BTS hampir seluruh penduduk bumi mungkin mengenal nama itu, Boby band yang berasal dari negara Korea Selatan tersebut merupakan boy grup yang menjadi idola banyak orang saat ini. Terdiri dari tujuh member, dengan latar belakang keluarga yang berbeda membuat mereka seperti sudah dilahirkan untuk selalu bersama. Percayalah saat kamu mendalami lebih dalam tentang grup itu, kamu akan kesulitan atau bahkan tidak akan bisa keluar. BTS bukan hanya sebuah perkumpulan biasa, tapi BTS adalah kumpulan orang orang hebat yang berjuang untuk mimpi mereka, BTS tidak hanya menyediakan lagi lagu yang keren dengan makna yang juga begitu keren, tapi BTS mengajar kan untuk jauh lebih dari itu.
Dari lirik liriknya mereka mendorong banyak orang untuk bangkit, mereka seperti menarik orang yang yang terjatuh untuk bangkit kembali, dan mengajarkan untuk jauh lebih menghargai diri sendiri.
Dira sekarang berada disini, dilautan manusia yang berkumpul untuk menyaksikan performance dari Idol kesayangannya, bersama dengan Arjun Dira berada di kursi paling depan, tentu saja ia ingin melihat idolanya lebih dekat lagi.
"Yaampun Jun cowok gue keran banget". Heboh Dira saat melihat Kim Namjoon diatas panggung, sementara Arjun hanya menatap Dira bosan, bukan apa apa pasalnya Dira sudah mengatakan hal itu berulang kali.
"Anjir, yampun astaga aurat woi aurat". Heboh Dira.
Arjun hanya diam dan menikmati konser dengan tenang, dia menjadi sangat merasa tidak ada apa apanya, bayangkan saja yang menurutnya dia sudah terkenal selama ini, nyatanya tidak ada apa apanya di bandingkan dengan tujuh orang diatas panggung tersebut.
Setelah melewati banyak drama , akhirnya Arjun dan juga Dira keluar juga dari acara konser, bukan keluar sih tapi konsernya saka yang sudah berakhir.
"Lo senang banget, awas nanti nyamuk masuk". Sindir Arjun yang melihat Dira tidak berhenti tersenyum.
"Ya gimana ya, gue gak mau cuci tangan selama satu Minggu ah, sayang wanginya tuh kagak ada tandingannya". Ujar Dira mencium tangannya.
"Lebay". Balas Arjun , jika kalian penasaran apa yang terjadi, akan Arjun beritahu. Tadi Dira sedang heboh dengan konser, dan sepertinya dunia sedang berpihak pada Dira, bagaimana tidak seorang Anindira Ravindra bersentuhan dengan bapak leader yang menjadi Bias nya, atau lebih tepatnya hanya bersentuhan dalam jangka waktu singkat, tapi Dira hebohnya sampai saat ini.
"Iri , bilang dong" ledek Dira menjulurkan tangannya pada hidung Arjun.
Tak lagi menanggapi Dira, Arjun memilih untuk tetap melakukan mobilnya menuju hotel tempat dia menginap, sejujurnya di negara ini Arjun memiliki sebuah mansion akan tetapi tidak ingin memberi tahukan pada Dira, nanti yakin saja Dira akan mengatakan dirinya sedang berhalusinasi.
"Sama turun, ingat besok kita jalan jalan sebelum besoknya balik". Arjun mendorong Dira dengan pelan, yang dijawab delikan sinis oleh cewek itu
"Thanks". Dira bejalan dengan melompat lompat menuju unit yang dia tempati, Arjun yang melihat itu hanya bisa menutup mukanya malu, beberapa orang sedang menatap Arjun dengan pandangan heran.
"Dira bangke".umpat Arjun berlalu menuju kamarnya mengabaikan tatapan orang orang.
Kamar Dira.
Dira merebahkan dirinya dikasur empuk yang tersedia, saking lelahnya Dira sampai tidak mandi dulu, badannya memang lelah tapi hatinya sedang senang, ah jika Andra ada disini pasti akan jauh lebih menyenangkan, mengingat tentang pria itu Dira yakin saat nanti dia kembali Andra pasti akan menghukumnya kembali.
Tapi tidak apa apa yang penting sekarang adalah dia harus menikmati hidupnya dulu.
Ingin menelpon rasanya Dira takut jadinya Dira memilih untuk mematikan ponselnya saja.
Sementara itu di negara tercinta, Andra sedang mengamuk karena tidak dapat menghubungi Dira , bahkan Ravindra pun ikut tidak bisa dihubungi, membuat Amara Andra kian tersulut. Sudah banyak barang barang yang hancur karena emosi Andra, ruangan yang biasa disebut kamar itupun kini sudah tak lagi berbentuk.
"Dira, anjing, awas nanti".
Tak lagi ada yang bisa dibanting Andra memilih untuk keluar, membunuh mungkin bisa membuat hatinya lebih tenang walau hanya sebentar. Menjelajahi kota dengan mobilnya didepan sana , Andra melihat seorang lelaki yang seperti nya sedang mabuk, tak lama lama lagi Andra turun dan menawarkan sebuah tumpangan pada pria itu.
"Mas mau pulang ya?, biar saya antar''. Andra mengajak dengan nada dan raut yang benar benar seperti orang baik sungguhan, sangat pandai dalam memanipulasi mimik wajahnya.
Pemuda yang seperti nya setengah sadar itu, meneliti penampilan Andra dengan seksama, setelah nya dia langsung masuk kedalam mobil mewah milik pemuda yang tidak dia kenal itu.
Setelah targetnya masuk kedalam mobil raut wajah Andra yang tadinya ramah kini berubah menjadi dingin kembali, namun sedetik kemudian dia merubah nya lagi menjadi ramah, dengan cepat Andra ikut menyusul masuk kedalam mobilnya, membawanya kesebuah gudang yang sudah lama tidak dipakai, setibanya di lokasi Andra meminta pemuda itu untuk turun yang bodohnya langsung dituruti.
Setelah merasa aman, tanpa aba aba Andra langsung menembak pemuda itu tepat diarah jantung, membuatnya tidak sempat bisa berbuat apapun.
Melihat targetnya sudah tidak berdaya, Andra langsung saja mulai aksinya uang menyenangkan, mula mula Andra memotong kepala nya agar terlepas dari badan, kemudian beralih pada tangan dan juga jari jarinya, setelah itu kedua kaki, saat ini tubuh itu tak lagi menyatu dengan beberapa anggota badannya, dirasa tak cukup sampai disitu Andra kini membela badan pemuda itu menjadi kan bagian dalamnya terlihat, tanpa rasa jijik Andra menarik usus itu hingga keluar, dan jantung juga hatinya tidak lepas dari perhatian Andra, di hancurkan nya semua itu tanpa sisa, ah rasanya Andra mulai bisa lupa dengan Dira walau hanya sesaat.
Puas dengan semua itu Andra kini akan menghilangkan bukti dengan cara membakar tempat tersebut. Kemudian pergi meninggalkan manusia yang penuh dengan dosa itu, menurut Andra orang itu adalah orang yang tidak suka dengan kehidupan yang saat ini sedang dialaminya, hingga membuat dirinya merusak ciptaan tuhan dengan begitu mudahnya.
Andra hanya sedang membantu malaikat menghukum manusia manusia yang penuh dengan kesalahan itu, harusnya tuhan bangga kan salah satu umatnya membantu tugas mulia tersebut.
Ting..
Perhatian Andra beralih pada ponselnya, disana terdapat foto sang tunangan sedang menonton konser dan yang membuat Andra mengeraskan rahangnya adalah Dira tidak sendirian, melainkan bersama pemuda yang sudah tidak asing lagi dimata Andra, pemuda yang menjadi saingan bisnisnya dan juga merupakan musuh bebuyutannya sejak sekolah,
Bruk...
Lagi-lagi Andra membuang ponsel yang baru tadi pagi dia beli, Dira memang sedang menguji dirinya saat ini, tunggu saja saat nanti Dira kembali mungkin Andra akan menunjukkan sisi lain darinya yang bahkan Dira tidak pernah bayangkan.
Kembali lagi ke Dira, saat ini dia sedang menikmati udara pagi di negara orang tersebut, Dira berjalan jalan di sekitaran hotel seorang diri, awalnya dia ingin mengajak Arjun, sebab hanya pemuda itu yang dia kenal di negri ini, akan tetapi pemuda itu menyuruhnya menunggu sebentar, tak suka menunggu Dira pun akhirnya memilih untuk pergi seorang diri, sekalian mencoba dan menguji dirinya sendiri, apakah dia sudah bisa hidup tanpa bergantung pada orang lain.
Awalnya semua baik baik saja, sampai Dira tidak sadar jika saat ini di sedang berada di lokasi yang bahkan dia tidak tau, rasa panik mulai menyerang Dira,ingin meminta tolong tapi tidak tau harus pada siapa, ponselnya pun tertinggal dihotel, kali ini Dira hanya berharap Tuhan masih berbaik hati padanya, tak ingin larut dalam rasa panik, Dira memilih menikmati rasa tersesatnya, berjalan jalan dilokasi yang tidak pernah ia kunjungi dan juga berada diantara ratusan orang yang tidak dikenal nya, tidak buruk juga ternyata, kadang kala kita perlu kesatu tempat, tempat dimana kita tidak mengenal siapa pun, tempat asing yang menjadikan kita belajar mandiri, menikmati hidup sendiri an, dan tidak takut akan apapun.
Dira tidak tau jika kehidupan yang begitu rumit ini juga terkadang perlu dinikmati, saat ini Dira sedang duduk di bahu jalan, melihat orang orang yang berlalu lalang, tidak mengindahkan pandangan orang orang padanya, jujur saja saat ini Dira sudah mulai ketakutan rasa percaya diri dan juga keberaniannya hilang entah kemana, Dira sekarang bingung harus bagaimana, saat ini dirinya menyesal sebab pergi dengan begitu bodohnya tanpa menunggu Arjun saja.
Dira menenggelamkan kepalanya diantara lipatan tangan, menangis' dalam diam, mulai saat ini Dira berjanji tidak akan lagi pergi sendiri an walaupun rasanya lumayan menyenangkan.
Sedangkan ditempat lain, Arjun sedang kelimpungan mencari keberadaan Dira, seketika rasa khawatir memenuhi nya, otaknya sudah berpikir yang tidak tidak takut Dira kenapa napa, Dira itu memiliki sifat polos atau lebih menjerumus kearah bodoh sebenarnya, sudah banyak lokasi yang Arjun datangi, beharap Dira ada disalah satu tempat yang ia kunjungi, sebenarnya bisa saja Arjun meminta tolong pada anak buahnya yang berada di negara ini, akan tetapi kembali lagi Arjun tidak ingin Dira tau siapa dirinya yang sebenarnya, Arjun hanya ingin Dira mengenalnya sebagai manusia biasa yang juga penyuka KPop, satu rahasia, sebenarnya Arjun tidaklah menyukai BTS atau apapun itu tapi dia juga tidak benci, dia cukup kagum sebenarnya tidak sampai pada tahap seperti Dira yang menjadikan nya sebagai panutan, Arjun hanya pura pura agar bisa dekat dan mengobrol dengan Dira, tapi sudahlah itu tidak penting, yang saat ini terpenting adalah keberadaan Dira, Ravindra sudah memberikan dirinya tanggungjawab dan harus nya dia bisa melaksanakannya.
"Dimana sih Lo Dir?"tanya Arjun entah pada siapa, saat akan menyerah Arjun melihat sosok yang dia kenal sedang duduk di bahu jalan dengan kepala yang ditenggelamkan diantar lipatan tangan, dengan segera Arjun berlari menuju sosok itu dan membawanya kedalam pelukan hangatnya.
"Akhirnya, Lo gak papa, tenang ya ada gue". Ungkap Arjun yang tau salah ini Dira sedang ketakutan.
"Gue takut".