4 Terlepas Satu Masalah

1440 Kata
Tubuhku terasa lelah, sudah dua hari berlalu. Meski hatiku masih terasa sakit akibat perlakuan Tom, tetapi semua tertutup dengan kejadian yang menimpa paman Jeff. Aku masih menemani paman Jeff yang belum sadar, berharap paman segera membuka mata agar kegelisahanku berakhir, tetapi hingga kini belum ada tanda-tanda untuk membuka mata. Rasa cemasku sudah berkurang sejak dokter berhasil melakukan operasi untuk paman Jeff. Tetap saja, rasanya belum bisa puas jika paman belum sadar dari tidurnya. Padahal dokter sudah berkata jika paman akan sadar dalam waktu satu hingga dua hari. Sementara hari kedua hampir berakhir, aku sungguh tidak sabar. “Paman, tidak bisakah kau membuka mata sekarang? Aku sangat khawatir padamu. kumohon, sadarlah.” Aku hanya bisa berdoa dan terus mengawasi perkembangan kondisi paman dari layar yang terus berbunyi, dan menandakan detak jantungnya masih ada. Baru saja aku hendak berbicara lagi, kurasakan tangan paman bergerak saat kusentuh. Perlahan, aku melihat kedua mata paman bergerak, dan aku bisa melihatnya terbuka. Pandangan mata paman mengedar, seperti seseorang yang baru saja bangun dari tidur. Saat kedua matanya menemukanku, dia tersenyum penuh arti. “Paman, akhirnya. Terima kasih sudah berjuang untuk tetap bersamaku di sini. Aku bahagia sekali melihat Paman membuka mata dan tersenyum seperti ini.” Aku terus saja berbicara tanpa henti, hingga tangan paman menggenggam tanganku dengan lembut. “Reina, kau terus ada di sini? Aku senang bisa melihatmu lagi.” Ucapan paman membuatku tersenyum dan kupeluk paman dengan perlahan. Setelah itu, aku menekan tombol di dinding untuk memanggil perawat dan dokter agar mereka bisa memeriksa keadaan paman sekarang. “Paman, aku tidak mungkin meninggalkanmu dalam keadaan seperti kemarin. Tentunya aku akan berusaha untuk bisa membuatmu terus bersamaku. Aku menyayangimu seperti orang tuaku sendiri, bagaimana bisa aku hidup tanpa Paman?” Paman tersenyum dan mengangguk perlahan, di antara percakapan kami, ada seorang dokter dan dua perawat masuk untuk memeriksa paman. Aku melihat dokter melakukan tugasnya, memeriksa dengan alat yang dikalungkan di lehernya, dan juga memastikan tekanan darah paman normal. Dua perawat juga mencatat setiap apa yang dokter itu katakan pada mereka. Lalu, tidak lama setelah itu, dokter pun melihatku dengan tersenyum. “Kondisi Tuan Jeff sudah stabil, kita hanya perlu melewati masa penyembuhan pasca operasi saja. Tuan Jeff adalah orang yang kuat dan hebat, dia bisa melewati masa kritisnya dengan cepat. Setelah ini, kami akan memastikan kembali untuk hasil dan luka pasca operasinya.” Dokter itu sangat baik menjelaskan kepadaku mengenai keadaan paman, aku merasa lega dan tenang sekarang. Setelah menjelaskan semuanya, dokter itu pun keluar bersama perawat dan meninggalkan aku dengan paman di kamar pasien. Aku kembali duduk di samping brankar, memperhatikan wajah paman yang mulai berseri. Terlihat ada kesegaran meski tidak terlalu banyak, aku yakin paman bisa segera pulih setelah ini. “Paman, aku benar-benar senang, aku akan berusaha untuk menyisihkan waktu untuk paman. Mungkin aku akan mengurangi pekerjaanku dan memperhatikan paman.” Aku begitu bahagia sehingga akan meluangkan banyak waktu untuk paman Jeff. “Tidak perlu seperti itu, Reina. Kulihat kau sangat lelah, beristirahatlah. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Lagipula sebentar lagi aku pasti pulih, jadi tidak akan merepotkanmu.” Paman memang selalu memikirkan aku, dia sangat jarang memikirkan dirinya sendiri. Bahkan kesehatannya saja diabaikan seperti ini. Ucapan paman selalu meneduhkan hatiku, hingga membuatku hampir lupa jika beberapa hari lalu kondisinya sangat mengkhawatirkan. “Paman, aku—“ Ucapanku terhenti saat ponsel dalam saku berdering, aku meraih ponsel itu dan melihat siapa yang menghubungiku saat ini. Saat kulihat, rupanya nomor tidak dikenal. Tidak ada nama di layar ponselku, hanya nomor telepon saja dan itu membuatku berpikir. “Siapa yang menelepon? Angkat saja dulu, siapa tahu ada hal penting yang akan dikatakan orang itu.” Paman mempersilakan aku untuk menerima telepon dan aku melakukannya. Aku mengangguk seraya menerima panggilan telepon itu di dekat paman. “Halo, siapa ini?” Aku bertanya karena memang tidak tahu siapa yang sekarang sedang menghubungiku. “Ini aku.” Suaranya begitu asing, aku menajamkan pendengaran, mungkin saja aku pernah mendengar suara orang di seberang sana. Namun, saat dia kembali bersuara, “Cepat datang kemari.” Aku berdiri dengan wajah penuh keterkejutan. “Bagaimana bisa Tuan Devan memiliki nomor ini?” Dalam hatiku sangat bingung, Tuan Devan bisa memiliki nomorku. “Temui aku sekarang juga.” Ucapannya seperti sebuah perintah dan aku pun mengiyakannya. Aku tentu saja tidak bisa menolak karena Tuan Devan sudah membantuku untuk biaya operasi paman Jeff. Setelah panggilan berakhir, aku berpamitan pada paman Jeff. “Paman, maafkan aku harus pergi. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan sekarang.” Paman tersenyum dan menjawabku. “Pergilah, selesaikan pekerjaanmu itu.” Lega mendengar ucapan paman, aku pun segera beranjak dari kamar pasien menuju lobi. Langkahku sedikit ragu saat Tuan Devan menyuruhku datang. Namun, aku tidak bisa menolak karena dia sudah membantuku dan paman Jeff. Saat kupercepat langkah menuju lobi, aku melihat seseorang yang sebelumnya mengantarkanku. Pria itu menghampiriku dan berbicara dengan sopan. “Nona, silakan masuk ke mobil. Saya akan mengantarkan Anda menemui Tuan Devan.” Kupikir dia datang bersama Tuan Devan, rupanya tidak. Sopir ini kembali mengantarkanku menuju tempat Tuan Devan berada. Aku pun merasa aneh untuk kedua kalinya, apa yang saat ini kurasakan sangat berbeda saat masih bersama Tom. Sampai akhirnya, aku tiba di sebuah butik gaun terkenal, dan di sana Tuan Devan sudah menunggu di dalam. Saat aku masuk, mataku tampak tidak bisa lepas dari keindahan gaun-gaun yang terpajang di depanku. Begitu banyak dan terlihat indah, bahan yang digunakan juga terlihat mahal dan mewah. Sungguh pemandangan yang baru kali pertama memanjakan mataku. Tepat di saat kekagumanku belum berakhir, Tuan Devan menyodorkan sebuah gaun padaku. “Kenakan gaun itu. Kau harus menemaniku.” Aku bingung, kenapa Tuan Devan mengajakku ke acara apa sampai harus mengenakan gaun seindah ini. “Kau harus berpura-pura menjadi pasanganku di depan keluargaku. Kau tidak boleh menolaknya.” Ucapan Tuan Devan kembali membuatku tersentak. Di sisi lain aku tidak bisa menolaknya karena pinjaman yang sudah diberikan Tuan Devan padaku. Aku pun masuk ke kamar pas, kukenakan gaun itu dengan hati-hati. Lalu, saat kulihat tubuhku di cermin, betapa indahnya gaun itu melekat di tubuhku. Bahannya yang begitu lembut, sangat nyaman dikenakan. Aku tidak pernah merasa cantik seperti ini sebelumnya, terlebih gaun yang kukenakan masih baru. Rupanya, tidak hanya gaun saja. Di butik ini sudah siap satu orang yang akan merias wajahku. Seorang wanita yang mengenakan blazer mempersilakan aku untuk duduk dan dia pun mulai melakukan pekerjaannya. Setelah semua selesai, aku pun muncul di depan Tuan Devan dengan gaun dan riasan yang sempurna. Perias itu berhasil membuatku terlihat berbeda, dan cantik. Hanya saja, aku tidak melihat kekaguman dari perubahanku di wajah Tuan Devan. Pria itu pasti tidak tertarik dengan semua ini, dia hanya ingin aku berpura-pura saja di depan keluarganya. “Ayo, pergi.” Tuan Devan berdiri dari posisinya lalu menuju pintu keluar. Di depan butik sang sopir sudah membuka pintu untuk kami. Dalam perjalanan, aku merasa gugup. Itu karena aku tidak pernah sedekat ini dengan pemimpin tempatku bekerja. Aku memainkan jemariku untuk menenangkan diri, berusaha agar tidak terlihat oleh Tuan Devan. Mobil akhirnya berhenti di depan restoran mewah. Bangunannya begitu besar, dan membuatku kagum. Aku baru pertama kalinya berada di tempat seperti ini. Ada rasa takut jika sikapku akan terlihat seperti seseorang yang belum berpengalaman. Saat kami berada di depan restoran, Tuan Devan memperlakukan aku dengan sangat baik dan layaknya pria yang memiliki pasangan. Bahkan, dia menyuruhku untuk melingkarkan tangan di lengannya yang berotot di balik jas hitamnya. “Ingat, Jangan membuat kesalahan. Aku hanya merasa risih dengan pertanyaan mengenai pernikahan yang selalu dibahas oleh keluargaku.” Tuan Devan menjelaskan alasannya mengajakku untuk bertemu dengan keluarga besarnya. Meski gugup, aku mengangguk dan meyakinkan diri sendiri, bahwa aku bisa melakukannya. Aku pun mengangguk untuk menjawab Tuan Devan. Aku harus bisa demi paman Jeff, apa pun akan kulakukan. Setelah itu, Tuan Devan membawaku masuk menuju pintu besar yang terlihat begitu khusus. Aku menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Mengatur detak jantung agar bisa tenang, rupanya sedikit sulit tetapi aku bisa menahannya. Tuan Devan menatapku sekilas, lalu kubalas dengan senyuman. Akhirnya, aku mengikuti langkah Tuan Devan untuk masuk ke sana. Suasana terasa berbeda, begitu mewah dan sangat formal. Aku bisa merasakan seberapa kaya mereka semua. Pandangan mataku pun mengedar, aku melihat beberapa orang di sana sedang duduk berbincang satu sama lainnya. Aku yakin, mereka sedang membiacarakan aku dengan Tuan Devan yang baru saja memasuki ruangan. Semua mata tertuju pada kami, hingga senyumanku memudar saat pandangan mataku bertemu dengan sosok Tom yang hadir di antara mereka semua. “Kenapa dia ada di sini?” Aku membatin dan menjadi kaku ketikan hendak melangkah lebih jauh. Tom menatapku, tetapi belum ada satu kata yang keluar dari bibirnya saat ini. Hingga Tuan Devan menyadarkanku untuk kembali melangkah. “Hei, fokuslah.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN