Rose POV
“Hey babe, kenapa kamu banyak melamun hari ini? Apa Edward tidak setuju dengan hubungan kita?”
Peter mendekatiku, menyentuh kepalaku sebelum mencium keningku dalam. Benar memang jika usianya lebih muda dariku, dan aku juga tahu Edward memikirkan kebaikanku. Tapi, Peter berbeda dengan mantanku sebelumnya. Sekalipun aku tidak yakin ingin menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius.
Banyak hal yang harus aku pertimbangkan.
“Tidak perlu dipikirkan, Edward memang selalu seperti itu!”
“Lihat babe!” Peter duduk di sebelahku, dan mengambil tanganku, mengelusnya bak dia takut kulitku akan rusak, “aku menghargai Edward karena kau bilang dia sudah seperti saudaramu sendiri. Tapi kau juga harus bisa percaya denganku, karena aku tidak pernah main-main denganmu.”
“Aku tahu!” ujarku sambil tersenyum.
Kami saling tersenyum, dia selalu mendukungku dan tidak pernah mau terburu-buru. Apalagi membahas mengenai masalah keluarga, dia tidak pernah marah karena aku tidak pernah memperkenalkannya kepada keluargaku.
Dia bersedia menunggu, dan bersabar sampai aku benar-benar siap.
“Anyway, aku harus ke studio hari ini. Maaf tidak bisa membantumu lebih banyak, aku…”
“Tidak masalah, Peter. Kau menyempatkan waktu untuk datang kemari saja sudah membuatku senang. Maaf karena masih tidak bisa meyakinkan teman-temanku tentang kita. Tapi aku yakin lambat laun mereka juga akan mengerti!”
“Aku selalu menunggumu, Rose. Tidak peduli selama apa aku akan mendapat restu dari teman-temanmu itu. Karena aku yakin mereka hanya ingin yang terbaik untukmu, jangan terlalu membenci mereka karena hal ini. Akan sangat sakit jika kau kehilangan orang-orang seperti mereka. Aku pergi dulu, ingat untuk makan siang ya!”
Peter sudah berlalu setelah mencium bibirku sebentar. Dia menghilang di balik mobil hitamnya, dan meninggalkanku seorang diri di ruanganku. Aku mengelola beberapa restoran besar, dan ini juga dibantu oleh Edward dan Ariana beserta suaminya—Kay. Aku menyukainya, karena dia memiliki hobby yang sama dengan Edward.
Berbicara tentang teman.
Aku mungkin tidak akan bisa bertahan lebih lama jika tidak mengenal mereka. Banyak hal yang aku dapatkan dari mereka berdua. Selama ini, semua keputusan selalu kami ambil bersama, termasuk urusan percintaan.
Ariana mendapatkan Kay karena rekomendasi dari Edward, dan terbukti, pasangan itu bertahan hingga saat ini. Hanya Edward, dia tidak menerima saran dariku. Aku memang tidak terlalu menyukai Hana, sedikit. Dia orang yang sangat membosankan, kolot, dan ada satu hal yang membuatku tidak pernah menyukainya.
Katakanlah aku terlihat seperti orang perebut rumah tangga orang. Tapi bukan karena perasaanku yang pernah ada pada Edward. Tapi karena gadis itu, orang yang tidak setipe dengan Edward. Semenjak menikahi Hana, Edward mulai berubah menjadi pemurung dan pendiam.
Aku tidak tahu apakah dia bahagia dengan pernikahannya, atau pura-pura bahagia. Dia memang sudah menyukai Hana sejak bertemu pertama kali di kampus. Edward mengejar gadis itu hingga berhasil membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Tapi, aku tidak setuju dengan hal itu.
Jika dibandingkan dengan Jennie Syakira yang akhir-akhir ini mengusikku, aku akan memiliki hubungan Edward dengan Jennie. Edward menjadi lebih atraktif jika sudah bersangkutan dengan gadis itu. Tapi aku juga merasa bahwa Jennie itu berbahaya…sekilas. Tapi entah kenapa, aku yakin dia memiliki hati yang tulus. Dia terlihat tertarik dengan Edward, dan untuk kali ini, aku menyetujui hubungan mereka berdua.
Tanpa ingin tahu apa tujuan Hana mendekati Edward.
“Permisi nona, ada yang ingin bertemu dengan Anda!”
“Silahkan!”
Seorang masuk ke dalam ruanganku, itu adalah Hana? Untuk apa dia datang ke restoranku selarut ini? Aku yakin jika dia tidak akan pernah menginjakkan kaki disini, mengingat dulu aku pernah mengatakan tidak menyukainya langsung di depannya. Restoranku memang masih buka, mengingat ini adalah Restoran ke-3 yang akan aku launching besok, jadi masih banyak persiapan yang harus aku lakukan.
“Apa aku mengganggumu, Rose?”
“Ahhh…tentu saja tidak, silahkan duduk, Hana. Apa yang membawamu datang kemarin?”
“Sepertinya aku tidak bisa lama, aku ingin bertanya, apakah Edward ada di sini? Dia bilang padaku akan pulang larut karena akan membantu mengurus foto untuk restoranmu juga. Dia tidak mengangkat ponselnya sejak siang tadi!”
Jelas sekali bahwa ada sesuatu yang terjadi. Aku jelas-jelas berbicara dengannya sore tadi, tapi dia memang sedikit aneh semenjak bertemu dengan Jannie Syakira. Apa mungkin dia terjebak ke dalam perangkap wanita rubah itu? Aku sangat tahu jika Edward tidak akan pernah mengabaikan panggilan dari Hana, dan dia tidak pernah berbohong pada Hana.
“Ahhh…dia sedang mengantarkan beberapa gambar juga, Hana. Mungkin dia sedang di perjalanan saat ini. Apa perlu aku menyampaikan bahwa kau sedang mencarinya? Aku akan memukul kepalanya karena tidak memberimu kabar, kau pasti sangat khawatir!”
Hana tertawa terlihat legah, aku refleks ikut tertawa, namun lebih mengarah ke arah tawa canggung.
“Baiklah kalau begitu, aku membawamu beberapa cake. Semoga kau tidak lupa tidur, kabari jika Edward sudah datang kemari!”
“Tentu saja, Hana. Lain kali aku akan berkunjung dan menemui Lia!”
Aturannya aku harus menemui Edward malam ini, tapi percuma, dia juga tidak mengangkat panggilan dariku. Ada sedikit rasa kesal, dan juga khawatir padanya. Dia tidak pernah separah ini, bahkan saat dia masih single, dan terus mengejar Hana. Seolah wanita itu adalah satu-satunya baginya.
Teringat jelas dipikiranku, bahwa seorang gadis pernah masuk penjara karena mencoba menjebak Edward untuk tidur bersama. Edward bukan tipikal orang yang mudah jatuh pada perangkap gadis manapun. Namun mengingat sekarang dia tengah mengerjakan proyek bersama Jennie, aku tidak yakin apakah dia jatuh ke dalam lubang yang salah.
Jika besok bukan pembukaan acara restoranku, mungkin aku sudah mencari Edward malam ini juga. Ingatkan aku untuk menjumpai lelaki itu di lain waktu.
***
Edward POV
Parahnya, aku tidak pulang ke rumah. Penampilanku cukup kacau jika terlihat oleh Hana, dan juga Lia. Jadi aku memutuskan untuk tidur di studio. Melihat gambar-gambar Jennie kembali membuat milikku di bawah sana mengeras.
Aku masih mengingat sentuhan dan juga pengalaman tak terlupakan itu. Sialnya aku makin menginginkan wanita itu dalam diriku, ini memang sangat gila dan aku tidak bisa menghindarinya. Usai mengirimkan beberapa pesan pada Cindy, aku lekas tidur di ruanganku.
Pagi menjelang, dan Cindy sudah membawa apa yang aku minta. Jennie juga sudah tiba di studio. Kali ini kami melakukan pemotretan dengan nuansa yang berbeda. Aku cukup tidur meskipun hanya sekitar 2 jam, mengingat semalam aku bercinta dengan Jennie sampai pukul 3 dini hari. Sesi terpanjang yang pernah aku lakukan, bahkan termasuk dengan Jennie.
Pagi berlalu dengan cepat, dan kini aku baru menyadari bahwa sudah sore. Aku belum mengabari Hana sama-sekali, sesuatu yang tidak pernah aku lakukan sama-sekali. Aku masih fokus dengan layar lebar di depanku saat beberapa orang pegawaiku pamit undur diri lebih dulu.
Saat tengah melihat layar yang berisikan gambar Jennie, tiba-tiba seseorang menyentuh leherku dari belakang. Aroma ini adalah aroma yang begitu aku hafal, dan tanpa berpikir, aku sudah tahu bahwa itu adalah Jennie.
“Kenapa kau terlihat tegang saat bekerja, hmm?”
Sialan, suara manja itu membuatku b*******h. Namun menyadari kedekatan kami, aku lekas memeriksa sekitar.
“Semua pegawaimu sudah pergi, aku juga sudah mengunci pintumu tadi.”
Sialan. Dia benar-benar melangkah dengan rencana yang matang, tanpa menunggu persetujuan dariku, Jennie lekas duduk di pangkuanku. Lalu, apakah aku harus menguji coba untuk melakukan kegilaan itu lagi di dalam studio ini? Katakanlah aku gila, karena memang demikian adanya.
Dia membuatku menjadi gila.
Bibirnya mendarat di bibirku dengan lembut. Bibir nakalnya sudah menerobos masuk ke dalam mulutnya, ini benar-benar sangat nikmat. Dia begitu andal dalam hal bercinta, yang tidak pernah aku dapatkan dari siapapun. Dia memberiku pengalaman terhebat.
Milikku sudah tegang, terlebih saat tangan Jennie sudah menjalar memasuki CD ku, dan tangannya yang lembut meremas milikku dengan keras. Dengan segera aku membuka bajunya, merobek branya tanpa persetujuannya. Kini aku kembali melihat benda kembar itu menggantung di depanku, seolah menunggu ku untuk menyentuhnya.
Begitu mulutku menyentuhnya, dan menghisap benda itu, Jennie mendesah tertahan sambil meremas rambutku. Ingatkan aku bahwa sepertinya aku pernah bercinta di kursi kerjaku ini. Dia masih berada di atasku, dan sesekali menggesekkan b****g sintalnya kepada milikku yang terasa sesak.
“Ahhh…kau…kau sangat menggoda!” gumanku saat dia sudah turun, dan membuka celanaku. Kini terpampang sudah milikku yang menegang sempurna. Jennie kembali menaiki milikku, dan menurunkan CDnya. Menggesekkan area kewanitaannya yang sudah basah.
“Woww...Jennie, kau sudah basah sayang!”
“Milikmu selalu menggodaku!”
Saat kami hampir melakukan penyatuan, mendadak ponselku bergetar. s**t, ini benar-benar menggangguku. Namun begitu melihat nama yang ada di dalam layar, membuatku lekas mengangkatnya.
“Lia belum pulang? B…baik, aku…arghh…aku akan menjem…menjemputnya segera sayang. Kau dimana?”
Jennie nakal, dia sama-sekali tidak berhenti menggoyangkan pinggulnya untuk melakukan penyatuan denganku. Bahkan dengan sengaja dia menjilat rahangku, sialan, wanita ini benar-benar membuatku dalam masalah besar.
“Baiklah, aku akan segera menjemputnya. Aku masih berada di studio!”
***
Jennie POV
Melihat Edward yang berusaha bertahan saat menjawab panggilan istrinya membuatku merasa tertantang. Aku menaik turunkan pinggulku untuk mencoba melakukan penyatuan dengan miliknya yang keras. Menjilat rahannya agar mendengar suara desahannya yang membuatku o*****e sepanjang pagi hingga sore tadi.
“Sialan kau, Jane!” serunya saat telah meletakkan ponselnya di atas meja. Dia menekan pinggulku dengan kasar untuk segera melakukan penyatuan.
Aku tidak masalah, justru semakin kasar semakin nikmat. Dia membuatku gila, sungguh membuatku kecanduan.
“Ah…aku…aku akan keluar!” desah Edward
Aku semakin meningkatkan volume hentakanku, hingga akhirnya aku merasakan cairan itu di dalam milikku. Tubuhku ambruk di bahunya, dan ini benar-benar nikmat. Aku masih merasakan miliknya yang menghimpit milikku di bawah sana.
Mencabut miliknya, Edward mendorongku untuk menghadap meja dan menarik rokku. Aku sudah benar-benar tanpa busana. Sementara dia masih lengkap dengan busananya, hanya bagian bawahnya saja yang terpampang dengan jelas
Dia kembali menghentakku dari belakang dengan keras. s**t, ini begitu nikmat, dan aku berhasil bercinta dengannya di meja kerjanya. Namun sesi kali ini terasa singkat, karena setelah dia mencapai puncak untuk kedua kalinya, dia lekas melepaskan miliknya. Mengambil tissue untuk membersihkan miliknya dan milikku dari cairan-cairan hasil cinta itu.
Kini dia sudah mengenakan bajunya dengan lengkap. Aku sedikit merasa kehilangan.
“Aku harus menjemput Lia, Hana sedang ke rumah ayahnya.”
“Kau akan meninggalkanku dalam keadaan ini?”
“Aku sudah membeli baju baru untukmu, pakailah dan pastikan tidak ada yang melihatmu keluar dari ruanganku. Aku pergi dulu!”
Sialnya, Edward sudah pergi begitu saja. Aku sedikit merasa kesal, namun juga merasa senang karena dia memberiku pakaian mahal. Ya meskipun ini terlalu biasa, namun apapun yang diberikan olehnya, aku menyukainya.
Termasuk ditinggal sehabis melakukan sore yang panas seperti ini.