak lain adalah bawahannya.
"Maaf, pak ada yang salah dengan laporan ini?". Tanya Dimas dengan pandangan menunduk, dirasa laporan itu memang luamayan bagus.
"Kamu masih nanya, teliti lebih baik Dim, saya tau kamu gak bodoh". Sarkas Andra, dengan pandangan remeh.
Dimas meneliti lagi laporan itu, dan baru menyadari bahwa ada beberapa typo dalam penulisannya, dan melihat Andra dengan pandangan bersalah.
"Maaf pak, lain kali akan saya periksa lagi sebelum saya serahkan pada bapak". Ucap Dimas yakin.
"Gak ada lain kali, kamu pecat orang yang membuat laporan itu". Perintah Andra mutlak, baginya kesalahan seperti ini tidak ada lain kali, orang yang masuk kedalam perusahaan nya adalah orang orang yang kompeten, dia tidak menyukai orang yang lalai dan menganggap enteng perintahnya.
"Baik pak, akan saya laksanakan".
"Sekarang kamu keluar dan boleh pergi dari mansion saya". Andra mengibaskan tangannya tanda tak lagi ingin melihat keberadaan Dimas.
"Saya pamit undur diri pak, ". Dimas berjalan keluar dari ruangan Andra dengan mengelus d**a, berhadapan dengan Andra sudah seperti spot jantung saja, dengan cepat Dimas keluar dari kediaman mewah milik bossnya ini. Hari ini untuk kesekian kalinya Dimas dengan terpaksa menghilangkan pekerjaan satu umat manusia lagi.
19.20
Andra berdiri di luar kediaman Ravindra, dengan membawa beberapa kantong keresek berisi banyak makanan kesukaan Dira, beberapa jam tidak bertemu Dira Andra sudah merasa rindu, dengan pelan Andra menekan bell rumah ini.
"Ckkk iya bentar, gak sabar amat sih". Ucap seorang pemuda yang datang tergopoh-gopoh dari dalam rumah. Baru saja dirinya ingin beristirahat sudah ada pengganggu saja, mana semua orang lagi sibuk.
"Andra, mau ngapain?".tanya Alka heran, untuk apa pemuda ini datang kerumahnya malam malam begini, ditambah Dira sedang tidak berada disini, tidak mungkin Andra datang untuk mengobrol dengannya kan.
"Dira". Ucap Andra singkat, sejujurnya dia agak merasa kesal melihat calon kakak iparnya ini, orang ini adalah orang yang sering membuat Dira nya, menangis dan mengadu padanya.
"Oh Dira, sebelumnya kasih itu dulu dong". Tunjuk Alka dengan dagu pada kresek yang ada ditangan Andra.
"Hmm" Andra memberikan satu kantong kresek itu pada Alka, daripada banyak masala h dan panjang urusannya.
"Thanks adik ipar". Alka tersenyum sumringah, yes makanan gratis, Alka sudah persis seperti orang miskin saja, padahal dirinya merupakan salah satu anak dari pengusaha besar. Tetapi memang benar yang gratisan itu sulit untuk ditolak.
"Dira lagi pergi ke LA sama bokap, mau nonton konser suaminya, dan baru balik 3 hari lagi, dan katanya dia udah pamit ko sama Lo, pikun ya Lo". Ledek Alka, mungkin Andra sudah lupa maklum saja dia sudah tua, pikir Alka.
Andra terdiam mendengar perkataan Alka, LA dan akan kembali tiga hari lagi, sudah izin katanya, hahahaha Andra merasa emosinya akan segera meledak, tidak tau lagi entah apa yang saat ini dia pikirkan sudah cukup, Andra tidak tahan lagi, dengan cepat dia memberikan barang bawaannya pada Alka, mengabaikan wajah bingung dari Alka, Andra langsung pergi menuju mobilnya.
"Lah kenapa tuh orang, sinting lama lama,tapi gak papa, dapat makanan gratis mana banyak , cukup nih sampai besok". Sorak Alka senang. Alka masuk kedalam rumahnya dengan riang, sesekali ia bahkan bernyanyi menunjukkan bahwa ia memang sedang dalam kondisi yang baik.
Disinilah Andra sekarang, berada didalam mobil mewahnya, dengan tangan yang tetap memegang ponsel mencoba menghubungi Dira, sudah beberapa kali tapi nomor Dira bahkan tidak aktip. Dengan kesal Andra membanting ponsel dengan logo Apple itu kejalan.
"Tunggu hukumanmu baby".