Edward POV
Ini gila, benar-benar gila. Sehabis dari apartemen Jane, aku masih terjebak di basement bawah. Berusaha untuk menenangkan diriku sendiri, dan mengambil nafas banyak-banyak. Panggilan di ponselku membuatku mengalihkan perhatian, dan nama Hana muncul disana.
Demi apa, aku benar-benar lelaki terbrengsek yang pernah ada. Bagaimana mungkin aku hampir mengkhianati wanita yang sudah bersedia menerimaku apa adanya? Bagaimana mungkin aku berakhir seperti ini? Panggilan itu aku biarkan saja, aku takut jika mengatakan sesuatu di luar kendaliku pada Hana.
Bayangan kejadian tadi masih melekat di pikiranku. Kenapa bisa aku merasakan emosi yang berbeda ketika bersama dengan si mata rubah itu? Aku benar-benar marah pada diriku sendiri, karena baru saja melakukan perselingkuhan pada istriku. Selama kami menikah, tidak pernah sekalipun terjadi hal semacam ini. Dosa apa yang aku lakukan hingga godaan di pernikahan kami begitu berat? Aku sudah memiliki anak, dan tidak ingin menghancurkan masa depan Lia hanya karena kebodohan yang aku lakukan.
Adrenalinku masih terpacu, bahkan urat-urat di sekitar tanganku masih terasa. Bahkan, aku masih bisa merasakan ciuman Jane sampai ke rahangku. Aku masih bisa melihat bagaimana bentuk payudaranya begitu cocok di tanganku.
Sepertinya aku sudah gila, sungguh.
***
“Baru pulang, mas?”
Itu sebuah kejutan, aku menatap Hana yang lekas beranjak dari sofa begitu melihatku. Seketika tubuhku mematung, dan aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Senyuman di wajah tulusnya membuatku bergetar.
“Rose bilang jika mas ada pekerjaan di kantor untuk pameran yang akan diselesaikan secepatnya. Kenapa tidak bilang padaku dulu mas? Aku dan Lia kan bisa datang, setidaknya buat ngasih makan gitu!”
Hana masih beroceh sendiri sambil mengambil tas kantorku, rasanya sedikit gugup. Aku tidak yakin apakah dia menyadari bahwa aku bau alkohol atau tidak. Tapi mengenai Rose, aku tidak tahu sobatku itu mengatakan hal semacam itu pada Hana.
Ku akui jika dia melindungiku, namun berbohong pada Hana adalah hal yang tidak begitu aku inginkan selama ini. Bahkan semenjak kami memulai hubungan di masalah kuliah, sekalipun aku tidak pernah berbohong padanya. Hana adalah tipikal gadis rumahan yang tidak terlalu suka bepergian kemana-mana.
“Kenapa tidak tidur?”
Hana sedikit terkejut saat aku memeluknya dari belakang. Aroma tubuhnya kembali membuatku terangsang. Tapi melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 4 dini hari, aku tidak ingin membuat pertarungan panjang dengan Hana pagi ini. Aku takut dia kelelahan besok pagi.
“Kamu tidak menjawab panggilanku, jadi aku khawatir mas. Lia juga tadi sedikit demam, jadi aku terjaga sampai saat ini!”
“Lia sakit?”
“Hmmm!”
Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? Dengan segera aku memasuki kamar Lia, dan menatap keningnya yang sesekali mengerut. Tanpa memeriksa pun, aku tahu bahwa putriku ini sedang tidak baik-baik saja.
“Aku sudah mengompresnya, demamnya sudah lumayan redah. Istirahatlah mas, kamu juga harus bekerja besok pagi!”
Inginku berteriak malam ini, rasa marah, kacau, dan hancur, bercampur menjadi satu. Andaikan aku pulang lebih awal, andaikan aku menolak paksaan Rose dan Ariana, mungkin aku tidak berakhir seperti ini. Mungkin aku juga bisa merawat Lia.
Ini sudah keterlaluan, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku pastikan, bahwa besok semua masalahku dengan Jane segera berakhir. Aku tidak ingin berakhir di jalan yang salah dan membuat keluargaku hancur.
“Sayang, maafkan aku. Akhir-akhir ini pekerjaanku memang sedikit banyak, dan aku kembali pulang subuh lagi. Maafkan aku tidak ada di sampingmu saat Lia sedang butuh aku. Aku benar-benar tidak bermaksud, aku…”
“Mass…sudah, jangan terlalu menyalahkan dirimu. Aku juga khawatir dengan kesehatanmu, selain itu, ini juga adalah mimpimu mas sejak jaman kuliah dulu. Aku mendukungmu, Lia juga mendukungmu. Tapi jangan sampai lupa bahwa mas masih punya kami ya, kami selalu menjadi tempatmu pulang saat lelah seperti ini!”
“Sayang…”
“Sudah mas, istirahatlah dulu, aku akan tidur di kamar Lia. Aku takut jika dia butuh apa-apa!”
Dan perkataan itu menohok diriku. Aku berbohong. Pada diri sendiri, istri, dan juga anakku. Melihat Hana yang sudah memasuki kamar Lia, membuatku segera menuju ke kamar juga. Merebahkan tubuhku yang terasa lengket dan gerah. Badanku rasanya benar-benar remuk dengan semua masalah ini. Aku memastikan bahwa besok atau di waktu yang tepat, aku pasti akan meluruskan semua masalah ini dengan Jane.
***
“Sudah bangun sayang?”
Pagi ini aku memutuskan untuk tidak ke studio, aku menyerahkan pekerjaan seluruhnya kepada asisten. Aku hanya ingin menemani Lia dan juga istriku di rumah, sekaligus menenangkan pikiranku yang berantakan.
“Gak berangkat ke studio mas? Ini sudah terlalu siang!”
Hana menatapku dengan kening berkerut sambil menyiapkan sarapan, aku lekas membantu Lia duduk di atas meja makan. Demamnya sudah mendingan, tadi malam beruntung aku masih terjaga dan menyadari Lia demam lagi.
“Hari ini mas mau libur dulu, Lia sakit sayang. Kalau yang ngurus kamu doang, nanti kecapean!”
“Aku sama-sekali gak merasa capek mas, justru mas yang selalu pusing buat nyari duit. Aku malah senang bisa seperti ini. Tidak seperti dulu saat aku masih sebagai dokter, itu benar-benar sibuk dan melelahkan!”
Aku lupa satu hal. Semenjak Hana mengandung buah hati kami, dia memutuskan untuk resign dari rumah sakit. Dia memilih untuk fokus menjadi ibu rumah tangga dan merawat Lia. Dia merelakan cita-citanya yang sejak dulu dia berusaha raih.
Jika masalahku dengan Jane tidak segera selesai, maka aku benar-benar b******k.
“Hari ini ayah akan menemani, Lia. Jadi jangan sakit-sakit lagi ya sayang, aduh…anak ayah!”
Kebahagiaan terlihat jelas di wajah Lia. Dia terlihat bahagia saat aku mengatakan akan menemaninya hari ini. Begitu juga dengan Hana, meskipun dia mengatakan tidak perlu, aku yakin jika dia juga senang karena hari ini kami akan menghabiskan waktu bersama, seperti dulu, sebelum aku sibuk dengan mengurus studioku.
“Yah, nanti siang Lia mau makan masakan Ayah. Kayaknya udah ada sebulan Lia gak makan masakan ayah deh!”
“Hahahah, iya sayang. Apa sih yang gak buat Lia? Kamu mau aku masakin apa istriku, hmm?”
***
Jennie POV
Duduk di atas balkon dengan menikmati pemandangan indah bangunan kota adalah hal yang membuatku menyadari bahwa aku adalah manusia. Secangkir kopi hitam melengkapi pagi ini, terlebih udara segar masih terasa.
Banyak panggilan masuk dari Edward, dan aku benar-benar mengabaikannya. Itu adalah hukuman karena dia dengan beraninya meninggalkanku dengan keadaan frustasi semalam. Selain itu, ini juga menjadi salah satu dari bagian yang telah aku rencanakan. Edward…tunggulah, kau pasti akan menjadi milikku.
Entah kenapa, Edward selalu membuatku h***y. Sentuhannya, rahang tegasnya, dan otot kekarnya. Sayangnya aku belum bisa menikmati seperti apa tubuh indahnya itu. Banyak pria yang sudah berakhir di ranjangku, namun tidak satupun yang aku inginkan, seperti aku menginginkan Edward.
Tidak tahu setan mana yang memikatku hingga bisa menjadi wanita jalang seperti ini.
Langkah dari belakangku sama-sekali tidak membuatku menginjakkan kaki dari tempatku saat ini. Aku tahu seseorang menyelinap masuk dan kini dia sudah berdiri di belakangku, tanpa mengatakan apapun. Apa dia adalah salah satu lelaki yang juga menginginkan ranjang panas di pagi hari ini?
“Nona, apa Anda memanggil saya kemari?”
Suara itu. Rupanya itu Jimin, dan ekspetasiku yang menginginkan itu adalah Edward benar-benar hancur sudah. Aku segera berbalik dan menatap Jimin yang selalu mengenakan seragam rapinya. Entah apa yang dia pikirkan, namun selama dia menjadi tangan kananku, tidak pernah ada rasa ketertarikan yang aku rasakan padanya.
Tapi kenapa? Kenapa ketika melihat Edward malam itu di bar, aku merasa ingin dipersunting olehnya?
“Apa yang kau dapatkan?”
“Semua datanya sudah ada di atas meja Anda, nona. Baik keluarga lengkap Dominic, dan juga istrinya. Jika Anda ingin saya bertindak saat ini juga, maka saya siap melaksanakannya!”
“Jangan pernah kau sentuh lelaki itu selagi aku tidak memberimu perintah, apa kau paham, Jimin?”
“Baik nona, maafkan atas kelancangan saya. Tapi nona, apa nona tertarik dengan pria itu?”
Mataku menatap Jimin dengan tajam, dan tanpa mengatakan apapun lagi, dia sudah segera undur diri dari hadapanku. Perkataan Jimin membuat mood ku benar-benar rusak pagi ini. Terlebih saat menatap foto sosok wanita yang ada di atas mejaku saat ini.
Hanna? Namanya hanya Hanna saja?
Aku tidak seberapa peduli, namun rasa benci pada wajah ini juga mendadak muncul mengingat dia berhasil mendapatkan Edward. Lihat saja, aku akan membuat wanita ini menangis karena ditinggal oleh orang yang dia sayangi.
Aku akan mengungkap semuanya, lalu menghilang.