Tubuhku terasa membeku, begitu juga bibirku yang sulit untuk terbuka saat Paman Jeff bertanya menganai siapa Tuan Devan. Aku bingung harus memulai kisah ini dari mana, sementara hubunganku dengan Tuan Devan hanya sebatas perjanjian yang kubuat untuk menyelamatkan Paman Jeff sebelumnya.
Haruskah aku mengenalkan Tuan Devan kepada paman sebagai atasan yang telah membantuku, atau sebagai seorang penyelamat yang kutemukan saat kesulitan. Di hadapanku, Paman Jeff terlihat menunggu dengan wajah penuh tanda tanya. Sedangkan Tuan Devan yang berdiri di belakangku mulai berjalan ke sisi lain tempat tidur untuk lebih dekat dengan Paman Jeff.
Aku hanya berharap Tuan Devan tidak mengatakan hal-hal tidak masuk akal di antara kami. Dia memang memegang kendali saat ini, tetapi aku tidak ingin sampai Paman Jeff tahu mengenai apa yang sudah kukorbankan untuknya.
“Selamat malam, perkenalkan aku adalah kekasih Reina. Namaku Devan, maaf jika kedatanganku mengganggu kebersamaan kalian.” Aku membulatkan mata untuk sesaat dan tertunduk kemudian. Tuan Devan benar-benar mengatakan hal yang membuatku tidak bisa berkata apa-apa.
Kulihat Paman Jeff sama terkejutnya denganku, dia sempat bergeming beberapa detik, lalu kembali tertawa kecil. “Benarkah? Kekasih Reina sangat tampan, tinggi, dan terlihat begitu berwibawa. Aku yakin Reina pasti sangat bahagia memiliki pasangan seperti dirimu, Devan.”
Apa yang dikatakan Paman Jeff membuatku malu, wajahku tertunduk dan aku tidak tahu harus menjawab apa. Paman dan Devan saling menatap, lalu tiba-tiba saja paman menyentuh tanganku dan mengusapnya perlahan. Seakan sedang membuatku untuk tenang dan santai.
“Memang sudah seharusnya Reina merasa beruntung memiliki aku, itu karena aku bukanlah orang sembarangan.” Ucapan Tuan Devan seketika membuatku mengangkat kepala dan menengok ke arahnya sekilas. Aku tidak tahu, sebenarnya apa tujuan Tuan Devan berkata seperti itu kepada pamanku.
Kulihat paman terpancing dengan ucapan Tuan Devan. Rasa ingin tahunya pasti sedang bergelut, dan berharap mendapat jawaban dari kalimat itu. “Benarkah? Jadi orang seperti apa dirimu, Devan? Kurasa kau bukanlah orang yang berbelit dalam sebuah identitas.”
Suasana macam apa ini? Semua terasa begitu menekan bagiku. Paman yang ingin tahu mengenai ucapan Tuan Devan, sedangkan aku di sini terdiam tidak bisa mengatakan apa pun padanya karena keterbatasan.
“Paman Jeff, dia adalah—“ Ucapanku terhenti karena Tuan Devan menyelaku.
“Aku pimpinan di tempat Reina bekerja, Tuan Jeff.” Tuan Devan begitu bangga saat mengatakan siapa dirinya. Lagi-lagi aku melihat keterkejutan di wajah Paman Jeff.
Aku menatap Tuan Devan lalu berpaling dan melihat paman yang kini hendak mengatakan sesuatu kepadaku. Aku mendekatinya dan benar saja, paman mulai berbisik di telingaku. “Hei, bagaimana kau bisa mendapatkannya? Dia benar atasanmu di kantor? Betapa hebatnya kau, Reina.”
Aku kembali duduk dan merasa sangat malu untuk menjawabnya. Aku berusaha untuk mencari pengalihan agar paman tidak lagi bertanya mengenai diriku dan Tuan Devan. Beberapa kali aku menelan ludah, berpikir untuk bisa memberikan alasan atau mengubah topik percakapan kami. Hingga akhirnya, kuputuskan untuk mengalihkan perbincangan yang mulai menggangguku itu.
“Ah, Paman. Aku mendapat informasi dari pihak rumah sakit bahwa, Paman bisa pulang minggu depan. Apa Paman sudah tidak sabar kembali ke rumah?” Sepertinya pengalihanku ini berhasil, paman tampak sedikit terpengaruh dan merasa kesal dengan ucapanku.
Kulihat paman akan mulai memohon atau merasa kecewa dengan informasi yang baru saja kuberikan. “Kenapa kau berkata seperti itu? Seharusnya kau mengatakan pada dokter jika aku sudah membaik dan bisa segera kembali ke rumah. Aku begitu kesepian di sini, akan lebih nyaman jika berada di rumah sendiri.” Benar saja, paman memang ingin segera kembali ke rumahnya, tetapi kondisinya memang belum stabil.
Aku menggeleng, lalu kusentuh tangannya perlahan dan kujelaskan kepadanya kenapa tidak bisa pulang lebih cepat. “Paman, kau harus tahu bagaimana kondisimu saat ini. Bekas operasi belum sepenuhnya kering dan perlu dilakukan pengecekan secara rutin. Lagipula, kondisi Paman belum stabil dan dokter menyarankan untuk tetap di sini hingga dinyatakan benar-benar bisa kembali ke rumah.”
Paman mengangguk, wajahnya terlihat sedih dan membuatku tidak tega untuk meninggalkannya. “Tuan Jeff, pengobatan ini dilakukan untuk kesehatanmu. Bukankah jika kondisimu membaik dan kembali pulih, kau bisa kembali beraktivitas, juga melakukan apa pun yang kau inginkan?” Aku tidak menyangka Tuan Devan akan ikut berbicara, kalimatnya membuat paman sedikit tenang saat ini.
Aku melihat ke arah jam di tangan kiri, rupanya sudah malam dan aku juga membutuhkan istirahat setelah seharian bekerja. “Baiklah, aku harus pulang. Aku akan kembali lagi besok, Paman harus berjanji untuk makan dengan baik, dan meminum obat yang diberikan perawat.”
“Ya, aku tahu itu. Pulanglah! Aku tahu kau juga sangat lelah setelah bekerja seharian ini. Devan, antarkan dia hingga selamat sampai rumah. Aku percaya kau bisa menjaganya.” Aku terkejut dengan ucapan Paman Jeff kali ini, bisa-bisanya dia menitipkan aku kepada Tuan Devan dengan mudah.
Aku melihat ke arah Tuan Devan dan melihatnya mengangguk dengan sedikit tersenyum. Lalu, aku berdiri dan berjalan ke pintu keluar bersama Tuan Devan. Kami terus melangkah hingga sampai di pintu lobi. “Anda bisa pulang, Tuan Devan. Aku akan naik taksi hingga rumah.”
“Masuk ke mobil. Aku akan mengantarkanmu pulang.” Kalimat itu seperti sebuah perintah, Tuan Devan selalu berhasil membuatku mengikuti apa yang diucapkannya.
Pada akhirnya kami pulang bersama, dan seperti biasa tidak ada hal menarik yang akan terjadi. Aku kembali menatap pemandangan di luar jendela, kupikir dia akan sibuk dengan ponselnya. Ya, aku mendengar beberapa kali ponsel milik Tuan Devan berdering. Dia selalu sibuk dengan pekerjaannya meski sekarang sudah larut malam.
Ini bukan kali pertama Tuan Devan mengantarkanku pulang. Sebelumnya dia juga melakukan hal yang sama. Dia tahu jika mengantarkanku akan memakan waktu karena arah kami berbeda. Rumah Paman Jeff memang memiliki jarak yang cukup jauh dari kantor, dan berlawanan arah dari tempat tinggal Tuan Jeff. Itulah kenapa aku menolak saat dia ingin mengantarkanku pulang.
Sayangnya, pria ini memiliki sifat yang tidak mau ditolak. Dia seperti menekankan padaku untuk tidak pernah menolak apa yang sudah dikatakannya. Itu sungguh membuatku tertekan dan merasa takut jika bersamanya lebih lama.
Tidak heran jika selama ini rumor mengenai Tuan Devan begitu kuat. Aku yakin, sekretarisnya telah mengetahui bagaimana sifat dan sikap Tuan Devan selama ini. Sehingga membuat banyak sekali rumor beredar tentangnya yang membuat banyak orang berpikir buruk.
“Padahal dia tampan dan memiliki kehidupan yang terjamin. Hanya saja, sifatnya terlalu kaku dan dingin pada seseorang, membuat siapa saja di sekitarnya sedikit tidak nyaman dan memilih untuk tidak masuk lebih jauh.” Dalam hatiku membatin tentang Tuan Devan, semua tentangnya sangat mengganggu pikiranku sehingga membuat banyak hal muncul dan perlu dipertanyakan.
“Tuan, bagaimana jika aku turun di depan saja? Jaraknya sudah dekat, aku bisa berjalan kaki sebentar.” Aku berusaha untuk melepaskan diri dari Tuan Devan agar tidak terlalu bergantung padanya. Apa yang sudah dia berikan padaku untuk Paman Jeff sudah lebih dari cukup. Aku tidak ingin terlalu banyak berhutang padanya.
“Aku sudah berjanji pada pamanmu untuk mengantarkanmu hingga sampai di rumah dengan selamat. Apa kau ingin pamanmu itu berpikir jika aku ini tidak bertanggung jawab?” Ucapan Tuan Devan memang benar, tetapi kurasa hal itu hanyalah pura-pura, seperti yang sedang kami lakukan saat di depan paman.
“Baiklah, aku akan turun setelah sampai di rumah.” Aku tidak ingin membuatnya marah dan menjadikan hal ini masalah kedepannya.
Tuan Devan kembali berkutat pada ponselnya, tetapi kali ini tidak terlalu lama dia memasukkan benda itu ke dalam saku jasnya. Tuan Devan menatapku dengan tajam, lalu bibirnya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu. “Apa hubunganmu dengan Tom?”