Sesampainya dikosan Arin merebahkan tubuhnya yang seakan akan tiada bertenaga, bukan sakit ditangannya yang ia rasakan melainkan sakit hati karna pertemuannya dengan Afandy,. Sebelum hari ini mungkin Arin akan merelakan takdirnya jika tidak berjodoh dengan Afandy, meski dulu dia pernah berjanji akan menunggunya pulang tapi mengapa takdir begitu kejam padanya, dengan pertemuannya kembali dengan Afandy membuatnya menyadari bahwa status mereka bagaikan langit dan bumi yang tak akan pernah bersatu,. Selama ini Arin percaya bahwa Afandy akan setia akan janjinya, bahkan sampai saat ini pun dia selalu berusaha menepati janjinya pada Afandy,. seolah merutuki kebodohannya selama ini karna mempercayai janji yang diucapkan Afandy membuatnya semakin acuh terhadap laki laki,. setidaknya aku sudah menepati janjiku untuk menunggumu kembali kak, jangan salahkan aku jika sekarang jalan kita berbeda, kamu yang memilih persimpangan diantara kita, jangan salahkan aku jika suatu saat kamu menyesali keputusanmu batin Arin
"kenapa kak...kusut banget mukanya..." Afandy merebahkan tubuhnya diranjang adek satu satunya itu seolah ingin cerita apa yang terjadi tapi tentu adexnya akan curiga karna adexnya tau bahwa dia sangat mencintai Arin bahkan berkali kali dia selalu menanyakan kenapa dia tidak segera kembali padahal 4 tahun sudah terlewat bertahun tahun,.
"kakak capek dex,..boleh ya kakak tidur dikamarmu sebentar.." seperti dugaannya adexnya bukanlah gadis polos seperti dulu yang dengan mudahnya ia bohongi, sambil menautkan alisnya adexnya sudah membuktikan bahwa saat ini adexnya itu tengah mencurigainya "kenapa emangnya dengan kamar kakak...?" tanya adexnya mencoba menyelidik
"gak pa pa, rasanya beda, apa karna lama gak ditempatin ya..." jawab Afandy beralibi
"kak...ada masalah??" tanya adexnya to the point karna memang sekarang adexnya sangat malas untuk berbasa basi "kakak bisa cerita,siapa tau meski adex gak punya solusi setidaknya bisa mengurangi beban pikiran kakak." ucapan ade ada benernya juga tapi Fandy terlalu takut untuk bicara, dia takut adexnya akan semakin mencurigainya karna seperti yang terjadi sekarang adeknya itu mempunyai penilaian yang tinggi akan tingkah laku seseorang,tidak mudah untuk mencari alibi membohonginya, bahkan dia akan langsung tau jika apa yang dikatakannya sebuah kebohongan
" bener dex kakak cuma capek,biarin kakak tidur sebentar, ntar kalau udah enakan kakak pindah ke kamar kakak." Fandy pun menjawab adexnya dengan mata tertutup seolah tak ingin ada pertanyaan selanjutnya dan ade hanya bisa menghela nafas tak ingin memaksa kakaknya lagi dan memilih menyelesaikan tugasnya.
Pagi menjelang seperti biasa Jakarta akan sangat macet disaat jam kerja karna itu Arin memilih kos terdekat dengan pabrik tempat kerjanya itu, selain tak akan terkena macet tentu akan menghemat transport juga, jam 7 Arin sudah duduk ditempat kerjanya padahal jam kerja dimulai jam 8, Arin termasuk karyawan teladan jarang sekali absen bahkan cuti tahunannya jarang sekali ia ambil, dia ingin menyelesaikan pekerjaanya yang kemarin ia tinggal pulang,.
"pagi bener non, mau ngepel nich pabrik...?" teguran dibalik pintu membuat Arin menoleh, disana sudah ada Ian dengan senyum jenakanya
" eh mas ian,...apaan sich,kemarin aku kan ijin pulang awal tak kirain kerjaanya numpuk,hehehe.." jawab Arin
"tanganmu gimana, dah baikan?" tanya ian lagi melangkah memasuki ruangan produksi dan duduk di kursi sebelah Arin.
"lumayan, udah bisa buat kerja"
"ada masalahkah? gak biasanya kamu kayak gini lho?" nampaknya ian mulai curiga dengan tingkah laku Arin, tak seperti biasanya juga gadis itu bicara seolah enggan menjawab padahal biasanya dia selalu ceria,meski diawal perkenalannya terlihat cuek dan angkuh tapi setelah lama mengenal Arin seolah dia menemukan pribadi yang berbeda, yang ian tahu Arin memang sengaja menutup diri dari kaum adam karna dia menunggu seseorang dari masa lalunya pulang, naif memang namun hati orang berbeda beda dan ian hanya bisa memendam perasaannya sendiri karna mengungkapkannya pun percuma dan yang paling ditakutinya jika dengan ian mengungkapkan perasaannya pada Arin akan membuat kecanggungan diantara keduanya dan membuat arin semakin menjauhinya,setidaknya itulah yang ada dipikirannya selama ini sehingga ia hanya bisa memendamnya sendiri.
"gak kok kak...biasa tamu bulanan" jawab Arin klise karna memang gadis itu sedang datang bulan saat ini
"ya udah ambil cuti haid aja, daripada nanti gantian tangan kamu satunya yang terluka gara gara gagal fokus"
"eh mas kok jahat banget sich, do'ain kayak githu" sungut Arin mengerucutkan bibir, membuat ian semakin gemas melihatnya
"ya dech maaf, ya udah mas balik keruangan dulu ya,lagi banyak kerjaan biasa kan udah mo deket gajian, hehehe..." Pamit ian sembari berdiri dan seperti biasa mengusap kepala Arin yang tertutup jilbab, meski berkali gadis itu mengingatkan untuk jangan melakukan hal tersebut karna tak enak dilihat rekan lainnya namun ian hanya menanggapinya dengan senyuman,. Arin hanya mengangguk paham karna ian salah satu adm keuangan disini itulah yang diketahui Arin,.
Saat saat terindah adalah dimana kita merasakan jatuh cinta dan sebaliknya dunia terasa tak berarti saat kita sedang patah hati, itulah yang dirasakan Arin saat ini,. Akhir pekan biasanya banyak pasangan muda mudi menghabiskan waktu bersama, tapi sejak menamatkan SMA seolah semua hari adalah sama bagi Arin, hari harinya dilalui secara monoton, dari bangun pagi berangkat kerja pulang sore bahkan klo lembur sampai malam dan menghabiskan malam dikosan hingga pagi menjelang, begitulah seterusnya,. Bahkan saat libur biasanya teman temanya akan menghabiskan waktu seharian diluaran tapi tidak dengan Arin jika tidak pulang ke kampungnya maka seharian dia habiskan di dalam kamarnya membaca novel novel kesayangannya, kalo ditanya ibu kosnya "libur di kamar aja neng gak main kemana githu??" selalu hanya senyumannya yang hadirr "gak bu, lagi mager...hehehe". Tapi semenjak pertemuannya dengan Afandy setelah bertahun tahun lamanya kini hari harinya selalu melamun, tiada lagi senyum ceria diwajah cantiknya,. Banyak cinta yang hadir namun selalu ia tolak lantaran janjinya pada Afandy, tapi apa balasan baginya, hanya kekecewaan yang ia terima setelah bertahun tahun penantiannya, ingin rasanya ia membenci takdirnya bahkan sempat menyalahkan Tuhannya tapi bagaimanapun dia juga hambaNya, dalam sujudnya selalu memohon ampunan karna sudah menyalahkan takdirnya,. di sholat malamnya Arin selalu meminta agar dia dilupakan akan cintanya pada Afandy yang seakan selalu membuatnya sakit, namun bukannya semakin merelakan seakan cintanya itu semakin dalam sehingga sulit untuk dilupakan,. kak...janjiku dulu telah kutepati mengapa justru kamu yang mengingkari??? dulu kau bilang cintamu tak akan berubah padahal saat itu rasaku padamu masih biasa tapi kenapa disaat aku sangat mencintaimu kamu malah menertawakan kesetiaanku ,bukankah ini yang kau pinta dariku dulu?? ya Allah ampunilah dosaku karna menyalahkan takdirMu, andai benar aku tak berjodoh dengannya maka hilangkanlah rasa yang ada dihatiku ini ya Allah
disetiap sholat malam Arin selalu itulah yang diucapkanya,seolah teramat sangat sulit menghapus cintanya pada Afandy