***
Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan penamaan tokoh, tempat dan atau lainnya itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan.
Palgiator dilarang nyolong!
Terimakasih buat para pembaca, tolong kasih bintang 5, like dan komen.
***
"Be kamu mau kemana malam-malam begini?"
"Nyari mangga."
"Kok pakai mantel hujan?"
"Ya biar ga kehujanan dong."
"Maksudku, kenapa ga naik mobil?"
"Cuma dekat situ, komplek sebelah. Udah ahh banyak nanya kamu. Bye."
"Ehh aku ikut..." Masa istri hamil muda ga ditemani malam-malam begini?
Mereka berjalan berdua, Bening membawa senter dan tas belanja.
"Be mana toko buahnya?"
"Emang siapa yang mau ke toko buah?"
"Loh katanya cari mangga?"
"Iya, nah itu dia, wuuuh banyak..."
"Mana sih mana?" Sofio masih celingak-celinguk mencari toko buah.
"Be kamu dimana!?" Sofio berteriak menyadari Bening tidak terlihat.
"Disini woy!"
"Be? Kamu ngapain?"
"Kami buta ya? Ya ngambilin mangga."
"Ngapain masuk selokan gitu sih?"
"Dooh, gak papa, kering ini selokannya, air hujannya udah sat."
"Jadi kamu nyari mangga jatuh gini? Ya ampun Be, aku masih mampu kalau beli mangga aja sih, atau kamu mau beli tokonya juga aku kasih Be, beli kebunnya sekalian, aku beliin!"
"Ssst! Kamu tuh berisik banget sih! Mangga jatuh itu enak banget, kalau habis hujan gini, mangga yang jatuh biasanya mangga yang udah mateng banget di pohon, jadi rasanya enak banget."
"Tapi Be, ini namanya mencuri ga sih Be? Inikan masih milik orang lain."
"Sofio! Ini ga mencuri, aku hanya ambil yang jatuh, lagian pohon kan punya Tuhan, ambil dari Tuhan gak papa kan?"
"Duh... Be..."
"Udah kamu diem aja kalau ga mau nurutin keinginan bayi-bayi kita!"
"Mau, iya, aku cariin." Ngalah ajalah sama perempuan hamil, daripada anaknya ileran.
Pengalaman yang sangat menarik buat Sofio, seumur-umur baru kali ini dia mencari mangga jatoh.
"Ehh... banyak bekicot Yo."
"Apa? Kamu juga mungutin bekicot?"
"Iya enak ini di tongseng."
"Astaga... anak-anak ku bakalan jadi apa nih besarnya nanti?"
Sofio dengan terpaksa menemani Bening mencari mangga dan bekicot sampai penuh tas yang Bening bawa.
Sesampainya di rumah, Bening langsung melahap mangga-mangga temuannya.
"Daddy rasa ini bukan keinginan kalian nak, tapi ini hanya akal-akalan mommy kalian aja." Sambil bersungut-sungut Sofio mengupas mangga untuk Bening.
"Bener kok, anaknya yang ngidam mangga jatuh. Daddy kalian akan selalu menyalahkan mommy, jadi buat apa mommy nikah sama daddy ya kan?"
"Hei, aku ga nyalahin kamu kok. Ini semua salah bayi-bayi nakal di perut sana. Minta mangga jatuh segala! Hei kalian jangan bikin susah mommy dong!" Sofio tersenyum manis sekali. "Mommy nikah ya sama daddy... yuk, besok yuk kita ke catatan sipil..."
Bening melengos, pergi ke dapur.
"Mau apa Be?"
"Masak bekicot... nanti kamu cobain ya, enak banget."
Sofio hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya yang beda dari yang lain.
"Kok lama sih Be?"
"Ya lama, kan dibersihin dulu bekicotnya, direbus dulu biar mati, trus baru dibersihin, baru deh dimasak... Tunggu 10 menit lagi mateng."
"Kamu pernah makan apa aja yang extreme gini selain bekicot?"
"Tokek pernah..."
"Iyuuuh... Be, kamu perempuan bukan sih? Kok liar banget sih kamu?"
"Kenapa kamu? Jijik sama aku? Masih mau nikahin perempuan liar begini?"
"Ya masih lah kalo nikah, ayuk nikah yuk?"
Bening hanya memutar bola matanya.
"Nih cobain tongseng bekicot."
Sofio memperhatikan Bening makan terlebih dahulu baru dia mau mencicipinya sedikit.
"Ih, enak banget dagingnya, kenyal, ambilin merica bubuk Be." Sofio menambahkan merica di tongsengnya.
"Nah ini baru enak banget, tambah pedas."
"Emhh... iya enak banget Yo."
"Aku akan bikin menu bekicot di restoran ku di Paris sana, laku pasti nih, makanan extremely good..."
Begitulah keseharian kami, Sofio sangat menjaga kami dengan penuh kasih, hanya saja aku masih belum mau menikah dengannya, aku takut dia hanya pencitraan saja selama bersamaku, aku belum mau menikahinya.
Aplikasi management hotel yang aku buat sudah mulai diuji coba, selama seminggu ini akan diuji coba oleh semua departemen. Semoga saja tidak ada bug yang berarti.
"Jun, itu si Richo kenapa? Kusut banget dia?"
"Oh, capek nemenin istrinya begadang."
"Emang ngapain istrinya?"
"Istrinya lagi hamil, tapi tiap malem ga bisa tidur, dan maksa Richo harus nemenin begadang, gitu deh, tanya sendirilah sama dia. Dia juga minta shift malam, mending kerja daripada nemenin istrinya."
Sofio capek ga ya? Gue emang sering bangun tengah malam karena kelaparan, dan dia pasti nemenin gue, bikinin gue cemilan sehat, atau beliin makanan yang gue pengen, walau tengah malam sekalipun. Dia ngeluh ga ya?
"Emang istri lo kenapa Rik?"
"Aneh-aneh deh mbak, ngidamnya, terus sering kram, teriak-teriak, muntah-muntah pas gue lagi makan mbak. Kan bete banget gue, nyesel gue punya anak." Kata-kata Richo membuat gue emosi, pengen nampol laki model ubur-ubur begini!
"Heh! Semua perempuan kalau hamil emang begitu! Makanya kalo belum siap punya anak, jangan lo e*e bini lo! Laki-laki model lo gini nih yang musti dimusnahkan! Emang lo kira gampang hamil? Tiap pagi pusing, kaki kram, perut kram, mau makan susah tapi terpaksa makan!"
Richo, Jun dan Dadang ketakutan melihat gue marah-marah.
"Sampe gue denger lo ngeluhin istri lo lagi, gue pecat lo! Nanti gue telpon istri lo, gue pantau kelakuan lo! Awas gue pecat lo!"
"Ampun mbak, ngga saya ga akan ngeluh lagi mbak, jangan pecat ya mbak." Richo memohon.
"Emang mbak Bening bisa mecat orang?" Tanya Jun polos.
"Siapa yang mau dipecat?" Sofio datang dengan membawa kotak bekal makan siang.
"Richo mau aku pecat!"
"Sssttt... jangan marah-marah inget baby..." Sofio membelai punggung gue, bikin gue cukup tenang.
"Richo kamu ngapain istri saya? Sampai bikin dia marah?"
Richo ketakutan karena boss besarnya yang langsung bertanya.
"Saya ga ngapa-ngapain pak, benar, sumpah, tanya yang lain. Mbak Bening marah karena saya ngeluh soal istri saya yang hamil, lalu mau memecat saya kalau saya masih mengeluh."
"Ckckck... Be, kamu kalau mau pecat dia, pecat aja ya, nanti aku kasih memo ke HRD."
"Ampun pak, ampun mbak jangan..."
"Belum, nanti kalau gue dengar dari istrimu kamu ga mau nemenin dia begadang, kamu mengeluh karena dia muntah-muntah, gue pecat lo!"
"Iya mbak, ngga mbak, ampun."
"Sudah Be, ayo makan dulu..."
Sofio menarik Bening masuk ke ruangan manager IT yang sempit itu.
"Makan dulu ya sayang..."
"Yo... kamu juga gitu ga?"
"Gitu gimana?"
"Kamu ngeluh ga kalau aku mual muntah saat kamu lagi makan?"
"Ngga... Kenapa? Gara-gara Richo tadi?"
"Iya... Kamu capek ga nemenin aku bergadang?"
"Ngga, aku senang."
"Serius? Apa karena kamu lagi deketin aku supaya aku nikah sama kamu, trus kalau udah nikah kamu ninggalin aku?"
"Ya ampun Bening, imajinasimu terlalu liar! Jangan mikir hal yang negatif. Makan aja dulu..."
"Tapi eneg, ga selera..."
"Ya pelan-pelan makannya, aku temani..."
"Hueek... huekk... tuh kan Yo, eneg."
Sofio membelai perut gue yang udah mulai buncit dikit.
"Anak-anak daddy makan ya, emh? Jangan bikin mommy mual, kasihan mommy."
Gue senyum dong denger omongan manis Sofio, ya ampun dia siap banget jadi daddy. Tiba-tiba selera makan gue langsung baik aja gitu, habis itu makan siang ga ada sisa.
Manis banget sih Sofio, menurut kalian nikah ga ya sama Sofio? atau dia hanya pencitraan aja?
***
Kalau suka sama cerita ini tolong dishare ya cerita ini, di sosial media kamu, biar banyak yang baca... makasih ya.