Blurb
Aisyah ..
Izinkan aku untuk mencintaimu dengan setulus hatiku.
Izinkan aku untuk selalu berada di sisimu. Izinkan aku untuk selalu menjaga dirimu.
Aisyah ..
Andai kamu tahu, aku tidak bisa jauh darimu. Sungguh, aku takut kau jauh dariku.Izinkan aku untuk kembali merajut tali cinta yang dulu bersemi di hati ini.
Izinkan aku kembali padamu.
Jujur saja, aku tak bisa hidup tanpamu. Jika boleh waktu ku putar kembali, Sungguh, Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan orang yang aku sayangi.
Aisyah ..
Maafkan aku,
Maaf sudah membuat dirimu kecewa terhadapku.
Maaf jika telah banyak menyakiti dirimu. Sungguh, aku laki-laki bodoh yang telah menyia-nyiakan dirimu.
Maaf untuk semuanya.
Dariku Imammu.
Almeer Ar Rasyidul Irsyad.
Aisyah Assafina Azzahra namanya, lahir di kota Jakarta, dibesarkan pula di kota kelahirannya. Kini, ia beranjak usia 17 tahun dan sedang mengenyam bangku sekolah kelas 12. Sejak kecil, Aisyah memang di Pondokkan dengan kedua orangtuanya, namun sejak lulus Madrasah Tsanawiyah, ia dimasukkan ke Sekolah umum di Jakarta oleh abinya. Itu membuat Aisyah takut akan pergaulan bebas dilingkungan sekolahnya. Bagaimana tidak? Banyak siswa atau pun siswi yang salah dalam pergaulannya. Maksudnya, mereka dengan mudahnya bergaul terhadap lelaki atau perempuan yang bukan mahram mereka. Sejak di Pondok Pesantren, Aisyah dikenal sebagai Santriwati yang cerdas, cantik, pintar, Salihah dan juga lemah lembut. Aisy - panggilan untuk teman-teman pondoknya. Zahra - teman sekamarnya selalu memanggilnya dengan sebutan Aisy.
"Aisy ...!" panggil Zahra saat Aisyah sedang muroja'ah hafalannya.
Aisyah kemudian menutup Al-Qurannya lalu beralih ke Zahra.
"Ada apa Ra?" tanyanya saat Zahra sudah duduk disampingnya.
"Kamu lagi muroja'ah hafalan yah?" tanya Zahra.
Aisyah mengangguk, "iya, aku mau lanjut nanti buat setoran hafalannya, kenapa memangnya?" tanya Aisyah sembari menjawab pertanyaan yang dilontarkan Zahra.
"Hmmm .. gitu yah, gak sih cuma aku mau minta tolong aja, nanti kan ba'da 'Isya ada pengajian, kamu mau tidak gantikan aku?" Ucap Zahra.
Aisyah mengernyit bingung,
"Gantikan apa?"
"Hmmm ... gantiin aku untuk berceramah nanti, soalnya aku belum hafal Aisy ... ya ya Plisssss!"
"Lho! Kan kamu yang jadwalnya hari ini Zahra, kenapa mesti aku sih? Aku kan minggu depan." ucap Aisyah terperanjat. Sebab, Zahra tiba-tiba ingin menyusun jadwal ceramahnya hari ini. Aisyah saja belum semuanya menghafal teks pidatonya.
Memang setiap minggu sekali, pondok Pesantren Al Falah selalu rutin mengadakan pengajian. Dan penceramahnya pun santri atau santriwati sini. Karena hari ini adalah hari dimana Zahra yang akan berpidato didepan semua santri atau santriwati, tapi Zahra belum siap untuk berceramah apalagi didepan khalayak ramai. Ia belum berani untuk maju kedepan.
Sedangkan Aisyah, ia juga belum hafal dengan teks pidatonya. Lalu, Zahra menyuruhnya untuk menggantikan dirinya untuk berpidato didepan semua santri / santriwati. Aisyah saja belum menghafal untuk minggu depan, apalagi sekarang.
"Iyaa Ais, tapi aku beneran belum hafal. Yaaa yaaa plissss banget tolongin aku. Hanya kamu sahabat aku Ais. Aku mohon yaaa?" Zahra terus memohon agar Aisyah mau menggantikan dirinya yang hari ini akan tampil berceramah.
Setiap minggunya akan ada pemilihan santri atau santriwati yang terbagus dalam berpidato. Dan akan dipilih untuk lomba tingkat Madrasah Tsanawiyyah. Sekitar ada 5 orang yang nantinya akan dipilih dan disertakan termasuk perlombaan.
Aisyah yang tidak dapat menerima bantuan yang benar, akhirnya mengangguk setuju.
"Makasib Aisy .... kamu emang sahabat aku yang paling pengertian deh," ucap Zahra kegirangan mengatur Aisyah. Hampir saja Aisyah akan jatuh jika saja tidak bisa menahan pelukan dari Zahra.
"Iya Ra, sama-sama. Hampir aja aku jatuh."
Sedangkan Zahra, ia tertawa tanpa dosa. Dasar Zahra! Si gadis yang selalu ceria, gadis yang selalu mengeluarkan isi hatinya kepada Aisyah. Zahra sudah mendekati adik oleh Aisyah. Karena umur mereka hanya terpaut satu tahun. Zahra berumur 16 tahun sedangkan Aisyah 17 tahun. Zahra memang gadis yang baik, selama Aisyah berteman bahkan sekarang sudah bersahabat, ia gadis yang baik. Zahra sudah menganggap Aisyah seperti kakaknya sendiri. Semenjak Ayah dan ibunya Zahra meninggal karena kecelakaan beruntun yang menimpa keluarganya, Zahra mengisi Pondok oleh kakaknya. Dan sejak Zahra masuk ke Pondok, sejak Aisyah bertemu dengan Zahra. Disaat Zahra sedang menangis, awalnya Aisyah ragu untuk melanjutkan Zahra. Tapi, karena rasa kasihan yang termasuk dirinya, akhirnya Aisyah mencoba mendekatkan dirinya pada Zahra. Dan setelah kejadian itu pula, Aisyah and Zahra friends. Hingga sekarang sudah seperti adik-kakak.
Teringat Pondok, Aisyah menjadi semakin rindu Pondoknya itu. Sejak ia lulus, ia jarang sekali bertemu dengan teman-teman di Pondok. Sekarang ini, Aisyah sedang berada di balkon kamar, meratapi langit malam yang berada di banyaknya bintang bertaburan. Ditambah cahaya bulan yang menerangi malam. Ia sudah menggambarkan sosok sahabatnya yang sudah mendekati adiknya itu. Zahra Maulina Assyifa-- sahabat di pondoknya. Ia sangat merindukan masa dimana ia selalu membangunkan Zahra saat Zahra ketiduran setelah sholat subuh. Dia berharap Allah akan mempertemukannya lagi.
Setelah berjam-jam berada diatas balkon kamar, ia mulai beranjak dari balkon tersebut.
Kemudian, ia melangkah masuk kamar kamarnya. Kasur duduk ditepi, sambil memegang buka Diary Ada banyak kenangan yang ia tuliskan dalam buku itu. Dari mulai ia bertemu dengan seorang sahabat seperti Zahra. Sampai ia menemukan sosok yang selama ini dambakan kehadirannya. Mengingat kejadian itu, Aisyah tersenyum manis. Bagaimana tidak? Lelaki tampan yang memiliki wajah tenang itu seakan menghipnotis Aisyah dalam sekejap.