#Chat
"Bu aku berangkat kekantor dulu ya, aku titip Hanni ya buk. jaga dia aku takut dia melakukan hal-hal yang tak diinginkan" Chat Jimmy.
"Iya sayang, kamu tidak perlu khawatir, ibu akan menjaganya" Balasan Chat ibu.
Jimmy menyenderkan tubuhnya di kursi kemudi mobil nya. dan menghela nafas berat. kemudian dia melajukan kendaraannya menuju kantornya.
#Kantor
"Selamat pagi tuan!" karyawan kantor
"Selamat pagi! " Dingin nya.
Berjalan menuju ruangnya dengan wajah dingin dan berwibawa nya. Ia terkenal dengan atasan yang Cool dengan ketampanan yang dimilikinya. Hal ini yang membuat karyawan perempuan begitu menyukainya,.karna paras yang bisa mengubah keturunan menurut mereka bukan hanya itu juga mengangkat derajat karna harta yang dimilikinya.
*Ruangan Jimmy
Haahhhh... (helaan nafas berat itu di hembuskan jimmy, Tersirat diwajahnya kekhawatiran) Ia pejamkan mata nya dan disandarkan punggung nya disenderan kursi kerjanya. pikiran nya melalang buana pada wanita yang amat dia kagumi sedari dulu.
#Flashback
Terlihat seorang wanita cantik dengan ukiran wajah yang khas sedang berjalan-jalan menikmati keindahan senja dengan pakaian sekolah nya yang belum ia lepas sejak pulang sekolah. Hari itu dia pulang lebih lambat dari biasanya. Karna kelas tambahan yang diberikan gurunya. Ia sengaja tidak pulang ke rumah dulu, tujuannya ingin menikmati cahaya senja yang menghilang penat nya setelah pelajaran yang menguras otak dan tenaganya. Dia berjalan mengelilingi taman kota itu dengan hati yang hangat sehangat cahaya senja yang menerpa wajahnya.
Terdengar gumaman lirihnya..
"Huufff... wah wahh.. (terlihat takjub dengan pemandangan cahaya senja) entah kenapa ia merasa beban nya sedikit berkurang. Bisakah kehidupan ki sedamai ini untuk kedepannya?? (ia menanyakan pada dirinya sendiri) terdengar helaan nafas lagi tapi kali ini helaan nafas lelah, bukan kagum lagi. "Semangat Hanni kau pasti bisa menghadapi kehidupan yang berisik ini" Terukir senyuman indah di bibir titisnya.
Tanpa di sadari di sisi lain seorang pria sedang memperhatikan perempuan itu dengan senyumnya. Berbeda dengan Hanni takjub dengan cahaya senja sedangkan pria itu takjub dengan paras dan senyum nya yang menawan .
Sedari tadi ia belum bisa mengalihkan perhatiannya dari perempuan itu.
Ia bergumam "Cantik.."
" Tuan...tuan..." Sembari menyentuh lengan sang tuan.
"Owkkkk.... (Ia terperanjat saat seseorang menyentuh lengan nya) Ahh... iya aaa ada apa???"
Jimmy tersadar akan lamunanya.
Ia memejat kening nya sedikit ternyata ia mengingat masa lalunya lagi.
" Ini bahan-bahan untuk meeting hari ini tuan" sambil menyerahkan berkas
"ahhh.. baiklah, terima kasih" Sembari menerima.
" Ehmmm... Tuan apa kau baik-baik saja??" Ujar Michelle
Sembari melihat "Iya aku baik-baik saja. Kenapa Chel??"
" Tidak tuan hanya saja aku melihat seperti y tuan sangat khawatir, Ku fikir ada masalah??"
"Kau tak perlu khawatir aku baik-baik saja, Baik lah kau bisa melanjutkan pekerjaan mu! Terima kasih atas berkasnya" Tegas Jimmy
" ahh. .... baik tuan, sama-sama, saya permisi dulu" dengan kikuknya dan melangkah keluar ruangan.
" Aishh Sial kenapa susah sekali mengambang hati tuan jimmy??" ujar Michelle dalam hati, (Ternyata Ia perempuan itu menyukai bosnya itu, tentu saja siapa yang tidak suka dengan seorang tuan jimmy yang memiliki paras yang begitu mempesona, kaya raya serta sudah menjadi pengusaha di usia nya yang masih tergolong muda)
* Setelan Kariawan nya keluar jimny melihat pada tumpukan berkas yang ada di atas mejanya yang sudah melebih gunung himalaya.
"Hhahaffff.... (helaan nafas lelah itu terdengar kembali dari mulut sang pria) Kapan pekerjaan ini akan selesai?? bagaimana keadaan Hanni sekarang?? apa dia baik-baik saja? atau dia ..... tidak.. tidak.. apa yang kau fikirkan Jim, berhentilah berfikiran buruk, dia tidak akan melakukan itu, dia wanita pintar, dia tidak bodoh...( Jimmy mengerjakan kembali berkas-berkas di mejanya, baru beberapa detik berlalu) Aisshh.... Tidak bisa aku belum tenang sebelum mengetahui kabarnya ( Resahnya sendiri sembari merogok saku untuk mencari benda pipih nan canggih itu dan mencari salah satu no kontak)
Tut...tut....tut... 1 kali
Tut....tut....tut... 2 kali
Tut....tut...tut... 3 kali
"Aishhh... kenapa tidak ada jawaban sama sekali?" Resahnya
Hening sejenak dan berfikir "Ahhh... bunda aku harus telfon bunda" Gumamannya
Tut..tut ...tut... 1 kali
Tut...tut...tut... 2 kali
Tut.." Iya hallo jim?" Terdengar suara lembut di ujung sana.
" Bunda dimana?? kenapa susah sekali dihubungi??" Gusar
" Maaf sayang bunda sedang memasak, kenapa?? apa kau sedang mengkhawatirkan Hanni?? " Ujarnya
" Akhh... (wajah nya bersemu merah, ia merasa tertangkap basah oleh bundanya) Bukan seperti bunda" gugupnya
" Jangan bohong nak, kau menelpon karna ingin tau keadaannya kan?(godanya) , tidak usah khawatir Hanni sekarang baik-baik saja. dia sekarang sudah lebih tenang, Ini dia sedang membantu bunda memasak. kau ingin bicara dengan Hanni??" ujar bunda nya panjang lebar. (mengetahui kekhawatiran anaknya, seutas senyum diwajah sang ibu)
" Ahh... tidak bunda aku tidak ingin menganggu nya. Baik lah kalau begitu bunda lanjutkan saja memasaknya" Tuuutttt... Akhirnya panggil itu berakhir terlihat wajah lega.
"Syukur lah dia baik-baik saja" (lega dan tersenyum sembari memperhatikan hpnya)
Kemudian pria itu melanjutkan pekerjaan nya yang tertunda
* Rumah bunda
Terukir senyum manis diwajah sang bunda setelah putranya menutup teleponnya. Ia menyadari putra semata wayangnya itu suka dengan perempuan yang bernama Hanni ini. Ia tidak pernah melihat putranya begitu perhatian dan khawatir pada seorang wanita selain dirinya sendiri bundanya.
Lirihnya "Kau tidak bisa membohongi bunda nak, Kau menyukainya" mengalihkan perhatiannya pada sang perempuan yang sedang sibuk dengan masakan. Kemudian ia melangkah kearah perempuan itu untuk melanjutkan kegiatan nya yang sedikit tertunda.
" Hanni ... apa sudah selesai nak?? "
" ahhh.. sedikit lagi nyonya "
" Hai... sudah bunda bilang panggil bunda bukan nyonya." Tegurnya
"Akk.. iiiya... Bunda. hanya saja aku belum terbiasa" kikuknya.
" Tidak apa-apa nak nanti juga lama-lama terbiasa" senyum bunda sembari mengelus surai Hanni.
Karna perlakuan manis itu Hanni tertegun. Dia teringat akan mendiang ibunya. sudah begitu lama Ia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini. Hatinya menghangat.
" Hai kenapa sayang??" tegurnya karna ia melihat buliran bening itu menumpuk dimatanya.
akhirnya runtuh sudah pertahanannya. buliran bening yang menumpuk itu jatuh juga. bibirnya bergetar , dan ia menunduk berusaha menyembunyikan air matanya.
" Hanni kamu tidak apa-apa nak?? lihat bunda, kenapa menangis hmmm ...?" khawatirnya.
Suara bergetar dan lirih " Aku... mengingat almarhum ibu ku bunda...hiks...hiks.. "
Tertegun dan langsung memeluk tubuh Hanni di usapnya tubuh itu dan didekapnya begitu erat.
" tidak apa-apa saya kau bisa anggap bunda ada ibu mu, jangan khawatir mulai sekarang kau adalah putri ku. jadi jangan menangis lagi. Putri bunda tidak boleh menangis" Ia melepaskan pelukannya dan mengangkat dagu Hanni serta berkata jangan "sungkan dengan bunda hmmm... kau putri bunda. Mengerti syank??" (Hanni melihat ketulusan di mata rentah itu, Ia bahagia ternyata di dunia ini masih ada orang yang baik seperti bundanya jimmy. Sedetik kemudian Ia mengangguk mengiyakan perkataan bunda Jimmy)
Bunda tersenyum dan menghapus air mata Hanni. " Mana senyumnya! Sekarang saatnya kita melanjutkan masakan, jika tidak kita akan kelaparan, sekarang perut bunda sudah demo ingin di isi.. Heheh..."
"Akk... benar bunda aku juga hahahh"
terdengar tawa di ruangan itu menunjukkan interaksi awal yang begitu baik dan hangat.
Dan berharap suasana ini tak akan pernah hilang. seperti pepatah mengatakan Habis gelap timbullah terang. Disaat malam datang menghampiri akan ada bulan dan bintang yang akan menyinari. Percayalah hujan dan badai akan berlalu.