Setelah insiden hilangnya Dira, Ravindra memutuskan untuk kembali ketanah air hari ini, lagipula pekerjaan nya disini sudah selesai, dan ia pun merindukan istri tercinta nya.
"Semua udah siap Ra, gak ada yang ketinggalan lagi kan?". Ravindra bertanya dengan tangan yang juga sibuk mencek barang barang bawaannya. Takut ada yang tertinggal.
"Aman Dad, ayo pulang". Dira merangkul tangan ayahnya yang tidak membawa barang apapun.
Akhirnya liburan singkat impian Dira tercapai juga, meski harus ada drama dulu sebelum nya, jika boleh jujur saat itu Dira sudah amat ketakutan dan otaknya blank tidak tau mau berbuat apa, beruntung ada Arjun yang datang, jika tidak ,ah Dira bahkan tidak sanggup untuk membayangkan nya.
Tentang Arjun, pemuda itu tidak ikut kembali ketanah air, ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan katanya, Dira bahkan baru tau jika Arjun mempunyai pekerjaan, menurut Dira pemuda itu terlalu brandal dan seperti hanya tau cara menghabiskan uang, benar memang jangan pernah menilai buku dari cover nya, dan sekarang Dira percaya itu.
Perjalanan yang melelahkan telah Dira lalui, tepat sore hari Dira dan Ravindra mendarat di bandar udara internasional Soekarno-Hatta, disana sudah sang kakak dan juga ibunya yang menunggu kedatangan mereka, berlari kecil Dira langsung berhambur kepelukan sang ibu, meninggalkan Ravindra yang hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan anaknya yang tidak tau tempat.
"Pulang juga Lo". Ucap Alka dari samping, menatap malas kearah Dira, kenapa adiknya ini terlihat seperti tidak bertemu satu tahun saja, padahkan tidak ada satu Minggu berpisah, dasar Dira memang terkadang sangat lebay menurutnya, meskipun sejujurnya Alka pun merindukan adiknya ini, hahaha jadi siapa sekarang yang lebay bapak Alka.
"Sirik aja, pembantu jauh jauh sana". Usir Dira menggunakan tangannya, melihat itu Alka mendengus kesal,
"Dira gak boleh gitu sama abang nya". Nasehat sang mama, ia tau putrinya memang hanya bercanda, tapi segala sesuatu itu harus ada tempatnya.
"Bang Alka tuh ma". Rengek Dira, apalagi saat melihat sang Abang yang menatapnya songong, kenapa sih dia harus punya Abang modelan Alka ini kenapa bukan Arjun saja.
"Sudah sudah ayo kita pulang saja". Ujar Ravindra tenang, cukup kesal sebenarnya, sedari tadi sepertinya tidak ada yang memperhatikan dirinya, padahal kan dia juga baru kembali, kesal banget gak sih mana dia harus membawa barang bawaan Dira pula, kenapa tidak ada yang niat membantu coba, dan lagi ini Alka kenapa jadi pura pura tidak tau, dasar anak laknat.
"Yok ma, Dira biar sama papa aja". Ajak Alka menggandeng sang ibu , berjalan lebih dulu meninggalkan Ravindra dan juga Dira yang menatap hal itu dengan cengo, ini benaran mereka ditinggal.
"Dad, buang bang Alka kayaknya gak dosa kok". Ujar Dira saat tersadar dengan rasa tidak percaya nya.
"Iya kah?,nanti kita buang sama sama ya". Balas Ravindra mengajak Dira untuk menyusul dua manusia itu.
Barang barang bawaannya sudah Ravindra serahkan pada bodyguard yang baru saja tiba, dari kamar mandi katanya, ingin rasanya Ravindra memecat bawaannya itu, tapi kan sayang, cuman dia doang yang mau digaji kecil.
Alka dan ibunya berjalan tidak jauh dari Dira dan Ravindra, keluarga itu seperti nya sangat bahagia, membuat orang orang yang berlalu lalang menatap ke arah mereka dengan tersenyum manis, keluarga idaman, ditambah dengan Dira dan Alka yang terus saling ejek, kemudian Dira akan mengadu pada Ravindra, dan seterusnya Alka mendapat teguran dari sang ayah, membaut mereka terlihat begitu menggemaskan.
"Dir, oleh oleh gue mana?". Tanya Alka saat mereka sudah tiba dirumah, sekarang Alka sedang berada di kamar Dira, membantu cewek itu untuk mengeluarkan barang barang bawaannya.
Setelah diteliti ternyata barang yang Dira beli tidak lain dan tidak bukan semua hal yang masih berhubungan dengan BTS, Alka rasa adiknya ini sudah amat kecanduan dengan boy band Korea tersebut.
"Nih". Dira memberikan barang yang dia beli khusus untuk Alka, barang berupa sebuah baju khas LA, tersebut. Dia mencari itu susah tau harus mengorbankan rasa kantuknya.
"Lo yakin? , cuman ini". Alka menatap tidak percaya pada kaos yang ada ditangannya,Dira jauh jauh keluar negri dan hanya membelikan ini untuknya, sangat sulit untuk dipercaya.
"Yakin, lah, kenapa emang, bagus kok, apalagi ada tulisan I LOVE LA, nya, disini gak ada tuh yang kayak gitu". Ujar Dira dengan muka polos, mengabaikan muka Alka yang sudah masam,padahal kan bagus itu, Alka ini emang tidak tau terimakasih banget kan.
"Iya banget, Ra, kalo Abang lagi diluar jangan titip apa pun lagi ya". Sinis Alka, dai gak terima dong, bayangkan saat Alka ada diluar negri baik itu karena pekerjaan pasti dia akan membelikan oleh oleh berupa barang mewah untuk Dira, mana pernah dia membelikan kaos sepeti ini, rasanya tuh hatinya sakit cuy, gak terima dan kesal secara bersamaan.
"Lah kok gitu, nanti aku ngadu sama Dady kalo gitu". Sahut Dira ikut kesal.
"Dady, sok span ingris Lo, papa aja kali". Ucap Alka mengoreksi panggilan Dira, baru pergi beberapa hari saja Dira sudah merubah panggilanya, lebay amat kan, Alka juga bilang apa Dira ini lebay.
"Serah aing dong". Balas Dira menatap Alka sinis.
Alka tak lagi bersuara, mereka hening, ruangan itu hanya disisi dengan suara Dira yang membuka barang barang yang dibelinya untuk dirinya sendiri pastinya.
"Eh Lo gak pamit ya, sama si Andra?". Tanya Alka saat mengingat beberapa hari yang lalu Andra datang dengan muka tanpa dosa.
"Hehehehe, gak takut gak dibolehin". Cengir Dira, rencananya memang nanti malam Dira akan datang kerumah Andra, meminta maaf dan mulai memberikan Andra kesempatan menjelaskan kejadian beberapa waktu yang lalu, meski sebenarnya Dira sudah tak ingat lagi mengenai kejadian itu.
"Yaudah, ingat hubungan kalian ini bukan main main lagi, jangan terlalu mau menang sendiri, lagian Lo sih masih kecil sok soan mau tunangan, gini kan jadinya". Ungkap Alka mengatakan pendapatnya.
"Siap kapten". Dira menghormat pada Alka, persis seperti saat upacara bendera.
"Okay, gue pamit ya, ngantuk gue". Alka berdiri keluar dari kamar Dira, sebelumnya dia sempat mencium pucuk kepala adiknya dengan sayang.
Kantor pusat Matteo.
Kantor sudah sepi, para karyawan dan pekerja sudah kembali kerumahnya masing masing, waktu memang sudah menunjukkan waktunya selesai bekerja, berbeda dengan pemilik perusahaan ini, dua masih asik dengan berkas yang berada dimeja nya.
Setelah Dira pergi untuk beberapa waktu, Andra memang menjadi maniak akan pekerjaan nya, selama ini dia bekerja hanya beberapa waktu sebab Dira pasti akan merengek ingin bertemu, berbeda dengan sekarang.
"Ckkk, kamu kapan balik?". Andra menatap potret seorang gadis mungil yang berada di meja kerjanya, dia rindu tapi juga marah, bagaimana bisa Dira pergi tanpa pamit padanya, Andra masih bekum bisa memaafkan hal itu.
"Kamu akan tau aku yang sebenarnya setelah ini baby". Sambung Andra, masih menatap potret tersebut.
Andra membuang kesal berkas yang ada ditangannya, lebih baik sekarang dia pergi mencari kesenangan sendiri.
Setelah menempuh waktu yang tidak lama, dia tiba di lokasi tempat dirinya mencari kesenangan pribadi selain bersama Dira.
Disana ada seorang pria paruh baya yang terikat diatas kursi, pria itu adalah orang yang dia ketahui korupsi di perusahaan nya, tidak besar memang tapi yang namanya penghianat akan selamanya jadi penghianat, dan Andra tidak akan pernah memaafkan orang orang yang berkhianat pada dirinya.
"Halo Mr. Kenan". Sapa Andra dengan senyum devil, pria yang dia sapa tidak menjawab hanya menatap Andra dengan pandangan memohon.
"Siap menerima hukuman mu, ah rasanya sangat disayang kan kau harus kehilangan nyawamu hari ini, padahal selama ini cara kerja mu cukup memuaskan, tapi sayang kau memilih jalan yang salah". Lanjut Andra mengelilingi orang bernama Kenan itu.
"Maafkan saya tuan, tolong maafkan saya, saya janji kejadian ini tidak akan terulang lagi, ampuni saya tuan, di rumah ada anak dan istri yang harus saya beri makan". Mohon Kenan berharap tuannya memberi ampun untuk kali ini saja. Kenan akui dia memang sangat salah, tapi waktu itu dia sedang terdesak dan tidak tau harus berbuat apa lagi.
"Jika kamu berpikir itu sebelum bertindak, mungkin hari ini kamu tidak akan ada disini pak tua". Balas Andra remeh, kenapa orang orang selalu meminta maaf setelah melakukan kesalahan, jika seandainya maaf bisa mengembalikan hal yang sudah dilakukan atau hilang saat itu juga bukan kah dunia menjadi sangat muda, tapi sayang tidak semudah itu, contohnya saat kita tidak sengaja membuat seseorang terluka, dan kita minta maaf jika seandainya luka itu langsung hilang ok lah, tapi kan nyatanya tidak.
"Ampun tuan, tolong ampuni saya, saya khilaf dan saya janji akan mengembalikan uang anda, tolong lepaskan saya".mohon Kenan tak mengindahkan peringatan Andra, dia tidak mau mati sia sia. Masih ada anaknya yang harus dia perjuangan kan.
Arek...
"Terlalu banyak bicara". Tanpa aba aba Andra langsung menebas kepala pria itu, membaut darah mengalir dengan begitu derasnya, bukannya merasa bersalah Andra malah tersenyum dengan manis, seakan akan apa yang baru saja dia lakukan bukan lah apa apa.
Tubuh yang tak lagi menyatu dengan kepala itu masih terikat dengan kursi, membuat siapa pun yang melihatnya akan bergedik ngeri.
"Maaf, mengganggu tuan".
Salah satu bodyguard datang menghentikan gerakan tangan Andra, membuat pemuda itu menatap tajam sang pelaku, sementara yang ditatap sudah bergedik dengan ngeri, tapi dia yakin tidak akan terjadi apa apa. Bahkan para bodyguard yang lain juga sudah mengutuk teman mereka ini, tidak ada yang boleh menghentikan kesenangan tuan mereka jika tak ingin bernasib sama.
"Jika tidak penting, kepala mu jadi taruhannya". Ucap Andra dengan dingin.
"Nona Dira ada diluar, dan mencari tuan". Ungkapnya cepat saking gugupnya.