***
Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan penamaan tokoh, tempat dan atau lainnya itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan.
Palgiator dilarang nyolong!
Terimakasih buat para pembaca, tolong kasih bintang 5, like dan komen.
***
"Yo, tolong turunin aku di ujung jalan sebelum Hotel aja ya?"
"Kamu mau ngapain?"
"Kamu duluan aja, kita masuknya pisah, ga usah barengan."
"Kenapa?" Tanya Sofio dengan ekspresinya yang datar, seolah-olah ga paham maksud gue.
"Ya, aku ga mau kelihatan dekat dengan kamu."
-Ciiiit- Mobil direm mendadak.
"Gusti! Sofio! Hati-hati dong, untung aku pasang seatbelt dengan benar." Ngedumel deh gue.
"Memang ada yang menjijikan dari aku, sampai kamu ga mau terlihat dekat dengan aku?" Sofio marah lagi deh, ya ampun... Kenapa sih yang gue nakalin boss gue sendiri, kalau tahu begini, ga gue mangsa dia kemaren.
"Ga gitu... maksudku tuh... aku ga siap ditanya-tanya rekan kerja, ada hubungan apa antara kita?"
"Hanya itu?"
"Iya, hanya begitu aja."
"Ya sudah kalau begitu."
"Tapi aku turunin di ujung jalan aja ya?"
"Ga boleh! Nanti kalau dedek bayinya capek gimana? Kamu bisa aja kuat, tapi bayinya belum tentu kuat kan?"
Ah iya, bayinya belum tentu kuat, duh kenapa sih dia selalu bisa bikin gue nurut. Perasaan gue ini anak pembangkang. Sering masuk ruangan BP dulu jaman sekolah, di nasehatin mulu sama Bu Farrah gara-gara sering lupa ngerjain PR Bahasa Inggrisnya Bu Novi. Ini ga bisa di biarkan.
Duh, mateng gue, berhentinya di lobby lagi. Gue harus buru-buru turun deh sebelum itu GGS bukain pintu.
Udah jam 7.40 Am, sudah banyak karyawan yang berdatangan, gue tutup muka pake ransel, terlalu lebay, masker gue ketinggalan. Ya ampun itu di depan masih ada Mbak Linda, Mbak Ira dan Mbak Laras. Gue harus alasan apa nih?
Gue turun dari mobil dengan percaya diri, gue akan buat seolah-olah gue nebeng sama si Boss besar ini.
"Pagi Mas Beni... uuuuh bareng Presdir ganteng..." Mbak Linda bisik-bisik ngomongnya. Gue cuman nyengir kuda.
"Pagi pak Sofio..." Serentak deh itu kawanan penggemar menyapa dengan penuh senyuman manis.
"Pagi semua..." Jawaban Sofio juga ga kalah manis, cih! Belum tahu aja mereka Boss nya itu GGS!
-Cup-
Demi kerang hidup! Sofio nyium pipi gue di depan singa-singa betina ini.
"Met kerja sayang..." Rasanya gue pengen nyebur di Pantai Kuta, ga kepengen balik lagi. Buru-buru gue kabur...
"Beni! Ben... Tunggu! Kamu harus menjelaskan segala sesuatunya!"
Gue lari sampai lupa kalau gue hamil. Sofio yang lihat gue lari, langsung teriaaaak.
"BE! Stop!"
Gue berhenti, singa-singa betina juga berhenti mengejar gue. Pak Presdir datang mendekati kami, gue deh lebih tepatnya.
"Kamu itu lagi hamil, kalau anak kita kenapa-kenapa gimana? Jangan sembrono gitu Be!"
Ya Tuhan, Pencipta segala Percintaan, kenapa aku harus bercinta dengannya waktu itu?
"Apa?!" Singa-singa betina itu berteriak, seakan hendak menerkam gue.
"Kamu ga sekalian umumin pake toa mesjid aja? Hah?" Gue bingung, sekarang semua orang yang ada di lobby tahu gue hamil, hamil anak bossnya.
"Iya, aku akan pasang pengumuman di hotel, kalau kamu calon istriku dan kamu sedang hamil anakku, jadi ga boleh ada yang ganggu kamu!"
"Kalian!" Sofio nunjuk singa-singa betina. "Tolong jaga Bening ya, saya sangat berterima kasih kalau kalian mau menolong saya menjaga Bening." Sofio melembutkan suaranya dan agak membungkuk.
"Oh, jelas kami akan jaga Mas Beni... eh Mbak Bening..." Singa-singa betina, berubah jadi kucing imut.
Gue jalan ke ruangan gue, diantar Sofio. Ga nyaman banget tahu ga? Semua orang memandang gue aneh, mereka pasti bakal mikir kalau gue menjebak Presdir dengan kehamilan, gue ganjen ternyata dibalik style berpakaian gue, dan lain lain yang bisa gue bayangin.
"Mbak? Bener mbak hamil anak Pak Sofio?" Jun datang dengan semangat, duduk disebelah gue, menunggu jawaban gue.
"Jun? Lo mau mati? Sini Jun! Gue butuh makan korban! AAAAAARRRRGGGGH!"
"Maaf mbak... cuma penasaran saja."
Hufft. Kenapa jadi berantakan gini sih? Seharusnya kan, kalau gue hamil, gue pindah ke villa gue di Bogor, kerja bikin games anak-anak, hamil dengan tenang, punya anak, bahagia selamanya. Kenapa jadi kacau begini sih?
Untung ada kerjaan yang bikin fokus gue teralihkan, sudah waktunya makan siang, tapi gue males makan, ga mood makan.
Telepon ruangan berbunyi, dan ga gue angkat, males. Jun yang angkat, gue pake headset, padahal ga ada musiknya, cuma mau pura-pura budeg.
"Mbak disuruh ke ruangan Pak Sofio."
"Hemm..." Gue cuma jawab gitu aja, tapi ga naik-naik gue. Sibuk bikin aplikasi keuangan yang baru. Sampai jam makan siang habis juga gue ga naik.
Ada aura mematikan di belakang gue, dari pantulan monitor komputer, gue lihat Sofio lagi berkacak pinggang. Duh, males banget gue tiap saat ketemu dia! Pura-pura aja ga tahu, tetap fokus sama layar.
-Blub- Layar monitor dimatikan sama Boss. Gue nengok ke Sofio.
"Kenapa dimatiin?"
"Makan!" Biasa Sofio, kalau ketemu gue harus ada kalimat perintah yang keluar. Ada kotak makanan ditaruh di meja gue.
"Nanti, belum lapar." Jawab gue datar sambil nyalain monitor.
-Blub- Dimatikan lagi dong sama orang yang paling nyebelin sedunia.
"Be, sekarang ada bayi di perut yang butuh gizi, bukan hanya kamu saja, kamu harus ingat bayi kita."
Ah ya, lagi-lagi dia benar.
"Iya." Jawab gue singkat, langsung makan, tapi gimana, tetep ga selera.
"Hueek... hueek..." Rasanya pengen muntah. Tapi tetep gue paksain makan. Sofio tetap nungguin gue sampai selesai makan. Teman-teman setim gue yang udah selesai istirahat siang langsung kepo, ngintipin kita, kelihatan banget dari layar. Rasanya gue pengen nangis, Sofio ga menghargai privasi gue, kan gue yang hamil, terserah gue mau kasih tahu orang-orang apa ngga, ini dia main bikin pengumuman aja. Duh bete.
"Nah gitu makannya habis."
"Makasih makanannya." Jawab gue datar.
Gue nyalain lagi monitor.
-Blub- Dimatiin lagi. Duh, udah bete banget nih gue!
"Kamu kenapa sih? Kamu marah sama aku?"
"Maaf pak kita lagi di kantor."
"Emhh..." Sofio nyium gue, padahal itu kita lagi di intipin.
-Plak- Gue tabok aja sekalian.
"Aww..." Sorot matanya bertanya-tanya. Gue malah nangis, udah ga tahan gue, gue sibuk mikirin apa kata orang-orang tentang gue, padahal gue yang memilih untuk jadi b******k, tapi gue ga mau kalau orang-orang tahu gue b******k, gue mau nya b******k terselubung.
"Hey, kok kamu malah nangis?" Sofio lembut banget nadanya, dia berlutut dilantai supaya bisa melihat gue yang tertunduk. Sadar kalau kami jadi bahan tontonan, pintu ruangan gue ditutupnya.
"Maaf ya, aku bentak kamu tadi... Maafin aku ya..." Sofio meluk gue, tapi gue ga mau, gue dorong kursi kerja gue ke belakang.
"Bapak bisa pergi? Saya sibuk!" Gue usir tapi masih nangis.
"Ya aku akan pergi, setelah kamu selesai nangisnya."
"Hu hu hu huaaa..." Gue ga pernah nangis, waktu kecil gue sering nangis tapi semenjak beranjak dewasa ga pernah gue nangis, ini pertama kalinya gue nangis sesedih ini, apa karena hormon kehamilan yang gue baca kemarin, jadi lebih sensitif dan emosional.