***
Kasih bintang 5 dong kalau suka sama ceritanya, like dan komen juga. Tengkyu.
***
Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan penamaan tokoh, tempat dan atau lainnya itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan.
Palgiator dilarang nyolong!
Terimakasih buat para pembaca, tolong kasih bintang 5, like dan komen.
***
Malam ini bisa tidur nyenyak, masakan Sofio enak banget, gue makan udah kayak orang kesurupan, banyak banget, itu cucian piring belum gue beresin. Males. Padahal gue orangnya rapi dan bersih. Belum pernah gue ninggalin piring kotor.
Pagi ini maleeeeeeeesss banget bangun, rasanya tuh pengen tiduran aja. Tapi ga boleh hari ini banyak kerjaan.
"Anak mommy, jangan malas ya, ayo kita kerja! Mommy harus ngumpulin duit yang banyak, supaya bisa menghidupi kita berdua, oke?" Gue elus-elus perut gue yang masih rata ini.
"Mommy ga usah kerja, kan ada Daddy ya ga nak?"
"Astaga! Kamu kalau masuk bisa kasih salam dulu ga sih? Bersuara jangan kayak Jin Botol, keluar tiba-tiba!" Jantungan gue lama-lama. Sofio datang sudah rapi dengan kemeja krem, dasi biru dan celana panjang hitam, rambutnya disisir rapi, ganteng.
"Mommy kamu lemah ternyata nak." Sofio duduk disebelah gue sambil ikutan elus-elus perut, bikin bulu kuduk gue merinding, kok jadi h***y sih gue? Damn it!
"Emmmhhh..." Sofio mencium gue tiba-tiba. Seneng banget dia nyosor, gue kan baru bangun masih bau naga. Seneng aja lagi dia, kami ciuman sampai kehabisan nafas.
"Kamu tuh seneng banget nyosor!"
"Kamu yang sudah mengajarkanku cara berciuman yang enak, jadi wajar kan kalau aku cium kamu?"
"Ga mungkin!"
"Apa yang ga mungkin?"
"Masa aku yang ngajarin kamu? Kamu pikir aku bakalan percaya kalau kamu belum pernah ciuman?"
"Terserah kamu, tapi kamu perempuan pertama yang aku cium penuh eros."
"Emang kamu belum pernah pacaran?" Ga percaya banget gue, orang ganteng begini belum pernah pacaran.
"Pernah, tapi ga pernah aku cium."
"Hah? Kenapa?"
"Karena aku ga mau ciuman, takut kebablasan kayak gini, jadi hamilin kamu sebelum menikah."
"Oh..." Jadi merasa bersalah gue, udah merebut kesucian Sofio. Eh... ini sih dia yang harusnya menyesal, kan?
"Ayo, kamu ajak aku ke orang tuamu, kita segera menikah sebelum anak kita lahir!"
Ya elah nikah lagi yang dibahas, gue berdiri pengen mandi, mau ngantor.
"Kamu mau kemana?" Sofio memegang tangan gue. Eh, tangannya halus banget. Kalah tangan gue aja kasar banget.
"Mandilah, mau kerja."
"Ya mandi sana, aku bikinin sarapan. Kamu mau makan apa?"
"Emh, roti aja yang gampang."
Selesai mandi dan berpakaian, biasa ya pakaian ala laki, yang simple ga ribet.
"Kamu kok pakai celana sih? Nanti dedeknya sesak ga tuh?" Sofio nanya di dapur masih dengan celemeknya, ya ampun, tambah ganteng banget...
"Wow... kamu bikinin aku club sandwich? Kamu harusnya jadi chef aja, masakan kamu enak loh."
"Thanks, aku emang punya restauran di Paris, kapan-kapan aku ajak kesana."
Waaa... keren banget Daddy kamu nak, nanti anak gue sekeren apa ya? Daddy nya aja keren begini.
"Ini aku bawain kamu banyak baju hamil, persiapan untuk perut kamu, kalau makin besar."
Gue lihat, semuanya bermerk, mahal-mahal, kenapa ga yang biasa aja sih? Duitnya kan bisa gue pake buat bangun villa.
"Makasih ya. Tapi kamu ga perlu repot begini, aku bisa beli sendiri nanti."
"Orang pelit kayak kamu, masa mau beli baju hamil?"
"Heh! Sembarangan ngatain orang pelit!"
"Kalau ga pelit ya, itu kulkas diisi bahan makanan dong, masa garam aja sampai kehabisan, sabun cuci piring habis udah lama, botolnya sampai kering, kalau ga pelit apa itu namanya?"
"Namanya lupa!"
Dooh, kayak gini mau nikah, perang bintang yang ada tiap hari. Benar-benar perfectionist Sofio tuh.
"Ayo berangkat!" Gue ajak dia yang masih ngeliatin gue makan, bikin keki aja.
"Tunggu! Kamu ganti baju dulu sana!"
"Ngga ah! Ini udah nyaman."
"Ya jangan pakai celana, kasihan dedek bayi!"
"Ya ampun, ini belum kenapa-kenapa, bayinya aja belum ada 10 gram di perut. Udah ahh, pergi, telat nanti dipotong gajinya!"
"Keras kepala banget sih kamu! Kamu tuh harus mikirin anak kita dong, jangan mau kamu sendiri! Mana ada ibu yang mikirin dirinya sendiri?!"
Sofio kenapa marah-marah mulu sih? Bikin bete! Gue ambil kunci mobil, gue keluar rumah, rasanya pengen ganti kunci pintu. Heran gue, nih orang bisa masuk aja.
"Naik mobilku!"
Si Boss merintah muluuuu!
"Ga mau ahh, nanti apa kata temen-temen, aku diantar Presdir Heaven Hotel?"
"Ya memangnya kenapa? Kamu kan calon istriku, calon ibu anak-anakku. Lalu dimana salahnya?"
"Tapi kan mereka ga tahu aku hamil anak kamu!"
"Ya kasih tahu aja, kamu jangan mempersulit hal yang mudah. Naik!" Sofio udah habis sabar nya, mata birunya melotot bikin takut aja. Duh.
"Iya..." Akhirnya nurut juga deh gue, serem banget nih orang kalau marah.
Dalam perjalanan ke hotel, Sofio setel musik klasik.
"Aku baca kemarin di majalah parenting, menurut penelitian musik klasik bisa mencerdaskan bayi dalam kandungan." Ujar Sofio, lembut banget nadanya, beda sama yang tadi.
"Iya ya? Aku belum baca sampai ke situ."
"Majalahnya udah aku taruh meja depan, nanti kamu baca-baca ya sayang?"
Sayang? Gue nahan ketawa, bisa-bisanya dia manggil sayang.
"Kenapa ketawa?"
"Gak papa..." tapi gue malah makin pengen ketawa. Akhirnya ga tahan juga gue "Wahahahah..."
"Kamu kenapa sih Be?"
"No... cuma lucu aja denger kamu manggil 'sayang' wahahaha." Gue ketawa sampai keluar air mata. Sofio hanya datar aja, kesannya gue jadi aneh sendiri.
"Maaf... aku ketawa..."
"Ya kenapa harus ketawa dengar aku bilang sayang sama kamu? Aku memang sayang sama kamu."
"Ehem..." Berdehamlah gue, bingunglah gue kalau udah ada kata sayang, suka, dan cinta. Sebaiknya diam, abaikan saja dia.