Bagian 11 ~ Mas, mau kemana?

1396 Kata
Edward POV Aku segera menjemput Lia, Hana mengatakan bahwa ingin menjenguk ayahnya yang tengah sakit. Begitu melihat Lia yang menunggu sendirian di depan halte bersama dengan gurunya, membuatku merasa bersalah. Dia tersenyum lebar begitu melihatku. “Hey princess ayah, maafkan ayah telat menjemput ya!” “Tidak apa-apa, daddy. Ibu tadi bilang ayah cukup sibuk, dan mungkin akan telat menjemput Lia. Bu guru, Lia sama daddy pergi dulu ya, selamat malam ibu guru cantik!” Wanita itu tersenyum simpul sambil mengangguk. “Kami pergi dulu, mam. Terima kasih sudah menjaga Lia!” “Itu sudah kewajiban bagi pihak sekolah nak, kau pasti sangat lelah untuk mencari nafkah bagi kedua orang ini. Aku salut dengan seorang pekerja keras sepertimu, berhati-hatilah!” Begitu kami berdua memasuki mobil, Lia bercerita semua tentang masa sekolahnya. Bahkan hal itu berlanjut ketika kami sudah tiba di rumah. Aku suka saat Lia bercerita padaku, dia sangat aktif dan selalu periang. Aku tidak ingin dia berubah menjadi orang lain, suatu saat nanti. “Mandilah lebih dulu sayang, ayah akan memasak untukmu dan mama nanti. Hati-hati ya, jangan terburu-buru!” “Baik daddy!” Lia mencium pipiku sebelum pergi dengan bersemangat. Ingin rasanya aku kembali menjadi anak-anak, dimana kita bisa menghabiskan hari tanpa harus merasa takut dan tanpa berpikir apa yang akan terjadi dari setiap tindakan yang kita ambil. Masa-masa itu memang sangat menyenangkan, namun tidak bagiku. Semuanya terasa berat, bahkan hingga keputusan yang aku ambil saat ini. Saat dulu memutuskan untuk menikahi Hana—gadis yang aku kejar-kejar itu, aku sudah bertekad akan menjadi ayah yang hebat bagi anakku kelak dan tidak akan mengecewakan orang yang aku sayangi hingga akhir hayatku. Aku memutuskan untuk membuat makanan sederhana—pasta dan Risotto—mengingat kedua orang yang aku sayangi itu sangat menyukai masakan ini. Sepanjang aku memasak, pikiranku sesekali terbayangkan akan wajah dan lekuk tubuh seksi Jennie. Dia benar-benar seperti racun bagiku, dia tidak membiarkanku pernah bisa melupakannya barang sejenak pun. Sialan, bahkan hanya dengan mengingat kejadian sore tadi di studioku, membuatku h***y. Padahal kami sudah melakukannya sore tadi. Hana pulang tepat setelah semuanya beres, pasta dan risotto sudah tersedia di meja. Wajahnya terlihat gembira begitu melihat masakanku, aku yakin dia senang. Aku mencium keningnya, dan turun ke bibirnya. Melumat bibir merah muda nan manis itu. Tanganku mulai menjalar ke bagian dadanya, dan meremas miliknya yang terasa keras itu. Aku baru ingat, bahwa sudah lama kami tidak melakukan hubungan suami istri. Mungkin karena aku terlalu sibuk dengan Jennie, hingga melupakan untuk memberikan kepuasaan bagi istriku. “Mas…jangan ihh, nanti Lia lihat.” Dia benar juga, aku terpaksa melepaskan tanganku dari benda kenyal dan berisi itu, lalu menarik kursi untuknya. Lia datang dengan handuk di kepalanya. Dia terlihat kesulitan untuk mengeringkan rambutnya. Aku terkekeh dan membantunya. “Aduh…princess ayah butuh bantuan ya?” “Lia udah gede daddy, tidak perlu dibantu!” Penolakan itu membuatku terkekeh, dan memilih untuk membiarkan dia sendiri mengeringkan rambutnya. Namun karena tidak bisa menahan diri, aku lekas membantunya dan berakhir dengan pukulan ringan di pipiku. Dia benar-benar menggemaskan. Hana tertawa dengan interaksi di antara kami berdua. Membuatku jauh lebih rileks, karena tadi aku merasa bahwa sesaat Hana terasa berbeda. Makan malam sudah di mulai, aku tersenyum saat menatap Hana. “Bagaimana kabar ayah?” “Sudah lebih baik, kau tidak perlu cemas, mas!” jawab Hana dengan senyuman legah, aku ikut tersenyum mendengar ayah mertuaku sudah lebih baik. Hana terlahir dari keluarga sederhana, namun sangat harmonis. Keluarga mereka menerimaku dengan sangat baik, dan tidak pernah keberatan dengan keluargaku sendiri. Bahkan saat pernikahan kami, beliau tidak keberatan karena tidak ada satupun yang menghadiri pernikahan dari keluarga Dominic. Sedikit sedih memang, namun aku merasa lebih baik. Karena aku menikah dengan gadis pilihanku, yang kini menjadi istriku. Aku mengakhiri malam itu dengan baik, kami beristirahat dengan damai tanpa ada permasalahan apa-apa. Namun di tengah malam, ponselku bergetar, dan nama Jennie muncul di layar notifikasi. Seketika semua fantasiku kembali di isi olehnya. Hana sudah tertidur pulas, tangannya memeluk pinggangku. Aku menginginkanmu malam ini. Rasanya kosong saat aku harus melakukannya sendiri. Shit. Bahkan pesan singkatnya mampu membangkitkan adik kecilku. Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan. Usai melepaskan pelukan Hana di perutku, aku lekas mengambil jaketku, sialan Jennie, dia benar-benar rubah yang bisa membalikkan situasi. Namun, sebelum aku keluar dari kamar. Suara Hana menahan langkahku, seketika kepalaku terasa besar aku berkeringat. Aku tidak pernah segugup ini. “Kamu mau kemana, mas?” suara serak Hana membuatku berbalik badan dan menatapnya yang sudah duduk di atas ranjang dengan mata setengah terbuka. “Aku…aku sepertinya harus ke studi malam ini, sayang. Ada client dari luar negeri yang meminta mengirimkan barangnya saat ini juga. Dia akan terbang nanti, subuh ini.” Aku berbohong, di depan wajahnya. “Tapi tidak harus malam ini juga sayang, kau terlalu lelah mengurus studio. Apa kamu tidak merasa mengantuk?” Sebelum Hana berdiri, aku lebih dulu menghampirinya dan memeluknya erat. Mencium wangi rambutnya yang terasa menyegarkan. “Sejujurnya, aku ingin menghabiskan malam ini bersama denganmu sayang, tapi client ini begitu penting untuk urusan bisnisku ini. Jika aku kehilangan dia, maka sebagian besar usaha ini akan berkurang. Maafkan aku sayang!” “Bahkan aku tidak bisa menghentikanmu, ya sudah, hati-hati Mas!” Mengacak rambut Hana, aku lekas mengambil langkah keluar. Setibanya aku di mobil, aku tidak langsung melakukannya, aku mengutuk diriku sendiri karena sudah berbohong. Bagaimana bisa aku menjelaskan hal ini suatu saat nanti padanya? Aku hornyy, daddy. Ponselku kembali bergetar, dan membaca pesan itu membuatku tidak bisa berpikir jernih. Bahkan Jennie mengirimkan gambar dirinya yang tengah melakukan kegiatan laknat itu seorang diri. Sialan, tubuhku terasa panas dingin, aku tidak bisa berlama-lama, dan akhirnya memutuskan untuk melajukan mobilku dari garasi. Persetan dengan semuanya, aku membutuhkan jalang itu untuk memuaskan hasratku. Dan aku akan menerima semua konsekuensinya nanti. Untuk saat ini, urusan ini lebih genting daripada apapun. *** Hana POV Ini sudah pukul satu, dan Edward baru saja pergi. Aku menatap kosong ke arah ranjang sebelahku. Hatiku mendadak terasa hampa dan bingung. Air mataku mengalir entah kenapa, tidak banyak yang bisa aku jelaskan di antara kebingungan yang melanda diriku. Tadi pagi, Edward memang tidak pulang ke rumah dan aku memutuskan untuk membersihkan semua pakaian Edward. Namun, saat tengah mencuci kemeja putihnya, tubuhku terasa membeku saat menemukan bercak kemerahan di kerah baju itu. Nafasku mendadak naik turun, dan tidak bisa terkendali. Aku sudah memastikan jika bekas noda merah itu adalah lipstik. Tapi milik siapa? Itu jelas bukan milikku, karena aku tidak pernah bercinta dengan suamiku itu saat dia baru saja pulang kerja. Kami sering melakukannya saat dia sudah selesai dan bersiap. Semua tindakan kami selalu terencana. Namun, aku berusaha untuk berpikiran jernih. Edward adalah orang paling setia yang pernah aku temui. Sudah bertahun-tahun hubungan pernikahan kami berlangsung, dan tidak pernah sekalipun dia menghianatiku. Dia selalu setia kepadaku seorang dan begitu juga denganku. Bahkan saat masa kuliah dulu, dia menolak wanita-wanita dari organisasi terkenal di kampus kami. Bahkan dari cheerleader sekalipun, wanita yang begitu famous dan juga bertubuh bagus. Edward mengejarku, dan bahkan setia sejak dulu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menerimanya, dan kami menikah. Di tengah kebingunganku pagi itu, aku memutuskan untuk pergi untuk mengunjungi ayahku. Aku harus tahu apa yang harus aku lakukan, dan berdiskusi dengan ayahku adalah cara yang aku pilih sebagai sosok yang lebih tua. Dan ayahku menyarankan agar aku tidak terlalu curiga dan melihat terlebih dahulu. Aku memilih untuk diam, karena mungkin itu adalah salah satu ulah iseng dari teman-temannya. Sebab aku tahu bahwa Lisa memiliki teman yang begitu iseng sekali, bukan hanya satu atau dua kali Ariana dan juga Rose menjahiliku. Mereka pernah mengatakan Edward kecelakaan saat perayaan ulang tahun pernikahan kami yang pertama, dan ternyata itu hanyalah iseng semata. Mereka ingin membuatku menangis, dan meskipun sedikit kesal, aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk hal itu. Tapi entah kenapa, kali ini aku merasa ada sesuatu yang berubah dari Edward. Akhir-akhir ini dia selalu beralasan sibuk dengan studionya. Memang benar jika dia sepertinya sedang naik daun, namun dia tidak pernah menginap di luar rumah berturut-turut. Aku menghela nafas dan menghapus jejak air mataku, aku tidak mau meragukan kejujuran Edward. Selain itu, aku juga begitu takut akan kehilangannya, karena aku sangat mencintainya sejak kali pertama bertemunya. Bahkan sebelum dia akhirnya menyadari keberadaanku dan mengejarku, aku sudah jatuh cinta untuk kali pertama. Dia begitu terkenal dulu semasa kuliah, dan semua orang menyebutnya pangeran dari surga. Sepertinya aku hanya terlalu banyak berpikir, Edward tidak mungkin berselingkuh dariku, bukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN