author pov
Pagi yang cerah,seperti biasa Arin sudah ada disekolahan sebelum jam 07.00,karna ada rapat osis dadakan setelah menaruh tas dikelas,arin langsung menuju ruang osis.Disana sudah banyak dewan osis yang hadir.
rapat pun dimulai,Rian selaku ketua osis membuka rapat dan membacakan agenda rapat yang harus diselesaikan, Arin dengan cekatan mencatat setiap kata yang terucap sebagai dokumentasi serta diakhir rapat dia harus membacakan keseluruhan hasil rapat secara garis besar. Rapat usai dengan keputusan yang masih sama kemarin, Arin tetap merekap hasil pertandingan sementara untuk konsumsi dibantu adik kelasnya yang bernama Andri,.Sebenarnya bukan tugas Arin merekap hasil selaku bendahara osis tentu bukan kewajibanya,tapi tugas itu langsung diberikan oleh pak Krisna selaku pembimbing osis dan pak Krisna lebih mempercayakan tugas rekap merekap kepada Arin ketimbang yang lain.
Seperti kemarin Arin mengambil tempat duduk yang tidak mencolok dari lampangan tapi dia tetap bisa memantau jalannya pertandingan, Arin bukan tipikal gadis yang rela berdesak desak an demi menonton sebuah pertandingan. jika saja tugas merekap tidak diserahkan padanya sudah pasti dia akan menghabiskan waktu diperpustakaan sekolah setelah menyiapkan konsumsi,tapi semua tidak seperti harapanya,dan disinilah dia sekarang.
sorak soray memenuhi lapangan basket ketika tim SMA KARANGAYAR 1 dan SMA 5 SURAKARTA memasuki lapangan basket,
hari ini adalah final dari pertandingan persahabatan dimana sekolah Arin melawan sekolah Fandy, tentu saja Arin masih duduk diam ditempatnya sambil menatap satu persatu pemain basket memasuki lapangan.
Affandy pov...
kenapa dia selalu pasang muka datar, dan selalu duduk disana,apa gak bisa lebih dekat sedikit,di kursi penonton masih ada yang kosong juga,.
"liatin apa sich ndy???" rendy mengagetkanku kulirik dia mengikuti arah pandangku " gadis sombong itu lagi??" aku tak pedulikan dia omong apa" she is mygirl.." ucapku membuatnya menggelengkan kepala " up to you, banyak gadis cantik lainya yang tentunya dia akan senang km pacarin kenapa harus gadis sombong itu sich...!!" sungutnya kesal, aku hanya mengedikan bahu sambil tersenyum " because she is my girl's " saat mengatakan kalimat ini tanpa sengaja Arin melihat kearahku mata kami bertemu sesaat seperti dunia berhenti berputar,katakanlah aku alay tapi perasaan ku ini benar adanya dan itu terjadi sejak kemarin saat aku melihat senyumnya dan hanya sekali itu karna sampe saat ini hanya tatapan datar yang kudapatkan seperti saat ini,meski aku sudah melempar senyumanku padanya hingga banyak gadis gadis lainya yang bersorak soray tapi tak sedikitpun kulihat senyum dibibirnya,.
ok,..siaappp 1...2...priiittt
tanda pertandingan dimulai, aku tak bersemangat seperti kemarin kudengar beberapa kali rendy mengumpat karna operannya padaku selalu gagal dan aku tak bisa mencetak point
" wooyyy ndy, fokus...anjay"
kulirik Arin ditempat biasa dia duduk, sudah tak ada dimana dia pikirku
priiiittttt......pertandingan usai dengan scor 12 13,tim kami terringgal 1 angka,. ada waktu 15 menit sebelum babak 2 dimulai, aku langsung lari keluar lapangan karan tadi sempat sekilas kulihat Arin berjalan menuju kantin, sampe dikantin kudapati dia sedang berbicara dengan cowok, kulihat bed ditangannya kelas 10 ipa 2 adik kelasnya aku berjalan mendekat kudengar pembicaraan mereka
" ya udah diantar kelapangan sana,udah selesai babak pertama. " suara Arin terdengar jelas ditelingaku
" siap kak" sahut cowok didepanya
saat cowok itu berlalu akupun makin mendekati Arin, " Rin...." sesaat menoleh sepertinya dia hendak menghindariku,segera kuraih tangannya
" jangan coba coba menghindariku," kutarik tanganya mengikutiku menuju halaman belakang sekolah,kusandarkan dia ditembok kuhalangi dengan kedua tanganku agar dia tak lari,dia hanya menunduk entah apa yang difikirkan nya ,aku sendiri juga tak tau mengapa terlihat emosi sat dia tersenyum pada adik kelasnya tadi tapi saat denganku dia terlihat datar
" ap..apa..maksudny ini kak..." katanya sambil menunduk seolah takut dengan perbuatanku
" Rin..." dia masih menunduk " tatap aku atau aku cium.." ancamku yang ternyata berhasil,dia mendongakan kepalanya,kutatap matanya yang jernih seolah ingin menghipnotisku,akupun tersenyum " apa aku harus mengancam mu dulu baru kamu mau menuruti ku?" tanyaku sembari menaikkan alis menggodanya,dia hanya menggeleng,. " aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat,boleh kan aku jadi pacarmu??" dia sangat kaget dengan pengakuanku tapi tak lama dia bisa mengusai dirinya lalu menunduk lagi, " maaf kak...."
" aku tidak menerima penolakan,tau kan!!" bisiku pelan ditelinganya sebelum dia sempat menyelesaikan ucapanya, "tapi..." dia mendongak seakan tak terima apa yang baru saja aku katakan, hhhhssstttt...kuletakkan telu jukku dibibirnya yang lagi lagi membuatnya terdiam ,sungguh aku memang sangat egois terhadapnya bahkan aku sendiripun juga tak tau mengapa, tapi aku memang tak suka penolakan " please....jadi pacarku" aku masih memohon
" dengan syarat" ucapnya menyingkirkan tanganku dari bibirnya,kuraih jemarinya yang menyingkirkan tanganku tadi, " apa syaratnya " kataku lembut,dia hendak melepas genggamanku tapi kueratkan pertanda aku tak mau sebuah penolakan tanpa terkecuali,kulihat dia seakan pasrah menurut dan lagi lagi menunduk " tidak ada yang boleh tau tanpa terkecuali.." yang artinya hanya aku dan dia saja yang tau, aku berfikir sejenak kupindah genggaman ketangan kiriku kuberanikan mengagkat dagunya dengan tangan kananku, " are you sure.." tanyaku menyakinkan,kutatap matanya yang sudah berkaca kaca apa aku menyakitinya? atau semenderita itukah pacaran denganku, sungguh aku tak tau kenapa dia menangis,dia hanya mengangguk,." oke, hanya kita yang tau, tapi berjanjilah jangan tersenyum didepan cowok lain, aku tak suka" lagi lagi dia melototkan matanya seolah protes akan perkataanku," aku ingin kamu tersenyum untuk ku, beri aku semangat di babak kedua ini "
" apa aku harus mengkhianati sekolahku sendiri??" protesnya akan keputusanku
" aku akan buat hasil akhir seri, i'm promise asal kau beri aku senyuman" kulihat senyum diwajahnya seketika aku terpesona akan senyuman itu lalu kukecup punggung tanganya yang tadi ku genggam,seakan protes dia hendak menarik lengannya tapi tetap kutahan," jangan protes, sekarang you are my girl,yukk kembali kelapangan, babak kedua udah dimulai dari tadi" seolah tersadar dia hendak berlari tapi kutarik lengannya " kak..aku harus merekap hasil pertandingan ini,tolong lepasin.."
" udah ada Rian, semua pasti beres. kembali bareng aku" ku gandeng tangan nya menuju lapangan, namun seolah dia enggan untuk melangkah " kak fandy..."
" kak afic" panggil aku dengan nama itu, entah kenapa aku ingin dia memanggil sebagaimana keluargaku memanggilku " panggil aku dengan nama itu " ucapku mengulangi, dia hanya mengangguk
" bisa kak afic lepaskan tanganku?" pintanya yang kutanggapi dengan menaikkan alisku " emm kita gak mungkin berjalan sambil gandengan kan? ada banyak temen kita" lanjutnya lagi
" terus kenapa? masalah? kita kan pacaran"
" tapi hanya kita yang tau "
aku tau maksudnya " oke, tapi kita jalan bareng dan inget pulang nanti aku antar " kataku lagi hanya diangguki olehnya ,kuiringi langkahnya menuju lapangan ,. kulihat wajah kesal rendy menyambutku, tapi kuberi senyuman termanisku sambil mengangkat dua jari peace.. teman temanku hanya menggeleng
" darimana?" tanya rendy kulihat dia melirik kearah Arin" bisa gak kesampingkan dulu cewek itu,kita selesaikan dulu pertandingan kita" tambahnya
aku pun mengikuti arah pandangnya dimana gadisku sedang duduk manis mengambil alih kertas yang mungkin hasil rekapan dari tangan temenya,Arin melihat ku dan tersenyum, itulah keinginanku" kita selesaikan pertandingannya" jawabku tanpa mengalihkan pandanganku sesaat sebelum aku memasuki area pertandingan.
sesuai harapanku,pertandingan ini berakhir seri. aku berjalan ketempat dimana Arin merekap hasil pertandingan kami " pulang jam berapa?" tanyaku padanya ,dia nampak terkejut lalu melihat jam ditangan nya,
" jam 2 kalau tidak ada rapat osis" jawabnya
"ya udah nanti tunggu di mushola aja ya kalu aku belum dateng," kataku
ehhmmmm.... kutoleh asal deheman dibelakangku, ada Rian dan rendy yang sudah pasang muka penasaran
" apa kita mengganggu" kata Rian
"kebetulan kamu disini,nanti ada rapat osis gak,kalau ada Arin ijin dulu, mau ku ajak jalan" kataku tanpa basa basi,rendy dan Rian saling tatap merasa bingung
" apa kita ketinggalan berita?" tanya rendy to the point
aku hanya tersenyum,kulirik Arin terlihat gelisah dan salah tingkah
" hari ini gak ada rapat,rapatnya besok pagi,kalian kalau mau pergi besok sabtu aja,hari bebas" kata Rian menyarankan
"ok" kataku akhirnya
Arinka pov
hari rasanya seperti naik roller coaster, aku masih bingung dengan perasaanku hari ini, kak fandy mampu menjungkir balikkan dunia ku, seperti janjinya jam 2 dia menjemputku pulang bareng sama dia lagi
" kak afic...ntar nganternya mpe jalan raya aja ya...soalnya gak enak sama tetangga" kataku hati hati
" kenapa sama tetangga kamu? iri, karna kamu dianter cowok ganteng pulang" mulai dech narsisnya pikirku, aku bingung mau kasih alesan apa " aku takut dimarahin bapak, karna aku gak boleh pacaran dulu,fokus sama sekolah ku" ucapku akhirnya,nampak kak fandy menghela nafas lalu meraih jemariku untuk digenggamnya,aku selalu deg degan kalau dia sudah begini, seperti saat dia menyatakan perasaannya tadi,.ralat ..bukan menyatakan melainkan memaksakan,ya dia memaksaku jadi pacarnya...meski aku juga suka tapi demi cita citaku aku berusaha membentengi perasaanku namun ternyata kak fandy lain dari yang lain,setinggi apapun kucoba membentengi hatiku dia berusaha untuk memanjatnya bahkan merobohkannya dan beginilah sekarang statusku,pacaran tapi takut ketauan tak seperti kak fandy yang terlihat santai kebalikanya hatiku selalu cemas akan statusku dengan kak fandy
" aku mengantarkanmu berarti aku bertanggung jawab akan dirimu, aku harus memastikan keadaanmu sampe rumah tanpa kendala apapun, kamu mengerti kan sayang..." panggilan baru kak fandy untukku meski ku belum terbiasa tapi tak bisa menolak"nanti aku yang bilang ke bapak,kalau itu yang kamu khawatirkan" seolah memang tak ingin dibantah lagi,aku hanya menurut
sampai dirumah,bapak dan ibu menyambutku,kusalami tangan mereka demikian juga kak fandy
" masuk nak fandy, merepotkan kamu lagi ya Arin!" ucap lembut ibu
" gak kok bu,bapak justru saya ingin minta ijin untuk mengantar pulang Arin setiap hari, boleh kan bu,pak?" ucap kak fandy, bapak dan ibu saling menatap, lalu bapak menatapku,aku hanya bisa menunduk takut
" maaf nak fandy,bukanya gak boleh,atas alasan apa kamu ingin mengantar pulang Arin setiap hari? apakah kalian pacaran?" tanya bapak
sempat kulirik kak fandy,dia menatapku sebelum menjawab bapak "kalau diijinkan sebenarnya saya ingin mengenal Arin lebih dekat bukanya saya ingin mengganggu fokus belajar Arin tapai saya hanya ingin mengantar Arin pulang demi memastikan keselamatanya, saya tidak menuntut bapak dan ibu membolehkan kami pacaran atau tidak karna kita juga masih seorang pelajar,masih harus mencapai cita cita kami,saya hanya minta ijin untuk mengantarkan Arin pulang,itu saja pak,bu tidak lebih." kata kak afic panjang lebar
"baiklah bapak ijinkan kamu mengantar pulang Arin setiap hari,tapi satu pesan bapak,karna ini kamu yang minta maka jika suatu saat kamu sudah gak sanggup mengantarkan dia pulang maka kamu juga harus bilang sama bapak dan ibu sebagaimana seperti sekarang ini kamu meminta ijin kami,apapun alasan kamu,bapak harap suatu saat kamu tidak pergi begitu saja meninggalkan tanggung jawab kamu tanpa pamit." petuah bapak pun keluar
"baik pak,saya akan selalu mengingatnya,jika suatu hari nanti saya sudah tidak bisa mengantar pulang Arin lagi,saya pun akan mengembalikan tanggung jawab saya ini kepada bapak." hatiku sedikit lega mendengar perkataan kak fandy dan juga bapak,. dan mulai sejak itu kak fandy selalu mengantarku pulang