Edward POV (21+)
Sudah pukul 2 dini hari, namun aku tak kunjung bisa tertidur. Rumah sepi, Hana dan Lia sudah tertidur. Sebuah sarapan di meja makan dengan note hasil tulis tangan Lia cukup menamparku atas apa yang hampir saja terjadi malam ini.
Aku tidak menyangka, bahwa aku akan menjadi orang linglung seperti ini.
Kepalaku terasa berdenyut, jujur, aku butuh pelampiasan setelah apa yang terjadi. Gairahku seolah terbakar, dan milikku juga tegang. Selama mandi tadi, aku sudah berusaha untuk menidurkannya, namun tak kunjung berhasil.
Bayang-bayang tubuh indah Jane dan bibir nya yang seksi masih melekat di otakku. Hana juga sangat tidur lelap, sepertinya dia tengah kelelahan. Tidak mungkin aku…
Klik
Lampu ruang tengah menyala, membuatku lekas mengalihkan perhatian dan menatap Hana yang menatapku di ambang pintu. Mata satu khas baru bangun tidurnya menatapku dengan penuh pertanyaan. Aku berdiri dan menghampirinya, menariknya ke dalam pelukanku dan kembali mematikan lampu.
“Ada apa hmm? Kau terlihat kacau, apa ada masalah dengan studio?”
“Tidak, semuanya berjalan lancar!” aku menjawab masih dengan keadaan memeluk Hana erat.
“Lalu…apa itu?”
“Tidak juga!” aku menahan tangan Hana yang hendak melepaskan pelukanku.
“Lalu kenapa?”
Butuh beberapa saat, akhirnya aku menatap matanya dalam penerangan yang minim. Melihat dua benda kembar yang sedikit terekspos itu membuatku semakin merasa panas. Gairahku sungguh sudah di atas kepala. Aku tidak sanggup lagi untuk menahannya.
Lagipula, aku melakukannya pada istriku.
“Kenapa kau…kau menatapku seperti itu?” Hana gugup.
Tanpa meminta persetujuannya, aku lekas mencium bibirnya. Melumatnya dengan pelan, menuntutnya untuk membalas ciumanku juga. Merasa aku diberi lampu hijau, aku mulai memasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Mengeksplor semua yang ada di sana.
Tanganku tidak tinggal diam. Aku dan Hana sudah tidak berhubungan badan sekitar 1 bulan, aku rindu rasanya istriku. Bukannya karena tidak ingin, namun karena pekerjaan yang bahkan membuatku tidak pernah terpikirkan sampai ke sana.
Hana juga tidak pernah meminta kecuali aku yang memulainya duluan. Dia tipikal gadis pemalu jika sudah menyangkut hal seperti ini.
Ahhh
Mendengar desahan Hana saat aku menggenggam gunung kembarnya semakin membuatku menginginkan hal yang lebih malam ini.
“Sayang…kau…kau!”
“Diam, sayang. Kau bisa membangunkan Lia, dan membiarkannya melihat apa yang tengah kita lakukan di sini!”
Aku sedikit menahan diri untuk melihat wajahnya. Sudah aku duga, pipi putih Hana benar-benar memerah. Aku semakin tidak bisa menahan diri. Segera aku dorong tubuh Hana ke ranjang, lalu merobek pakaiannya dengan sekali tarikan. Aku bisa mendengar dia berdecak kesal. Entah kenapa, merobek pakaian saat berhubungan badan adalah sesuatu yang sangat aku sukai.
“Kau membuatku harus membeli baju lagi, suamiku!”
“Kau bisa membeli tokonya sayang. Suamimu ini tidak akan jatuh miskin jika hanya karena hal itu!”
“Dasar, kau…ahh…ahh!” Hana kembali mendesah saat aku menindih dan menerkam gunung kembarnya dengan mulutku.
Tidak ada lagi pakaian yang Hana kenakan. Aku mulai memainkan tubuhnya yang tidak kala jauh dengan Jane. Bahkan di saat seperti ini, aku benar-benar menjadi lelaki berengsek karena berani membayangkan wanita lain saat tengah bersama dengan istriku. Satu-satunya wanita yang sah untuk melakukan hal ini denganku.
Aku menarik diri, dan melakukan hal yang sama dengan Hana. Kami sama-sama naked. Hana merona, dia masih saja seperti pengantin baru. Padahal, aku masih ingat saat kami baru menikah, aku sampai membuatnya tidak bisa berjalan karena dia selalu membuatku ketagihan untuk melakukan hal ini lagi dan lagi.
Tidak lupa aku mengunci pintu kamar. Bisa bahaya jika Lia mendadak bangun dan menatap kami seperti ini.
Mencium kaki Hana, aku perlahan merangkak ke atas tubuhku. Kembali mencium bibirnya dengan pelan namun pasti. Desahan-desahan yang keluar dari mulutnya membuatku semakin panas dan bersemangat. Sesekali aku menaik turunkan pinggulku, dan menusukkan milikku yang sudah keras ke dalam liang hangatnya.
Dia sudah basah, membuatku tersenyum dalam hati.
Aku menatap matanya yang juga dibutakan oleh keinginan lebih agar aku menyentuhnya. Dan tanpa menunggu, jleb.
“ARGHHH…AHHH…AHHH!” begitu aku mulai menggoyangkan pinggulku kembali, desahan Hana sudah seperti tadi.
“Sayang, pelan-pelan!”
“Ahhh…kau…kau masih sempit seperti perawan, padahal kita sudah melakukannya puluhan kali!”
Jemari Hana hanya bisa menarik rambutku, sedikit sakit memang, namun aku tidak peduli. Aku terus memasukkan milikku semakin dalam, rasanya milikku sedang di cengkram saat ini. Rasanya benar-benar seperti melayang.
Ini sungguh kesenangan yang aku sukai. Hana terus mendesah dan memanggil namaku dengan bibirnya.
“Sayang, aku sudah tiba!”
“Bersamaan!”
Dalam hitungan ketiga, aku merasakan cairanku dan juga milik Hana. Aku menghela nafas legah, dan lekas mengeluarkan milikku dari dalamnya. Menarik selimut, dan menariknya ke dalam pelukanku. Matanya terlihat sayu, dia pasti kelelahan. Aku bisa tahu hal itu, namun Hana selalu saja diam.
“Kau sangat berenergi malam ini, kau tidak mabuk bukan?”
“Hanya minum sedikit, Kay dan istrinya tadi mampir ke studioku. Aku mencintaimu, jangan pernah pergi dariku!”
Aku merasakan kepala Hana mengangguk dalam dekapanku. Ini sudah jam 3, aku dan Hana butuh tidur.
***
Pagi-pagi sekali, setelah mengantarkan Lia ke sekolah. Hana masih bergelut di selimutnya, dia sepertinya benar-benar kelelahan. Maklum, semalam aku membuatnya tidak tertidur. Karena aku kembali melakukannya sampai 4 ronde.
“Kau sudah bangun?”
Menatapnya dari ambang pintu, aku hanya cekikikan kecil saat menatap wajah cemberutnya. Dengan segera aku menghampirinya, dan melihat gunung kembar itu lagi, membuatku mendadak merasa ingin melakukan itu lagi.
“Jangan mencoba berpikiran yang aneh, kau harus segera pergi ke kantor. Ini sudah jam 8, dan aku tidak menyiapkan sarapan untuk kalian!”
Cup
“Aku sudah memasak tadi sayang, maafkan aku, harusnya kita berhenti. Tapi aku tidak bisa, kau benar-benar menjadi candu untukku. Kita sudah tidak melakukan ini dalam sebulan, jadi…anggap saja ini sebagai bonus!”
“BONUS? Kau benar-benar sudah tidak waras, pergi sana, aku tidak bisa berjalan karenamu!”
“Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi!”menggenggam tangan Hana erat, aku berusaha untuk membuatnya menatapku. Dan akhirnya berhasil, dia akhirnya menatapku juga. “Malam ini mungkin aku juga akan telat, atau akan bermalam di studio? Pekerjaanku benar-benar sangat banyak akhir-akhir ini, maafkan aku tidak bisa memberikan banyak waktu untukmu dan Lia sayang. Tapi setelah proyek ini selesai, aku berjanji akan mengambil cuti untuk kalian berdua!”
“Kau berjanji?”
“Janji!”
“Baiklah jika begitu, pergilah, aku juga minta maaf karena tidak bisa banyak membantumu seperti dulu. Kau tahu sendiri bagaimana jika sudah punya anak, Lia harus berada dalam pengawasan selama dia sekolah!”
“Apa penyakitnya terkadang kambuh?”
“Bulan ini tidak lagi, sudahlah, kau pergilah. Jangan lupa untuk mengambil cuti atau aku tidak akan memberimu jatah selama 2 bulan ini!”
“Kejam sekali istri cantikku!”
“Berhenti menggodaku, Edward!”
“Iya-iya baiklah, aku akan pergi sekarang. Jaga kesehatan sayang, aku memerintahkan beberapa pengawal untuk mengawasi kalian. Aku takut ayahku masih ingin melakukan seperti dulu!”
“Selagi kita berada dalam satu atap yang sama, ayahmu tidak akan melakukannya. Percayalah padaku!”
“Baiklah, aku berangkat dulu!”
***
Tiba di kantor, aku pikir Jane sudah tiba. Namun tidak ada tanda-tanda kemunculannya. Aku hanya ingin meluruskan apa yang hampir terjadi semalam. Tidak ada apa-apa di antara kami, dan itu hanyalah sebuah kesalahan.
Pandanganku tertuju pada foto yang ada di layar komputerku. Sangat sempurna, Jane begitu sempurna. Aku yakin proyekku kali ini akan berdampak besar. Aku…
“Berapa lama kau akan menatap foto-fotoku?”
Mendengar suara itu, mendadak aku lekas bangkit dari kursiku dan menatap Jane yang tengah berdiri di depanku. Pakainnya denim casual yang Jane kenakan saat ini benar-benar menunjukkan auranya yang mendominasi.
“Aku…aku hanya memastikan bahwa tidak ada yang memerlukan perubahan. Kau sangat berbakat, dan…bisakah kita bicara, Jane?”
“Kenapa tidak?”
Jane memasuki ruanganku, aku bangkit dan mengunci pintu. Aku tidak ada ingin ada yang mendengar percakapan ini. Setidaknya aku ingin menghindari masalah.
“Jane, aku ingin minta maaf atas apa yang terjadi tadi malam. Mungkin aku kebanyakan minum dan kehilangan kendali diriku. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita, juga…aku tidak ingin membuat masalah!”
“Aku benci setiap orang yang minta maaf tapi bukan atas kesalahannya. Kita sama-sama sadar semalam, dan aku rasa kau bisa niatku dengan sangat jelas. Tidak ada yang memaksamu untuk memainkan permainan kecuali atas kemauanmu sendiri!”
“A…apa maksudmu?”
Dia tersenyum menyeringai, seolah menertawakanku saat ini. Dalam sekejap, dia melangkah dan sudah berada di depanku. Kembali mendekatkan wajahnya padaku, kali ini aku benar-benar menjadi bodoh lagi. Dia terlalu mendominasi, dan aku tidak terbiasa dengan wanita yang mendominasi. Akan sangat berbeda untuk menghadapi wanita seperti Jane.
“Kau jelas tahu bahwa aku tidak awam masalah ini, Edward. Kau tidak bisa menentang itu, baik aku juga sejak kali pertama kita bertemu. Sekarang, apakah kita bisa bekerja? Aku ada janji nanti sore, jadi tolong selesaikan dengan cepat!”
Aku mengangguk kaku, menurutinya seolah dia adalah majikanku. Ini rasanya aneh, bahkan Hana tidak bisa melakukan hal seperti ini padaku. Kepalaku benar-benar dibuat pusing dengan hal ini semua. Jane adalah sebuah seni yang rumit, dan aku tidak menyukai hal yang rumit.
Tapi, Jennie Syakira, terlalu awal untuk aku lewatkan.
Sesi pemotretan terakhir sudah selesai. Jane sudah mengenakna kembali pakaiannya, dan kali ini sudah bersiap untuk pergi. Aku merasa sedikit tidak enak padanya.
“Kau tidak perlu mengantarku pulang, Ed. Aku ada janji dengan orang lain, aku sudah mengatakannya tadi!”
Dia sengaja. Dan aku tidak suka saat dia menolak tawaranku, yang bahkan masih tertahan di dalam mulut.
“Ah.. Jennie Syakira!” kali ini aku memanggil namanya dengan lengkap. Dia berhenti di ambang pintu, lalu berbalik dan menatapku, “bagaimana dengan pesta besok? Rose bersikeras agar kau ikut besok. Tapi jika kau berhalangan, aku bisa mengatakan jika…”
“Pukul berapa?”
“Sekitar pukul 7 malam!”
“Mungkin setelah selesai pemotretan besok, aku punya banyak waktu luang! Aku akan datang, terimakasih sudah mengundangku!”
Jane menghilang di balik pintu setelah mengedipkan sebelah matanya. Lagi-lagi perasaan itu datang. Aku menutup mataku dengan lengan. Aku sepertinya butuh istirahat hari ini.