Aku sempat bergeming untuk beberapa saat, keberadaan dua orang yang tak kuduga ada di depan mata. Bahkan, aku tidak menyangka jika Tom akan menjadi salah satu dari keluarga Tuan Devan. Bisa kulihat juga Sarah di sana untuk menemaninya, dan pasangan itu menjadi alasanku hingga bisa berada di sini.
Dengan tangan yang masih melingkar di lengan Tuan Devan, aku melangkah bersamanya untuk lebih dekat dengan keluarga besarnya. Tuan Devan menarik kursi untukku, dan aku pun duduk di antara mereka semua dengan perasaan yang begitu tidak nyaman. Keberadaan Tom dan Sarah membuat suasana menjadi sedikit canggung untukku, terlebih apa yang sudah mereka lakukan sebelum ini.
Meski terasa tidak nyaman, aku berusaha untuk bisa melakukannya secara professional. Aku tidak ingin Tuan Devan kecewa denganku hanya karena ini semua pura-pura.
Perlahan setiap orang di sana mulai berbicara satu sama lain, bahkan kini mereka terdengar berbincang dan memulai percakapan untuk menanyakan tentang statusku kepada Tuan Devan. “Katakan, siapa dia dan dari mana asal usulnya?”
Aku menelan ludah perlahan mendenar pertanyaan itu, lalu Tuan Devan tanpa ragu menjawabnya, “Reina adalah tunanganku.”
Aku bisa melihat raut wajah dari beberapa orang yang sepertinya tidak menyukai statusku dalam kehidupan Tuan Devan. Meski aku bisa melihat senyuman di bibir wanita yang baru saja bertanya itu, tetapi di sisi lain aku bisa mendengar Tom mendengkus.
Raut wajah Tom tampak meremehkanku, hingga dia pun berbicara, “Ayolah, Paman. Kau bahkan bisa mendapatkan wanita lebih baik dari dia.”
Sungguh hatiku terasa tertusuk mendengar ucapan Tom yang begitu mengesalkan. Namun, tidak hanya dia saja yang mengatakan hal tersebut. Di kursi lain, seorang wanita yang kurasa adalah ibu Tuan Devan berbicara menambahkan kalimat Tom.
“Aku sudah mengenal banyak wanita dari keluarga kaya dan hebat, tapi aku tidak menyangka jika pilihanmu seperti ini, Tuan Devan. Keluarga Stuart tidak ingin menanggung malu dengan keputusan sepihakmu ini.” Wanita itu adalah ibu Tom, dia berkata dengan begitu tegas, seakan tidak mengizinkan Tuan Devan untuk membuat keputusan demi kehidupannya sendiri.
Ucapan yang begitu menyakitkan, tidak heran jika selama ini Tuan Tuan Devan tak kunjung mendapatkan pasangan. Rupanya pihak keluarga besarnya menjadi faktor utama hal ini. Beruntung aku sudah mendapatkan informasi mengenai Keluarga Stuart. Aku tahu jika Tuan Devan adalah anak dari istri terakhir ayahnya, nama Noble yang dimiliki Tuan Devan berbeda dari sang ayah karena mengikuti pihak ibunya. Hanya saja, aku tidak menyangka jika ibu Tom akan ikut campur hingga begitu dalam mengenai urusan kehidupan keponakannya.
Aku melihat ekspresi wajah Tuan Devan yang mengeras. Dia seperti tidak menerima setiap ucapan keluarganya mengenai pasangan. Suasana mulai berubah hanya karena kalimat yang begitu menyinggung.
“Jangan mulai perdebatan. Aku sudah memiliki calon tunangan dan aku tidak ingin membicarakan hal ini lebih dalam.” Ucapan Tuan Devan begitu tegas dan mendoGinasi keadaan di sana. Terlihat dari setiap orang yang menatapnya dalam diam.
Aku berusaha untuk tenang, meski secara perlahan kuedarkan pandangan untuk memastikan bagaimana tatapan mereka kepadaku. Benar saja, Tom dan Sarah yang duduk di seberangku, kini menatap dengan sinis, seperti merendahkan statusku di sana. Aku bisa merasakan keduanya sedang membatin tentang keberadaanku di antara keluarga kaya ini.
Dalam pertemuan ini, hanya kedua orang itu yang mengenaliku dan tahu bagaimana keadaan keluargaku. Aku hanya takut mereka akan mengacaukan semua dan membuat Tuan Devan malu. HIngga saat ini, aku masih memantau keduanya, tidak ada kalimat yang keluar dari bibir mereka mengenai kehidupanku sebelumnya. Saat ini aku bisa sedikit tenang karena tidak ada kalimat lain yang muncul setelah Tuan Devan menjawab persoalan pasangan.
Kegiatan pun berlanjut, kami menikmati jamuan yang kini ada di hadapan masing-masing. Sejak percakapan terakhir beberapa menit lalu, suasana menjadi dingin dan canggung. Hanya saja, aku bisa melihat semua orang mengabaikannya.
Hingga tidak lama setelah itu, Tom kembali bersuara dan menanyakan hal yang sedikit membuatku terganggu. “Jadi, di mana Paman bertemu dengan dia? Apa tidak terlalu cepat untuk memutuskan menjadikannya tunangan?”
Mulut Tom selalu saja tidak bisa dihentikan jika perihal seperti ini. Aku merasa dia tidak akan pernah bisa melepaskanku untuk bahagia atau hidup dengan tenang. Aku masih menyimpan rasa sakit saat dia berselingkuh dengan Sarah di depanku secara langsung. Bahkan, dia mengusirku begitu saja dari apartemen yang selama ini sudah kita huni bersama.
“Dasar tukang selingkuh, berani sekali dia bertanya seperti itu dan mencampuri urusanku dengan Tuan Devan. Kenapa mulutnya tidak bisa diam dan hanya melihat saja?” Aku membatin dengan kesal melihat tingkah Tom, terutama Sarah yang terlihat seperti mendukungnya dari belakang.
Tom benar-benar menurunkan seleraku untuk menikmati hidangan pembuka yang terlihat lezat di mejaku. Andai saja Tuan Devan tidak memiliki keluarga seperti ini, mungkin aku bisa menikmati hidangan yang jarang kumakan dengan tenang. Sayang, semua hanya anganku saja.
Aku menengok ke samping, kulihat Tuan Devan menatapku dan tersenyum. Tiba-tiba saja dia menarik kursiku untuk mendekatinya, lalu secara cepat dia memeluk pinggangku untuk menunjukkan betapa mesranya kami dan menjawab pertanyaan Tom.
“Reina adalah pegawai di perusahaanku. Aku jatuh cinta padanya ketika melihat bagaimana dia bekerja di mejanya dengan sangat cantik.” Ucapan Tuan Devan sungguh membuatku tidak percaya, bahkan aku membulatkan mata dengan sempurna karena merasa malu.
Kalimat yang dikatakan Tuan Devan seperti nyata, membuatku percaya jika dia benar-benar melakukannya selama ini di kantor. Namun, aku tidak ingin ditampar oleh kenyataan bahwa, aku dan dia memiliki perjanjian yang harus kubayar.
Aku pun tersenyum membalas tatapan Tuan Devan, lalu kualihkan pandangan untuk melihat bagaimana kesalnya wajah Tom saat mendengar jawaban dari pamannya sendiri. Benar, aku merasa sedikit senang meski hal ini hanya karangan semata.
“Jadi benar, dia hanya seorang pegawai biasa dan tidak memiliki apa-apa untuk bisa menjadi bagian dari keluarga ini.” Ibu Tom kembali menyahut dan membuat suasana hening. Sekilas kulihat ada senyum tipis di bibir Tom yang merasa senang dengan tanggapan tersebut.
Aku mengalihkan tatapanku dan melirik Tuan Devan yang kini kembali terpancing. Tangannya menggenggam erat sendok, rahangnya mengeras, sungguh pemandangan yang tidak begitu baik. Kucoba menyentuh perlahan tangan Tuan Devan dan mengusapnya. Aku tersenyum seraya menggeleng perlahan agar dia tidak terpancing emosi oleh ucapan ibunya.
“Bukankah aku sudah memberi peringatan untuk tidak membahas hal itu? Kisah cintaku dengan Reina tentu saja berbeda dari kebanyakan orang. Aku sudah mencintainya sejak pertama melihat. Ini bisa dikatakan cinta pandangan pertama. Aku tidak peduli bagaimana tanggapan kalian, tentunya aku hanya akan melakukan apa yang menurutku bisa membuatku bahagia.” Sekali lagi, Tuan Devan berhasil mengelak dengan baik dan menepis tanggapan dari ibu Tom. Tuan Devan balik menggenggam tanganku di depan semua orang, seakan menunjukkan bagaimana kedekatan kami.
“Rupanya Paman sudah dibutakan oleh cinta, sehingga tidak akan melihat apa yang dimiliki wanita ini.” Tom selalu saja membuat suasana menjadi semakin kacau, kali ini ucapannya benar-benar membuatku kesal.
“Bukankah cinta memang seperti itu? Datang tanpa melihat status dan kedudukan. Cinta yang bertahan datang dari hati, bukan hanya dari tatapan.” Jawabanku berhasil membuat Tom terdiam, aku menatap Tuan Devan dan tersenyum kepadanya.
Hidangan selanjutnya disajikan, suasana kembali tenang karena semua orang berkutat pada makanan mereka. Namun, aku masih bisa melihat ada kekesalan di wajah setiap orang yang tanpa sengaja pandangannya bertemu denganku.
“Aku harap setelah ini kalian bisa menerima keputusanku untuk menjadikan Reina sebagai pasangan. Jangan ada lagi perjodohan atau percobaan untuk memisahkan kami.” Kalimat itu menutup mulut semua orang yang ingin kembali berbicara. Tuan Devan benar-benar menunjukkan status kami dengan begitu tegas kepada keluarga besarnya.