12 Sikapnya terlalu aneh

1191 Kata
Tersisa beberapa dokumen sebelum jam pulang. Aku segera mengerjakannya tanpa henti agar bisa terhindar untuk bertemu Tuan Devan saat pulang nanti. Ya, aku tidak ingin kembali menjadi pusat perhatian seperti siang ini. Sudah cukup aku menjadi pusat perhatian hanya dengan berjalan di sampingnya, jangan sampai mereka tahu aku berada satu mobil saat pulang nanti. “Hah … pekerjaanku hampir selesai. Aku harus cepat-cepat pulang sebelum Tuan Devan keluar dari ruangannya.” Aku berpikir untuk pulang tepat waktu, aku tahu jika Tuan Devan pasti sangat sibuk dan tidak bisa pulang lebih cepat dariku. Kurang lima belas menit lagi dan pekerjaanku akan segera selesai. Dokumen terakhir memang mempermudah rencanaku untuk pulang. Aku hanya perlu mengirim surel pada sekretaris agar bisa langsung dikirim kepada Tuan Devan. Sehingga tidak perlu bertemu secara langsung dan aku bisa bersiap-siap. Setelah selesai, aku meregangkan tubuh sebelum akhirnya berdiri dan tersenyum puas dengan pekerjaan hari ini. “Jadi, sekarang aku bisa pulang. Aku akan beralasan pada Tuan Devan bahwa, aku lupa dengan ucapannya saat makan siang. Lagipula, dia tidak akan keluar dari sana untuk saat ini.” Aku merapikan meja kerja, kumasukkan beberapa barang yang ada di meja ke tas, lalu segera kurapikan kursi dan berjalan menuju pintu. Dengan tersenyum senang, aku melangkah ke sana. Akan tetapi, kemudian langkahku terhenti dan wajahku berubah masam saat tahu Tuan Devan berdiri tepat di pintu keluar ruang divisi sekretaris. “Tuan Devan?” Aku menyebut namanya dengan lirih dan membuat dia tersenyum. Lalu, bibirnya bergerak dan dia menatapku dengan lembut. “Reina. Apa kau sudah siap pulang bersamaku?” Sungguh kalimat yang membuat jantungku hampir saja berhenti berdetak. Tuan Devan benar-benar tidak main-main saat ini dengan ucapannya. Bagaimana dia bisa berkata seperti itu di hadapan pegawai yang baru saja selesai bekerja. Aku merasa bingung karena ada banyak mata yang menatap ke arah kami. Bahkan, aku bisa merasakan keberadaan Gina yang sepertinya ada di dekatku. Aku hanya membutuhkan alasan yang tepat untuk bisa menolak keinginan Tuan Devan. “Ah, maaf sekali, Tuan Devan. Hari ini saya harus menuju rumah sakit untuk melihat keadaan paman.” Aku yakin, dengan alasan ini Tuan Devan pasti akan membatalkan ajakan pulang bersama itu. Namun, entah kenapa aku merasa Tuan Devan memiliki senyum yang menakutkan. Itu adalah senyum tipis dan sudut bibirnya ditarik oleh satu sisi saja. “Kebetulan sekali aku ingin melihat keadaannya juga. Jadi, kita bisa berangkat bersama, bukan?” Dia tidak menyerah untuk bisa pulang bersamaku, aku pun tidak bisa berbuat banyak saat ini. Belum sempat aku menjawab, Tuan Devan mendekatkan wajahnya tepat di telingaku. Dia berbisik dengan lembut, “Aku yakin kau ingin menghindar. Jadi, aku hanya ingin memastikan kau tidak berbohong padaku, Reina.” Posisi kami menjadi pusat perhatian, aku mengedarkan mata dan melihat ada banyak orang mulai berbisik sesama rekannya. Mereka mulai membicarakan kami yang tak kunjung beranjak dari sana, dan semakin terlihat lebih dekat. “Baiklah, Tuan Devan. Anda bisa menemui pamanku di rumah sakit. Tentu saja aku tidak akan berbohong saat ingin menemui paman di rumah sakit. Lagipula, Anda yang membantuku untuk membayar biaya rumah sakit, bagaimana bisa aku menghalangi Anda untuk melihat keadaannya.” Suaraku terdengan gugup saat menjawab, aku yakin Tuan Devan merasa menang kali ini. Akan tetapi, tidak seharusnya aku seperti ini. Tentu saja dia bisa berkunjung ke sana, itu karena dia yang membayar semua biaya rumah sakit paman. Kesal rasanya saat tidak bisa menolak apa yang diinginkan Tuan Devan. Ini semua karena kendali dipegang olehnya, dan aku hanya bisa menurut agar tidak terjadi masalah dengan hidupku selanjutnya. “Senang mendengar jawabanmu, Reina. Kalau begitu, kita pergi bersama sekarang.” Tuan Devan mempersilakan aku untuk berjalan lebih dulu. Lalu, dia mengikutiku dan melangkah tepat di sampingku. Betapa gelisahnya diriku saat ini, sejak kami masuk lift hingga sampai di lantai dasar, dan berakhir di mobil. Mungkin, sudah ada banyak perbincangan mengenai kami, topik ini sangat hangat untuk pegawai biasa yang tidak pernah menyaksikan Tuan Devan bersama seorang wanita. Dalam perjalanan, aku memutuskan untuk mengalihkan pandangan dan hanya menatap keluar jendela. Sungguh aku tidak berani menatap wajah Tuan Devan atau bahkan hanya melirik saja. Pria itu selalu membuatku cemas dan gelisah, tetapi lebih sering muncul raas takut dari semua rasa itu. Tatapan mata yang tajam, ekspresi yang sangat mendominasi keadaan, semua hal yang ada pada Tuan Devan seperti menekanku secara langsung. “Apa mereka bertanya mengenai kita?” Aku membulatkan mata saat mendengar suara Tuan Devan di antara keheningan. Aku menengok dan melihatnya masih berkutat dengan ponsel, seperti membaca pesan singkat. “Tidak semua, hanya salah satu dari mereka yang cukup dekat denganku. Tentu saja hal ini membuatku sedikit gelisah. Sepertinya apa yang Anda inginkan akan terwujud.” Aku membalas dengan nada sedikit kesal pada Tuan Devan, hanya sebagai gertakan agar dia bisa mengerti perasaanku saat ini. “Keinginanku? Memangnya apa yang kuinginkan? Apa aku memberitahukannya padamu?” Pertanyaan macam apa yang dia lontarkan padaku. Seakan-akan Tuan Devan sedang mendikte agar aku mengatakannya. Kali ini, dia melirikku dari sudut matanya. “Bukan seperti itu, Tuan Devan sangat ingin semua orang tahu mengenai hubungan kita. Hanya saja aku tidak tahu hubungan seperti apa yang ingin Anda beritahukan pada semua orang? Aku hanya menerka saja, maaf jika ucapanku salah dalam mengartikan.” Aku harus berbicara dengan tenang agar tidak terjadi masalah. Tuan Devan sangat pandai membaca pikiranku dan gerak-gerik yang kulakukan. Baru saja percakapan itu akan berlanjut, sopir mulai memperlambat laju mobil dan berhenti di depan lobi rumah sakit. Sungguh sebuah keberuntungan untukku karena kami sampai pada waktu yang tepat. Aku segera membuka pintu mobil dan membalikkan badan, “Tuan, apa Anda yakin ingin ikut masuk dan menemui pamanku?” Saat aku ke luar dari mobil, rupanya Tuan Devan juga mengikutiku. Kini dia berjalan di sampingku menuju kamar Paman Jeff dirawat. Saat berjalan bersama, aku merasa ragu untuk mempertemukan mereka—paman dan Tuan Devan. Kabar terakhir yang kudapatkan dari perawat, paman sedang beristirahat karena obat-obatan yang dikonsumsi untuk masa pemulihannya. Sampai di depan pintu kamar, aku berhenti dan kembali memastikan Tuan Devan akan masuk bersamaku. Hanya dengan menatapnya saja aku bisa merasakan dia tidak akan mundur dari langkahnya. Aku pun membuka pintu dan melihat paman telah bangun. Dia tampak tersenyum padaku dan menyapaku dengan mengangkat satu tangan. Aku segera berada di sampingnya, mencium punggung tangannya yang mulai hangat. Tidak ada kata selain bahagia melihat pamanku dalam keadaan baik seperti ini. “Paman, akhirnya aku bisa melihatmu kembali tersenyum. Aku sangat merindukanmu, apa paman juga?” “Tentu saja aku juga merindukanmu, Reina. Bagaimana kabarmu? Kau makan dengan cukup, bukan? Jangan bekerja terlalu keras, aku tidak ingin kau ikut sakit hanya karena diriku.” Paman selalu mengkhawatirkanku, dia adalah sosok yang sangat kucintai seperti orang tuaku sendiri selama ini. “Paman, aku makan dengan cukup. Istirahat dengan baik, bahkan aku bekerja seperti biasa. Untuk apa aku bekerja jika bukan untuk kehidupan kita? Untuk kesehatan paman, jangan sampai kembali seperti ini. Aku akan berusaha untuk menjaga dan merawat paman.” Aku begitu senang karena bisa kembali berbincang dengan pamanku, hingga aku lupa dengan keberadaan seseorang di sini. Benar saja, kali ini paman menyadari kehadiran Tuan Devan di kamar. Dia menatap Tuan Devan dengan penuh tanda tanya. “Siapa pria ini, Reina?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN