Pertanyaan Tuan Devan membuatku bungkam. Aku terkejut saat dia ingin tahu mengenai hubunganku dengan Tom. Aku menelan ludah perlahan, berusaha tenang untuk tidak membuatnya curiga. Pada akhirnya aku menjawab pertanyaan itu dengan beberapa fakta yang kututupi.
“Aku hanya mengenalnya saja, tidak dekat.” Sedikit gugup saat menjawab, tetapi aku berusaha untuk tidak membuatnya kembali bertanya.
Setelah mendengar jawaban dariku, Tuan Devan menatap tajam ke arahku. Udara dingin seperti menyelimuti mobil ini dan membuatku tidak nyaman. Dengan nada dinginnya, Tuan Devan kembali berkata. “Jangan sampai aku mencari tahu sendiri tentang apa yang terjadi.”
Jantungku berdetak kencang, seakan nyawaku tengah terancam. Tubuhku menjadi kaku, bahkan aku merasa salah karena tidak memberitahukan yang sebenarnya kepada Tuan Devan. Dengan kemampuan dan kekuasaan yang dimiliki, tentu Tuan Devan akan lebih mudah mencari tahu sendiri.
Pada saatnya, aku pasti akan mendapat masalah dengan kenyataan yang kututupi ini. Mungkin, sebaiknya aku mengatakan apa yang seharusnya kukatakan sejak makan malam itu. Tentang hubunganku dengan Tom, tetapi aku terlalu takut saat itu.
Akhirnya, ketakutan membuatku mengungkapkannya pada Tuan Devan. “Tom adalah mantan kekasihku. Kami berpisah karena dia berselingkuh dariku. Aku pun terkejut saat tahu jika Tom keponakan Tuan Devan.”
Tuan Devan memberikan tatapan yang dingin padaku, aku yakin dia sedang memikirkan sesuatu mengenai pengakuanku ini. Aku berusaha untuk tidak berpikiran negatif mengenai apa yang sedang dipikirkannya, tetapi tetap saja membuat hati gelisah. Terlebih jika tidak tahu apa isi hatinya itu.
“Jika Tuan Devan berpikir aku sedang mempermainkan Anda, percayalah aku benar-benar tidak tahu jika kalian memiliki hubungan yang dekat sebagai keluarga. Selama ini aku hanya tahu jika Tom berasal dari keluarga kaya. Aku tidak pernah bertanya atau mencari tahu mengenai latar belakangnya selama ini. Sampai kemarin kita bertemu dengannya pada makan malam, kurasa Tom juga terkejut dengan kehadiranku yang menggandeng pamannya. Dia berpikir aku hanya ingin membalasnya karena sudah mencampakanku.” Penjelasanku dapat didengar dengan jelas, hanya saja sampai detik aku selesai dengan kalimatku, Tuan Devan masih bergeming.
Aku takut menatapnya secara langsung, itu membuatku menjadi canggung dan salah tingkah. Aku memainkan jari-jari tanganku untuk bisa menenangkan diri, berusaha tetap tenang meski di dalam diriku sedang bergelut dengan perasaan gelisah.
Di antara tatapan itu, Tuan Devan akhirnya berbicara dengan pelan. “Aku tidak mengetahui hal seperti itu.” Kalimat yang begitu membingungkan, atau mungkin Tuan Devan sendiri sedang bingung dengan penjelasanku.
Aku memutuskan untuk keluar dari mobilnya, “Tuan, terima kasih atas tumpangannya. Aku permisi masuk ke rumah.” Kututup pintu mobilnya dan berbalik untuk memasuki rumah yang akan membuatku merasa tenang.
Saat sudah berada di dalam rumah, tanganku menyenduh d**a, aku mengusap perlahan dan mengembuskan napas lega. Akhirnya aku bisa pergi dari hadapan Tuan Devan. Sungguh batinku tersiksa jika terus berada di sana, dengan sikapnya yang begitu kaku, terlebih dia selalu menggunakan kekuasaannya untuk memberikan tekanan padaku.
Sempat terlintas dalam benakku, akan terjadi suatu hal yang tidak menyenangkan. Namun, aku menepis pikiran itu agar tidak terlalu tertekan. Aku berjalan menuju kamar, melepaskan kedua sepatuku, dan meletakkan tas di meja. Kuregangkan tubuh sejenak, merasakan sendi-sendi yang terasa lelah karena pekerjaan hari ini.
“Hah … pada akhirnya aku bisa melewati hari ini dengan baik. Aku beruntung memiliki jantung yang kuat, jika tidak, mungkin aku akan berakhir di samping Paman Jeff. Baru kali ini Tuan Devan membuatku tidak bisa menghindarinya. Setelah kejadian makan siang, lalu berlanjut dengan bertemu pamanku.” Aku menggerutu tentang apa yang terjadi hari ini, semua hal itu membuatku semakin lelah. Aku hanya bisa berharap, besok tidak akan ada lagi sikap Tuan Devan yang memacu adrenalinku tentang hubungan kami di depan semua orang.
Aku segera meraih handuk, lalu memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum akhirnya berakhir di atas tempat tidur. Bagaimanapun aku perlu membersihkan tubuhku agar merasa segar kembali.
Setelah lima belas menit berada di kamar mandi, kini aku segera mengenakan pakaian dan merebahkan tubuh di tempat tidur. Kupejamkan mata karena merasa begitu lelah, dan tertidur sebentar.
Setidaknya satu jam aku tertidur, tiba-tiba suara perut membangunkanku. Aku ingat jika belum memakan apa pun setelah pulang kerja tadi. Aku beranjak dari tempat tidur dan menuju dapur. Aku yakin akan menemukan makanan di sana, setidaknya ada sesuatu yang bisa masuk ke mulut dan mengisi kekosongan di lambungku.
Saat kubuka pintu lemari penyimpanan, rupanya banyak bahan makanan yang habis dan beberapa tidak bisa lagi digunakan. Kulihat ada sekotak sereal dan s**u, kuraih semuanya dan menyiapkan mangkuk untuk menikmati makananku.
“Aku beruntung masih bisa memakan sereal ini. Ya … daripada tidak ada sama sekali yang bisa kumakan.” Sambil menyendok sereal ke mulutku, aku teringat dengan Paman Jeff yang sebentar lagi akan pulang dari rumah sakit.
Aku tidak mungkin membiarkannya berada di rumah tanpa adanya bahan makanan. Pasti Paman Jeff membutuhkan asupan makanan yang lebih banyak agar bisa lebih cepat pulih setelah operasi yang dilakukannya.
Kulihat ke arah jam di dinding, kurasa masih ada satu supermarket yang buka hingga larut. Aku segera menyelesaikan kegiatan mengunyahku dan beranjak untuk pergi berbelanja.
Jarak supermarket dari rumah paman tidak terlalu jauh, aku memutuskan untuk berjalan kaki dan menikmati malam yang terasa dingin. Berjalan seorang diri di bawah sinar lampu jalanan memang sudah biasa untukku, apalagi hanya untuk berbelanja saja.
Aku sedikit bersenandung di antara langkahku. Hal itu kulakukan untuk mengisi keheningan malam yang kurasakan. Aku tidak tahu apakah semua orang malam ini memutuskan tetap berada di dalam rumah, sehingga aku jarang bertemu dengan orang saat berjalan.
Sesampainya di supermarket, aku mulai memilih beberapa bahan makanan yang memang dibutuhkan paman di rumah. Aku tidak ingin saat bekerja, paman kebingungan untuk mendapatkan bahan makanan. Aku sangat mengenal Paman Jeff, dia adalah orang yang tidak ingin merepotkan aku. Satu-satunya orang yang selalu membuatku merasa menjadi seorang anak yang dimanja oleh ayahnya.
Aku mengambil beberapa sayuran segar, buah, dan ikan segar. Tidak hanya itu, Paman Jeff juga suka membuat pasta, aku ingin apa yang disukai ada di lemari penyimpanan. “Kurasa sereal juga perlu untuk diriku.” Aku pun mengambil sekotak sereal untuk diriku.
Saat sedang memilih bahan makanan lainnya, tanpa sengaja aku melihat di luar sana mobil milik Tom melintas. Aku bisa melihat pria itu bersama kekasih barunya. Meski masih menyisakan rasa sakit, tetapi aku sudah tidak peduli dengannya.
“Aku yakin mereka bersenang-senang setelah aku pergi dari apartemen itu. Aku berharap tidak akan bertemu lagi dengan mereka, tetapi kenyataan begitu pahit saat Tom memiliki hubungan keluarga dengan Tuan Devan. Itu artinya, selama aku bersama Tuan Devan melakukan kebohongan ini, selama itu juga aku akan sering bertemu dengan Tom. Hah … sungguh sial sekali hidupku.” Aku bergumam terus sambil menentukan makanan instan yang aman untuk dikonsumsi oleh paman.
Setelah selesai, kulanjutkan langkah untuk menuju kasir. Tetapi, langkahku justru terhenti saat melihat ada sebuah promo yang menarik perhatianku. “Silakan, Nona. Jika kau membeli satu sup instan ini, kau akan pulang membawa hadiah. Kau yang menentukan hadiah itu.”