Kamu Kemana?

893 Kata
*** Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan penamaan tokoh, tempat dan atau lainnya itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Palgiator dilarang nyolong! Terimakasih buat para pembaca, tolong kasih bintang 5, like dan komen. *** Hari ini kekasih hati demam, sebenarnya pengennya di rumah aja, jaga anak istri, tapi lagi banyak appointment penting ya tidak bisa didelegasikan. "Be, kalau nanti siang masih demam, telpon aku ya?" "Ga mau!" "Kok ga mau sih sayang?" "Aku demamkan gara-gara kamu..." "Dimana salahnya aku?" "Semalam kamu nolak aku! Jadi ga tertuntaskan hasrat, jadi demam deh." Bening merajuk, semalam memang dia aku kunci di kamar, habisnya kalau ngga, bisa bahaya. "Kamu tuh demam karena kebanyakan makan buah, ga makan nasi!" "Huuu ga mau salah lagi kamu!" Bening merajuk, bibirnya dimanyunin. "Emmhhh..." Bening aku cium, tapi aku malah didorong sama dia. "Sana! Udah telat, udah ga pengen lagi ciuman kamu!" "Serius ga mau dicium? Aku tinggal kerja sampai sore loh Be. Nanti kangen lagi..." "Ish! Ga akan kangen!" Aku lihat jam tangan ku, sudah sedikit terlambat, tapi hati masih ingin bersamanya. "Emmh..." Aku cium perut Bening yang sudah sedikit buncit. "Daddy kerja dulu ya, baik-baik sama mommy ya... Aku udah masak Be, nanti makan ya... Inget kalau siang belum turun demamnya nanti aku antar ke dokter." "Iya." Entah kenapa hati ini rasanya gelisah, seperti ada sesuatu yang salah atau akan ada kejadian buruk menimpa. Tuhan, aku serahkah kekhawatiran ku ini pada-Mu, amin. Hufft ambil nafas yang panjang, aku percaya setiap doa yang terucap tidak akan terlewat dari Sang Maha Mendengar, semua pasti akan baik-baik saja. Ternyata Bening sangat berbakat dengan pemograman, aplikasi management hotel buatannya, sangat efisien dan mencakup semua kebutuhan hotel. Kalau ingat pertama kali ketemu, aku suka ketawa sendiri, kok bisa ada perempuan yang selera humornya seperti aku, garing, tapi itu yang membuat dia menarik, bukan pakaian kurang bahan yang dia pakai yang membuat dia menarik tetapi kepercayaan dirinya yang membuat dia bersinar, hanya dia satu-satunya wanita yang langsung membuat jantungku berdebar. Bukannya aku belum pernah pacaran, pernah satu kali, saat sekolah, tapi cinta monyet, hanya karena penasaran. Seharusnya logikaku tahu kalau saat itu ada obat di minuman yang Cindy tawarkan, tapi tetap aku minum, aku hanya ga ingin dia kecewa, what a fool. Tapi aku tidak menyesalinya, semua yang terjadi harus dipertanggungjawabkan, sekalipun salah harus diakui dan diperbaiki. "Bro, Bambang bikin pesta lajang, ikutan ya?" Begitu ajakan Raphael saat itu. "Pesta dimana?" "Bianca's." "Ga bisalah kalau ke club." "Malam Jumat kok bro, Jumat lo kan ga ada pelayanankan?" "Iya memang, tapi gue takut ga bisa mengendalikan diri." "Sebentar ajalah, ga enak sama Bambang." "Jam berapa sih?" "10 malam, dimulai." "Ya, gue setengah jam aja ya disana!" Ternyata di setengah jam itu, aku ketemu Cindy a.k.a Bening. Aku pikir dia sering ke club itu, karena setelah dia menghilang tanpa pesan, aku cari dia tiap malam ke club, tapi nihil hasilnya. "Ael, temenin gue ke club!" "Hah? Elo ngajak ke club?" "Udah temenin aja, nih," Aku kasih sketsa wajahnya Cindy. "Cari perempuan ini!" "Emang kenapa nih cewek?" Lalu aku ceritakan semua yang terjadi pada Raphael, adik yang paling menyebalkan. "Apa? Jadi lo udah merasakan nikmat dunia?" "Ya, karena itu gue harus bertanggungjawab sama dia, kalau dia sampai hamil gimana?" "Sebentar gue tanya yang lain." "Ngapain nanya-nanya, udah ayok cari!" "Bro, kemarin sebenarnya kita emang udah nyewa beberapa perempuan buat godain elo..." "Apa jadi elo semua yang merencanakan? Astaga Ael... Lo udah gila ya!" "Maaf bro... Bentar gue tanya Bambang." Sebenarnya kecewa juga saat itu ternyata Cindy gadis sewaan Raphael, tapi aku tetap mencari dia. "Bro, kata Bambang, cewek-cewek yang dia sewa ga ada yang berhasil goda lo, trus Cindy itu murni orang luar yang menjebak lo." "Tapi... kalau dia jebak, tujuannya apa? Dia masih perawan, dia ga memeras gue dengan foto atau video, dia bisa hamil karena kita main tanpa pengaman berkali-kali, duh pusing gue!" Selama berminggu-minggu aku ke club tiap hari menunggu Cindy, dari awal club dibuka sampai ditutup, ga ketemu juga, sempat stress. "Ael, itu Iyo kenapa ga pergi pelayanan lagi?" Tanya mamaku. Si Babi kecil ini langsung menceritakan semua kejadian. Mama cerita ke Papa, Papa mau menolong mencari Cindy dengan syarat, aku harus mengurus bisnis pariwisata di Bali. Aku setuju. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Cindy ternyata tepat dibawah hidungku. Saat akan ke Bali, aku pelajari semua hal tentang hotel, termasuk pegawainya, dan seperti tanah gersang menanti datangnya hujan, wajah Cindy aku temukan disalah satu management hotel. "Haleluyah!" Oh God, aku sudah merindukannya sekarang. Dia sudah turun belum demamnya. Aku telepon tapi tidak aktif, aku chat tidak aktif juga. Aku pulang aja deh sebentar. "Be... aku pulang..." Betapa terkejutnya aku melihat pintu rumah yang dicongkel paksa dan rumah yang berantakan seperti habis terkena gempa bumi. "Be... kamu dimana sayang?" Aku tidak menemukan Bening, ada sedikit tetesan darah di dapur... Ya Tuhan, ada apa ini? "Jun, halo Jun, Bening ke kantor? Ngga? Oke..." Aku memeriksa barang-barang rumah, tidak ada barang berharga yang dicuri, kecuali laptop Bening tidak ada, aku periksa lemari, ransel siaga bencana milik Bening juga tidak ada, Oh God, apa yang terjadi? Aku mencari Bening ke rumah sakit terdekat, nihil, ke rumah temannya, nihil. Aku tunggu sampai malam, dia tidak ada kabar. "Be kamu kemana?" *** Kalau suka sama cerita ini tolong dishare ya cerita ini, di sosial media kamu, biar banyak yang baca... makasih ya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN