Bagian 5 ~ Permainan Permulaan

1643 Kata
Edward POV Penyetelah terakhir sudah usai, aku lekas mematikan lampu usai Jane berganti pakain. Hari ini benar-benar melelahkan, banyak hal yang harus aku urus. Terlebih, dengan bergabungnya Jane dengan team-ku, aku akui studiku semakin terkenal. Banyak orang-orang yang menanyakan apakah aku bisa bekerja sama dengan mereka. Jam yang melekat di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 6.50, dan itu artinya 10 menit lagi teman-temanku akan datang. Rasanya sedikit lelah jika harus mengadakan pesta lagi di sini, tapi, aku juga tidak enak harus mengulur waktu untuk mereka. Tidak baik jika aku menolak mereka, sebab studio ini berhasil aku bangun dari 0 juga karena bantuan dari mereka. Ya, sekalipun tidak banyak, tapi mereka selalu ada di saat aku membutuhkannya. Selain itu, aku juga tidak banyak berpartisipasi, hanya menyediakan studiku sebagai tempat party malam ini. Semuanya sudah disediakan oleh Rose dan juga Arina. Saat tengah sibuk dengan pikiranku sendiri, aku cukup terkejut saat merasakan tangan bertumpu pada bahuku dan mulai memijatnya. Aku mematung dalam duduknya saat mengetahui siapa yang datang. Itu adalah Jane, dari aroma parfum yang dia gunakan sudah jelas bahwa dia adalah si pemilik parfum termahal itu. Aromanya glamor, dan terkesan klasik. Aku menyukai aroma sejenis ini. “Apa pekerjaanmu seberat ini, Edward? Kau terlihat tidak bersemangat dan kelelahan, aku bisa memberimu bantuan jika mau!” Tangan Jane memijat bahuku dengan lincah, dan ini benar-benar nikmat. Jarang-jarang seseorang memijatku, bahkan istriku—Hana. Ingin rasanya aku menghentikan pijatannya, namun aku juga menikmatinya. Entah setan mana yang membuatku memeramkan mataku dan menikmati pijatannya. Dia benar-benar ahli dalam hal ini. “Kau tidak berencana mengangguriku bukan?” “Ahh…maaf, Jane. Pijatanmu terasa enak, membuatku lupa untuk menjawabnya. Tadi itu yah, mungkin aku harus berterima kasih kepadamu karena sudah membuatku seperti ini. Sejak kau bergabung dengan studio ini, semakin banyak pesanan yang aku terima. Pamormu benar-benar tidak bisa diragukan!” “Kau memilih orang yang tepat!” “Mmhhh…di sana, kau sangat berbakat sekali, Jane!” aku jujur, bahuku terasa enak saat dia memijatnya. Kepalaku sudah jatuh dan aku menggeram saat merasakan tubuhku merespon dengan baik. Jemari Jane di sepilkan ke arah cekatan kepalaku, menekannya dengan pelan saat erangan keluar dari bibirku. “Berhenti mengerang dan mendesah seperti itu, Ed. Kau membuatku b*******h!” Mendadak aku membuka kedua mataku. Rasanya sedikit tidak wajar jika bibir Jane terus mengeluarkan kata-kata sevulgar itu. Dia benar-benar misterius dan tidak bisa dimengerti. Jadi, aku memilih untuk melayani ucapannya tadi. “Kenapa suaraku bisa membuatku b*******h, nona Jane? Aku harap kau bukanlah maniak seks!” “Jika sedang berkeliaran bersamamu, mungkin perkataanmu barusan benar. Bagaimana, apa kau ingin mencobanya denganku? Ahh tidak, mungkin aku bisa memberimu service terbaik, aku bisa memberimu blowjob jika istrimu tidak sanggup memuaskanmu!” Mendadak tubuhku merinding dan hanya bisa terkekeh pelan. Berusaha untuk mengurangi rasa gugup ku, ini benar-benar di luar akal sehat. Aku bisa gila jika berada di dalam situasi ini terus-terusan. “Apa kau tidak bisa berbicara sedikit normal, Jane?” “Semua itu datang dari pikiranku, Edward! Bahkan saat ini aku sudah basah, apa kau tidak berniat untuk memberiku service sebagai imbalan? Aku bisa…” “Diamlah, dan bantu aku membereskan meja-meja ini.” Dengan segera aku berdiri, dan mengubah topik. Tidak mau berlama-lama berada dalam situasi awkward seperti ini. Bisa saja aku kehilangan kontrol dan berakhir dengan penyesalan yang tidak akan bisa aku maafkan sendiri. Karena jujur, Jane adalah pengaruh buruk bagiku. Imanku mudah goyah jika sudah berhadapan dengan manik rubahnya itu. Dia benar-benar pemangsa yang bisa membuatku goyah dengan mudah. Untuk menghindari masalah, sebaiknya aku menjauh dari sumber masalah. Aku tidak ingin menghianati Hana, dan juga Lia. Mereka berdua adalah rumah bagiku, dan tempatku berpulang. Aku pastikan tidak akan ada yang lain, dan aku juga sudah berjanji untuk selalu menjadikan Hana tempatku pulang. Semuanya sudah beres, tinggal Rose, Ariana dan Kay yang belum tiba. Jane undur diri setelah membantuku, katanya dia ingin membersihkan keringat yang melekat di tubuhnya. Bahkan, dia sengaja memancingku sebelum benar-benar pergi. Ku akui bahwa Jane adalah wanita yang gigih, dan juga sulit di tebak. Sekalipun aku sudah menolaknya terang-terangan, dia seolah tidak peduli dan semakin membuatku merasa terganggu. *** Jane POV Malam ini benar-benar terlihat sesuai dengan harapanku. Bungkus makanan dan botol berserakan di seluruh meja. Beruntung ini bukan ruang kerja pribadi milik Edward, aku pastikan jika bangun besok pagi, dia akan sibuk lagi dan hanyut dalam pekerjaannya. Padahal dia bisa meminta anggota team nya untuk membantu membereskan keributan yang sudah kami buat. Aku menghabiskan botol terakhir, dan menatap Rose serta Ariana yang sudah tumbang. Edward juga terlihat setengah sadar, aku tersenyum melihat bagaimana dia membuka 3 kancing baju teratasnya karena kepanasan. Namun dibandingkan dengan Kay, Edward masih terlihat lebih segar. Aku sengaja berpura-pura sudah mabuk. Ini adalah salah satu dari siasat. “Kay, apakah kau bisa mengantar Rose sekalian? Aku tidak bisa mengantarnya karena harus mengantar Jane dulu, dia terlihat sudah tidak bisa bernyawa lagi!” “Tentu saja, lagipula Rose biasa menginap di rumahku. Aku tidak keberatan jika melihat dia berteriak-teriak nanti malam!” ujar Kay dengan wajah memelas. Seolah meminta agar Edward mengantarkan Rose ke rumahnya. Namun dasarnya Edward tidak peduli, dia hanya menganggukkan kepalanya. “Aku yakin dia akan sakit kepala besok, Ariana juga sepertinya terlalu banyak minum. Aku akan mengemasi barang-barang dulu!” Ku lihat sama-samar jika Edward memasukkan barang-barangku. Lalu berjalan ke arahku. “Hey, Jane. Apa kau baik-baik saja? Aku akan mengantarmu pulang!” Tentu saja, kau akan mengantarku. “Hmmm…” aku hanya bergumam, sambil berpura-pura untuk beranjak berdiri. Namun aku tidak menyadari tubuhku juga terasa lelah. Hampir saja aku terjatuh jika Edward tidak segera menangkap tubuhku. Aku tersenyum saat dia mengalungkan tanganku di lehernya sambil berdecak. Malam ini, aku akan meningkatkan permainkanku. Membayangkan apa yang akan terjadi saja membuatku sedikit basah. Oh Edward, entah pelet apa yang dia punya hingga membuatku menjadi w************n yang memainkan trik bodoh seperti ini. Dulu, aku sangat membenci trik semacam ini, namun sekarang? Aku yang memainkannya. Aku tidak sepenuhnya mabuk, karena alkohol sudah menjadi bagian dari hidupku sejak dulu. Bagaimana mungkin aku bisa mabuk hanya dengan 5 gelas alkohol? Tapi ini akan menjadi permainan yang menarik. “Jangan kemana-mana dulu, aku akan mengeluarkan mobil ke depan dulu.” Edward lekas meletakkanku di atas sofa dengan sangat hati-hati dan lekas berlalu. Tidak berselang lama, aku merasakan sesuatu menyentuh bagian punggungku, dan aroma parfum Edward benar-benar membuatku semakin candu. Dia menggendongku tanpa merasa kesulitan, lalu segera memasukkan tubuhku ke dalam mobil. Perjalanan terasa sedikit lama karena macet padahal sudah malam. Penasaran, aku melirik ke arah kerumunan mobil dan sepertinya terjadi kecelakaan. Wajar saja mungkin, melihat jalanan masih basah, dan sepertinya hujan baru reda beberapa menit lalu, tepat sebelum kami keluar dari studio Edward. Sekarang kami sudah tiba di apartemenku, Edward kembali mengeluarkanku dari dalam mobil dan menggendongku dengan gagah, seolah tidak memiliki beban sama-sekali. Aku sengaja mengendus-endus lehernya, dan mendekatkan bibirku ke arah sensitifnya. Bisa aku rasakan bahwa tubuh Edward sedikit tegang. Ahhh…andai saja ada resepsionis yang sekarang berjaga, aku ingin pamer. “Apa ini kamarmu?” Edward berbisik pelan seolah dia takut untuk membangunkanku. Dengan lembut, aku membuka mataku dan berusaha senatural mungkin memainkan peran pura-pura ini. Aku mengangguk lalu kembali mempererat pelukanku di lehernya. Edward memutar knop kamarku, dan mendorong pintu dengan kakinya. Itu gelap, aku memang jarang menghidupkan lampu kamarku. Edward bergerak dengan perlahan, tanpa melepaskanku, hingga akhirnya mencapai tepi tempat tidur. “Jane!” “Hmmm?” “Kau harus tidur, ini sudah sangat larut dan aku harus pergi sekarang.” Tiba-tiba aku merasa tidak senang dengan perkataan itu. Ini adalah hal yang tidak aku sukai, waktu ketika Edward akan pergi dari sini. Aku tahu dia punya istri dan juga anak, namun, salahkah jika aku menginkannya? Tidak masalah jika dia hanya menjadikanku sebagai b***k pelampiasan nafsu saja. Asal bersama dengannya, aku tidak akan keberatan sama-sekali. “Tidak ingin bermalam di sini? Tidak baik mengemudi larut begini, apalagi di luar sepertinya masih gerimis. Jalanan licin…” aku menarik tubuh Edward mendekat, dan membisikkan kata-kata itu di telinganya dengan sensual. Dia sudah menghidupkan lampu tidur, jadi aku bisa melihat wajahnya yang tegas meskipun dengan remang-remang. “Jane, maaf, aku harus pe…pergi…” Tanpa menyia-nyiakan waktu, aku menekan bagian bawahnya. Lihat? Bagaimana mungkin Edward bisa menahan diri sekuat itu. Aku kembali memainkan telinganya, dan mendapati bahwa suara penolakannya sudah serak. Melihat tidak ada penolakan, aku kembali meninggalkan jejak ciuman basah di sepanjang rahang berbulu tipis itu. Sialan, aku benar-benar sudah kehilangan kendali. Mendorong Edward ke ranjang, aku dengan segera menindih tubuhnya dan melepas bajuku. Menyisakan bra berwarna hitam ketat yang membentuk payudaraku seolah ingin keluar dari sarangnya. Bisa aku lihat bahwa Edward menelan ludahnya kasar. Aku mencium bibirnya dengan gesit, dan berusaha untuk membuka bajunya. Aku semakin mengangkanginya dan meletakkan tanganku di lehernya. Edward memberiku balasan, dia membuka bibirnya dan memberiku akses untuk menjelajahi isi di dalamnya. Nafas kami sama-sama terburu-buru saat ciuman bercampur saliva itu terhenti. Edward menatapku dengan kabut nafsu dalam matanya. Tangannya aku arahkan ke payudaraku, menyuruhnya untuk memijatnya. Sedikit terkejut saat Edward membalikkan keadaan, dan kini dia yang menindih tubuhku. Tangannya meremas-remas payudaraku, dan dengan tidak sabaran mengeluarkan si gunung kembar itu keluar dari sarangnya. Ada jeda. Edward menatap milikku yang montok dengan gemas, aku sedikit malu. Dia sengaja menekan nekan bagian bawahnya yang sudah keras kepada milikku. Namun, entah kenapa, saat aku mulai mendesah, dia segera beranjak berdiri. “f**k, maafkan aku. Jane, maafkan aku, aku…aku tidak harusnya berada di sini!” Edward pergi. Ya, dia pergi meninggalkanku yang sudah basah dan terangsang habis-habisan. Aku menjatuhkan tubuh setengah telanjangku ke ranjang dan tersenyum puas. Tidak masalah, mungkin efek alkohol itu masih kurang seberapa baginya. Dia hebat, padahal aku tahu dia sudah berada di ambang batasnya. Tidak masalah, karena ini baru saja permulaan, akan aku buat dia mengemis untuk berhubungan badan denganku. Karena tujuan utamaku adalah ini, aku adalah gadis gila yang menginginkan lelaki yang sudah memiliki istri dan juga anak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN