***
Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan penamaan tokoh, tempat dan atau lainnya itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan.
Palgiator dilarang nyolong!
Terimakasih buat para pembaca, tolong kasih bintang 5, like dan komen.
***
"Be, Ibu pulang nanti malam?"
"Iya."
"Kok cepat?"
"Mau urus pernikahan katanya biar cepat beres."
"Oh..." Sofio tersenyum manis sekali.
"Kamu kenapa senyum-senyum?"
"Akhirnya aku bisa bobo sama kamu lagi, aku udah kangen banget sama kamu, pengen kelonan..."
"Ihh... m***m. Awas loh nanti kamu ga tahan."
"Aku tahan kok, sampai kita nikah."
"Kalau aku yang ga tahan gimana? Aku lagi pengen loh, si kembar lagi minta ditengok daddynya."
"Yah... jangan, aku mana bisa tahan kalau kamu goda."
"Makanya ga usah kelonan. Kamu ga usah tidur di rumahku."
"Ngga, aku tetap nemenin kamu, bahaya kalau kamu sendiri. Aku ga kan peluk-peluk deh. Janji. Serius."
Seperti biasa mereka pulang kerja bersama-sama. Sofio dengan percaya diri menggandeng tangan istrinya, sementara Bening masih malu-malu mau.
"Be kenapa turun disini? Mobilku di basemen."
"Aku mau metik talok dulu. Mau ikut ga?"
"Kamu ngidamnya aneh-aneh aja."
"Ya salahin nih anaknya, masa mintanya buah talok."
Diujung jalan dekat hotel, ada banyak pohon talok atau kersen atau cheri, buahnya bulat dan manis rasanya, sejenis beri-berian.
"Be, tinggi banget pohonnya, ambil buahnya pakai apa?"
"Ga pakai apa-apa, diginiin aja."
Bening menggoyang-goyangkan pohon talok, dan buah yang matang jatuh ke bawah, dia mengeluarkan plastik kresek, lalu dipungut buah yang jatuh.
"Ya ampun, kemarin mangga jatuh sekarang talok jatuh."
Sofio mengambil telepon selulernya lalu menelepon seseorang, sepertinya serius banget, mukanya agak-agak kecut ganteng.
Sofio bantuin gue goyang-goyangin pohon, jadi makin banyak buah yang jatuh. Seneng banget gue bisa dapat sekantong penuh.
"Ayo pulang..."
"Ayo..." Sofio gandeng tangan gue, uhh dia tuh so sweet banget sih.
Selama diperjalanan kita ngobrol banyak hal ringan.
"Kamu kerja udah berapa lama Be?"
"Udah 9 tahun."
"Di Hotel?"
"Iya, pertama di Heaven Hotel Jakarta,
terus begitu lulus kuliah dipromosikan jadi manager di Heaven Bali."
"Sudah selama itu, tapi kita baru bertemu ya? Be, kenapa kamu kasih aku afrodisiak dulu? Kamu ga takut dengan orang asing? Gimana kalau itu bukan aku, kalau itu orang yang punya penyakit menular atau orang jahat? Hemm?"
"Sebelum ke Bianca's Club, aku udah riset dulu dong, di Bianca's aman, semua orang yang datang pasti member club, pasti orang-orang yang punya latar belakang keluarga dong ya, kalau macam-macam sama aku, tinggal aku balas aja keluarganya. Terus kalau orang penyakitan kan kelihatan ya dari penampilannya. Aku itu udah 3 kali ke club, baru yang terakhir ngelihat kamu yang digodain cewi-cewi tapi ga tertarik."
"Nah kamu salah, aku bukan member club, aku hanya diundang temen-temen ku."
"Wow... beruntung dong aku... Sofio, kamu ga punya penyakit menularkan?" Tiba-tiba jadi deg-degan juga gue.
"Hemm menurut mu?"
"Ye meneketehe! Makanya aku nanya, kalau semisal ada HIV, karena udah terlanjur hamil, kita masih bisa menyelamatkan anak-anak kita supaya ga kena HIV."
"Aku ga HiV, tapi aku penasaran, emang bisa kalau orang tuanya HIV, anaknya ngga ketular?"
"Bisa dong, jaman sekarang udah canggih, ada terapinya. Tapi syukur deh kamu ga kena penyakit kelamin menular."
"Kan kamu yang merjakain aku, kamu juga perawan saat itu, tapi kamu belum jawab tujuan kamu apa? Buat aku merangsang gitu?"
"Punya anak."
"Hah?" Sofio bingung.
"Aku pengen punya anak, tapi ga mau nikah, aku ga mau komitmen."
Sofio tersenyum.
"Tapi sekarang udah mau dong komitmen sama aku?"
"Iya terpaksa, ketemu kamu ga ada yang jalan rencanaku."
"Emang gimana rencana kamu?"
"Kalau aku hamil, aku akan pindah ke Bogor, tinggal di villa, sampai melahirkan baru pulang ketemu Ibu."
"Hais... benar-benar nakal mommy kalian nak. Untung daddy berhasil menemukan mommy kalian."
Semakin lama gue semakin nyaman sama Sofio, dia terbaik banget deh, walau sering banget seriusnya, apalagi kalau udah kerja. Demi menemani gue di rumah, dia bawa kerjaannya ke rumah, gue suka candid kalau dia lagi serius. Tapi sekarang gue mau goda dia, gue udah terlalu h***y, harus dilampiaskan, si kembar kangen daddynya. Karena selama tinggal bareng belum pernah dia nyentuh gue lagi, paling cuma cumbuan kentang.
Habis mandi gue dandan cantik ya, pakai gaun seksi, gue putar musik cukup keras.
"Sayang, volumenya kecilkan!"
Gue keluar kamar bawa properti, pecut kecil, sama topi bulu.
"Be... kamu ngapain?"
"Striptease lady role play handsome..." Gue ngomong penuh desahan menggoda. Gue bergoyang ikuti irama lagu Sway.
"Be! Cukup! Jangan menggodaku, aku banyak kerjaan." Sofio mengelak, dia tetap menatap laptopnya daripada gue yang udah kayak p*****r gini. Tapi gue ga boleh menyerah, gue lepas topi bulu, menggerai rambut, uhh lebih sensual, gue dekati Sofio, melepas kacamatanya.
"Be..." Saat dia protes gue lumat bibirnya.
"Kamu tidak akan berhasil menggodaku sayang." Katanya, uhh mari kita buktikan Tuan Santibanez, Marimar akan membuatmu menjerit ahh ahh ahh uh uh uh.
Gue lepas gaun biru dongker seksi gue... memperlihatkan lingerie merah yang menantang. Sambil tetap bergoyang seksi.
"Arghh! Be! You ask for it!"
Yes! the mouse eat the cheese. Sofio bangkit berdiri, menggendong gue ke kamar.
Sofio menidurkan gue di ranjang king size kami. Lalu pergi dan mengunci gue di kamar.
"Damn you! Perjaka suci!"
***
Kalau suka sama cerita ini tolong dishare ya cerita ini, di sosial media kamu, biar banyak yang baca... makasih ya.