jangan beritahu dia

1009 Kata
Afandy pov Hari ini seminggu berlalu setelah pertemuanku dengannya, gadis pujaanku, cinta pertamaku dan terkhirku karna mungkin aku tak akan bisa jatuh cinta lagi, bahkan jika tak bersamanya aku tak akan sempat untuk jatuh cinta lagi,. Semakin hari sakit kepalaku semakin menyiksa jika dulu tak sesering sekarang tapi semenjak aku melihat air matanya seolah kepalaku langsung berdenyut tanpa komando hingga disinilah aku sekarang, di ruangan bernuansa serba putih dengan bau yang khas dimana orang sakit berada,. Tiga hari yang lalu katanya aku ditemukan pingsan dikamarku dan sudah 3 hari ini aku tak sadarkan diri bahkan disampingku bunda masih menangis tersedu sedu, " kenapa kakak gak cerita tentang penyakit kakak? apa ini juga alasan kakak tidak pulang ke rumah setelah lulus kuliah kak?kenapa kakak tega bohongin ayah dan bunda serta adekmu kak, apa kakak udah gak sayang kita lagi..." rentetan kata kata bunda menghiasi kamar ini dengan sesekali menyeka air matanya " udah bun...biarkan kakak istirahat dulu,?" "apa masih kurang yah... anak kita ini sudah tidur 3 hari,..." aku hendak meraih tangan bunda mencoba menenangkan hatinya karna jujur akupun tak sanggup melihat bunda seperti ini, belum nanti adek, itulah sebabnya aku memilih menjauhi Arin karna akupun juga tak kan sanggup melihat airmatanya " apa gak ada jalan untuk kesembuhan kakak yah...atau kita bawa keluar negri lagi mencari dokter yang bagus buat kakak yah...." bahkan suara bunda serak akibat terlalu banyak menangis, "percuma bund, ini sudah stadium akhir, bahkan saat stadium 3 dulu aja dokter kakak bilang sudah gak ada harapan," jawabku lirih, masih kuliat bunda dengan uraian air matanya dan sungguh aku sangat membenci situasi seperti ini, belum reda tangisan bunda tiba tiba pintu dibuka dari luar, nampak adekku yang sudah beruraian air mata.. " kak....!!!!" teriaknya berlari kearahku lalu memeluku dengan uraian air mata yang mengalir deras, sungguh inilah alasan kenapa aku memilih menyembunyikan penyakitku, aku tak mau menyakiti perasaan keluargaku "inikah jawaban dari sikap kakak seminggu yang lalu..." aku masih diam tak mampu harus menjawab apa, ya inilah salah satu alasannku karna alasan terbesarku hanyalah Arinka...satu nama itu yang masih membuatku belum rela untuk pergi secepat ini, hanya dengan mengingat senyumnya aku bahagia tapi sebaliknya dengan melihat air matanya aku akan terluka seperti sebelum aku pingsan, aku sempat melihatnya bersedih menangisiku dan itu sangat membuatku terluka. " gimana keadaanmu bro...apa sudah lebih baik.." kulihat kearah pintu mataku membulat seakan tak percaya, Rian sahabatku yang juga kakak kelasnya Arin tengah berdiri menatapku dan dia memakai seragam khas seorang dokter, ternyata cita citanya menjadi seorang dokter terwujud, "kau..." ucapanku terhenti dia mengangkat tangannya " ya...aku doktermu disini jadi sekarang kamu harus nurut kataku..." ah ternyata dia masih menyebalkan seperti dulu, suka mengatur ngaturku, namun percaya atau tidak aku sangat bahagia melihatnya disini setelah 10 tahun tak bertemu " Ndy.... aku memang bukan Tuhan yang bisa memastikan hidup mati seseorang tapi sebagai seorang dokter dan tentunya sebagai sahabat lamamu aku hanya ingin kamu jangan patah semangat, meski kanker otak yang kamu derita udah sampai stadium akhir tapi percayalah keajaiban itu ada dan tidak menutup kemungkinan kamu pun juga salah satunya,." ucap Rian sambil tersenyum "kak Rian apa gak ada jalan untuk penyembuhan kak Afic" aku sudah tak sanggup berkata apapun " tenang dex..istighfar...berdo'a pada Allah semoga kakakmu bisa melewati semua ini." kata Rian lembut mengusap kepala adexku "yah...bund...dex...boleh kakak bicara berdua dengan Rian?" entah kenapa hanya itu yang ada dipikiranku, banyak yang ingin aku ceritakan, ungkapkan pada sahabat lamaku ini, meski dibilang aku egois tapi bolehkah aku melakukannya sebelum ajal menjemputku,. kulihat bunda mulai berdiri bahkan ade tak ingin melepaskan genggaman tanganku, setelah mereka keluar dari kamar aku segera mengangkat bahuku, dibantu Rian aku duduk bersandar diranjang "kamu pengen cerita apa....? tentang Arinka??" tebakny, aku menganggukkan kepalaku "ya... seminggu yang lalu aku tak sengaja bertemu dengannya, ternyata dia pegawai di pabrik yang kubangun diam diam tanpa sepengetahuan ayah dan bunda...." sengaja kumenjeda ceritaku melihat reaksi Rian ada gurat keterkejutan disana, tapi dia masih menanti kelanjutan ceritaku " dia belum tau tentang penyakitku, bahkan aku sengaja bilang padanya kalo aku tak mencintainya, aku sudah melupakan kenangan dulu dan mengannggapnya angin lalu, aku memakinya yan...." aku tak sanggup melanjutkan kata kataku tak terasa air mataku mengalir begitu saja mengingat pertemuanku dan Arin " berarti Arin dikota ini juga...?" aku hanya mengangguk "kenapa aku tidak pernah bertemu dengannya, sedangkan kamu baru pulang udah langsung bertemu, ini kalo kamu tidak jadi pasienku mungkin kamu juga tak inget ada aku,bahkan chat ku tak pernah kau balas..." marahnya karna memang aku tak pernah membalas atau menerima telp dari sahabat sahabatku disini, aku hanya sesekali membaca chat mereka di groub tanpa membalasnya " terakhir aku dengar bapaknya kena struk, karna itu dia tak melanjutkan kejenjang kuliah dia memilih bekerja demi keluargannya karna dia anak satu satunya jadi dia menjadi tulang punggung bagi keluarganya, tapi aku tak tau klo dia juga di kota ini yang aku tau dulu dia sempat jualan didekat rumahnya,. kasihan bener nasibnya padahal dia bisa masuk kuliah dengan beasiswa prestasi karna dia juara 1 sekabupaten." semakin menyesal aku mendengar cerita Rian, sejak divonis karna penyakitku ini aku memutus semua bentuk komunikasi yang ada hubungannya dengan masalaluku itu termasuk dengan sahabat sahabat lamaku ini. Dan yang lebih kusesali karna janjiku dulu membuat Arin menutup diri dari kaum adam, dia lebih suka menghabiskan waktunya dikamar membaca novel daripada keluar dengan teman temannya,bahkan ada pegawai keuanganku yang mendekatinya bahkan berkali kali secara terang terang Arin mengatakan kalo dia sudah punya pacar dan menjalani LDR, darimana aku tau informasi ini tentu saja setelah pertemuanku dengannya aku langsung menghubungi orang kepercayaanku yang juga bekerja dipabrikku untuk menggali semua informasi tentang Arinka. " apa sekarang kamu masih suka sama dia?" tanyaku to the point,. bukannya menjawab Rian memandangku dengan raut penasaran seolah mencari tau kemana arah selanjutnya dari pertanyaanku ini " aku tanya sekali lagi, kamu masih suka sama Arinka?" " kamu kanker otak bukannya gegar otak, kenapa emangnya klo aku masih suka? kamu mau marah?" aku menggeleng dan jawabanku selanjutnya membuatnya menganga lebar sambil menatapku seperti melihat hantu " kejar dia, tolong bahagiain dia.... dan jangan katakan apapun tentang penyakitku..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN