Ibu

1177 Kata
*** Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan penamaan tokoh, tempat dan atau lainnya itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Palgiator dilarang nyolong! Terimakasih buat para pembaca, tolong kasih bintang 5, like dan komen. *** -Ting tong ting tong- Bel rumah berbunyi. "Ya, sebentar." Siapa sih yang namu pagi-pagi gini? Gue taruh dulu deh tuh piring sarapan. Gue buka pintunya. "Ibu!?" Mampus gue, ibu dateng, gimana nih? Sofio masih mandi lagi. "Ibunya datang bukan disuruh masuk, malah didepan pintu aja!" Ibu gue langsung nyelonong aja. "Siapa Be yang datang?" Sofio keluar kamar hanya dengan handuk kecil yang menutupi bagian bawahnya. "Ibu?" Sofio terkejut melihat ibu gue, ibu gue lebih terkejut lagi, anak gadisnya nyimpen laki ganteng di rumah kosnya. "Saya ganti baju dulu Bu." Sofio lari masuk kamar secepat kilat, meninggalkan gue dengan amarah murka Sang Ratu. -Bugh- -Bugh- -Bugh- "Ampun Bu, Bening bisa jelasin semuanya... Aduh sakit ibu..." Ibu gue mukulin gue pakai tas tangannya. "Anak kurang ajar, berani-beraninya kumpul kebo! Mentang-mentang tinggal jauh dari orang tua!" -Bugh- -Bugh- "Berhenti Bu, jangan pukul Bening lagi." Sofio datang lalu memeluk gue, supaya ibu ga mukulin gue lagi. "Bening lagi hamil Bu, kasihan bayinya." Geming. -Bugh- -Bugh "Beraninya ya kamu menghamili anak orang! Hah! Kenapa tidak segera kamu nikahi? Kamu mau pergi dari tanggung jawab?" -Bugh- -Bugh- Sofio dipukuli ibu tanpa perlawanan, dia terima semua amarah ibu, padahal dia ga salah, gue yang udah jebak dia. "Ampun Bu jangan... ini semua salah Bening." -Bruk- Ibu gue jatuh, pingsan. "Ibu... ibu..." Sofio membopong ibu ke kamar tamu. "Be, buatkan ibu teh manis hangat. Aku ambil minyak angin." Setelah ibu sadar, ibu hanya menangis dan mogok bicara, gue jadi sedih banget udah mengecewakan ibu seperti ini. Sofio masuk ke kamar dan menenangkan ibu, entah apa yang mereka bicarakan, tapi saat gue masuk mereka lagi ngobrol serius. "Ibu, saya ingin menikahi Bening, tapi Bening yang belum siap untuk menikah." "Kalau kamu tahu Bening belum siap menikah, kenapa kamu hamili dia?" "Maaf ibu, kami sedang sama-sama mabuk saat di Jakarta, kami melakukannya tanpa sadar." "Bening!" "Iya Bu...?" "Kalian harus menikah! Segera! Sebelum Natal, kalian sudah harus menikah!" "Tapi Bu... Natal itu tiga minggu lagi kan?" "Sofio suruh orang tuamu datang melamar!" "Siap Bu. Orang tua saya sudah siap melamar dari dua bulan kemarin." "Tapi Bu..." "Sudah Bening, tidak ada tapi! Menikah sederhana saja, cukup nikah gereja, walau kalian seharusnya tidak dapat diberkati karena sudah melakukan zinah, tapi kalian bisa bertobat, dan nanti ibu minta pak pendeta memberkati kalian." "Baik Bu." Jawab Sofio mantap penuh senyum kemenangan. "Bu..." "Bening, kalau kamu menolak, kalau kamu kabur, ibu pastikan kamu akan melihat ibu mati kelaparan! Ibu akan mogok makan sampai mati!" "Ibu! Iya, aku nikah. Ibu jangan mogok makan!" Sial! Ibu gue tahu banget kelemahan gue! Ibu tahu, gue sayang banget sama ibu. "Ibu, Sofio dan Bening pergi bekerja dulu ya?" Sofio pamit dengan sopan pada ibu, ibu sudah mulai terpesona pada penampilan Sofio, ganteng, sopan lagi. "Huuu... kalau sama ibu aja sopan banget, kalau sama aku, teriak-teriak." "Ya orang kepala batu seperti kamu itu patut diteriaki sampai sadar!" "Apa? Hiks..." Gue pura-pura nangis, pasang tampang sedih. "Hu... hu... hu..." Pura-pura terisak. "Air mata buaya! Aku sudah cukup mengenal kamu Be, ga usah drama!" Sofio membelai perut yang sudah dua bulan ini, mungkin karena hamil anak kembar, besar perutnya lebih besar dari kehamilan biasanya. "Baby twin, if you are a boys be like daddy, and if you are a girls be like daddy okey? Your mommy is too weird." -Bugh- "Sembarang kamu!" "Be, mulai besok pakai baju yang longgar, pakai celana hamil. Kasihan si kembar." "Dooh, baru dua bulan Yo. Masih muat ini baju biasa juga." Selama perjalanan kami selalu ngobrol hal ringan seperti ini. Kami sudah tiba di parkiran hotel. Sofio menggenggam erat tangan gue. "Be, terima kasih ya kamu sudah mau menikah denganku. Aku berjanji akan selalu setia sama kamu, selamanya hanya akan ada kamu seorang di hatiku, sampai kita tua, sampai kita pikun, hanya akan ada kamu." "Sejujurnya aku masih ragu..." "Be, seperti yang pernah aku bilang, kita bisa buat perjanjian pranikah kalau kamu merasa insecure dengan aku." "Untuk apa perjanjian? Jika suatu saat kamu berkhianat, untuk apa semua kompensasi yang aku dapat dari perjanjian itu? Jika hatiku sudah terluka dan mati, untuk apa memiliki harta?" "Be, kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi hari esok. Tapi, yang aku tahu, aku akan selalu mencintaimu." "Emh..." "Hanya emh? Jawaban kamu hanya emh?" "Heemh?" Gue ngangguk. "Okelah yang penting kita nikah. Nanti malam mama dan papaku aku ajak ke rumah ya, ketemu Ibu." "Okey..." Hari berjalan terlalu cepat buat gue... Duh, demi apa ya gue mau nikah? Seharusnya Ibu ga perlu tahu gue hamil, ujuk-ujuk aja nanti kalau bayinya udah lahir gue bawa ke ibu, kan mau ga mau dia terima cucunya... Haddeh, rencana gue ga ada yang jalan. Tegang juga gue mau ketemu orang tua Sofio, mereka kan keluarga kelas atas, gimana ya nanti sikapnya sama ibu gue? Pokoknya kalau ada yang nyinyir atau ga setuju dengan pernikahan kami, udah aja, gue batalin langsung janji nikah gue. Tanpa tedeng aling-aling! Tapi ternyata ya, semua itu tidak seperti yang gue pikirkan, Pak Nicholas dan Bu Erika, orangnya super sederhana dan supel sekali, kakak iparnya juga lembut banget orangnya, kakak dan adiknya sama gantengnya kayak Sofio, duh... gue jadi berasa di Sorga dikelilingi orang-orang ganteng. Makan malam berjalan normal ya, orang tua Sofio juga udah melamar gue, ibu gue udah menerima lamarannya, dan nikahnya pas Natal nanti. Katanya gue orangnya suka lupa tanggal penting, jadi dibikin jadi satu aja di hati Natal, biar selalu ingat. Eh, adeknya Sofio juga uwwu banget loh. "Hai calon ipar, kenalin gue Raphael, panggil Ael aja." "Hai gue Bening." "Be, kok mau sih sama tuh babi?" "Babi?" "Iya tuh babi Iyo. Dia dulu waktu kecil bulet kayak babi. Ngok ngok..." Raphael menekan hidungnya keatas seperti hidung babi. "Huahahahah... lucu lo." "Eh kakak ipar umur berapa?" Tanya Ael. "29." "Ih sama dong kita bertiga, Omi, Mi." Raphael memanggil Ayomi istrinya Michael, kakak iparnya. "Mi, Bening juga seumuran sama kita." "Oh ya? Wah seru nih, kita bisa bully babi babi itu bareng." "Kalian tuh keluarga babi ya?" Tanya gue mikir. "Hahahaha, panggilan sayang itu." "Omi lagi hamil ya?" "Iya, anak ke tiga." "Ihhh... seneng banget udah mau 3." Jawab gue antusias. "Tapi bapaknya menderita, karena tiap hamil, yang ngidam dia." "Wahahah seru banget." Di kejauhan Sofio yang lagi menemani ibu ngobrol dengan orang tuanya menatap tajam, seolah cemburu dengan kami yang tertawa. "Be, kamu jangan dengerin babi kecil itu, jangan percaya apapun katanya!" "Padahal dari tadi Ael muji kamu loh, Yo." "Masa sih, kalau gitu boleh dipercaya." "Tapi bohong." Suasana malam ini begitu meriah, sampai aku melupakan bahwa malam ini adalah malam lamaran, aku tidak terlalu khawatir tentang pernikahan dengan Sofio, mungkin seru juga kalau punya keluarga seramai keluarga Rahmat. Karena ibu menginap disini, Sofio ikut pulang bersama keluarganya, walau ada sedikit drama dulu. *** Kalau suka sama cerita ini tolong dishare ya cerita ini, di sosial media kamu, biar banyak yang baca... makasih ya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN