***
Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan penamaan tokoh, tempat dan atau lainnya itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan.
Palgiator dilarang nyolong!
Terimakasih buat para pembaca, tolong kasih bintang 5, like dan komen.
***
Penderitaan gue dimulai. Pagi-pagi berangkat kerja seperti biasa, eh ngga deh, dianter sama supir yang juga boss sendiri. Sekarang gue udah cuek mampus sama temen-temen kantor. Pokoknya tulang besi, otot kawat, muka tembok aja.
Apalagi Sofio itu perhatian banget sama gue, atau sama anaknya kali ya. Tapi bikin gue tuh risih tau ga seh?
Dia sekarang tinggal di rumah gue, mana gue jadi h***y mulu kalau nyium aroma tubuhnya. Untung masih kuat iman gue, tidak terjebak dalam gairah seorang CEO, deuh, udah kayak judul novel ikan terbang ajeh.
Setiap saat sekalipun di kantor dia perhatian banget, makan bareng gue, nyium pipi gue, kadang suka langsung nyosor bibir kalau masuk ke ruangan gue. Tapi itu tidak menyenangkan sama sekali! Gue jadi bahan gosip. GUE! Nih kayak sekarang di toilet perempuan.
"Mas Beni pake pelet apa ya, kok Pak Sofio bisa cinta mati begitu ya?"
"Iya, mana udah hamil lagi... gila pasti dia pake obat perangsang trus ambil keuntungan dari Pak Sofio." Kata salah seorang karyawan. Nah bener tuh emang begitu kejadiannya. Tapi bikin gue bete... tapi kalau di depan muka gue, semua penjilat, ngebaik-baikin gue biar naik jabatan, lah dia kira gue udah naik jabatan apa? Gue aja masih bawahannya bawahan.
"Huss... gosip aja!" Suara Mbak Linda terdengar, wah ada temen gue, ada yang belain nih.
"Iya sana pergi." Mbak Ira juga ngusir itu pegawai gosiper.
"Beni beruntung banget ya bisa dapet yang ganteng dan tajir gitu."
"Banget! Siapa yang ga mau laki tajir banjir gitu? Disuruh ngapain aja juga mau aku, apa lagi cuma disuruh olahraga kasur, uuh mau banget."
"Ngiri juga gue sama dia. Tapi kok belum dinikahin Boss ya?"
"Paling ditentang. Atau Bening cuma mau hartanya aja."
"Yah, who knows?"
Hufft. Ternyata semua orang sama aja mikirnya, gue cuma mau harta. Lo orang pada ga tau aja sih berapa duit gue di rekening siluman gue. Gue bisa beli tanah, bangun villa. Mereka pikir gue butuh banget duit dari laki-laki apa? Hell no! Gue kerja sendiri ya! Sofio itu cuma alat biar gue hamil. Arrggh!
Gue keluar toilet saat semua orang sudah keluar, langsung ke ruangan Sofio. Seperti biasa, begitu masuk udah disosor aja gue sama bule gila ini. Kalau gue lihat matanya yang sebiru lautan itu, rasanya gue akan tenggelam dalam pesonanya. Tapi begitu dia marah-marah langsung ill feel.
"Emmh..." Ciumannya lembut banget, gue ga pernah nolak ciumannya, enak dan emang gue akhir-akhir ini sering h***y tapi tak terlampiaskan.
"Pak Sofio, kita masih di kantor, tolong profesional pak."
"Emmmhh..." Dia malah makin liar mencium, marah. Gue dorong tapi ditahan. Gue cubit aja perutnya.
"Aww... sakit Be!"
"Makanya kerja! Ini di kantor!"
"Be, kapan aku bisa ketemu ibu kamu? Ayolah, perut kamu udah gede gini, udah 2 bulan loh Be. Ayo kita menikah..."
"Hufft. Ini software management hotel, sudah saya buat seefisien mungkin, bapak bisa cek dulu."
Sofio hanya menatap gue, tatapan kecewa.
"Ya, sini pasang di laptop saya, saya mau pelajari." Jawab Sofio formal, udah mau serius kerja sekarang.
Gue jalan ke meja yang ada laptopnya, dia duduk di depan laptop, gue disamping dia, lalu dia menarik gue, buat duduk di pangkuannya. Duh, gue kira udah mau serius kerja.
"Pak!"
"Panggil sayang dong Be..." Sofio memeluk gue, sambil mengelus-elus perut yang udah cukup buncit ini.
"Be ayo kita menikah... Jadi istriku, aku akan selamanya setia sama kamu."
"Ini pak, aplikasinya sudah terinstal, kalau diklik, laman pertama ada pilihan FO Front Office, Inventory, Point Of Sales, Dan Back Office. Semua terintegrasi satu sama lain. Diperiksa dulu pak."
"Be... kata kakakku wanita hamil libidonya naik, jadi sering 'kepengen', kamu ga 'kepengen' apa?"
"Duh, kamu ya, kita ini lagi kerja!"
"Ayo menikah dengan ku, kamu tahu, ga ada laki-laki yang akan mengajak nikah berkali-kali, sekali ditolak laki-laki tidak akan berpaling lagi, tapi aku selalu mengajakmu, aku melupakan harga diriku Be... come on we can discuss anything you want to our marriage."
Gue berdiri, pengen pergi, males gue ngomongin nikah mulu, gue ga mau nikah. Sofio menahan lengan gue, mencium gue sampai gue kehabisan nafas baru dilepas.
"Aku rasa bukan aku yang libidonya tinggi karena hamil, tapi kamu!"
"Iyalah, aku kan laki-laki normal, dan melihat kamu aja bisa bikin aku b*******h, makanya ayo nikah, biar aku bisa bercinta tiap hari."
"Oh, jadi tujuan kamu menikahiku hanya karena pengen bercinta tiap hari?"
"Bukan hanya karena itu saja, maksudku itu bukan yang utama, itu hanya bonus dari menikahimu."
"Alasan saja! Kalau hanya bercinta sekarang juga bisa tanpa perlu komitmen."
Sofio membelai perutku yang sedikit membuncit.
"Baby twin kenapa mommy kalian nakal banget sih?" Ujar Sofio lemah.
"Apa? Twin? Anak kita kembar?"
Sofio masih menempelkan kepalanya di punggung gue.
"Baby, mommy kalian selain nakal juga bodoh, bagaimana daddy bisa meninggalkan kalian diurus sendiri oleh mommy macam begini?"
"Sofio!"
"Kamu tuh ke dokter dengerin ga sih omongan dokter? Aku yang ga ikut kamu ke dokter aja tahu, hasil USG kamu jelas, ada dua telur yang terisi, itu artinya kembar, bodoh!"
Hah! kembar? Itu artinya... Gue harus bertobat... Oh Tuhan, kenapa Kau mendengarkan dan mengabulkan gurauanku sedangkan keinginanku tidak Kau dengar sama sekali.
"Be, aku ga mau lama-lama berzinah sama kamu, ayo kita minta restu sama Tuhan, jangan sampai anak kita terkena kutuk dosa karena kesalahan orang tuanya."
"Tapi aku ga mau menikah!"
"Ya kenapa?"
"Ya... ga mau Sofio..."
"Kamu jahat banget sih sama aku, Be, udah bikin aku birahi, bikin aku merasakan semua kenikmatan dunia, sudah mengandung anakku, kamu malah menolak ku, membiarkanku menahan gejolak cinta."
"Maaf..." Duh, kok gue jadi merasa bersalah ya sama perjaka suci ini.
"Kamu periksa dulu deh nih aplikasinya. Aku mau makan."
"Yuk aku temani."
"Ga usah ahh, bosen aku digosipin orang-orang karena terlalu mesra sama kamu."
"Hahahah... aku ga peduli sama orang-orang, aku hanya peduli sama kamu dan bayi-bayi kita. Ayo! Ga ada penolakan!"