Dengan terpaksa Fandy mengikuti Sendy keruang meeting, tapi dia masih sangat penasaran dengan gadis yang dilihatnya diruang produksi tadi.
Sementara itu diwaktu yang sama diruang produksi Arin tengah melakukan pekerjaannya, sudah 5 tahun ini dia mengabdikan diri sebagai pegawai disalah satu pabrik dikota metropolitan ini demi kedua orang tuanya dikampung, dia nekat pergi kekota demi bisa membahagiakan orang tuanya. Bermodalkan ijazah SMAnya dia melamar sebagai operator produksi dipabrik ini.
Pikiranya terbagi antara pekerjaan dan juga kata kata orang tuanya saat dia pulang kerumah minggu lalu, orang tuanya yang mendesak dia untuk segera menikah,. Karna kurang fokus tiba tiba tangannya terkena pisau mesin didepannya
"aaauuuwww....ssstttttt" secara refleks Arin menjerit dan memegangi tangannya, beberapa rekan kerjanya menoleh setelah tau ada yang terluka kemudian mereka mengerubungi Arin,. Tak lama kemudian Arin dibawa ke klinik untuk mendapatkan pertolongan pertama,. Setelah mendapatkan pertolongan pertama dan tangannya sudah diperban diapun kembali ke tempat kerjanya.
"Arin sebaiknya kamu pulang istirahat,lagian aku liat dari tadi kamu kurang fokus bekerja, daripada nanti kenapa napa.." supervisornya menasehati,.supervisornya memang seorang yang baik hati, tidak pernah semena mena terhadap bawahannya, bahkan Arin seperti mendapatkan ibu kedua ditempat ini, karna ini pula dia sangat betah bekerja disini, apalagi teman temannya juga sangat respect satu sama lain. Karna desakan dari supervisor dan teman temannya akhirnya dia mengajukan ijin pulang,.
"kok masih disini Rin...?" tanya supervisornya lagi mendapati dia kembali keruang produksi
" belum dapat tanda tangan dari pak Amri bu, masih ada meeting." jawabnya karna manager produksinya tadi tidak ada diruangannya "dan yang saya dengar dari mbk Ani kalo pemilik beliau sedang meeting sama pemilik pabrik"
"berarti yang lewat tadi pemilik pabrik,..masih muda banget mana ganteng lagi."
"inget yang dirumah bu..." sahut temannya yang mendengarbpercakapan mereka
" saya mah inget umur,...cuma kagum aja,masih muda tapi udah sukses" bener apa yang dikatakan supervisornya ini, andai dia dulu bisa melanjutkan kuliahnya, apakah sekarang dia juga sudah sukses,...ahhh fikirannya melantur kemana mana, hingga seseorang datang menemuinya,
"Rin kalo mau minta tanda tangan pak Amri sudah keluar dari ruang meeting.." dan Arin pun segera berdiri memberesi barang barangnya, "ah iya mbak,... bu saya pamit pulang dulu ya"
pamit Arin pada supervisornya
"iya hati hati..."
Saat sampai diruang manager produksinya Arin mengetuk pintu, setelah ada jawaban dari dalam baru dia masuk
"maaf pak,saya mau minta tanda tangan, minta ijin pulang,." kata Arin sambil menyodorkan surat ijin ditangannya, managernya membaca sekilas sebelum membubuhkan tanda tangannya,."kalo kerja hati hati ya, kalo tambah parah langsung ke BPJS aja."
"iya pak terima kasih, permisi..." tanpa Arin sadari sejak dia memasuki ruangan ada sepasang mata yang memperhatikanya, hingga ketika dia berbalik secara tak sengaja mata mereka bertemu,. keduanya lama saling bertatapan mengendalikan perasaan mereka masing masing, rasa rindu, benci, ingin marah, ingin berlari memeluk satu sama lain, namun sesegera mungkin mereka mengendalikannya hingga kesadaran mereka kembali Arin segera berjalan keluar ruangan itu, sementara Fandy masih terpaku ditempatnya, merasa bingung apa yang harus diperbuatnya,
"lo kenal perempuan tadi.." tanya Rendy mengembalikan kesadarannya, seolah juga ingin tau Amri selaku manager disana ikut memandangnya
" Bapak kenal gadis yang baru saja masuk? dia karyawan bagian produksi,tadi ada insiden kecil hingga tangannya terluka makanya minta ijin pulang..." Amri menjelaskan karna mungkin atasanya itu membutuhkan informasi,. Mendengar Arin terluka tanpa menjawab sepatah katapun Fandy keluar dari ruangan, menyusulnya berharap masih bisa menemuinya diluar gedung,. Tanpa harus mengejar bahkan dari dalam ruangan Fandy berlari keluar takut kehilangan jejak Arin, diluar dugaan ternyata Arin menunggunya diluar ruangan, setelah melihat keberadaan Arin,fandy mulai mengatur nafasnya dan berjalan mendekati Arin, namun Arin segera berbalik sambil mengucapkan "aku tunggu kakak diwarung depan pabrik..." tanpa menunggu jawaban Arin segera berjalan cepat keluar gedung setelah sebelumnya menyerahkan surat ijin kebagian absensi.
Fandy kembali keruangan Amri mengambil hpnya yang tertinggal dimeja karna tergesa gesa mengejar Arin, "Aku ada urusan sebentar, kamu kalo mo pulang duluan,ntar aku bisa telp sopir ayah untuk menjemputku." pamitnya pada Sendy "masalah disini kita bahas besok lagi." sambungnya lagi sebelum keluar meninggalkan sahabatnya yang masih tak mengerti dengan apa yang terjadi.
Setibanya ditempat yang Arin maksud,disana Arin sudah menunggu dengan segelas minuman dingin didepannya
"bu, jus jeruk 1 ya,dianter kesana." kata Fandy sambil menunjuk dimana Arin duduk
"oh temenya mbak Arin ya mas.." kata sang pemilik warung yang hanya diangguki oleh Fandy., setelah memesan Fandy mendudukan bokongnya dikursi depan Arin,dia sengaja memilih duduk berhadapan karna jujur sebenarnya dia sangat merindukan sosok didepannya ini, demikian juga Arin dia terlalu shock mendapati pertemuan yang secara tak terduga semacam ini,. setelah lama saling memandang dalam diam akhirnya Fandy membuka suara karna tak tahan mendapati Arin sudah berkaca kaca memandangnya
"kamu apa kabar....?" pertanyaan receh yang keluar membuat Arin ingin sekali memukulnya, setelah 10 tahun menghilang sekarang dia menanyakan kabar..
"seperti yang kakak lihat.." jawab Arin menahan emosinya
"aku tak nyaman bicara disini,maukah kamu ikut denganku.?"
" aku harus anggap ini pertanyaan atau permintaan tanpa penolakan?" Fandy hanya tersenyum tipis mendapati jawaban Arin,gadisnya sudah pintar sekarang, dia bukanlah seorang gadis polos yang mudah terintimidasi lagi seperti dulu
"terserah pendapatmu,tapi aku lebih suka jika kamu menurutiku," meski ingin sekali Arin menolak tapi hatinya masih seperti yang dulu selalu menuruti Fandy, maka setelah menyambar slingbagnya dia berjalan kedepan
"berapa bu...?"
"sama punya masnya ya?" Aring mengangguk "tambah apa?" Arin menggelengkan kepalanya
"20 ribu aja.." Arin hendak mengeluarkan dompet dari tasnya ketika tangan seseorang menahanya
"aku saja yang bayar." kata fandy lalu menyodorkan selembar uang kertas berwarna merah "kembaliannya buat ibu aja." setelah itu menarik lengan Arin dibawanya kemobil yang sudah ia pesan lewat aplikasi online. didalam mobil keduanya hanya saling diam hingga mobil melaju disebuah taman kota,. saat mobil berhenti mereka turun mencari tempat yang nyaman untuk saling bicara, dan mengutarakan isi hati masing masing,.
Disinilah mereka berada dibangku bawah pohon yang cukup rindang apalagi cuaca yang cukup terik disiang ini.
" apa yang ingin kamu tanyakan? jangan dipendam, aku tau ada seribu pertanyaan yang ingin kamu utarakan semenjak pertemuan kita dipabrik tadi, tanyakanlah maka aku akan menjawabnya..." Fandy memulai keterdiaman keduanya, Arin hanya memandangnya sinis sungguh anda Fandy tak ingat penyakitnya, sudah pasti dia akan menarik Arin kedalam pelukannya,sungguh diapun sangat tersiksa dengan semua ini terlebih dia belum merasa siap harus bertemu dengan Arin,
"kenapa aku yang harus bertanya kak? kenapa tidak kakak yang jelaskan janji kakak padaku?" pecah sudah air matanya membasahi pipi yang ia tahan sejak dari pertama kali melihat Fandy
ingin sekali Fandy memeluk gadisnya itu,dia nampak rapuh didepanya bahkan dia tak sanggup untuk sekedar berkata maaf, menahan gejolak hatinya yang terus meronta ingin memeluk Arin,dia justru bersikap cuek dan acuh meski air mata Arin berlinang, Fandy memalingkan wajahnya dengan angkuhnya dia berucap "itu hanya sebuah janji cinta monyet tentu semua orang akan mengalaminya, siapa yang tau ada yang begitu bodohnya mempercayai semua itu..oh ya kukira sekarang lo sudah menjadi orang sukses seperti apa yang lo cita citakan, gak nyangka ternyata lo malah jadi pegawai gue...." ucap Fandy panjang lebar dan disetiap katanya penuh penekanan membuat Arin tak percaya mendengarnya, dia ingin menolak apa yang didengarnya tapi inilah faktanya, dia hampi tak mengenali Fandy yang sekarang, mungkin secara fisik orang yang sama bahkan sekarang Fandy terlihat lebih dewasa lebih berkharisma dibandingkan dulu saat mereka masih mengenakan putih abu abu,tapi Fandy kekasihnya dulu sangat mencintainya meski egois dan arogant tapi hatinya lembut tak pernah berkata menyakitkan seperti sekarang, apakah benar jika dinegeri orang bisa mempengaruhi karakter seseorang, bahkan sampe saat ini Arin masih tak percaya dengan apa yang didengarnya
" kamu bukan Afandy ku,siapa kamu...dimana dia kenapa bukan dia yang pulang menemuiku,..kembalikan dia padaku..." teriak Arin didepan fandy namun tak ditanggapi oleh laki laki itu, fandy masih bergeming ditempatnya seolah fikiran dan tindakannya tak sejalan dengan hatinya,. hinga kata kata yang dia ucapkan hanyalah kesombongan dan keangkuhan belaka
"lo gak usah naif dech,... itu sudah 10 tahun yang lalu,semua bisa berubah,.lagian lo sendiri yang bodoh ngapain bawa bawa gue sich.." karna tak tahan melihat air mata Arin maka Fandy pun segera meninggalkanya dan menghubungi seseorang.
bahkan bicaramu berubah kak,dulu jangankan lo gue kamu selalu mesra menyebutku dengan panggilan sayang,apa memang benar takdir telah meeubahmu kak...apa benar hanya aku yang bodoh masih mau menunggumu...kenapa kak..kenapa sekarang kamu berubah jadi orang lain..kamu bukan seperti dirimu yang dulu, kenapa kak.....huhuhu...tangisan Arin memilukan, bahkan sebenarnya fandy belum beranjak dari sana,dia hanya bersembunyi dibalik pohon sehingga dia mendengar semua tangisannya hingga seorang datang menghampiri
"permisi mbak...mari saya antar pulang" Arin segera menghapus air matanya,sadar jadi tontonan orang diapun beristighfar astaghfirullah....ya Allah maafkan hambamu ini karna berlarut dalam kesedihan
"terimakasih mas sebelumnya,tapi maaf saya bisa pulang sendiri,maaf karna mengganggu kenyamanan anda.." pamitnya segera berlalu dari laki laki itu lalu berjalan keluar taman memesan ojek online menuju ke kosannya,.
Sepeninggal Arin,Fandy keluar dari persembunyiannya,dihampiri laki laki yang datang menghampiri Arin tadi
" lo kenapa sich sob,lo kenal cewek tadi?lo apain sich sampe segitunya tuh cewek,tega bener lo ya ama anak gadis orang,gue laporin bonyok tau rasa lo..!!" sungguh Fandy ingin menyumpal mulut sahabatnya itu,apalagi kalimat terakhir yang dia ucapkan, kalau sampai ayah bundanya tau dia sudah bertemu Arin tapi tidak membawanya kerumah bisa gawat
" dia Arin..." jawab Fandy membuat Sendy melotot tak percaya
"" gak boong lo"
"gak ada untungnya boongin kamu"
"lah terus kenapa dia ampe segitunya,bukanya lo cinta mati ma dia?"
"no coment" Fandy melangkah meninggalkan Sendy yang masih penasaran tingkat akut.